Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Rumah Kita (kamu bisa, kenapa aku tidak?)


__ADS_3

Risa terlihat memasuki sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dan juga desain yang terlihat mewah serta interiornya yang sangat elegan, sangat cocok dengan selera Risa.


Tapi walaupun rumah barunya itu terlihat menggoda hati Risa untuk memujinya. Namun hati Risa saat ini sungguh tidak memiliki selera untuk berkata baik. Karena saat ini dirinya sedang marah, lebih tepatnya kesal pada seseorang.


“Juna! Dimana kamu?!” teriak Risa ketika ia telah menutup pintu rumah tersebut dan mulai masuk ke dalamnya.


“Kamu itu beneran tega ya ninggalin istri kamu sendirian. Padahal aku udah dengan kesabaran tinggi nungguin kamu di bawah, tapi kamu seenaknya aja ninggalin aku! Keluar kamu, jangan jadi pengecut!” ujar Risa.


Gadis itu marah karena beberapa jam yang lalu, Risa dengan sabarnya masih menunggu Juna, tapi pria itu masih tidak terlihat juga.


Risa pun akhirnya memutuskan untuk check out lebih dulu, tapi ketika dirinya check out, pihak hotel bilang kalau pria bernama Juna sudah mengurus semuanya.


Merasa aneh, Risa pun kemudian menghubungi Juna, lalu Juna dengan santainya menjawab kalau dirinya memang sudah mengurus masalah check out dan pulang ke rumah duluan. Hal itulah yang membuat Risa naik pitam pada pria itu.


“Juna!” panggil Risa.


“Apa?” tanya Juna, ia tampak keluar dari dalam kamar. “Kamu bisa enggak sih sekali aja enggak usah teriak-teriak? Kan bisa kamu panggil aku biasa aja, enggak usah pakai nada tinggi segala.” sambungnya.


“Kamu!”


“Apa?”


“Kamu, kenapa kamu tinggalin aku di hotel sendirian ha?! Kenapa enggak ajak aku pulang bareng? Padahal aku udah baik hati tungguin kamu disana, tapi kamu malah pergi duluan. Kamu jadi orang jahat banget sih.” kata Risa.


Juna terlihat menghela nafasnya, lalu mensedekapkan kedua tangannya dan kemudian bersandar pada dinding yang ada di dekatnya.


“Kamu bukannya udah sama— siapa itu temen kamu yang kerja di restoran tadi? Keong? Keong kan namanya?”


“Keong apanya?! Sembarangan aja kalau bicara, Deon, namanya Deon bukan keong. Makanya kalau punya telinga itu dibersihin, biar kotorannya enggak ganggu pendengaran kamu yang minus itu.” ujar Risa.


“Ya, ya, terserah kamu mau ngomong apa. Pokoknya tadi aku lihat kamu sama dia, aku pikir kamu bakal pulang bareng dia, ya udah aku langsung pulang duluan aja. Emangnya aku salah?” kata Juna.


Sebenarnya bukan hanya itu alasan Juna pulang lebih dulu dan meninggalkan Risa bersama Deon.


Juna sengaja meninggalkan Risa karena ia tiba-tiba merasa kesal melihat Risa cukup dekat dengan Deon.


“Gila kamu ya? Bisa-bisanya punya asumsi kayak gitu. Aku tadi cuma enggak sengaja ketemu sama dia, terus ngobrol, kan kamu juga bisa datengin kami, terus ajak aku pergi.” ujar Risa


Juna tampak tersenyum miris sembari menatap Risa yang balas menatapnya tajam.


“Datengin kalian berdua yang lagi ngomongin aku dari belakang?”


“Maksudnya?”


“Maksudnya? Ck, aku denger semua kok Sa. Kamu bilang ke si Deon kalau andai aja kamu dijodohin sama dia bukannya aku, masa depan kamu pasti bakalan lebih kelihatan cerah dan enggak suram kayak sekarang ini. Kamu ngomong gitu kan ke dia? Kamu pikir aku enggak tau? Cih.” ucap Juna yang kemudian membalikkan badannya memunggungi Risa.

__ADS_1


Pria itu terlihat ingin masuk ke dalam kamarnya.


“Kamu pikir aku juga mau dijodohin sama kamu? Maaf saja, aku ini walaupun udah nikah sama kamu, tapi juga masih punya pacar. Pacar yang sekarang ini adalah wanita satu-satunya yang paling aku cintai, wanita yang pengen aku nikahi, dan wanita— ”


“Cukup!” teriak Risa, ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Juna.


