Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Kita Masih Musuh (bagian satu)


__ADS_3

Juna berjalan menjauhi kamar hotelnya, pria itu melangkahkan kakinya lebar, ingin segera pergi dari area sekitar Risa. Berdekatan dengan Risa sungguh membuat Juna selalu ingin meledakkan emosinya.


Ck, gadis barbar kayak Risa itu kenapa dulu aku mau jadiin dia koleksi mantan aku?! Sebenernya sebanyak apa sih dendam dia ke aku?!


Sebenci itukah dia sama aku? Sampai main tendang-tendang segala. Sialan, jadi mimisan gini juga karena dia. Tapi dia itu masih berani nunjukin wajah enggak ada dosanya. Dasar rubah.


Sepanjang perjalanan menuju ke lantai dasar, Juna tidak henti-hentinya mencibir Risa di dalam hatinya.


Bahkan, mungkin saja saat ini ia sedang membayangkan kalau dirinya itu sudah menendang Risa sampai ke pluto.


“Maaf tuan, itu— tisu di hidung anda, apa anda sedang mimisan? Apa perlu saya panggil medis untuk anda?” tanya seorang wanita pegawai hotel yang sepertinya adalah seorang housekeeping.


Juna menoleh ke arah wanita itu, lalu kemudian memegang hidungnya yang masih tersumpal oleh tisu. Menyadari kecerobohan-nya, Juna pun langsung melepaskan tisu yang tersumpal di lubang hidungnya itu, dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.


Kenapa aku bisa lupa buang tisu itu sih? Untung saja ada yang ngingetin, kalau sampai tadi enggak ada yang ngingetin, terus banyak yang liat kan bisa malu. Juna, bodoh kamu. Apa karena di tendang sama Risa, otak aku jadi konsleting ya? Hah, nanti setelah check out dari hotel harus segera pergi ke rumah sakit, aku harus scan kepala aku, mastiin kalo enggak ada yang salah.


“Terimakasih sudah mengingatkan.” ucap Juna, setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya menuju ke lift untuk turun ke lantai dasar.


Beberapa menit di dalam lift, Juna pun akhirnya sampai di lantai dasar. Setelah sampai di lantai dasar, Juna langsung berjalan menuju ke restoran yang terdapat di dalam hotel tersebut.


Sesampainya di depan pintu masuk restoran yang ada di dalam hotel itu, Juna tampak berdiri sejenak disana, menatap ke dalam melalui kaca jendela yang tembus pandang, ia mencari keberadaan ayahnya dan keluarga istrinya yang tadi menghubunginya untuk datang sarapan bersama ke restoran itu.


Setelah beberapa saat mengedarkan pandangannya, Juna pun menemukan mereka.


Lalu kemudian, ia melangkah menghampiri mereka yang tampak masih menunggu dirinya dan juga Risa untuk datang.


“Juna, kemari.” ucap sang ayah.


Juna pun mempercepat langkahnya, mendekati meja itu dan duduk disalah satu kursi yang kosong.


“Loh Juna, kamu datang sendirian? Dimana Risa?” tanya ibu mertuanya.


“Kamu enggak ajak dia?” tanya Henry, ayahnya.

__ADS_1


“Dia lagi mandi, tadi udah dibangunin tapi enggak bangun-bangun.” katanya, membuat alibi palsu.


“Terus kamu tinggalin Risa gitu aja?!” tanya sang ayah.


“Siapa yang tinggalin dia, orang dia yang suruh aku buat dateng kesini duluan kok.” sanggah Juna, berbohong.


Cerita aslinya bukan seperti itu, karena yang bangun lebih dulu malah Risa bukannya Juna.


Alasan Juna meninggalkan Risa dan pergi lebih duluan juga karena Juna merasa kesal dengan istrinya itu.


Tapi bagaimana mungkin Juna akan mengatakan yang sejujurnya, walaupun ia adalah pihak yang sebenarnya di tindas oleh Risa. Tapi akan sangat memalukan jika ia mengadu pada ayahnya dan juga orangtua Risa.


“Halo semuanya.” sapa Risa dengan senyum cerahnya. Kemudian ia kembali berjalan menghampiri meja makan itu.


Sesampainya di meja makan, Risa pun ikut duduk, ia duduk tepat di samping Juna.


“Apa aku datang terlambat?” tanya Risa.


“Enggak kok anak menantu. Tapi kenapa kamu enggak dateng bareng sama Juna aja tadi? Kan bagus kalau pengantin baru dateng bareng-bareng terus gandengan tangan, ngelihatnya aja udah seneng banget.” kata Henry, ayah mertuanya.


“Sudahlah yah, kenapa masih di bahas lagi? Lagian Risa kan udah ada disini. Mending kita langsung pesen makanan aja. Aku udah laper.” ujar Juna.


