Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Tentang Rasa Sakit Hati


__ADS_3

Tepat ketika Juna jatuh pada arah pandang Risa yang sebenarnya adalah perut enam kotaknya. Juna pun tersenyum lebar dengan tawa mencibirnya.


“Kenapa? Suka ya? Kamu boleh pegang kok kalau mau. Raba juga boleh, belai boleh juga tuh, elus? Boleh banget.” ucap Juna sembari melemparkan senyum jahilnya yang siap mengejek habis Risa.


Risa pun langsung mengalihkan pandangannya dari Juna, gadis itu memandang ke sembarang tempat asalkan bukan ke arah Juna.


“Dasar pria mesum.” umpat Risa.


Juna mendecih mendengar Risa mengumpatinya seperti itu. Pria itu kemudian menatap Risa sinis.


“Mesum teriak mesum. Dasar, tidak tahu malu.” ujar Juna sembari melepaskan kancing kemeja terakhirnya.


“Juna, kenapa buka baju sembarang?!” kata Risa yang langsung menutup matanya dengan kedua tangannya.


“Kenapa? Enggak boleh? Bukannya kamu suka?”


“Cih, dasar. Aku enggak nyangka, ternyata selain playboy, kamu itu seorang eksibisionis juga ya?! Menjijikkan.” kata Risa, dengan kedua tangan yang masih menutup matanya.


“Eksibisionis? Ck, memangnya buka baju di depan istrinya sendiri salah ya?” ucap Juna sembari melemparkan kemeja putihnya ke wajah Risa.


“Kamu! Maksud kamu apa lempar-lempar baju sembarang?!”


Juna yang tadinya ingin melangkah menuju kamar mandi, ia pun terpaksa harus menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Risa kembali.


“Apa? Kamu kan istri aku, sudah seharusnya ngurus pakaian aku. Dari yang kotor sampai yang bersih, kamu yang urus.” ujar Juna. Setelah itu ia melenggang pergi menuju kamar mandi.


“Keparat! Kamu pikir aku ini pembantu kamu hah?!” kata Risa dengan nada protesnya. Namun Juna terlihat mengabaikannya, pria itu lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi tanpa mempedulikan ucapan protes dari istrinya itu.


Risa mendengus kesal melihat Juna yang mengabaikannya. Dengan berat hati, ia pun akhirnya meraih kemeja putih yang tadi sempat terjatuh, lalu kemudian meletakkannya ke dalam keranjang baju kotor di dekat pintu kamar mandi.


Risa juga tampak meraih tuxedo serta atribut Juna yang ada di atas tempat tidur, lalu memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor juga.


“Merepotkan.” ucap Risa sembari merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


Gadis itu kemudian tampak menghembuskan nafasnya, merasa nyaman dengan kasur empuk itu.


“Aku akan tidur sebentar. Setelah itu bangun, lalu mandi.” gumam Risa sembari menutup matanya perlahan.


Tidak butuh waktu lama, ia pun tertidur dengan cepat karena rasa lelah yang telah menyelimuti dirinya.


Dengan pakaian pengantin yang masih melekat di tubuhnya, Risa pun memasuki alam mimpinya, sebuah mimpi indah, yang lebih indah daripada alam nyatanya.


Disaat Risa telah terlelap, pintu kamar mandi pun tampak terbuka, terlihat sosok Juna yang mengenakan handuk kimono keluar dari dalam kamar mandi tersebut.

__ADS_1


Dengan handuk kecil yang juga ia bawa, Juna mengeringkan rambutnya yang basah, pria itu mengeringkan rambutnya sembari berjalan mendekat ke arah Risa yang tampak terbaring di atas tempat tidur.


“Heh! Dasar pemalas, pergi mandi sana. Apa kamu mau tidur dengan pakaian seperti itu?” kata Juna sembari menendang pelan kaki Risa.


Tidak ada respon dari Risa, gadis itu diam karena memang telah tertidur lelap. Juna yang belum tahu kalau Risa tidur, ia pun masih terlihat ingin membuat gadis itu lekas beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Sa! Tuli ya? Enggak usah pura-pura tidur. Cepetan pergi mandi sana.” ujar Juna, yang masih tidak mendapatkan tanggapan dari sang istri.


Melihat Risa yang seperti benda mati, Juna pun menghela nafasnya, kemudian mendekatkan dirinya ke arah Risa, ia melihat apakah gadis itu benar-benar tidur atau hanya berpura-pura saja.


Setelah beberapa saat memastikan, ia akhirnya sadar, kalau Risa memang benar-benar tertidur, Juna pun mendengus.


“Ck, apa dia itu tipe orang yang ketemu kasur langsung tidur? Dasar. Seenggaknya ganti baju dulu dong sa, jangan asal main tidur aja. Pakaian kamu itu bikin tempat tidur ukuran king size aja kelihatan sempit kayak gini.” keluh Juna.


Tapi walaupun ia tampak kesal seperti itu. Juna terlihat mulai mengangkat tubuh Risa, ia membenarkan posisi tidur istrinya itu.


Bahkan, ia juga tampak menyelimuti tubuh gadis itu dengan baik.


“Aku melakukan ini padamu, bukan karena aku pria baik. Tapi ini semua sebagai ungkapan terimakasihku karena kamu sudah mau menurut. Ck, walaupun tadi kamu mengoceh, tapi kamu masih mau merapikan pakaianku dengan baik.” ucap Juna sembari melihat ke arah keranjang pakaian kotor, lalu sebuah senyum singkat terukir di wajah pria itu.


“Risa, kelak, jangan suka padaku lagi ya.” bisik Juna, dengan senyum menyeringainya. Sebuah senyum yang biasanya akan langsung membuat Risa merasa kesal padanya.