Juna yang mendengar teriakan amarah dari Risa itu pun diam-diam tersenyum senang. Merasa puas karena telah berhasil memprovokasi amarah Risa dengan kebohongannya.


“Kenapa? Kamu cemburu?” tanya Juna.


“Cih, cemburu? Kamu pikir aku masih ada perasaan sama kamu?! Enggak, enggak sama sekali. Aku cuma mau tegasin ke kamu, kalau kamu itu adalah pria yang sudah menikah. Jadi jangan berbuat macam-macam. Lebih baik kamu jaga sikap dan tindakan kamu, jangan sampai kamu ketahuan masih suka bermain wanita dibelakang aku.” kata Risa.


“Oh, jadi selama enggak ketahuan, enggak masalah kan?” tanya Juna sembari menolehkan kepalanya sekilas ke arah Risa yang ada di belakangnya.


Risa terlihat mengepalkan tangannya, ia ingin sekali melemparkan tinjunya ke wajah pria dihadapannya itu. Tapi Risa cukup tahu diri untuk menahan emosinya. Risa tidak boleh menjadi pihak yang selalu marah, ia harus segera memutarbalikkan keadaan. Ya, dengan balas dendam terbaiknya.


“Oke, kalau itu mau kamu, silahkan saja. Tapi ingat jangan sampai ketahuan. Karena aku juga akan hati-hati dalam hal berselingkuh dibelakang kamu.” ujar Risa sembari meraih kopernya dan pergi menuju ke kamar yang berbeda dari kamar dimana Juna keluar tadi.


“Maksud kamu apa?! Kamu mau selingkuh? Oh, jadi kamu beneran ada hubungan khusus sama si Deon itu kan? Hebat kamu Sa, dua jempol buat kamu. Baru aja kita nikah, tapi kamu udah resmi berhubungan sama pria lain. Luar biasa.” kata Juna sembari menatap Risa sinis.


“Terserah kamu mau bilang apa. Lagian kamu sendiri yang bilang, selama enggak ketahuan berarti enggak masalah. Kalau kamu bisa main dibelakang aku, kenapa aku enggak bisa?” ujar Risa.


Juna tertawa kecil mendengarnya, “Tapi kamu udah ketahuan sama aku, jadi putusin hubungan kamu sama dia, itu peraturan, kalau udah ketahuan harus putus.” ucap Juna.


“Dasar licik, pinter juga otak kamu ya.” ucap Juna. “Kamu ngapain buka pintu itu?” tanya Juna setelah ia menyadari tangan Risa yang tampak memegang handle pintu kamar yang berbeda dari kamarnya.


“Ini kamar aku.” ucap Risa, lalu kemudian ia menunjuk ke arah kamar lain. “Dan itu kamar kamu. Kita tidur terpisah, paham kamu?” kata Risa sembari membuka pintu kamar yang ia klaim sebagai miliknya.


“Tunggu dulu.” cegah Juna ketika dilihatnya Risa yang sudah masuk dan hampir menutup pintu kamar itu.


“Apa?” tanya Risa dengan raut wajah tidak sabaran.


“Kita kan udah resmi nikah, kenapa harus pisah kamar sih? Lagian aku kan enggak setuju sama surat perjanjian yang kamu ajuin waktu itu. Jadi kamu buruan pindah ke kamar yang aku pilih, kita tidur di kamar dan kasur yang sama.” kata Juna yang telah berdiri di depan pintu kamarnya Risa.


Risa tersenyum, senyum sinis yang sengaja ia lemparkan pada Juna.


“Surat perjanjian? Enggak harus pakai surat perjanjian juga masih bisa kok tidur terpisah. Lagian emangnya kamu itu raja di rumah ini? Ini rumah aku juga, jadi bukan hak kamu dan hak aku buat ngatur keinginan satu sama lain. Kamu kan udah pilih kamar itu, aku juga pilih kamar aku sendiri. Adil kan?” kata Risa.


“Enggak, aku enggak mau kita tidur terpisah. Pokoknya harus tidur bareng.” ucap Juna.


“Ck, jijik tau tidur bareng kamu, gatel badan aku.” ucap Risa.


