Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Tidak Ada Yang Salah


__ADS_3

UPDATE SETIAP HARI KAMIS


Juna menatap istrinya kagum. Binaran matanya menampilkan senyum tersembunyi. Ia tidak menyangka kalau Risa bisa memiliki hati selapang itu. Padahal sedari tadi dia sudah menyiapkan diri untuk mendapatkan amarah dari Risa. Tapi siapa sangka kalau istrinya itu sangat bijak dan begitu dewasa.


“Kamu enggak marah?” tanya Juna hati-hati.


Risa tersenyum lemah, gadis itu mengusap tangan Juna yang menggenggam tangannya. Kemudian kepala gadis itu menggeleng pelan.


“Untuk apa aku marah?” ucapnya, “Mungkin belum saatnya kita memiliki anak. Lagian, selama rahimku masih baik-baik saja, kita bisa memilikinya lain waktu,” imbuh Risa dengan aura lembutnya yang mampu menyejukkan hati suaminya.


“Terima kasih dan maaf,” lirih Juna, rasa syukur di sela-sela dukanya pun terucap tanpa suara.


Juna bersyukur memiliki pasangan seperti Risa yang mampu menerima kesalahannya dengan hati terbuka. Yang mau menerima kebodohan dan kecerobohannya dengan senyum hangat.


Terima kasih, Istriku.


***

__ADS_1


“Deon,” panggil sebuah suara paruh baya.


Langkah Deon pun terhenti tepat di depan anak tangga rumahnya. Kemudian tubuhnya berputar, mengikuti arah jarum jam enam. Di sana ayahnya berdiri dengan senyum yang terukir apik di wajah paruh bayanya.


“Selamat datang kembali,” sambutnya.


Deon berkerut kening. Sikap ayahnya sungguh aneh, membuat Deon menerka-nerka kalau ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu darinya atau ada hal lain yang akan membuat Deon membelalakkan mata karena terkejut.


“Papa? Kenapa ada di rumahku?” tanya Deon tanpa basa-basi.


Pria paruh baya itu tersenyum lagi, menatap Deon sesaat, lalu menepuk-nepuk bahu putranya itu.


“Iya, tapi bukan itu maksudku. Kenapa Papa tiba-tiba datang kemari?” tanyanya lagi.


“Karena ada hal yang harus Papa-mu dan Om bahas di sini bersamamu,” sahut suara lain dari arah sofa ruang tamu Deon.


Kening Deon lagi-lagi mengernyit. Ia menyipitkan matanya, mencoba menangkap sosok pria yang kini berdiri dari duduknya dan melangkah mendekatinya.

__ADS_1


“Senang melihatmu lagi, Deon,” cakapnya dengan tangan yang tergantung di udara, mengajak Deon berjabat tangan.


“Ah, iya,” balas Deon, tangannya bergerak menyambut uluran tangan pria paruh baya itu, “Eng... sebelumnya maaf, anda siapa ya?” tanya Deon sopan.


“Kamu lupa? Dia sering berkunjung ke rumah kita sewaktu kamu kecil dulu,” terang sang ayah.


Deon melepaskan jabatan tangannya, namun ia masih diam menatap ke bawah, ia mencoba mengingat siapa pria paruh baya di hadapannya itu. Tapi sia-sia saja, hasilnya nihil, tidak ada ingatan tentangnya.


“Aku tidak ingat, sama sekali tidak ada ingatan seperti itu di kepalaku,” ucap Deon.


Ayah Deon tertawa ringan, ia menepuk-nepuk tangannya beberapa kali, merasa tidak enak dengan teman baiknya yang secara tidak langsung di lupakan oleh Deon.


“Sepertinya kamu memiliki ingatan yang buruk, anakku,” canda ayahnya, menggerus rasa canggung yang sempat tercipta.


“Wajar saja kalau dia lupa. Itu sudah sangat lama, bahkan sebelum kamu bercerai dengan istrimu,” sahut pria paruh baya itu.


“Ah iya, benar. Sudah sangat lama sekali. Bahkan mungkin Deon sudah lupa dengan ucapannya saat itu,” kata ayahnya.

__ADS_1


Deon benar-benar bingung dengan percakapan dua pria paruh baya dihadapannya itu, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang keduanya katakan, “Ucapan apa?” tanya Deon.


“Dulu, kamu pernah berkata kalau suatu hari nanti saat kamu sudah dewasa, kamu akan menikahi Runa. Waktu itu kamu masih bocah ingusan yang hanya asal bicara. Tapi, untuk mewujudkan perkataanmu itu. Kami berdua akhirnya sepakat untuk menikahkan kalian berdua,” papar pria paruh baya itu.


__ADS_2