Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Sickness


__ADS_3

Good Afternoon.


Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.


Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Sudah dua hari Risa menginap di rumah orangtuanya. Selama dua hari itu, Juna tidak terlihat datang walau hanya sekedar melihat dirinya. Mengiriminya pesan saja tidak.


Risa kecewa, Juna benar-benar hanya omong kosong dengan semua perkataannya.


Keseriusan yang Juna ucapkan waktu itu sungguh seperti janji-janji palsu yang pernah Risa terima sembilan tahun lalu.


“Menyebalkan,” gumam Risa. Ia melampiaskan kekesalannya itu pada bawang merah yang sedang di cincangnya halus.


“Sa, kalau lagi enggak niat masak, jangan masak deh. Dari pada nanti tangan kamu kena pisau itu, kan bahaya,” ujar sang ibu, Dewi.


Risa hanya diam. Belakangan ini dirinya memang lebih suka diam. Sekalipun ditanya sesuatu, Risa hanya menjawabnya dengan dua huruf saja, yaitu 'hm'.


Dewi menghela napasnya, ia sendiri merasa jengah dengan sikap putrinya.


“Kamu kalau rindu sama Juna, pulang sana, temui suami kamu,” sembur Dewi, gemas.


“Mama ngomong apa sih? Risa mana mungkin rindu sama orang yang dua hari enggak peduli sama istrinya,” kata Risa.


Dewi menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap anak perempuannya itu.


“Sa, enggak selamanya pihak istri yang selalu menerima kepedulian. Kamu sendiri, dua hari ini memangnya kamu peduli sama suami kamu? Enggak 'kan? Mama enggak pernah ajarin anak Mama untuk egois ya. Inget itu, Sa,” ucap Dewi.


“Sini, biar Mama yang selesaiin masaknya. Kamu mandi sana, muka udah kayak kain kusut gitu. Ngerusak pemandangan tau,” sindir ibunya, sebenarnya itu hanya candaan yang coba Dewi lontarkan untuk putrinya.


“Ya udah, Risa ke kamar dulu.” ucap Risa, ia menurut.


Melihat anaknya yang sudah berjalan menaiki tangga, Dewi menggelengkan kepalanya lagi, heran dengan tingkah Risa.


•••


Pukul delapan lewat tiga puluh menit, Waktu Indonesia bagian Barat, Risa baru saja selesai mencuci semua piring kotor.


Gadis itu pun kemudian melepaskan celemeknya. Ia menghela napasnya sembari meletakkan celemek itu kembali ke tempatnya semula.


“Sa,” panggil seseorang, membuat Risa yang sempat melamun tampak terkejut dengan sapaan dadakan dari sang kakak.


“Kak Aro. Kaget Risa. Kakak udah pulang?” tanyanya.


“Hm, pasien pribadi kakak sudah agak sembuh, jadi kakak sudah bisa santai sedikit,” jawab Aro, kemudian meminum air mineral yang di pegangnya.


Dua hari ini kakaknya itu luar biasa sibuk. Berangkat pagi, pulang malam. Risa sudah tidak heran lagi.


Tapi sikap Aro yang selalu menyebut 'pasien pribadi' di depan Risa, membuat gadis itu selalu bertanya-tanya, siapa sih sebenarnya pasien pribadi kakaknya itu? Padahal sebelumnya Aro belum pernah memiliki pasien seperti itu.


Aro bukan dokter yang merawat seseorang secara khusus. Dia adalah dokter spesialis di bagian IGD, semua orang yang butuh pertolongan cepat, itulah pasiennya.


“Kamu besok kerja enggak?” tanya Aro tiba-tiba.


Risa pun tanpa curiga langsung menjawab pertanyaan itu, “Tidak, aku libur besok. Ada apa? Kakak mau ajak aku nonton film ya? Kali ini, Risa enggak akan nolak kok. Risa mau,”

__ADS_1


Aro menggelengkan kepalanya, “Bukan,” ucapnya.


“Eh? Bukan ya? Terus apa?”


“Kakak mau minta bantuan kamu,” kata Aro.


“Bantuan? Bantuan apa?” tanya Risa.


“Bantu Kakak rawat pasien pribadi kakak,” ujar Aro.


Risa yang tadi sempat mengernyitkan keningnya, kini ia semakin mengernyit heran sekaligus bingung.


“Aku kan bukan dokter. Kakak jangan bercanda deh,” protes Risa.


“Kakak serius, bantu kakak rawat pasien kakak dengan baik ya. Lagian sudah seharusnya kamu rawat pasien itu. Dia itu tanggung jawab kamu.” ujar Aro, membuat Risa semakin tidak mengerti.


“Maksud Kakak apa sih? Kakak lagi mabuk ya? Risa enggak paham sama sekali,”


Aro menghela napasnya, lalu meletakkan kembali botol air mineralnya ke dalam kulkas.


“Pasien pribadi Kakak... sekarang dia ada di kamar kamu,” ucap Aro, kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Risa yang tampak terbelalak setelah paham dengan maksud sang kakak, ia sungguh tidak percaya ini.


Gadis itu pun kemudian berlari menaiki tangga, melewati Aro yang saat itu juga sedang menaiki tangga dengan lesu karena rasa lelahnya.


Aro tersenyum melihat adik satu-satunya itu berlarian setelah paham dengan maksud perkataannya.


Ya, pasien pribadi Aro adalah Juna.


Dua hari yang lalu saat Aro datang ke rumah mereka. Aro tidak sengaja melihat Juna yang terhuyung hampir kehilangan keseimbangannya.


Ia pun dengan sigap segera menangkap Juna, membawa adik iparnya itu ke kamar, lalu memeriksa kondisinya.


