
“Kaget ya?” ucap Runa, ia tersenyum puas melihat Risa yang diam seribu bahasa.
“Maaf, jika anda tidak ada hal lain yang ingin di katakan, silakan pergi dari rumah saya,” ujar Risa.
Runa tertawa, tawanya seperti seorang psikopat yang menikmati kepuasan naluri membunuhnya. Risa sampai di buat merinding karena tawa aneh itu.
Puas dengan tawanya, Runa berdehem, gadis itu kemudian melipat kedua tangannya. Runa yang memiliki tubuh lebih tinggi dari Risa tentu memudahkannya untuk mengintimidasi istri dari pria yang masih di cintainya itu.
Runa maju satu langkah, sedangkan Risa, ia mundur sesuai langkah kaki Runa. Adegan itu terus berlanjut hingga kaki Risa menginjak batu pembatas taman kecil yang berada di halaman depan rumahnya. Perempuan itu hampir terjengkang kalau saja ia tidak cepat menyeimbangkan dirinya.
“Kira-kira, kalau kamu mati... Juna akan menikah lagi tidak, ya?” ujar Runa.
“Dasar gila,” umpat Risa, ia melontarkan kalimat itu tanpa berpikir panjang lagi.
__ADS_1
Runa tersenyum, senyum menyeringai yang semakin membuat Risa meningkatkan kewaspadaannya.
“Kamu tahu?” tanya Runa, “Aku benci melihat wajahmu,” imbuhnya, “Wajahmu sangat cantik, membuatku ingin sekali mencabiknya,” timpal Runa.
“Kalau begitu pergilah dari hadapanku, kamu pikir— aku tidak benci melihat wajahmu, huh?” balas Risa, perempuan itu menegapkan tubuhnya, Risa bahkan menggunakan bahasa informalnya, dia sengaja melakukan itu agar terlihat baik-baik saja, walaupun hatinya masih begetar takut.
“Wajahmu itu membuatku merasa kasihan padamu,” sambung Risa.
Mata Runa melebar, ini pertama kalinya ada orang yang menghina tentang wajah eloknya. Padahal selama ini, semua orang selalu mengelu-elukan wajahnya yang lembut dan cantik bak bunga sakura.
Alih-alih takut, Risa malah tertawa, tawa hambarnya itu terdengar seperti ejekan bagi Runa.
“Kenapa tertawa? Apanya yang lucu?!” kesal Runa, kakinya melangkah semakin dekat ke arah Risa yang sudah terpojok.
__ADS_1
Risa berdehem, lantas ia membalas tatapan tajam dari Runa.
“Aku merasa kasihan melihatmu. Kamu tahu kalau wajahmu itu cantik, kamu tahu kalau kamu punya pesona untuk mendapatkan banyak pria di luar sana. Tapi, kenapa kamu masih bersikeras ingin merebut suami orang?” kritiknya, “Sikapmu itu membuatku bertanya-tanya, apa urat malumu sudah putus? Atau— apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu? Apa kamu gila? Apa kamu bodoh? Apa kamu sudah tidak waras? Semua pertanyaan itu menyerang kepalaku saat ini, karena itu aku kasihan padamu,” tandasnya.
Gadis di hadapannya itu terdiam, mulutnya seolah terkunci dengan kata-kata Risa yang terlempar tepat sasaran padanya.
Tangan Runa tampak terkepal kuat, buku-buku jarinya pun terlihat memutih. Ia seolah siap mengayunkan tinjuannya kapan saja. Namun, ia urungkan, apalagi saat bunyi ponsel terdengar dari dalam tasnya.
Runa menatap Risa sejenak, sebelum akhirnya ia mengambil ponselnya, sebuah nama dari seseorang membuat Runa menjauh dari Risa.
Gadis itu tampak berbincang sebentar dalam panggilannya. Lalu beberapa menit kemudian, ia berbalik dan menatap Risa yang masih diam mematung di tempat.
“Kejadian tadi, kalau kamu ingin mengadukannya pada Juna, aku akan sangat senang mengetahuinya. Karena dengan begitu, aku yakin Juna akan mencariku, dan aku bisa menemuinya tanpa halangan darimu,” papar Runa bersama asumsinya sendiri.
__ADS_1
Risa tersenyum sinis, “Begitukah? Kalau begitu aku tidak akan mengadukannya pada suamiku,” ujar Risa, “Lagi pula, kalau pun aku mengadukannya, Juna malah akan menertawaimu dan dia akan memujiku seperti ini 'hebat istriku sayang, kamu bisa membalas tajam perkataan wanita murahan itu',” tukas Risa.
Runa mendesis kesal. Ia ingin membalas Risa. Namun, bunyi ponselnya kembali mengurungkan niat buruknya itu. Runa kemudian terlihat menghentakkan kakinya kesal. Gadis itu lantas pergi menuju mobilnya. Ia masuk ke dalam mobil tersebut dan melajukannya dengan segudang rasa kesal yang Risa tuangkan pada hatinya.