
“Kenapa diem aja? Ayo cium aku,” desak Risa.
“Serius kamu minta cium?” tanya Juna.
Risa menghela napasnya kasar, perempuan itu memandangi suaminya jengah.
“Apa aku ini kelihatan lagi bercanda sama omongan aku sendiri?” sungutnya.
“Eh, bukan 'gitu maksudya, aku—”
“Kalian berdua, bisa tidak stop dulu buat anaknya?” sahut seorang pria yang tampak berdiri diambang pintu kamar itu.
Risa menoleh, begitu pun dengan Juna. Mereka menatap Aro yang kini bersandar di dinding dekat pintu sembari menyedekapkan kedua tangannya, memandang pasangan suami-istri itu datar.
“Kak Aro,” seru Risa. Perempuan itu kemudian beranjak dari atas tubuh suaminya, dia berlari mendekati Aro yang terlihat mengernyitkan kening heran dengan sikap adiknya itu.
“Apa?” tanya Aro saat Risa sampai di depannya.
“Cium aku,” kata Risa sembari mengerucutkan bibirnya.
Juna yang mendengar perkataan istrinya itu seketika melongo. Sedangkan Aro, pria itu menghela napasnya pendek, lalu menyentil bibir Risa pelan.
Risa mengaduh kesakitan, perempuan itu menutup mulutnya yang terasa sedikit berdenyut.
“Sakit tahu!” keluh Risa.
“Lagian kamu itu aneh. Ngapain minta cium sambil ngerucutin bibir, 'gitu? Mau nyindir kakak kamu ini, karena belum menikah dan belum pernah ciuman, iya?” sungut Aro, merasa tersindir dengan tingkah aneh Risa.
Risa mendengus. Perempuan itu kemudian melangkah melewati kakaknya.
__ADS_1
“Kalian berdua sama saja, bikin kesel, enggak peka,” ujar Risa sembari melangkah menuju tangga.
“Sayang, kamu mau kemana?” seru Juna. Tapi Risa mengabaikannya, sekalipun perempuan itu masih mampu mendengar suara suaminya itu.
Juna mengembuskan napas beratnya, dia pikir mungkin Risa marah padanya. Tapi, apa alasan perempuan itu marah?
Aro menggelengkan kepalanya heran dengan sikap adik kandungnya itu. Ia kemudian menatap ke arah Juna, dan bertanya. “Dia kenapa?”
Juna menggeleng pelan, dia sendiri tidak tahu kenapa istrinya itu bertingkah aneh. Padahal semalam Risa tampak diam seperti orang yang memiliki banyak beban pikiran. Tapi pagi ini, wanita itu tiba-tiba bersikap aneh sekali, sampai membuat semua orang menggelengkan kepalanya, heran.
“Aku juga enggak tahu, Kak. Dari tadi dia minta cium,” ucap Juna.
Aro menghela napasnya, pria itu sepertinya tahu alasan Risa kesal. “Terus kamu enggak cium dia?” tebaknya.
“Bukan enggak mau, tadi itu aku kaget aja, lihat tingkah dia—”
“Aish, sudahlah. Ayo turun, sarapan bareng. Mama sudah nunggu dibawah,” ujar Aro. Setelah itu, dia melenggang pergi dari kamar tersebut.
Risa melangkah menuju ruang makan, perempuan itu kemudian menarik salah satu kursi, dan duduk di sana dengan tenang.
“Pagi, Mama,” sapa Risa pada ibunya yang tengah sibuk memasak, membelakangi dirinya.
Wanita paruh baya itu menoleh, melihat putrinya yang tampak meraih selembar roti yang sudah dia panggang.
“Papa mana, Ma?” tanya Risa seraya memakan roti tersebut.
“Subuh tadi papamu dapet telepon dari rumah sakit, kondisi pasiennya buruk, jadi langsung pergi ke rumah sakit,” jelas sang Ibu.
“Oh.” ucap Risa.
“Juna sama Aro mana? Tadi Mama suruh Aro buat manggil kalian, kok dia malah enggak kelihatan?” Mama Dewi balik bertanya.
__ADS_1
Risa mendongak, mengarahkan kepalanya ke lantai dua rumah itu. Tepat saat itu, terlihat dua pria tengah berjalan menuruni tangga.
“Itu mereka,” jawab Risa sembari menatap dua pria yang kini sudah berjalan menuju meja makan.
“Kenapa lihat-lihat? Minta cium lagi kamu? Dasar aneh,” cibir Aro seraya duduk pada salah satu kursi meja makan tersebut.
“Aro, pagi-pagi kok sudah ngatain adeknya. Lagian ngapain juga Risa minta cium kamu? Orang suaminya aja ada,” sahut Mama Dewi.
Aro menghela napasnya, pria itu kemudian menoleh pada ibunya yang baru saja duduk disampingnya.
“Ma, tadi Risa minta cium enggak sama Mama?” tanya Aro.
Mama Dewi berkerut kening, dia kemudian menggelengkan kepalanya.
“Enggak tuh. Kamu itu kenapa sih bahas cium terus? Pengen dicium? Makanya cepetan nikah, atau kamu mau Mama sama Papa cariin pasangan?” kata Mama Dewi.
“Dih, apaan sih, Ma. Aku itu serius. Tadi itu ya, Risa—”
“Aku minta kak Aro cium aku, Ma,” sela Risa setelah meminum air putihnya.
“Eh?” Bingung Mama Dewi.
“Aku enggak tahu kenapa, tapi pengen aja dicium sama laki-laki,” jelas Risa sembari melirik ke arah Juna yang duduk disampingnya.
Mendengar penuturan Risa itu, semua orang terbengong menatap ke arahnya. Bingung dengan sikap aneh wanita itu.
“Jangan aneh-aneh, Sa. Suami kamu itu 'kan ada, minta cium aja sama dia. Kamu kalau aneh-aneh Mama suruh Juna hukum kamu loh,” tukas Mama Dewi.
“Bercanda, Ma. Ya udah aku ke kamar dulu, mau mandi,” ucapnya sembari beranjak dari duduknya. Lalu melenggang pergi dari ruang makan itu.
Juna memandang kepergian Risa dalam hening. Jujur saja, pria itu semakin terheran-heran dengan tingkah istrinya. Ada apa dengannya?
__ADS_1