Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Sebuah Berita (1)


__ADS_3

Suara kegaduhan di pagi hari mewarnai rumah Juna dan Risa. Pasalnya, tiba-tiba dari dalam kamar mandi Risa berteriak, wanita itu terdengar mengerang kesakitan.


“Kamu kenapa?” panik Juna, pria itu terbangun paksa dari tidurnya karena mendengar suara teriakan dari sang istri.


“Mana yang sakit? Kaki kamu sakit? Apa jahitan robek?” tanya Juna.


“Perut— perut aku sakit,” rintih Risa sembari menekan perutnya yang terasa di remas kuat oleh sesuatu di dalam sana.


Juna menatap ke arah perut Risa. Tapi kemudian, kepanikannya semakin menggila saat ia melihat noda darah merembes dari baju tidur yang Risa kenakan.


Pikiran Juna kusut saat ia teringat tentang anastesi yang di lakukannya pada Risa semalam. Entah kenapa otaknya terus saja berporos pada kata 'keguguran'.


“Sakit, Juna,” lirih Risa, tangannya terus menekan kuat perutnya, seolah itu mampu mengurangi rasa sakit yang dia rasakan.


Mendengar rintihan itu. Juna langsung bergegas mengambil jaketnya. Ia membungkus tubuh istrinya itu dengan jaket hitam miliknya. Setelah itu, Juna membopong Risa keluar dari kamar.


Rumah sakit adalah tujuan Juna saat ini. Sebagai seorang dokter yang melihat kondisi istrinya itu, Juna tentu sudah mendapatkan diagnosis awalnya. Diagnosis yang Juna harapkan salah. Ya, untuk pertama kalinya, Juna berharap diagnosisnya salah.


Kumohon, semoga ini tidak benar. — batin Juna.


***


Seorang pria berkepawakan khas Asia tampak melepaskan kacamata hitamnya. Ia baru saja mendarat kembali ke tanah kelahirannya.


Setelah mendapatkan panggilan dari sang ayah. Deon langsung memesan penebangan khusus. Ia terbang dengan harapan melepaskan rindunya yang tertinggal.


Senyum lepas yang sudah lama tidak ia ukir di wajahnya pun terekspose sempurna. Banyak pasang mata dari para perempuan yang menatapnya terpesona. Pria tampan itu, siapakah dia?


Deon menarik kopernya keluar dari bandara. Di luar sana, seorang pria tampak menepuk bahunya, membuat Deon menoleh, menatap pria itu.

__ADS_1


“Sepertinya anda tidak melihat saya," ucapnya dengan bahasa Indonesia yang belepotan.


Deon berkerut kening, menatap pria itu bingung.


“Siapa ya?” tanya Deon.


Detik selanjutnya, pria itu membungkuk sembilan-puluh derajat.


“Halo, saya Oki, saya sekretarisnya Pak Adytia,” sapanya, memperkenalkan dirinya.


Kening Deon semakin berkerut bingung. Siapa lagi Pak Adytia? Pikirnya.


“Maaf, mungkin anda salah orang,” pungkas Deon.


Pria di hadapannya itu kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ia mengambil ponselnya, membuka layarnya, lalu menyerahkannya pada Deon.


Deon menatap fotonya yang tersimpan di ponsel pria itu. Kemudian, ia beralih tatap ke arah pria dihadapannya itu sekali lagi.


“Iya ini aku. Tapi— ” suara deringan dari ponsel Deon membuat pria itu berhenti berkata. Ia pun segera mengambil ponsel miliknya. Ayahnya menelepon. Deon mengangkatnya.


“Halo, Pa. Apa Papa mengirim seorang pria bernama Oki padaku?” tanya Deon langsung pada intinya.


“Oh! Dia sudah menjemputmu? Baguslah, cepat ikuti saja dia, Papa dan Pak Adytia menunggumu,” ujar sang ayah yang kemudian langsung mematikan panggilan tersebut secara sepihak.


“Halo? Pa? Papa?” panggil Deon pada panggilan yang sudah terputus.


“Aish... ada apa lagi ini?” gumamnya sembari memasukkan kembali ponsel miliknya.


“Sekarang, apakah anda sudah percaya pada saya, Tuan Deon?” tanya Oki.

__ADS_1


Deon mendengus, ia pun berjalan mendekati Oki, mengembalikan ponsel milik pria itu, lalu berjalan meraih kopernya dan lekas memasukkannya ke dalam bagasi mobil yang sudah terbuka.


***


Juna berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD, pria itu baru saja mengantarkan istrinya ke rumah sakit Universitas Medicalis.


Sesampainya di sana, Juna langsung di sambut cepat oleh para tim medis. Para dokter jaga yang melihat Juna pun langsung bertindak membantu istri dari anak pimpinan rumah sakit itu.


“Juna,” panggil sebuah suara.


Juna menoleh, itu Aro— kakaknya Risa.


“Kak Aro,” lirih Juna.


Pria bernama Alvaro itu pun berjalan cepat mendekati adik iparnya.


“Bagaimana kondisi Risa?” tanya Aro dengan napasnya yang terlihat ngos-ngosan.


Alih-alih menjawab, Juna malah menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup menjawabnya.


“Jika apa yang aku pikirkan benar. Ini semua salahku. Ini salahku,” papar Juna.


Aro diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Lagipula, saat ini yang ia tahu hanya soal adiknya yang sakit perut dan di bawa ke ruang penanganan IGD.


Saat Aro ingin bersuara. Pintu ruangan penanganan pertama yang secara khusus tersedia di IGD itu pun terbuka. Bersamaan dengan itu, Risa tampak terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit yang di dorong keluar dari ruangan tersebut.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA💫


NP: Oh iya, jangan lupa mampir di novel thor My Secret Husband by Tianse Prln yang di novel&me (platform kuning) ya! 🌟Luv you🌟

__ADS_1


__ADS_2