Pada hari itu, Juna meminta untuk tidak memberitahu siapapun tentang kondisinya, termasuk Risa. Aro pun dengan kerelaan hati yang di paksakan, ia mengambil cuti dan merawat Juna secara pribadi.


Sampai akhirnya, hari ini, Aro berhasil membujuk Juna untuk datang ke rumah orangtua Risa.


Aro kembali tersenyum, senyum puasnya itu merekah sempurna saat melihat Risa sudah masuk ke dalam kamarnya.


•••


Kamar itu gelap. Seingat Risa, tadi dia sudah menghidupkan lampunya. Berarti pria itu yang mematikannya, pikir Risa.


Dengan sekali tekan, Risa menghidupkan lampu kamarnya, kamar itu pun kembali terang, membuat seseorang di atas kasur melenguh, merasa terganggu dengan cahaya lampu yang menyala.


Juna...


Hati Risa merasakan getaran aneh saat melihat pria itu, setelah dua hari tidak bertemu.


Juna terbangun, ia duduk bersandar di ranjang Risa.


Sedangkan si pemilik tempat tidur, ia hanya diam memperhatikan setiap gerakan suaminya.


“Risa...” panggilnya. Suaranya parau, Risa sadar kalau Juna belum sepenuhnya sembuh.


Perkataan sang kakak pun kembali mengiang di kepalanya. Dia itu tanggung jawab kamu.


Risa menggigit bibir bawahnya, rasa bersalah menyeruak masuk ke dalam hatinya saat pandangannya menangkap sosok Juna yang terlihat lemas tidak berdaya.


“Kamu... kamu... ” lidahnya terasa kelu. Sudah lama tidak berbincang dengan suaminya itu membuat Risa merasa gugup sekaligus canggung.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja,” ucap Juna, seolah tahu apa yang ingin Risa tanyakan padanya. Kemudian, Juna terlihat melemparkan senyum tulusnya ke arah sang istri.


Melihat senyum itu, Risa semakin di buat bersalah. Ia sungguh merasa kalau dirinya adalah istri durhaka. Malaikat pun mungkin pantas melaknatnya.


“Maaf...” lirih Risa.


“Untuk apa?”


“Dua hari yang lalu, padahal aku tahu kalau kamu lagi sakit. Tapi karena egoku, aku malah pergi dari rumah dan tinggalin kamu sendirian. Aku berdosa sama kamu,” ucap Risa, mengakui kesalahannya. Ia berlutut disisi ranjang dekat suaminya bersandar.


Juna tersenyum tipis. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi sebisa mungkin ia gerakkan untuk menyentuh rambut Risa. Mengusapnya lembut.


“Enggak perlu minta maaf. Lagian waktu itu, aku yang suruh kamu pergi,” kata Juna.


Risa mengehembuskan napasnya pelan, “Seharusnya kamu marah sama aku, kenapa malah bilang seolah kamu yang salah. Kalau kayak gini, aku beneran ngerasa berdosa sama kamu.” keluh Risa.


“Setelah mendengar semua cerita Kak Aro tentang patah hatimu sembilan tahun yang lalu. Aku paham kenapa kamu susah buka hati buat aku lagi. Jadi semua ini salahku. Apa yang kamu lakukan padaku, itu enggak sebesar luka yang aku torehkan di hatimu, benarkan?” kata Juna sembari mengusap lembut puncak kepala Risa.


Apa aku enggak salah denger? Sejak kapan pria ini— oh tidak, hatiku kambuh lagi. Tidak, jangan Risa. Aku benci ini, sungguh benci dengan bunga yang bermekaran di hatiku. Perasaan ini, tidak, aku tidak ingin menyatakannya. Ini tidak mungkin, tidak boleh. — batin Risa sembari menggelengkan kepalanya kuat.


“Risa? Kamu kenapa? Kamu sakit juga?” tanya Juna, ia terlihat panik dengan tingkah Risa yang tampak aneh itu.


“Kamu... kita lebih baik jaga jarak.” ucap Risa sembari mengambil posisi mundur satu meter dari Juna.


“Ada apa?”


“Kamu enggak baik buat aku.” jawab Risa, polos.


“Ha?”


“Pokoknya nanti aku bisa sakit kalau deket-deket sama kamu.” kata Risa, masih dengan tampang polosnya.


“Sa... aku janji sama kamu, aku enggak akan mungkin sakitin kamu lagi.”


“Bukan, bukan sakit yang itu,” jawab Risa.


“Terus?”


“Nanti aku enggak bisa tidur, nafsu makan aku juga bakalan turun kalau aku enggak lihat kamu, terus— ”


“Terus apa?”


“Terus— ”


“Iya, terus apa, Risa?” gemas Juna.


Terus nanti aku enggak bisa berhenti mikirin kamu. — batin Risa. Ia diam menatap Juna yang balas menatapnya. Risa tidak mungkin mengatakannya, tidak akan pernah. Itulah yang Risa tekankan dalam hatinya.


“Sa? Kok malah diem aja sih? Kamu beneran sakit ya?” tanya Juna.


Iya, aku sakit. Aku terserang penyakit cinta. Penyakit ini tidak ada obatnya, kecuali balasan dari orang yang di cintai. Tapi kamu tidak mungkin bisa mengobatinya 'kan, Juna? Suamiku?


💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Ty vm.


Np : maaf atas keterlambatan up nya karena ada pemadaman listrik lama di kota kuh, jadi alat kebutuhan untuk mengetik drop semua, baru siang tadi hidup lampu. Mohon pengertiannya okey 👌

__ADS_1


Q&A : Seharusnya yang jatuh cinta Risa dulu atau Juna dulu?


__ADS_2