Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Perempuan Dari Masa Lalu


__ADS_3

Di saat Risa asyik dengan senyum sumringahnya. Ponselnya terdengar mengeluarkan bunyi pemberitahuan pesan masuk.


Risa menatap ponsel yang tergeletak di atas nakas dekat tempat tidurnya itu. Lalu, mendekatinya, membuka pesan masuk yang ternyata dari suaminya.


Maaf, malam ini aku pulang terlambat. Kamu tidur duluan aja. Jangan tunggu aku.


Note penting... Aku mencintaimu, sending virtual kiss untuk istriku.


Risa tersenyum melihat pesan singkat itu. Ia pun kemudian meletakkan cangkir tehnya, lalu mulai membalas pesan dari suaminya.


Iya, hati-hati ya. Jangan paksakan diri, kalau kamu lelah harus istirahat. Aku juga mencintaimu.


Selesai mengirimkan pesan balasan. Risa meletakkan ponselnya ke atas nakas kembali. Lalu meraih tehnya. Tapi, tiba-tiba gejolak aneh saat mencium aroma teh itu membuat Risa tanpa sengaja menjatuhkan cangkir tehnya.


Pekikan tertahan pun keluar dari bibir mungilnya. Bersamaan dengan itu, ia merasakan perih di bagian pergelangan kaki kanannya.


Warna merah pekat dan kental itu mengalir turun merembes ke lantai marmer kamar Risa.


Risa berdesis saat dirinya merasakan perih yang lumayan mengganggu. Lalu kemudian, dengan langkah pincang, ia pun berjalan ke nakas seberang. Tempat barang-barang Juna berada. Risa mencari kotak P3K yang suaminya simpan disana.


Setelah mendapatkan kotak berwarna putih itu. Risa duduk di pinggir ranjang sembari meletakkan kotak tersebut di sampingnya.


Ragu-ragu, Risa mendekatkan tangannya pada pergelangan kakinya. Ia hendak mencabut serpihan kaca dari cangkir yang pecah tadi.


Saat serpihan itu berhasil tercabut dari pergelangan kakinya. Erangan tertahan pun keluar dari mulut Risa. Rasa sakit dan perih semakin bergerilya di kakinya.


Saking sakitnya, entah bagaimana, air mata Risa jatuh begitu saja. Ia sebenarnya takut dengan darah. Warna merah dan kental itu membuat perutnya semakin merasakan gejolak mual.


Tanpa mengikuti prosedur penanganan pertama. Risa asal menaburkan alkohol ke atas lukanya. Tentu itu semakin menimbulkan rasa sakit yang sangat pekat.


Erangan Risa pun tak lagi terhindarkan. Mungkin, cicak di luar rumahnya mampu mendengar suara teriakan kesakitannya.


Setelah itu, dengan cepat Risa meraih kasa, menempelkan kain mirip kapas itu pada lukanya yang cukup lebar. Kemudian, Risa membalut pergelangan kakinya dengan perban hingga dirinya tidak dapat lagi melihat bercak darah.


Helaan napas mengakhiri perjuangan Risa mengobati lukanya. Rasa perih pun sudah sedikit memudar.


Lalu, Risa menoleh ke belakang. Menatap ke bagian sisi kiri ranjangnya. Pecahan cangkirnya masih berserakan. Risa harus segera membersihkannya.


•••


Hembusan semilir air malam membelai lembut wajah bersih seorang gadis dengan wajah khas negeri samurai.

__ADS_1


Senyum kecilnya yang menyapa langit malam membuat bintang-bintang tampak bersinar lebih indah.


Rambut hitamnya yang berterbangan, melambai-lambai, seolah sedang menyambut kedatangan seseorang.


Sebuah tangan menyentuh pundak gadis itu, membuatnya menoleh. Lalu, senyuman-nya semakin melebar.


Detik berikutnya, ia menghambur ke dalam pelukan hangat orang itu.


“Aku merindukanmu, Juna...,” lirihnya, penuh rindu dan kesedihan.


Tubuh Juna membeku. Ia ingin mendorong wanita itu agar menjauh darinya. Tapi, nuraninya berkata jangan, membuat Juna tanpa sadar bergerak membalas pelukan tersebut.


Senyum gadis itu merekah. Bagai bunga sakura yang bermekaran di musim semi.


“Kamu kok diem aja?” tanyanya.


Juna tersadar. Ia pun lantas mendorong pelan tubuh Runa, nama gadis berwajah khas negeri sushi itu.


“Maaf,” lirih Juna.


