Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Rencana Honey(moon)


__ADS_3

Kedua suami-istri itu terlihat makan bersama di meja makan yang ada dapur mereka.


Tidak ada percakapan yang terjadi, yang terdengar hanyalah suara dentingan dari alat-alat makan yang beradu satu sama lain.


Dalam keheningan itu, Risa diam-diam menatap Juna yang sedang fokus menyantap sarapannya.


Lalu kemudian, gadis itu terlihat menyipitkan matanya ketika ia melihat sesuatu yang sangat mengganggu penglihatannya.


“Juna, berhenti sebentar.” ujar Risa, menghentikan tangan Juna yang ingin memasukkan sesuap makanan ke dalam mulut pria itu.


“Ada apa?” tanya Juna.


“Diam sebentar, jangan bergerak.” ucap Risa sembari menggerakkan tangannya mendekati wajah Juna.


Tanpa disangka, gadis itu mengusap sudut bibir Juna, ia menghapus noda saus yang tidak sengaja menempel di sudut bibir suaminya itu.


“Sa, Kamu ngapain?” tanya Juna yang seketika tubuhnya terasa membeku, seolah ada sengatan listrik dengan voltase kecil mengaliri tubuhnya.


Setelah mengusap saus itu, Risa tersenyum sekilas, lalu memperlihatkan noda saus yang kini menempel di ibu jarinya itu ke arah Juna.


“Lihat ini, ck, kamu itu udah besar, tapi makan masih berantakan.” kata Risa.


“Ah itu, maaf.” ucap Juna, ia hanya mampu mengeluarkan tiga kata tersebut.


Risa menghela nafasnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya sekilas.


Lalu kemudian, ia kembali melanjutkan sarapannya. Tapi tiba-tiba, ia lagi-lagi menghentikan gerakannya ketika sesuatu yang baru saja ia ingat melintasi kepalanya.


“Oh! Mama— bukannya semalam mama menginap di rumah kita?” tanya Risa pada Juna yang sepertinya juga baru ingat tentang hal tersebut.


“Kamu lanjutin aja sarapannya, aku mau ke atas, panggil mama.” kata Risa yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.


“Enggak perlu, mama pasti udah pulang.” ucap Juna sembari melanjutkan sarapannya.


“Eh? Udah pulang? Dari mana kamu tau?” tanya Risa.


Juna menghembuskan nafasnya, kemudian menggeser pelan piringnya yang sudah kosong itu dari hadapannya. Lalu setelah itu, ia memandang ke arah Risa yang masih diam dan menunggu jawaban darinya.


“Logika aja Sa, ini udah jam berapa? Enggak mungkin mama bangun siang. Apalagi tadi kamu teriak keras, tapi mama enggak ada kelihatan buat datengin kamu. Itu artinya, mama enggak ada di rumah ini, dia udah pulang.” jawab Juna.


Risa terdiam, ia berpikir kalau perkataan Juna itu memang benar.

__ADS_1


Lalu kemudian, pikiran Risa itu terpecah ketika sebuah suara nada panggilan masuk dari ponselnya membuat dirinya dan Juna saling berpandangan.


“Mama telepon.” ucap Risa sembari menatap Juna.


“Angkat aja, pasti mau minta maaf karena pulang enggak pamit.” kata Juna.


Risa mengangguk, lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja makan itu. Kemudian, ia menggeser tombol berwarna hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


“Halo ma?”


“Selamat pagi Risa, anakku sayang.”  sapa sang ibu dari seberang sana dengan nada cerianya.


“Eh itu, selamat pagi juga mama. Tapi ma, mama sekarang ada dimana? Apa mama beneran udah pulang ke rumah tanpa pamit sama Risa?” tanya Risa.


“Oh, itu— sebenernya mama semalam mau pamit pulang sama kamu. Tapi karena takut ganggu kamu sama Juna, jadi mama pulang tanpa pamit sama kalian. Maaf ya Risa, bilangin maaf juga ke Juna karena enggak jadi menginap di rumah kalian.”


“Tunggu dulu, ini maksudnya— mama dari semalam udah pulang ke rumah? Itu artinya— semalam mama udah enggak ada di  rumah Risa sama Juna?”


“Iya, Risa sayang.”  jawab Dewi.


Mendengar jawaban dari ibunya itu, Risa tampak menghembuskan nafas beratnya.


