Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Impian Masa Lalu


__ADS_3

Malam telah melalui mereka. Waktu terasa begitu cepat berlalu ketika tidak ada aktivitas yang terjadi.


Pagi pun menyapa. Sinaran matahari terasa menyilaukan mata yang masih tertutup rapat. Tidurnya terusik, begitupun dengan mimpi indahnya yang terasa sangat singkat sekali.


Gadis itu menggeliatkan tubuhnya, meregangkan otot-ototnya dengan mata yang masih terpejam. Lalu kemudian, kelopak matanya perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang terasa masih asing baginya.


Memorinya masih rancu karena efek baru terbangun dari tidurnya. Gadis itu tampak memijat kepalanya, mengumpulkan semua ingatan tentang kejadian semalam.


Setelah semua ingatan itu terkumpul, Risa tampak mengerjapkan matanya, kemudian menoleh ke sisi kiri ranjang. Kosong, tidak ada siapapun disana, hanya dirinya yang berada di atas tempat tidur itu, seorang diri.


“Sudah bangun?” tanya sebuah suara bariton.


Risa menoleh, menatap ke sumber suara itu berasal. Juna, itu suaminya, dia tampak duduk santai di dekat jendela dengan secangkir kopi yang menemani.


“Jam berapa sekarang?” tanya Risa, membuat Juna tampak menampilkan senyuman menyindirnya, sebelum menjawab, pria itu tampak menyesap kopinya sejenak.


“Aku tidak menyangka kalau kamu juga bisa bangun kesiangan. Padahal semalam kita tidak melakukan apapun, seharusnya kamu bisa bangun lebih awal dariku seperti biasanya.” kata Juna.


Desisan rasa kesal terlontar dari bibir manis itu. Risa menatap Juna geram. Ya, seperti biasa, pria itu sangat menjengkelkan.


Orang bilang, tikus dengan kucing, lalu kucing dengan anjing, ketiga hewan itu secara berurutan tidak dapat akur satu sama lain.


Tapi semua itu hanya apa yang orang-orang katakan, karena faktanya, sampai detik ini pun banyak yang melihat ke akuran ketiga hewan tersebut.


Jadi, mungkin mereka berdua hanya butuh sedikit waktu untuk saling jinak menjinakkan satu sama lain.


“Cepat bangun, mandi dan ganti pakaianmu.” ucap Juna, terdengar seperti sebuah perintah yang membuat tubuh Risa terasa ter-setting seketika.


“Iya. Baik.” jawabnya, lalu ia turun dari atas tempat tidur. Tapi kemudian, gerakannya terhenti, sesuatu yang terlupakan telah melekat kembali ke dalam memorinya.


“Tadi barusan kamu sedang memerintahku?!” tanya Risa sembari menoleh ke arah Juna.

__ADS_1


Pria itu pun ikut menoleh pada sang istri, ia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja yang tersedia, “Kamu terlalu banyak berpikir, Sa. Aku sama sekali tidak bermaksud memerintahmu.” katanya.


“Benarkah?”


“Iya.”


“Baiklah, aku harap begitu. Karena kamu jangan sampai lupa kalau hari ini aku adalah ratunya.” ucap Risa dengan sikapnya yang sudah patut di apresiasi sebagai seorang ratu yang siap memberikan perintah.


“Sayang sekali. Aku pikir kamu lupa. Yah, mau bagaimana lagi. Baiklah, aku selalu siap menunggu perintah darimu yang mulia ratu Risa.” kata Juna sembari bangkit dari posisi duduknya, lalu membungkukkan tubuhnya, memberikan hormat seperti seorang pangeran yang sedang mengajak seorang putri untuk berdansa bersama.


“Bagus. Kalau begitu, perintah pertama dariku kamu harus keluar dari kamar ini karena aku mau mandi dan ganti pakaian disini. Jangan coba-coba masuk sebelum aku selesai.” kata Risa.


Juna tampak menganggukkan kepalanya, kakinya pun kemudian melangkah dengan gerakan penuh keterpaksaan, pria itu akhirnya keluar dari dalam kamar.


•••


Maldives atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan Maladewa. Negara Asia bagian Selatan.


