
Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Bagiku, pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Sama seperti kebanyakan orang berpikir tentangnya.
Aku hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupku.
Aku ingin setia, seperti kesetiaan ayahku pada ibuku yang sudah lama tiada.
Dan dia, dia istriku.
Awalnya, aku hanya menganggap perempuan ini sebagai sosok istri dalam sebuah ikatan paksa.
Tapi, apalah dayaku. Wajahnya yang cantik, sikapnya yang menggemaskan, dan masakannya yang membius lidahku.
Siapa yang tidak jatuh hati padanya?
Apalagi saat dia merelakan sesuatu yang berharga dari dirinya untuk diriku.
Juna tersenyum lembut. Ia merapikan rambut hitam yang menutupi wajah cantik Risa.
Di usapnya mata yang sejenak terpejam kerena lelah itu.
“Ngantuk...,” lirih Risa.
Senyuman Juna semakin melebar sempurna.
“Tidurlah,” bisik Juna.
“Disini?” tanya sang istri.
Juna kemudian tersadar.
Mereka masih berada di ruang tamu, di atas sofa berwana baby blue, di depan layar televisi yang masih menyala, di bawah lampu ruangan yang temaram. Di sanalah keduanya bergulat untuk kali pertamanya.
Sebuah tempat dan ruang yang akan menciptakan memori luar biasa.
Keduanya pasti akan kesulitan melupakannya.
Juna bergerak, pria itu bangkit dari atas tubuh Risa.
Kemudian, ia mengangkat tubuh istrinya itu. Menggendongnya ala bridal style menuju kamar mereka.
“Apa aku berat?” tanya Risa, menatap wajah suaminya.
Juna mengulas senyumnya, kemudian menggelengkan kepalanya. Ia mulai menaiki anak tangga, melewati tangga itu menuju kamarnya.
“Aku rasa berat badanku naik,” keluh Risa sembari membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.
Juna terkekeh mendengarnya, “Naik dari mananya? Badanmu itu bisa dikatakan masuk ketegori kurus. Bahkan lekukan pun tidak ada,” ungkap Juna.
“Kamu itu maksudnya tidak puas dengan tubuhku ya?!” kesalnya.
Juna tidak langsung menjawabnya. Ia menurunkan tubuh istrinya itu ke atas tempat tidur, lalu menyelimutinya.
__ADS_1
“Siapa bilang aku tidak puas? Tapi, kalau dipikir-pikir sepertinya begitu. Bagaimana kalau kita lakukan lagi disini? Biar aku puas seperti katamu,” goda Juna.
Risa mencebik kesal. Walau begitu, pipinya sudah merah merona bak tomat yang siap di panen.
“Malu ya?” suaminya itu kembali menggodanya.
Risa semakin di buat salah tingkah olehnya.
“Juna...,” pada akhirnya, rengekan itu terdengar kembali.
“Apa, Sayangku?” tanya Juna, bukannya mengalah, ia malah semakin gencar menggoda istrinya.
“Aku mau tidur. Aku capek, ngantuk, kamu jangan goda aku terus,” protesnya.
Juna terkekeh, lalu mengusap lembut punggung Risa, kemudian beralih mengusap rambut panjang istrinya itu.
“Tidurlah. Aku mau mandi dulu,” bisik Juna. “Kamu mau mandi bareng aku enggak?” imbuhnya dengan pertanyaan penuh godaan jahilnya lagi.
“Juna!” gertak Risa, ia kesal.
“Iya, iya, baik. Tidurlah. Selamat malam, Wifey,” ucap Juna, ia mengecup kening Risa cukup lama. Lalu kemudian, Juna pergi, mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
•••
Bahagia itu mudah.
Semudah membuka buku pada halaman selanjutnya.
Mencoba menerima dan meresapi setiap kata pada buku itu.
Mengerti dan paham, layaknya pembelajaran hidup dalam sebuah kehidupan.
Dia rumit, serumit ikatan senyawa kimia yang saling berkaitan.
Seseorang bisa bahagia, karena dia bersyukur.
Itu mungkin sebuah kalimat klise.
Di sudut jalan, di pinggir kota, di atas awan, di padang savana dan di luar angkasa. Semua orang sudah pernah mendengarnya.
Tapi, walaupun semua orang tahu. Tidak semuanya paham.
Bahagia itu sederhana, cukup bersyukur dan menerima apa yang ada, menerima sesuatu yang dimiliki saat ini.
Itulah yang coba Juna lakukan, ia mensyukuri apa yang dia miliki.