Runa mengerutkan keningnya, ia bingung. Dalam gelapnya malam yang hanya di terangi lampu jalanan dengan pencahayaan ala kadarnya. Runa kesulitan melihat ekspresi sesungguhnya dari Juna.


“Ada apa?”


Juna menatap perempuan itu sekali lagi. Tidak ada yang berubah dari Haruna— Runa, wajah gadis itu masih seperti dulu, bak bunga sakura yang selalu terlihat memesona.


Juna menepis rasa kagum itu. Tidak boleh, dia tidak boleh terpesona dengan wanita lain. Juna harus ingat kalau ada sosok perempuan yang sedang menunggunya di rumah.


“Juna,” panggil Runa, membuyarkan lamunan Juna yang terbang tinggi.


“Kamu kenapa? Apa ada yang salah?” tanyanya kemudian, alisnya tampak berkerut, masih menatap Juna penuh keheranan.


“Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu,” cicit Juna pada akhirnya bersuara.


Runa tersenyum. Lesung pipinya terukir di sisi kanan dan kiri wajahnya, menambah kesan manis yang menggoda hati Juna untuk memujinya.


“Katakan saja satu persatu. Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan semuanya,” tutur Runa.


Juna menghela napasnya. Perasaan bersalah dan tidak enak hati menyerang pikirannya. Haruskah ia jujur sekarang?


“Maaf, Runa. Tapi aku tidak punya banyak waktu,” jujur Juna. Ia harus segera pulang, karena Juna yakin kalau Risa pasti sedang menunggu dirinya di rumah.

__ADS_1


Masih dengan senyum yang tampil di wajah eloknya. Runa menjawab, “Ya, aku tahu. Yoga sudah banyak bercerita tentang kamu. Kamu sekarang seorang dokter yang penuh dengan kesibukan. Apalagi saat ini kamu sedang dalam program spesialismu,” sahut Runa.


Hati Juna mendesah. Lagi-lagi Runa salah paham akan dirinya. Bukan itu yang Juna maksud.


“Runa, dengarkan aku,” kata Juna. Ia harus segera berterus-terang.


“Ya?”


“Aku sudah menikah,” ungkap Juna.


Hening. Yang terdengar hanya suara alam yang saling bersahutan.


Runa pun terdiam, begitu juga dengan Juna yang masih menunggu respon dari gadis di hadapannya itu.


Detik selanjutnya, suara tawa Runa memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.


Apanya yang lucu? Pikir Juna, ia heran sekaligus bingung.


“Kenapa tertawa?” tanya Juna tak paham dengan arti dari tawa Runa.


Runa berdehem kecil, menetralkan suaranya yang baru saja tertawa lepas.


“Kamu sama sekali tidak berubah. Kamu masih sama seperti dulu. Suka bercanda,” jelas Runa.


“Tapi aku tidak bercanda. Aku serius, Runa. Aku sudah menikah hampir satu tahun ini. Apa Yoga tidak memberitahumu?” papar Juna, berakhir dengan pertanyaan yang tidak mungkin akan di jawab oleh Runa.


Runa diam. Gadis itu tampak terkejut. Ia syok. Wajahnya sangat jelas menunjukkan kalau dirinya sangat kecewa dengan kejujuran Juna.


“Bagaimana bisa?” lirihnya, suara Runa mulai terdengar serak.


Juna menutup matanya sekilas. Ini salahnya. Seharusnya ia memberitahu Runa sejak awal pernikahannya dengan Risa. Karena bagaimanapun juga, ia dan Runa pernah punya janji, saling mengikat satu sama lain. Runa bahkan mengijinkan Juna untuk berkelana, asal bukan hati dan raga Juna.


Tapi, kini yang Runa dapat adalah janji yang kosong, tidak ada arti. Pendusta, ingin sekali Runa mengumpati pria dihadapannya itu. Namun, ia tak sanggup. Juna terlalu kokoh bersemayam di hatinya.


Runa mencintainya. Lebih dari apapun. Juna adalah dunianya, begitulah Runa mendeskripsikan sosok pria berhidung mancung itu.


“Maafkan aku,” beo Juna. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa.


“Tidak, kamu tidak boleh menikah, kecuali sama aku, itu janji kamu, janji kita,” sungut Runa.


“Maaf, Runa. Masalahnya waktu itu benar-benar mendadak. Pernikahan ini sudah di atur oleh keluargaku dan keluarganya,”

__ADS_1


“Kamu di jodohkan? Kalau begitu ceraikan dia,” suruh Runa, tegas.


__ADS_2