
Good Morning. Happy weekend guys.
Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.
Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Juna terkejut dengan apa yang Risa katakan. Ia tak menyangka kalau istrinya itu akan berpikir demikian padanya.
Padahal ia hanya berniat baik, ingin memberikan ruang untuk sang istri. Ia rela pergi dari rumah dan tidur di luar sana agar Risa bisa menenangkan pikirannya.
Tapi siapa sangka kalau istrinya itu malah berpikir kalau dirinya akan bergaul dengan wanita lain.
“Sa, kamu ngomong apa sih? Kamu—” Juna menghembuskan napas beratnya, sengaja menggantungkan kalimatnya. Saat ini, ia benar-benar berada dalam rasa frustasinya.
“Bilang sama aku, Sa. Gimana caranya biar kamu bisa percaya sama aku?” tanya Juna sembari menyentuh bahu sang istri.
“Aku akan lakukan apapun itu asal kamu bisa percaya sama aku. Aku serius sama pernikahan kita ini, Sa.” katanya lagi.
Risa mengalihkan pandangannya, ia kembali menggigit bibir bawahnya seraya mengusap keningnya.
Sedih, ragu, dan kecewa. Semua tertuang jelas dalam gerakan tubuhnya.
“Sa...” panggil Juna lirih.
“Aku harus pergi.” ucap Risa sembari memandang Juna kembali.
“Sa, aku mohon sama kamu. Kita bicarakan baik-baik, ya?” pintanya lagi.
“Aku juga mohon sama kamu, Juna. Aku minta maaf. Aku enggak bisa hidup seperti ini terus. Kamu sadar enggak sih? Pernikahan kita ini enggak ada masa depannya. Kita berdua cuma melangkah ke depan tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas.” kata Risa.
Juna semakin menatap Risa sendu, ia bahkan tampak mengusap wajahnya frustasi. “Karena itu, Sa. Karena itu aku ajak kamu untuk serius sama pernikahan kita.” balas Juna, menatap Risa dengan mata beningnya.
“Sa, mungkin dalam hal pacaran, aku punya banyak pasangan. Tapi prinsip aku dalam pernikahan, aku cuma mau punya satu pasangan seumur hidup. Aku cuma mau menikah cukup satu kali dalam seumur hidupku. Makanya aku selalu bilang sama kamu, kalau aku serius sama pernikahan kita.” ujar Juna.
Risa menghela napasnya. Bukan itu yang ia inginkan dari sebuah pernikahan. Bukan hanya sekedar keseriusan saja. Tapi juga elemen lain yang mampu menciptakan harmoni yang seimbang.
“Kamu pikir hanya dengan keseriusan, maka sebuah pernikahan bisa bertahan lama? Enggak Juna, kamu terlalu naif berpikiran seperti itu.” kata Risa.
“Maksud kamu?” Juna tak mengerti.
__ADS_1
“Cinta, kepercayaan, pengertian, perhatian, saling mendukung dan lainnya, semua itu di butuhkan dalam sebuah pernikahan.” jawab Risa.
“Apa kamu bisa beri aku semua itu? Tidak 'kan?” ucapnya.
“Aku bisa.” jawab Juna tanpa ragu, pria itu menatap Risa serius. Tatapan tanpa getaran sedikitpun, membuat hati Risa merasa luluh untuk sesaat, sebelum kemudian gadis itu menepis perasaan itu.
“Bisa?” tanya Risa sembari membalas tatapan Juna, “Kalau begitu cintai aku dengan baik.” sambungnya.
“Ya, aku akan melakukannya. Mari kita saling membuka hati untuk mencintai— ”
“Tidak denganku.” sela Risa.
Juna mengernyitkan keningnya tidak mengerti.
“Aku tidak bisa mencintaimu.” ucap Risa kemudian.
“Kenapa? Kamu cuma perlu buka hati kamu. Bukan hanya kamu, aku juga. Kita sama-sama belajar untuk saling mencintai.” kata Juna.
Risa tersenyum masam, kemudian matanya beralih pandang.
“Karena aku tidak paham lagi dengan sesuatu yang bernama cinta. Seperti apa cinta? Apakah saat jantungku berdetak cepat itu dinamakan cinta? Bukan, karena waktu aku berlari pun, jantungku juga berdetak berdetak cepat. Apa saat aku gugup itu dinamakan cinta? Aku pikir juga bukan, karena saat aku harus menghadapi sesuatu yang luar biasa penting, aku selalu gugup. Jadi apa itu cinta? Aku tidak tahu.” kata Risa.
“Aku tidak mengerti apa yang namanya cinta semenjak cinta pertamaku mencampakkan diriku karena sahabatku sendiri.” sambungnya sembari menatap mata Juna tajam. Mengingatkan laki-laki itu tentang kejadian sembilan tahun yang lalu.