Rasa syukur yang bersemayam di dalam hatinya, membuat dirinya berlapang dada menerima semua yang dipaksakan untuknya.
Sesuatu yang sulit.
Pada awalnya Juna membenci perjodohan ini.
Tapi, sebuah rasa yang di perankan oleh reseptor opioid telah mengaktifkan otak dan pikirannya lebih terbuka lagi.
Opioid, dia adalah reseptor, dialah yang memiliki peran untuk mengendalikan perasaan. Ya, seperti perasaan tertarik pada seseorang.
Dan seseorang itu adalah istrinya, Risa.
__ADS_1
Gadis itu, tidak ada yang bagus darinya. Sebenarnya begitu.
Tapi, apalah daya hati Juna. Tanpa ia sadari, hati dan pikirannya telah terjun dan jatuh pada sebuah kata cinta.
Jatuh cinta, perasaan itu lah yang membuat hormon-hormon tubuh Juna berubah.
Hormon serotonin yang menginjak angka minus membuat Juna mengalami gangguan obsesif kompulsif, dimana dirinya menjadi obsesif terhadap Risa.
Karena itu, Juna seringkali marah melihat Risa berdekatan dengan Deon. Dan hormon sialan itu lah yang menyebabkan Juna mengalami cinta buta.
Ia buta, tidak peduli sebanyak apapun Risa berperilaku kasar dan barbar padanya. Juna tetap teguh memegang komitmennya untuk selalu menjaga keutuhan rumah tangganya.
Siapa yang menyangka kalau pria flamboyan bin playboy seperti Juna mampu memegang komitmen.
Tapi semua itu kembali lagi pada susunan tubuh ini. Ya, Rasa komitmen itu muncul ketika Juna bersama Risa. Ketika tubuhnya memproduksi dua hormon yang dikenal sebagai hormon cinta, oksitosin dan vasopresin.
Rasa bahagia, nyaman, dan damai memicu sistem kerja otak Juna untuk tetap berada di sisi Risa dan membuatnya tak ingin jauh dari gadis itu.
Sekarang aku tahu siapa duniaku.
Dia adalah duniaku. — batin Juna sembari mengusap rambutnya yang basah.
Pria itu dengan memakai handuk setengah pinggangnya. Ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Lalu kemudian duduk di sisi ranjang itu.
Di tatapnya lekat Risa yang sudah tertidur lelap.
Kemudian, tangan Juna pun bergerak. Juna menyentuh hidung mungil istrinya, dan terus bergerak menyusuri wajah cantik nan manis itu.
Tangan Juna berhenti pada bibir ranum Risa. Ingatannya tentang apa yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu membuat Juna tersenyum, mesem.
Juna mendekatkan wajahnya ke telinga Risa, lalu membisikkan sesuatu untuk perempuan itu, “Terimakasih, Istriku,” bisiknya.
“Aku mencintaimu,” imbuhnya lagi.
Setelah itu, tanpa mengganti pakaiannya, Juna masuk ke dalam selimut. Berbagi satu selimut dengan istrinya.
Ia tidur di samping Risa, memeluk istrinya itu dengan kehangatannya.
“Selamat malam, semoga mimpi indah, Sayangku,” bisiknya sembari mengecup bibir Risa yang seolah membuatnya candu.
Puas dengan aksi kecilnya. Juna kembali diam dan menatap Risa lekat.
Ia tersenyum dalam diamnya, sebuah senyum penuh penyesalan, kesedihan dan senyum haru-nya.
Dulu aku bodoh. Bodoh karena sudah meninggalkan seseorang yang ternyata adalah tulang rusukku. Bodoh karena telah melukai hati seorang perempuan yang ternyata adalah istriku di masa sekarang.
Risa, maafkan sifatku yang dulu, maaf karena telah melukaimu.
Kamu, kamu dulu pasti sudah banyak menderita karena aku kan?
Mulai sekarang, aku akan menebus penderitaan mu itu dengan kebahagiaan yang akan aku berikan padamu.
Istriku, sekarang ini hatiku benar-benar candu padamu.
Sering beradu argumen dan berdebat denganmu, lalu kepergianmu beberapa hari waktu itu, membuatku sadar kalau aku ini memang laki-laki yang buruk di masa lalu.
Tapi Risa, sekarang aku bukan laki-laki seperti itu lagi. Karena sebentar lagi, aku adalah seorang ayah dari anak-anak kita. Aku akan berubah untukmu dan untuk anak-anak kita nanti.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