“Terserah kamu mau alesan apa, pokoknya enggak ada tidur terpisah. Kalau kamu enggak mau tinggal di kamar yang aku pilih, ya udah, biar aku aja yang pindah ke kamar yang kamu pilih.” kata Juna, pria itu kemudian terlihat ingin memaksa masuk ke dalam kamar yang Risa pilih. Tapi untung saja pintu kamar itu sudah hampir tertutup jadi Juna harus melakukan aksi dorong-dorongan dengan Risa agar ia bisa masuk.


“Risa, aku mau masuk.” ucap Juna. “Aku ini suami kamu, dan kamu itu istri aku, sudah seharusnya kita tidur di kamar yang sama dan ranjang yang sama. Satu lagi, kamu jangan coba-coba kabur dari tanggungjawab kamu.” kata Juna yang sudah berhenti melakukan aksi dorong-dorongannya dengan Risa.

__ADS_1


Risa tampak diam sejenak, gadis itu diam karena sedang mencari ide yang akan ia gunakan untuk membuat Juna pergi dari depan pintu kamarnya.


“Oke, aku setuju.” ucap Risa.


“Eh? Cepet banget berubah pikirannya. Kamu enggak lagi tipu aku kan?” tanya Juna penuh selidik.


Risa menampilkan senyum lebarnya, lalu menggelengkan kepalanya ke arah Juna.


“Tentu saja tidak. Tapi kalau kamu mau pindah ke kamar ini, kamu harus ambil barang-barang kamu sekarang juga dan pindahin ke sini. Aku hitung sampai seratus, kalau lebih dari itu, kita harus sepakat kalau kita bakalan tidur di kamar yang beda, gimana? Baguskan ide aku?”


“Bagus?! Bagus jidat kamu? Aku enggak mau.”


“Ya udah kalau enggak mau, mulai detik ini kita sepakat untuk tidur terpisah.” kata Risa.


“Tunggu, tunggu. Iya, oke, aku setuju sama ide kamu tadi. Tapi kamu hitungnya yang bener. Awas kalau sampai curang.” ujar Juna.


“Terserah, pokoknya kalau pintu kamar ini udah tertutup, berarti kamu gagal, itu aturannya.”


“Iya aku tahu.” kata Juna yang kemudian tanpa aba-aba dari Risa, Juna sudah lebih dulu mencuri start, pria itu sudah berlari menuju ke arah kamarnya yang ada di depan kamar Risa. Jarak yang cukup dekat seperti itu, tentu saja hitungan seratus adalah hitungan yang lama, apalagi kalau Juna sudah mencuri start lebih dulu sebelum Risa menghitung.


Tapi entah kenapa, Risa tidak terlihat kesal sama sekali ketika Juna sudah berlari lebih dulu sebelum dirinya menghitung.


Gadis itu malah terlihat tersenyum menyeringai. Lalu kemudian tampak mulai bersuara untuk menghitung.


“Satu!” ucap Risa, ia mulai menghitung. “Seratus!” hitungnya lagi yang tiba-tiba langsung meloncat ke angka seratus, hal itu membuat Juna yang mendengarnya, ia merasa kalau Risa memang dari awal sudah menipunya.


Dengan cepat, Juna langsung berlari keluar dari kamarnya. Tapi ia terlambat, pintu kamar Risa tampak sudah tertutup rapat.


“Risa kamu curang! Kesepakatan kita batal! Kamu cepetan buka pintunya.” ujar Juna.


“Juna, kalau kamu bisa curang, kenapa aku enggak bisa? Pokoknya kesepakatan kita udah resmi diberlakukan. Kita tidur terpisah, kecuali kalau orangtua kita dateng baru tidur bareng.” kata Risa dari dalam kamarnya.


“Sial!” umpat Juna pelan, ia ingat, kalau tadi dirinya juga berbuat curang dengan mencuri start duluan sebelum Risa mulai menghitung.


“Juna, lagian kamu kenapa sih pengen banget tidur bareng aku? Dasar otak kotor.” ujar Risa dengan nada sindirannya.


“Apa katamu?! Kamu bilang aku apa?!” tanya Juna sembari menggedor pintu kamar Risa.


“Risa buka pintunya!” teriak Juna dari luar kamar Risa.


“Enggak akan! Kamu pikir aku bakalan bukain pintu buat kucing jantan yang lagi dalam mode cari pasangan? Maaf ya, kamar aku tertutup untuk jenis mamalia itu.” ujar Risa.


💥thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2