“Juna, kenapa kamu enggak nikah sama Talia saja? Kenapa malah menikah denganku? Bukannya dulu kamu bilang kalau aku ini hanya sebatas batu pijakanmu untuk mendapatkan Talia?” tanya Risa, mengorek kembali kenangan menyakitkannya itu.
“Risa.”
“Apa kami, para wanita hanya sebuah batu pijakan untukmu mendapatkan kepuasan fisik? Begitukah?”
“Cukup, Risa!” bentak Juna. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua api yang Risa percikkan padanya. Juna pun akhirnya meledak, amarahnya keluar.
“Kenapa? Kamu marah?!” tanya Risa, menantang pria di hadapannya itu.
Juna mengalihkan pandangannya, napasnya terlihat naik turun dengan cepat. Pria itu benar-benar di selimuti oleh amarahnya.
“Pergilah kalau kamu memang mau pergi. Aku pikir kita berdua memang butuh waktu untuk sendiri.” ucap Juna, kemudian pria itu masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh lagi ke arah Risa yang tersenyum kecut menatap kepergiannya.
“Hanya sebatas itu 'kah keseriusanmu? Ck, mengecewakan.” kata Risa sembari melipat kedua tangannya di depan dada, menatap pintu kamar Juna dengan helaan napasnya.
•••
Risa masuk ke dalam rumah orangtuanya tanpa mengetuk pintu lagi.
__ADS_1
Gadis itu terlihat menyeret kopernya dengan raut masam yang terlihat jelas di wajahnya.
“Risa? Kamu akhirnya datang berkunjung ke rumah. Mama udah lama enggak lihat kamu. Mama rindu sama kamu tau. Kamu kesini sama siapa—” ujar Dewi, ia menggantungkan kalimatnya ketika matanya menangkap sebuah koper yang Risa bawa.
“Kamu lagi berantem sama Juna?” tanya sang ibu, Dewi.
Risa hanya diam, ia menatap ibunya dengan wajah tanpa ekspresi.
Tanpa menjawab, gadis itu pun berjalan melewati sang ibu, ia melangkah menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya.
“Risa.” panggil ibunya.
“Risa capek, Ma. Risa mau istirahat dulu. Nanti kalau Risa udah ngerasa lebih baik, baru kita ngobrol. Maaf.” ucap Risa sembari menaiki tangga dengan tangan memegang kopernya.
“Adek kenapa, Ma?” tanya Aro yang baru saja muncul dari arah dapur.
Dewi menghela napasnya, kemudian menggelengkan kepalanya seraya mengusap tengkuknya, gelisah.
“Mama juga enggak tahu.” jawabnya.
“Mama rasa, dia lagi berantem sama Juna.” kata Dewi.
Aro terdiam, tapi kemudian ia tiba-tiba berkata, “Aro pergi dulu ya, Ma.” pamitnya.
“Mau pergi kemana kamu? Adek kamu lagi kayak gitu malah keluyuran. Bantu Mama sama Papa tenangin dia dulu.” ujar ibunya.
“Risa kalau lagi marah jangan di ganggu. Beri dia ruang buat sendiri dulu. Nanti kalau dia sudah tenang, dia bakal cari orang buat curhat kok.” kata Aro. Sebagai seorang kakak dan sebagai orang yang paling dekat dengan Risa. Aro sangat paham bagaimana menyikapi gadis itu ketika dia sedang marah ataupun sedih.
“Gitu ya. Ternyata kamu lebih paham tentang Risa daripada Mama sama Papa.” ucap ibunya, kembali menghela napas beratnya.
“Tapi kamu belum jawab pertanyaan Mama. Kamu mau pergi kemana?” tanya ibunya lagi.
“Aro mau pergi ke rumah Risa sama Juna. Mau ketemu sama Juna. Kalau kita mau tahu masalahnya, seenggaknya cari dulu akar masalahnya. Karena Risa lagi marah gitu, kita enggak bisa tanya ke dia. Jadi, Aro mau tanya langsung sama Juna, sekalian beri sedikit petuah ke adik ipar.” jawab Aro.
Dewi membulatkan mulutnya, ia ber'oh' ria menanggapi jawaban dari putra sulungnya itu.
“Aro memang yang terbaik. Ya sudah, cepat temui Juna. Tapi kamu jangan main pukul ya. Bicara baik-baik.” nasihat Dewi.
“Iya, Mama.” jawab Aro. Setelah itu, ia berlalu dari hadapan sang ibu.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1
Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Ty vm.
Q&A : Menurut kalian, apakah Risa sama Juna seharusnya cerai saja? atau cukup butuh wakti untuk saling merenung? atau— (uraikan pendapat kalian ya...)