Setelah itu, Juna berlalu pergi dari sisi tempat tidur.


Pria itu kemudian berjalan ke arah lemari, mengambil pakaiannya, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi, mengganti pakaiannya di sana.


Juna pun memilih untuk keluar dari dalam kamar hotel tersebut.


•••


“Om Henry.” panggil seorang pria yang seumuran dengan Juna, dia adalah Yoga, teman baik Juna.


“Oh Yoga, sudah mau pulang?” tanya om Henry.


Yoga tersenyum, sebelum menjawab, ia tampak menundukkan kepalanya sekilas ke arah mama Dewi dan juga papa Fero, memberi sapaan hormat kepada kedua orang tersebut.


“Iya om. Ini saya mau pamit, tapi kayaknya si Juna udah enggak ada ya?” ujar Yoga.


“Juna tadi udah pergi ke kamar hotelnya sama si Risa.” kata om Henry.


“Oh pantes, saya nyari enggak ketemu. Ya udah, salam aja om buat Juna dan juga istrinya. Kalau gitu, Yoga pamit pulang, permisi om, tante.” ucap Yoga yang kemudian pamit undur diri dari hadapan mereka.


Yoga pun akhirnya keluar dari ruangan resepsi pernikahan temannya yang mulai tampak sepi itu.

__ADS_1


Ia berjalan menuju ke arah lift untuk turun ke lantai dasar.


“Yoga, tunggu.” panggil seseorang ketika dirinya sudah masuk ke dalam lift.


Yoga yang mendengar seseorang memanggil namanya, ia pun menekan tombol pintu lift terbuka, agar orang itu bisa ikut masuk ke dalam lift tersebut.


“Juna?” ucap Yoga, merasa heran dengan Juna yang kini tampak berdiri di depan pintu lift.


“Mau kemana kamu?” tanya Juna.


“Pulang, emangnya mau kemana lagi? Lagian, besok aku ada shift pagi. Ngomong-ngomong, ini kamu mau ikut masuk ke dalam apa enggak?” kata Yoga, pria itu terlihat masih sibuk menekan tombol lift tersebut.


“Iya, aku ikut masuk.” jawab Juna yang kemudian langsung masuk ke dalam lift itu. Setelah Juna masuk, Yoga pun menekan tombol yang satunya, yaitu untuk pintu lift tertutup.


“Kamu bukannya seharusnya bersama istrimu? Kenapa malah keluyuran?” tanya Yoga.


“Dia tidur.” jawab Juna.


“Ti— tidur?” Yoga tampak menahan tawanya. “Kasihan kamu Jun, padahal malam pertama ya? Malah di tinggal tidur. Pengen ketawa aku rasanya.” ucap Yoga dengan nada mengejeknya.


“Ck, seneng kamu? Siapa juga yang perlu dikasihani. Lagian kalau dia enggak tidur juga enggak akan terjadi apa-apa sama kami. Asal kamu tahu, dia itu kayak landak. Enggak bisa sembarangan di deketin, kalau enggak, bisa kena durinya.” ujar Juna, membuat Yoga semakin tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


“Kok malah ketawa sih Ga? Aku ini lagi serius” ucap Juna, dengan raut kesalnya.


“Iya iya maaf deh. Lagian, kamu itu biasanya anggep perempuan kayak kucing betina yang bisa di rayu terus di tinggalin gitu aja. Tapi sekarang, kamu anggep perempuan yang jadi istri kamu itu kayak landak yang enggak bisa sembarangan kamu deketin, mungkin ini hukum karma buat kamu Jun.” ujar Yoga disela-sela tawa mengejeknya.


“Ck, sembarang kalau ngomong. Dulu dia itu juga kayak kucing betina. Tapi enggak tahu kenapa sekarang malah jadi landak berduri, terus kadang dia itu bisa jadi rubah kecil sialan. Cih, kalau inget kejadian kemarin malam, bikin aku pengen narik telinganya.” kata Juna sembari melangkah keluar dari pintu lift yang sudah terbuka.


“Oh iya, dia kan salah satu dari puluhan mantan kamu ya? Mungkin dia punya banyak dendam sama kamu Jun, makanya jadi landak gitu ke kamu-nya.” ucap Yoga yang juga ikut keluar dari dalam lift tersebut.


“Mungkin juga sih. Tapi itukan udah lama banget Ga. Kalau enggak salah hitung, kira-kira udah delapan atau sembilan tahun yang lalu deh. Masa iya, dendamnya ke aku lama banget? Enggak lucu kali Ga.” kata Juna.


Yoga tersenyum, kemudian menepuk bahu temannya yang berjalan beriringan dengannya itu.


“Ada satu asumsi yang bikin semuanya jadi jelas.” ucap Yoga.


“Apa?”


“Kamu itu mungkin pacar pertama dia atau— kamu itu cinta pertama dia? Jun, kamu yang playboy ini mungkin enggak pernah ngerasain yang namanya ketulusan, tapi bagi sebagian orang pasti pernah ngerasainnya. Dicampakkan oleh orang yang di cintai itu ngeri tau Jun. Lebih ngeri daripada saat operasi dalam keadaan harus tetap sadar.” kata Yoga.


“Aneh-aneh kamu Ga. Mana bisa kita ngebandingin hal-hal yang jelas sekali bedanya. Enggak masuk akal.” ucap Juna.


“Ck, kalau kamu enggak percaya, tunggu aja, pasti suatu saat nanti kamu bakalan ngerasain rasanya sakit hati karena dicampakkan sama orang yang dicintai, entah itu kapan waktunya. Tapi setidaknya, sekali dalam seumur hidup, semua manusia pasti bakal ngerasainnya. Walaupun dia pasien CIPA sekalipun.”

__ADS_1


💥 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2