“Bener itu, papa juga udah laper, hari juga sudah mau siang, nanti waktu sarapan keburu habis loh.” sahut Fero, ayahnya Risa.


Setelah mendengar keluhan lapar dari Fero dan juga Juna, Dewi, ibunya Risa pun memanggil pelayan restoran tersebut.


Tidak butuh waktu lama, pelayan restoran itu pun datang menghampiri meja mereka. Lalu kemudian, mereka mulai menyebutkan menu-menu yang ingin di pesan.


Selesai menyebutkan menu makanan dan minuman yang ingin dipesan, pelayan itu pun membaca ulang daftar pesananan mereka sekali lagi. Setelah dirasa benar, pelayan restoran itu kemudian pergi dari hadapan mereka dan mulai menyerahkan pesananan mereka ke bagian kitchen.


“Oh iya, kak Aro mana?” tanya Risa, sejak tadi indera penglihatannya itu sama sekali tidak melihat tanda-tanda kehadiran kakaknya.


“Kamu semalam udah tidur, jadi enggak tahu kalau kakak kamu itu langsung pergi ke rumah sakit setelah acara pernikahan kamu selesai. Semalem dia sebenernya mau pamit langsung sama kamu, juga sekalian mau minta maaf karena harus buru-buru pergi kerja lagi. Tapi kamunya udah tidur, jadi cuma pamit sama Juna aja.” kata Dewi, ibunya.

__ADS_1


Risa menghela nafasnya, kakaknya itu memang sejak menggeluti dunia kedokteran sangat jarang sekali memiliki banyak waktu luang. Tidak seperti saat sekolah menengah atas dulu. Banyak waktu luang bagi mereka kakak dan adik untuk menghabiskan waktu bersama.


“Jangan kecewa seperti itu, nanti mama bilangin ke Aro deh, buat dateng ke rumah kalian.” ujar Dewi.


“Rumah kalian?” tanya Risa, sepertinya gadis itu lupa dengan apa yang sudah diberitahu ibunya semalam kalau dirinya itu mulai hari ini akan tinggal berdua bersama Juna.


“Kamu lupa? Nanti setelah kamu dan Juna check out, kalian langsung pergi ke rumah baru kalian. Bukannya semalem mama udah kasih tau kamu?” kata Dewi.


“Emangnya enggak mampir dulu ke rumah mama sama papa? Atau nginep semalem dulu gitu, masa langsung pindah rumah sih ma.” keluh Risa.


“Lebih cepet kan lebih bagus Sa. Lagian kalau kalian berdua terus ikut tinggal bareng dengan kami, gimana kalian bisa punya waktu bebas buat bikin cucu untuk kami?” ujar Fero.


Mendengar perkataan dari ayahnya itu, Risa merasa seakan-akan udara yang di hirupnya saat ini terasa seperti tulang ikan yang membuat tenggorokannya tercekat.


“Cucu apaan sih pa, baru juga nikah udah ngomongin cucu segala.” protes Risa.


“Lagian maafin Risa ya pa, Risa enggak akan pernah mau punya anak sama dia, jadi jangan terlalu berharap soal cucu sama Risa.” gumam Risa lirih.


Juna yang masih dapat mendengar gumaman Risa itu, ia tampak mengeluarkan seringaiannya. Sebuah ide jahil secepat kilat telah menyangkut di kepalanya.


“Kamu tenang aja Sa, walaupun kita baru nikah semalam, tapi bukan berarti kita enggak bisa buat cucu secepatnya buat mereka. Asalkan kamu setuju, dalam satu malam aja, kita bisa buat klub kesebelasan nanti.” ujar Juna diiringi dengan kedipan matanya yang ia tujukan khusus untuk menggoda Risa.


“Kamu kalau ngomong jangan sembarang.” ucap Risa lirih, hanya Juna yang bisa mendengarnya dengan jelas. Tangan Risa pun kemudian terlihat mencubit pinggang suaminya itu tanpa sepengetahuan orangtua mereka.


“Aw, sakit Sa. Kamu itu jahat banget sih sama suami sendiri.” bisik Juna, dengan raut kesalnya.


“Kalian bisik-bisik apa sih? Lagi ngomongin rencana punya anak berapa ya?” tanya ibunya Risa dengan nada menggodanya.


“Eh, mama mertua kok bisa tau sama apa yang lagi kita omongin? Kita jadi malu rasanya.” jawab Juna, semakin membuat Risa ingin mencubit, mencakar, bahkan kalau perlu menendang pria itu lagi.


Orang ngeselin itu katanya hidupnya bakalan panjang banget ya? Aku enggak berharap gitu sama Juna, lebih baik dia cepetan pulang ke akhirat, atau sekarang kalau perlu migrasi dulu ke matahari deh. Beneran enggak sanggup lagi sama sikap dia yang bikin hati aku pengen nendang mukanya.


💥thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2