Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
I want a baby


__ADS_3

Setelah selesai membantu ibunya merapikan kamar tamu, Risa terlihat masuk ke dalam kamar Juna.


Gadis itu terlihat melangkahkan kakinya ragu-ragu ke dalam kamar itu. Ia merasa jantungnya berdetak kencang, seolah-olah saat ini dirinya sedang berada di wahana rumah berhantu, bahkan situasi saat ini lebih mengerikan daripada itu.


Apalagi suara gemericik air dari dalam kamar mandi semakin membuat jantung Risa berdebar. Entah apa yang membuatnya seperti itu, tapi Risa merasa sangat tidak nyaman dengan semua ini. Ia pun tampak mengigit bibir bawahnya.


Lalu kemudian, Risa terlihat menutup matanya sejenak sembari menepuk-nepuk pipinya pelan. “Apa yang sedang kau pikirkan Risa!” ucapnya.


Setelah merasa dirinya tenang, Risa pun kemudian berjalan ke arah tempat tidur, lalu ia naik ke atasnya, bersiap untuk tidur lebih dulu dan berharap semua ini hanyalah mimpi buruk baginya.


Tapi, baru saja Risa ingin menarik selimutnya, pintu kamar mandi tampak terbuka, Juna pun keluar dari dalam sana dengan handuk berwarna putih bersih melilit tubuhnya dari bagian pinggang ke bawah.


Risa tanpa sadar, ia menghentikan gerakannya, menatap suaminya itu dalam diam tanpa ekspresi.


“Kamu lihat apa?” tanya Juna sembari mengusap rambutnya dengan handuk kecil.


“Hantu.” jawab Risa asal.


Juna tersenyum kecil menanggapinya, pria itu pun kemudian berjalan menuju ke arah lemari pakaiannya.


“Tutup tuh mulut kamu, awas nanti air liur kamu netes.” ujar Juna sembari mengambil pakaian yang akan ia kenakan.


Mendengar sindiran menyebalkan dari Juna itu, Risa pun mendengus kesal. Ia bahkan sama sekali tidak membuka mulutnya. Tapi pria itu dengan percaya dirinya seolah mendeskripsikan kalau Risa sedang menganga terpesona padanya.


“Aku pikir walaupun mama ada disini, kamu tetep akan tidur di kamar kamu sendiri. Enggak nyangka kalau ternyata kamu mau masuk ke kandang aku.” ujar Juna.


“Aku bukannya orang yang suka ingkar janji. Lagian udah jadi perjanjian kita kalau orangtua kita menginap disini, kita baru tidur bareng.” jawab Risa.


“Ah, kalau gitu nanti aku minta mama buat sering-sering menginap disini.” kata Juna sembari menggerakkan tangannya untuk membuka handuk yang melilit tubuhnya.


“Stop!” ucap Risa yang sejak tadi memang sudah waspada dengan setiap gerakan Juna.

__ADS_1


“Apa?” tanya Juna, ia pun kemudian menatap Risa dengan tangan yang bersedekap di depan dada.


“Kamu kalau mau pakai baju lebih baik di kamar mandi, jangan disini. Emangnya kamu enggak malu apa ada aku disini?” kata Risa.


“Oh.” jawab Juna sembari tersenyum menyeringai ke arah Risa.


“Enggak, kenapa aku harus malu? Kamu kan istri aku sendiri. Lagian inikan kamar aku, jadi aku mau pakai baju di manapun ya terserah aku.” kata Juna sembari membuka handuknya begitu saja.


Melihat tindakan Juna itu, Risa dengan sigap langsung menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.


“Kamu udah enggak waras ya?!” ujar Risa dari balik selimutnya. “Orang gila aja masih pakai baju, kamu yang masih waras malah buka baju sembarangan. Beneran eksibisionis kamu.” katanya.


Juna tampak tertawa kecil sembari memakai celananya, lalu kemudian tanpa memakai baju ia berjalan mendekati Risa yang masih bersembunyi di balik selimut.


“Kata siapa orang gila pakai baju? Ada kok orang gila yang enggak pakai baju.” ujar Juna, ia kini sudah berdiri di dekat Risa.


