
“Apa?” tanya Runa saat Deon sudah berada di sampingnya.
“Aku juga tidak setuju dengan perjodohan ini,” ujar Deon.
“Lalu, kenapa kamu datang kemari?” Runa bertanya tanpa menoleh, matanya menerawang jauh ke depan.
“Karena papa-ku,” jawab Deon.
“Kamu juga tidak bisa membantah perkataan orang tuamu?” Kini gadis itu menoleh ke arah Deon.
Deon tidak langsung menjawabnya, ia diam sejenak, menatap sebuah pohon di halaman rumah Runa yang tampak rindang.
“Orang tua?” Deon bersuara dengan nada mirisnya, “Aku tidak punya mereka lagi,” imbuhnya.
“Maksud kamu?”
“Apa orang tuamu tidak memberitahumu? Mereka, orang tuaku sudah bercerai, ibuku menikah lagi dengan seorang pria yang dia cintai, dan ayahku sampai sekarang masih melajang karena sebenarnya ia masih menyimpan rasa pada ibuku,” papar Deon, “Rumit, 'kan?” tambahnya.
Runa diam, ada rasa melas yang bersemayam di hatinya.
“Maaf, aku tidak tahu kalau keluargamu seperti itu. Karena tadi aku lihat orang tuamu baik-baik saja, mereka berdua seperti orang yang tidak pernah berpisah,” cakap Runa.
Deon mengangguk, kemudian ia menghadap ke arah Runa, “Bukankah kita harus membahas masalah perjodohan?” Deon mengingatkan.
“Ah iya, benar,” ucap Runa, “Jadi, kita berdua sama-sama tidak setuju dengan perjodohan ini, 'kan?”
“Awalnya begitu,” kata Deon, membuat Runa berkerut kening menatapnya.
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Awalnya aku tidak setuju. Tapi saat aku melihat ibuku rela datang kemari hanya untuk perjodohan ini, aku berubah pikiran,” jelas Deon, “Aku pikir perjodohan ini bukan hal yang buruk,” terangnya. Hati Deon saat ini sedang tertawa miris, begitu cepat dirinya berubah pikiran, tapi Deon punya alasan sendiri kenapa ia mau menerima perjodohan ini.
“Kamu gila? Tidak ada sesuatu yang baik tentang perjodohan,” sergah Runa.
“Ada, buktinya seseorang yang aku cintai, dia bisa bahagia membangun rumah tangga bersama pria yang di jodohkan dengannya,” papar Deon sembari mengingat Risa yang pernah mengeluh tentang perjodohannya dengan Juna dulu. Namun, pada akhirnya gadis itu kini tertawa bahagia dengan perjodohan yang sempat menjadi penderitaannya.
“Lalu, kamu pikir perjodohan kita berdua akan berhasil dan berakhir bahagia? Begitu?”
“Tidak, aku tidak menjaminnya, lagi pula kamu harus tahu kalau aku adalah anak dari pasangan korban perjodohan yang tidak berhasil,” jelas Deon.
Runa diam, ia merasa tidak enak hati membahas masalah keluarga Deon yang berantakan.
“Aku ingin kita buat kesepakatan,” ujar Deon.
“Kesepakatan apa?”
“Nikah kontrak,”
Aro masuk ke dalam ruang perawatan Risa, “Dimana suami kamu?” tanyanya saat mata pria itu tidak menangkap sosok Juna di sisi adiknya.
“Belum lama tadi dia pergi, katanya mau periksa pasien sebentar,” jawab Risa.
“Ck, si bodoh itu, seharusnya dia sibuk rawat istrinya, tapi sekarang malah sibuk rawat orang lain,” oceh Aro.
Risa tersenyum, lalu kemudian ia membalas perkataan kakaknya itu, “Bukannya Kakak juga sama saja.”
“Apanya yang sama?”
“Kakak sibuk merawat orang lain dari pada aku, adik Kakak sendiri,” kata Risa.
__ADS_1
“Kamu enggak lagi belain suami kamu, 'kan?”
Risa tertawa kecil sembari berkata, “Enggak kok,” sanggahnya.
“Apa yang lagi kalian bahas? Kayaknya seru gitu.” Juna masuk ke dalam ruang perawatan itu.
“Kamu dari mana saja? 'kan aku sudah bilang, jaga Risa baik-baik, jangan tinggalkan dia sendirian,” kata Aro.
“Maaf. Tadi— ”
“Ah sudahlah,” sela Aro, “Ini catatan kesehatan terakhir istri kamu,” kata Aro sembari menyerahkan sebuah papan dengan kertas terjepit di atasnya.
Juna pun meraih catatan medis itu, lalu membacanya dengan seksama.
“Jadi, kemungkinan besok Risa bisa pulang?”
Aro mengangguk, “Seharusnya begitu,”
“Em, aku mengerti. Terima kasih, Dokter Aro,” kata Juna, melemparkan candaannya.
“Cih, ya sudah, aku pergi dulu,” ucap Aro.
“Risa, Kakak pergi dulu ya,” pamitnya pada sang adik.
“Iya, Dokter Aro yang super sibuk,” balas Risa.
Aro tersenyum mendengarnya, kemudian ia pergi dari ruangan tersebut.
NP :
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel aku yang ada di platform kuning (novel&me) “My Secret Husband” dan “She's Mine” by Tianse Prln.