Sebuah negara yang berjarak empat ribu lima ratus kilometer, dua ribu tujuh ratus sembilan puluh enam mil, dan dua ribu empat ratus dua puluh sembilan mil laut dari negara kepulauan Republik Indonesia.


Maladewa, sebuah negara yang sangat dikenal karena memiliki banyak pantai yang indah dan pemandangan bawah laut yang menarik. Tidak lupa laguna biru yang memanjakan sejauh mata memandang. Negara inilah yang menjadi tempat tujuan para pengantin baru karena keindahan alamnya yang mampu mengikat suasana romantisme.


Memandang setiap incinya pun tidak akan pernah membuat bosan sama sekali. Ini bagaikan berada di surga dalam versi dunia.


Sejuknya angin laut yang berhembus dan segarnya udara tanpa polusi membuat Risa merasa betah untuk tinggal cukup lama disini.


Hurawalhi Island Resort sebuah resort bintang lima yang mampu memanjakan pengunjungnya, tidak terkecuali Risa yang sangat merasa puas dan dibuat mabuk kepayang olehnya. Semuanya sangat sempurna, tempat yang sempurna untuk mengistirahatkan tubuh dan otak sementara waktu.


“Kamu suka?” suara itu membuyarkan diri Risa yang merasa terbius oleh pesona alam tempat itu.


Risa menoleh ke arah suaminya. Sebuah senyum ketulusan pun ia ukir diwajah manisnya. Sebuah senyuman yang khusus Risa berikan untuk Juna karena rasa terimakasihnya pada pria itu. “Ya, terimakasih sudah membawaku ke tempat luar biasa ini.” jawabnya.

__ADS_1


Juna membalas senyuman itu dengan hangat. “Ini semua berkat ingatanku yang cukup tajam.” katanya.


Risa mengernyit, tidak paham dengan hubungan antara ingatan pria itu dan tempat ini. “Maksudmu?” tanyanya.


“Kamu lupa ya?” tanya Juna, membuat Risa semakin mengernyitkan keningnya. “Ah, sayang sekali. Padahal aku pikir kamu ingat, dan itu bisa membuat hatimu senang juga percaya kalau aku serius denganmu.” katanya.


“Aku tidak mengerti apa maksudmu.” ucap Risa.


Juna tertawa kecil, lalu kemudian berdehem lirih. “Delapan atau sembilan tahun yang lalu, kamu pernah bilang sama aku kalau kamu punya impian bisa pergi ke Maladewa bersama seseorang yang kamu cintai.” katanya.


Mendengar pernyataan itu, ingatan Risa meluncur bebas, memorinya berputar seperti roll film yang terputar mundur.


Beberapa menit terdiam, ingatan itu kembali menyapa memorinya. Risa ingat, hari itu ia mengenakan pakaian putih abu-abu, disisinya ada Juna yang masih menjadi kekasihnya. Mereka berdua duduk di salah satu tribun penonton yang ada di lapangan basket.


Dalam ingatannya itu, Risa mengatakan apa yang tadi Juna katakan padanya, yaitu tentang impiannya untuk pergi ke tempat indah ini bersama orang yang dicintainya.


Lalu, apakah saat ini impiannya telah menjadi kenyataan? Itulah pertanyaan yang saat ini tengah menggerogoti hatinya.


Tidak, atau mungkin iya. Risa bahkan tidak yakin dengan suara hatinya sendiri.


“Kamu mungkin salah ingat. Mungkin itu ingatan kamu sama wanita lain.” ucap Risa setelah terdiam untuk beberapa menit lamanya.


“Salah ingat? Impossible, aku yakin kalau aku mengingatnya dengan jelas. Saat itu di sore hari, kamu menungguku bermain basket. Lalu kita duduk di salah satu tribun penonton. Disanalah kamu— ”


“Jangan ingatkan aku tentang masa lalu kita. Aku benci itu.” kata Risa, menyela dengan cepat.


“Maaf.”


“Lupakan, kamu sudah cukup baik karena membawaku kemari. Aku anggap ini sebagai satu poin plus untukmu. Mungkin aku bisa sedikit membuka hati untukmu. Tapi mungkin juga tidak. Kamu tahu kan kalau hati adalah sesuatu yang paling mudah berubah.”


💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2