
Juna duduk menatap istrinya yang sibuk menguyah makanan. Perempuan itu, entah kenapa nafsu makannya meningkat drastis. Segala macam bentuk makanan pun sanggup ia telan masuk ke dalam perutnya yang seolah tak akan pernah terisi penuh.
“Setelah ini mau makan apa lagi?” tanya Juna dengan dagu bertopang menatap istrinya.
Risa membalas tatapannya, fokusnya beralih pada Juna yang kini menampilkan senyum manisnya.
“Kamu lagi sindir aku, 'kan?” sinisnya.
“Loh? Siapa yang sindir kamu? Aku kan cuma tanya, Sayang,” kilah Juna.
Risa mencebik, kemudian memasukan potongan besar buah apel yang di pegangnya itu ke dalam mulut mungilnya.
“Alasan,” ucapnya dengan mulut yang penuh dengan buah merah itu.
“Bukan alasan, Sayang. Tapi emang gitu faktanya,” sanggah Juna.
“Ck, aku yakin kalau hati kamu itu sekarang lagi bilang, Risa kamu jangan makan banyak-banyak, nanti kamu bisa gemuk, iya, 'kan?” tuduhnya.
“Ya ampun, Sayang. Kamu kok mikir negatif gitu sama aku? Aku mana mungkin punya pemikiran kayak gitu ke kamu. Lagian kalau kamu gemuk bagus dong, biar pas aku peluk kamu, enggak tulang doang yang aku rasain.”
__ADS_1
“Oh! Jadi selama ini kamu enggak nyaman sama aku. Ya udah cari aja wanita lain,” sela Risa, kesal. Ia pun memalingkan wajahnya dari sang suami.
“Sayang, bukan gitu. Kamu kok jadi sensitif gini sih?” Juna bingung.
“Sensitif?” Risa menatapnya geram, “Kamu pikir aku kesal tanpa alasan, huh?” lontar Risa, tak mau mengalah sedikitpun.
“Oke, oke, aku minta maaf, ya? Aku salah.” Juna mengalah.
Risa menatapnya kesal, tapi kemudian punggungnya kembali bersandar santai pada ranjang rumah sakit itu.
Tak lama setelah perdebatan kecil mereka, pintu ruangan tampak terbuka, seorang pria dengan kemeja biru dongkernya masuk ke dalam ruangan tersebut sembari membawa satu bucket bunga beserta buah-buahan yang Risa sukai.
“Deon?” Risa bersuara.
“Apa tujuanmu datang kemari?” serobot Juna. Ia sudah berdiri dari duduknya.
Deon tersenyum tipis, kemudian ia meletakkan bucket bunga dua warna itu dan keranjang berisi buahnya ke atas nakas dekat Risa.
“Tenang saja, aku datang kemari hanya untuk melihat keadaan Risa,” ucapnya.
__ADS_1
“Dari mana kamu mendengar kabar soal Risa yang ada di rumah sakit? Dan, sejak kapan kamu kembali ke Indonesia?” Juna bertanya.
“Dari asisten rumah tanggamu, dan soal kapan aku kembali, perlukah aku memberitahumu?” cakap Deon pada suami dari gadis yang di cintainya itu.
Juna menatap pria itu tajam, kemudian suara decihan pun terdengar darinya, “Kamu belum menyerah juga ternyata,” ucap Juna.
“Menyerah soal apa? Aku tidak mengerti maksudmu,” kilah Deon.
Melihat kedua pria itu sedang perang dingin. Risa berniat ingin melerainya, tetapi kemudian, suara deringan ponsel dari balik saku celana Deon menghentikan niat Risa.
Pria itu kemudian terlihat menerima telepon tersebut tanpa berniat keluar dari ruangan. Hanya dalam hitungan jari, ia menyudahi panggilannya.
Deon pun kemudian menghela napasnya, lantas ia menatap Risa dengan mata sendunya, “Risa, aku berharap kamu lekas sembuh. Maaf, aku tidak bisa lama di sini, aku harus segera pulang,” kata Deon dengan senyum hangatnya pada perempuan yang masih terbingkai apik dalam hatinya.
Risa mengangguk, “Iya, tidak masalah, dan terima kasih sudah datang kemari,” ucap Risa.
NP :
Jangan lupa mampir ke novel aku yang ada di platform kuning (novel&me) “My Secret Husband” dan “She's Mine” by Tianse Prln.
__ADS_1