“Iya, itu kamu.” balas Risa yang masih enggan untuk keluar dari balik selimut itu.


“Kalau aku gila, kamu enggak mungkin mau nikah sama aku.” kata Juna sembari menarik selimut yang menutupi tubuh Risa.


“Udah cukup, enggak usah di terusin lagi. Dasar mesum. Siapa juga yang suka lihat kamu enggak pakai baju.” ujar Risa.


“Ah iya, satu lagi, mau kamu gila atau enggak, kamu harus tau kalau aku nikah sama kamu itu karena terpaksa.” sambungnya.


Juna tersenyum samar, lalu kemudian ia tiba-tiba duduk di sisi Risa, membuat gadis itu segera memasang mode pertahanan diri.


“Terserah kamu mau bilang apa. Walaupun kamu nikah sama aku atas dasar keterpaksaan atau apalah itu, aku enggak peduli. Intinya sekarang kamu udah nikah sama aku, kamu itu istri aku dan aku ini suami kamu. Jadi— ” kata Juna, ia sengaja menggantungkan kalimatnya sembari menatap Risa dengan raut wajah penuh misteri.


“Jadi apa?!” tanya Risa yang sudah merasa tidak nyaman dengan pandangan yang Juna berikan padanya itu.


“Jadi— apa kamu mau lanjutin yang kita lakuin siang tadi?” tanya Juna, ia kemudian terlihat semakin mendekatkan dirinya ke arah Risa.

__ADS_1


“Juna, kamu jangan macam-macam ya. Disini cuma ada kita berdua, jadi aku enggak akan sungkan lagi buat pukul kamu atau tampar kamu kalau kamu sampai berani ngelakuin tindakan asusila lagi.” ancam Risa.


“Ah iya, kamu benar, disini kan cuma ada kita berdua, ber-dua.” ujar Juna sembari menunjuk dirinya dan Risa. “Aku dan kamu di ruangan tertutup, hanya kita berdua, tidak ada orang lain. Bagaimana kalau kita— ”


Perkataan Juna itu terhenti ketika Risa dengan gemasnya menarik rambut pria itu. “Tadi kan aku sudah bilang, kalau aku enggak akan sungkan lagi buat pukul, tampar atau bahkan tarik rambut kamu. Beraninya kamu goda aku. Jijik tau dengernya.” ujar Risa yang kemudian melepaskan rambut Juna setelah merasa puas menariknya.


“Sakit, Sa. Kamu ini udah ngelakuin kekerasan dalam rumah tangga, aku laporin ke mama baru tau rasa kamu.” kata Juna.


“Silahkan, laporin aja, kamu kan emang tukang ngadu. Lagian kamu bisa enggak sih berhenti bahas kayak gituan?! Dasar otak kotor. Aku saranin kamu operasi otak kamu sendiri deh, bersihin tuh otak biar enggak mikir kotor terus.” ujar Risa.


“Aku kan cuma pengen punya bayi Sa.” kata Juna sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa berdenyut karena tadi Risa menarik rambutnya.


Mendengar Juna mengatakan perkataan itu dengan santainya. Risa rasanya ingin sekali mencakar wajah pria dihadapannya itu.


“Bayi? Kamu pengen punya bayi?” tanya Risa yang tiba-tiba bertanya dengan nada rendahnya.


Juna pun langsung menganggukkan kepalanya, sembari menjawab pertanyaan Risa. “Iya.”


“Oke.” ucap Risa yang langsung membuat Juna menatapnya.


“Eh? Aku enggak salah denger kan? Kamu barusan bilang oke?” tanya Juna.


“Iya.” jawab Risa.


Juna pun kemudian tersenyum lebar mendengarnya. “Bagus, oke kalau gitu— ”


“Kalau gitu aku keluar dulu.” ucap Risa, sengaja menyela perkataan Juna.


“Loh kok keluar sih Sa?” tanya Juna.


“Iya, mau cari kucing betina buat kamu.” ujar Risa sembari turun dari atas kasur.

__ADS_1


💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2