
Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.
Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Setelah semua kucing betina itu keluar. Risa segera menutup pintu rumahnya. Tidak lupa ia menguncinya rapat.
“Mereka itu lebih mengerikan dari si corona. Dasar wanita.” umpat Risa kesal.
Kemudian ia meraih buburnya dan membawanya kembali menaiki tangga, masuk ke kamar Juna.
“Mereka sudah pergi?” tanya Juna, padahal pria itu diam-diam melihat semuanya sampai akhir. Ia juga baru saja masuk ke dalam kamarnya.
“Bukannya kamu sudah lihat semuanya pakai mata kepala kamu sendiri.” jawab Risa, skakmat untuk Juna.
Pria itu hanya bisa tersenyum kuda sembari menggaruk-garuk kepalanya.
“Makan buburnya. Jangan salahin aku karena buburnya sudah dingin. Aku males mau panasin lagi.” kata Risa sembari berjalan mendekati Juna yang tengah duduk di pinggir ranjangnya.
“Kamu enggak mau suapin aku?” tanya Juna ketika istrinya itu hanya terlihat meletakkan buburnya ke atas nakas, lalu kemudian ia berbalik, berniat pergi dari kamar Juna.
“Kenapa harus aku suapin? 'kan yang sakit kepala kamu bukan tangan kamu. Jadi kamu bisa makan sendiri.” ujar Risa ketus, tanpa menoleh ke arah suaminya.
Gadis itu pun kemudian melangkahkan kakinya kembali. Namun baru saja ia ingin menyentuh knop pintu, dengan cepat Juna menghadangnya. Pria itu berdiri di depan pintu. Melarang Risa untuk keluar.
“Kamu marah?” tanya Juna.
“Enggak.” jawab Risa. Nada yang ia gunakan sama seperti nada yang Juna gunakan pagi tadi.
“Jangan bohong, Sa. kamu marah kan sama aku? Iya kan?” tanya Juna lagi.
“Kalau aku bilang 'iya', apa kamu bakalan minta maaf sama aku terus berubah jadi suami yang baik?” Risa balik bertanya. Ya, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang Juna lontarkan padanya siang tadi.
Beberapa jam yang lalu Juna bertanya seperti itu padanya, Juna bertanya seperti itu ketika ia melihat Risa membawa masuk satu teman prianya.
__ADS_1
“Aku minta maaf. Aku janji, aku akan jadi suami yang baik buat kamu.” jawab Juna tanpa ragu lagi. Tapi justru itulah yang membuat Risa merasa tidak percaya padanya.
Pria itu dengan mudahnya melontarkan janjinya. Seolah semua itu akan mudah di jalani olehnya.
Risa pun tersenyum sinis ke arahnya. “Pembohong.” ucap Risa.
“Minggir.” kata Risa sembari mendorong tubuh Juna, namun tidak ada hasilnya. Tubuh pria itu lebih besar darinya. Dirinya hanyalah satu batang lidi yang mudah patah. Sedangkan Juna, pria itu seperti satu ikat sapu lidi yang sulit di patahkan.
“Risa, tatap mata aku. Kamu harus percaya sama aku. Kamu itu istri aku. Aku serius sama kamu, Sa. Aku enggak bohong.” kata Juna sembari menyentuh bahu istrinya itu, meyakinkan Risa dengan tatapan sendunya.
Risa segera mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin terhipnotis dengan mata hitam bagai medan magnet itu. Risa harus kuat melawan semua rayuan dan juga godaan dari suaminya.
Bagaimanapun juga, Risa masih belum bisa percaya pada Juna. Pria itu, apakah ia sungguh serius menjalin hubungan rumah tangga dengannya?
Risa tidak ingin ketika ia sudah membuka hatinya. Tiba-tiba Juna menjauh darinya dan pergi meninggalkannya seperti kejadian sembilan tahun yang lalu. Risa tidak berharap masa lalu menyedihkannya itu terulang kembali.
“Juna...” panggil Risa lirih, suaranya samar-samar terdengar sedikit serak.
Juna masih menatapnya, menunggu istrinya itu berbicara.
“Aku rasa, aku enggak akan pernah bisa percaya sama kamu.” ucap Risa, ia berbicara jujur tentang apa yang hatinya rasakan.
“Maaf. Tapi sulit bagi hatiku agar bisa terbuka kembali untukmu. Apalagi melihat kelima perempuanmu tadi. Apa kamu tahu bagaimana hatiku terus beradu dengan pikiranku? Kepalaku rasanya ingin pecah.” ujar Risa, ia terlihat frustasi.