Lagian mama itu kenapa sih? Tiba-tiba bilang mau menginap, terus tiba-tiba pulang tanpa pamit.


“Kamu ngelamunin apa? Selesaikan dulu panggilannya, baru sibuk ngelamun. Jangan enggak sopan gitu.” kata Juna.


“Oh, itu suara Juna. Apa Juna juga ada di deket kamu? Ah iya, mama dengar dari ayahnya Juna, kalau dari hari ini dan tiga hari kedepan, Juna ambil cuti. Katanya dia mau ajak kamu pergi honeymoon. Ck, mama beneran udah enggak sabar denger kabar baik dari kalian.”  kata Dewi.


“Cuti? Honeymoon?” tanya Risa sembari menatap Juna dengan raut wajah meminta penjelasan dari pria itu.


“Juna belum kasih tau kamu ya? Ah— mungkin dia mau kasih surprise buat kamu, tapi sepertinya mama gagalin rencana dia. Mama jadi ngerasa bersalah.”  ucap Dewi.


“Eng, kalau gitu, mama tutup panggilannya ya. Takut ganggu kalian. Salam buat Juna, bilang ke dia, mama minta maaf.”  katanya. Setelah itu, Dewi mematikan panggilan tersebut.


“Eh? Halo? Ma?”


“Ck, beneran di matiin.” keluh Risa.


“Apa kata mama?” tanya Juna yang masih duduk di tempatnya.


“Kamu beneran ambil cuti?” Risa balik bertanya.

__ADS_1


“Ah itu, iya, aku ambil cuti. Tapi enggak lama, cuma beberapa hari aja.” jawab Juna.


“Honeymoon?” Tanya Risa, lagi.


“Oh, jadi mama udah kasih tau kamu ya.” ucap Juna.


“Sekarang kamu jelasin ke aku, maksudnya apa kamu ambil cuti terus tiba-tiba mau ajak aku pergi honeymoon sama kamu?”


“Kamu mau jawaban seperti apa dari aku? Lagian semalam kan aku udah bilang ke kamu. Kalau aku serius nikah sama kamu. Aku juga mau punya keturunan dari kamu.” jawab Juna.


“Cih.” decih Risa sembari menatap Juna dengan senyum mirisnya.


“Cih? Maksud cih kamu itu apa?  Kamu enggak suka? Kamu seharusnya bilang terimakasih suamiku, bukannya malah ngucap cih.” ujar Juna sembari bangkit dari kursinya.


Sebelum pergi dari ruang makan tersebut, Juna berdiri sejenak, memandang Risa yang masih diam menatapnya.


“Nanti sore kita berangkat ke bandara, jadi siang ini, ah tidak, lebih bagus kalau dari sekarang kamu siapin semua keperluan kita.” kata Juna, setelah itu, ia berjalan pergi menjauh dari ruang makan tersebut.


“Tunggu dulu, berhenti.” ucap Risa yang spontan menghentikan langkah kaki Juna. “Aku mau tanya sama kamu, kamu ajak aku pergi honeymoon untuk apa?”


Mendengar pertanyaan polos itu, Juna tampak tertawa kecil. Kemudian, ia menoleh ke arah Risa yang masih diam berdiri di tempatnya.


“Buat bayi.” jawab Juna, singkat namun sarat akan arti tersembunyi.


“Ba— bayi? Bayi katamu?! Kamu— ”


“Sssttt... inget, hari ini aku rajanya. Enggak boleh seorang pelayan teriak-teriak di depan raja, apalagi sampai ngebentak.” ujar Juna, menyela perkataan Risa yang tampak sudah geram terhadapnya.


“Sekarang kamu lebih baik bersihin piring-piring kotor bekas sarapan itu.” kata Juna sembari menunjuk ke arah piring-piring dan gelas yang ada di atas meja makan.


“Habis itu, kamu siapin keperluan kamu dan aku buat pergi nanti.” sambungnya lagi.


Setelah mengucapkan semua kata penuh perintah yang harus Risa kerjakan itu. Juna pun pergi dan menjauh dari jarak pandang Risa.


Keparat! Bayi apanya?! Siapa yang mau punya bayi sama dia?! Lagian kenapa sih dia itu tiba-tiba berubah?! Tiba-tiba bilang mau serius. Ck, bikin aku merinding tau. Dia itu—hah.


Juna, sebenernya apa yang kamu rencanain? Kamu mau buat aku sakit hati dengan cara apa lagi?


💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2