“Hatiku terus bertanya apakah masih ada perempuan lain lagi? Sebenarnya berapa banyak perempuan yang dia miliki? Apakah aku bisa percaya padanya? Apakah aku bisa menggantungkan masa depanku di pundaknya? Apakah dia akan tetap berada di sisiku walaupun tubuhku berubah gemuk dan wajahku menjadi berjerawat? Apakah dia akan terus berada di sisiku sampai rambutku ini berubah menjadi putih?” ucap Risa, mengutarakan semua pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.
“Kamu tahu betapa takutnya aku dengan semua pertanyaan itu? Kamu tahu bagaimana sulitnya aku menghadapi dirimu? Kamu itu egois, Juna.” kata Risa.
Juna bungkam. Ia tertegun mendengar semua ungkapan isi hati istrinya.
“Aku hanya dekat dengan Deon sebagai teman saja kamu sudah marah. Bagaimana denganku? Kamu punya banyak perempuan di luar sana dengan status yang tidak jelas. Kamu bisa saja berpaling dariku dan berjalan ke arah mereka. Kenapa kamu tidak melepaskanku saja? Kenapa tidak membiarkan aku pergi? Kenapa kamu menyulitkanku? Kenapa Juna?! Kenapa aku harus menikah dengan orang seperti kamu?!” tanya Risa, histeris, ia menangis, menumpahkan semua rasa yang menyesakkan hatinya.
Pertahanannya runtuh. Air mata yang selama ini ia jaga agar tidak terjun di hadapan Juna, sekarang sudah tidak dapat lagi ia sembunyikan.
“Sa...” Juna menyentuh wajah istrinya. Ia tidak tahu bagaimana cara membendung air mata Risa, Juna hanya bisa menyeka setiap butiran kristal yang terjatuh.
“Jangan menangis lagi.” ucapnya lirih, kemudian merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Hangat, itu yang Risa rasakan. Tapi kehangatan itu malah membuat Risa semakin menangis histeris. Ia semakin takut. Takut kalau semua yang ia rasakan ini hanya kehangatan semu yang bisa menghilang kapan saja.
Takut dan ragu, itulah yang membuat Risa menjaga jarak antara dirinya dengan Juna. Itulah yang membuat Risa menutup hatinya dan bersikap tak acuh pada suaminya sendiri.
Setelah air matanya berhenti mengalir. Risa mendorong tubuh Juna menjauh darinya. Gadis itu kemudian mengelap bekas air matanya. Ia menatap Juna sekilas, lalu membuka handle pintu kamar Juna.
“Kamu mau kemana?” tanya Juna, kembali menahan lengan Risa yang ingin keluar dari kamarnya.
“Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku ingin tenangin diri aku. Aku mau pulang ke rumah Mama sama Papa.” jawab Risa.
Juna diam, ia menatap mata yang sudah memerah itu dalam keheningan.
“Lepas Juna.” ucap Risa.
“Kamu boleh tenangin diri kamu. Tapi jangan pergi.” pinta Juna.
“Aku janji, aku enggak akan bilang masalah ini ke Papa sama Mama apalagi Kak Aro.” ujar Risa.
“Sa, walaupun kamu enggak kasih tahu mereka, mereka pasti juga tetap mengira kalau kita sedang bertengkar.” kata Juna.
“Kita selesaikan masalah kita baik-baik ya.” bujuk Juna.
“Aku pastikan mereka enggak akan tahu kalau kita lagi bertengkar. Jadi kamu enggak perlu khawatir.” balas Risa.
Juna mengehembuskan napas beratnya, “Bukan karena itu aku larang kamu pergi. Aku enggak peduli kalau nanti orangtua kita tahu terus mereka salahin aku atau bahkan marahin aku. Aku enggak peduli. Aku cuma enggak mau kalau kamu pergi sebelum masalah kita selesai.”
“Tapi aku butuh waktu untuk sendiri.” keluh Risa dengan nada frustasi bercampur kesalnya.
“Oke. Kalau kamu butuh waktu untuk sendiri, kamu bisa tetep di rumah, biar aku yang pergi. Aku beri kamu ruang untuk sendiri.” kata Juna.
Untuk beberapa saat, Risa hanya diam, ia bungkam dalam keheningan. Tapi kemudian gadis itu terlihat mengigit bibir bawahnya. Semenjak lima perempuan tadi datang ke rumah mereka. Risa menjadi sangat sensitif terhadap Juna, ia merasa selalu meletakkan rasa curiga pada pria itu.
“Kamu pergi dan suruh aku diam di rumah, itu maksudnya biar kamu bisa bergaul bebas dengan para wanitamu di luar sana 'kan?” ujar Risa dengan tatapan penuh ketidakpercayaannya.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1
Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Ty vm.
NP : Btw, jadi risa itu rumit ya. Pengen hidup bahagia sama suaminya tapi takut kalau nanti si suami mengkhianatinya.