Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Pertengkaran Kecil


__ADS_3

Pukul 11.00 WIB Risa duduk di ruang tamu dengan raut kecutnya. Sesekali perempuan itu terlihat menatap jam dinding, dan kini jarum panjang jam itu sudah menunjukkan angka yang terbilang cukup untuk menunjukkan bahwa waktu sudah larut malam.


Risa mendengus, sudah hampir larut malam tapi suaminya belum juga pulang. Di hubungi saja tidak bisa. Padahal sore tadi Juna sudah berjanji kalau operasinya tidak akan lama, dan setelah operasi selesai pria itu akan pulang secepatnya.


Namun, ini di luar pemikiran Risa. Entah kenapa perempuan itu merasa kesal saat Juna mulai tidak menepati perkataannya. Apalagi pria itu sama sekali tidak menghubungi dirinya.


Risa memejamkan matanya sejenak. Jujur saja, dia sudah sangat mengantuk, tetapi karena ingin menunggu suaminya pulang, perempuan itu harus membuat dirinya agar tetap tersadar.


Selang beberapa menit kemudian, suara pintu rumah yang terbuka membangunkan Risa dari lucid dream-nya. Perempuan itu seketika terjaga. Benaknya bertanya-tanya apakah suaminya sudah pulang?


“Sayang?” Suara itu langsung membuat pertanyaan di benak Risa lenyap.


Melihat Juna yang sudah pulang, Risa lantas berdiri dari duduknya. Perempuan itu menatap suaminya intens sembari melipat kedua tangannya di depan dada, kilatan matanya pun sangat tajam, seperti seorang istri yang sedang mengibarkan bendera deklarasi perang.


“Kamu kenapa?” tanya Juna, menatap istrinya itu heran.


Kemudian, Risa mengembuskan napasnya kasar. Dengan kaki terhentak kuat, Risa melenggang pergi, perempuan itu mengabaikan pertanyaan sang suami, ia melangkah menuju tangga, menaiki tangga itu satu demi satu hingga sampai ke kamarnya dan Juna.


Juna yang bingung dengan sikap istrinya itu pun mengikuti langkah Risa, kakinya melangkah menaiki tangga, lalu ia juga masuk ke dalam kamar tersebut.


“Sayang,” panggil Juna usai menutup pintu kamar mereka. “Kamu marah? Apa aku ada salah sama kamu?”


Risa diam, perempuan itu tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


“Aku minta maaf kalau ada salah sama kamu, kamu jangan 'gini dong, kalau ada apa-apa bilang, biar aku tahu di mana letak salahku, jadi aku bisa perbaiki kesalahanku itu,” terang Juna.


Risa mendengus, perempuan itu lalu menampakkan dirinya, ia duduk di atas ranjang sembari menatap Juna dengan raut jengahnya.


“Tadi sore kamu janji pulang jam berapa?” tanya Risa.

__ADS_1


“Eng ... itu ....”


“Tuh 'kan, kamu bahkan lupa sama perkataan kamu sendiri. Memang ya kalau seorang playboy itu sulit untuk dipercaya omongannya,” cibir Risa.


Juna terhenyak, dirinya semakin bingung dengan sikap Risa yang berubah seperti ini, sangat sensitif dan selalu mencari kesalahannya.


“Sayang, aku keluar bukan untuk main-main. Aku kerja untuk nafkahin kamu. Lagian Aku sudah dewasa, sudah punya istri, kenapa kamu masih saja enggak percaya sama aku kalau aku ini setia sama kamu?” sergah Juna. Sebagai seorang pria dan suami, dia tidak ingin harga dirinya terinjak begitu saja hanya karena tuduhan sang istri yang tidak berdasar.


“Oh, jadi maksud kamu aku ini terlalu lebay, 'gitu?” sungut Risa, tak mau kalah.


Juna menarik dasinya kasar, pria itu tampak menghela napasnya kesal. Dia lelah, berharap saat pulang ke rumah mendapatkan sambutan hangat dari istrinya, tetapi yang ia dapatkan malah ajakan perang dari sang istri.


“Risa, aku capek. Kamu tahu berapa jam aku berada di ruang operasi?” ujar Juna, “lima jam,” tukasnya. Pria itu kemudian melemparkan tasnya ke sembarang tempat seraya menatap Risa kesal.


“Aku berharap saat pulang ke rumah bisa peluk kamu, cium kamu, atau lebih bagus dimanja sama kamu. Tapi kamu malah kayak 'gini. Kamu pikir suami kamu ini apa?!” seru Juna. Mulai menunjukkan kekesalannya.


“Sekarang terserah kamu. Kamu mau marah, silakan. Kamu mau tuduh aku ini itu, silakan. Aku enggak peduli, aku capek,” timpalnya. Setelah itu, Juna keluar dari dalam kamar mereka. Suara bantingan pintu yang tertutup keras menjadi pertanda kalau pria itu sangat marah.


Risa menatap pintu itu nanar, matanya tampak berbinar. Seketika rasa bersalah menyerang hatinya.


Ya, ini salahnya. Tidak seharusnya Risa memperlakukan suaminya seperti itu. Apalagi saat suaminya baru saja pulang dari bekerja. Seharusnya Risa menyambutnya dengan baik, memanjakan pria itu agar lelahnya hilang.


Risa merutuki dirinya sendiri, dia merasa berdosa sebagai seorang istri. Selama ini Juna sudah bersabar menghadapi dirinya, tetapi dia lah yang selalu mempersulit keadaan.


...***...


Juna masuk ke dalam ruang kerjanya dengan emosinya yang membeludak. Ia sengaja keluar dari dalam kamar karena tak ingin melukai Risa.


Juna kemudian duduk di kursi yang ada di ruangan itu, kepalanya terasa berdenyut, pria itu memijat pelipisnya kuat, berharap denyutan nyeri itu lenyap bersama lelahnya yang semakin pekat.

__ADS_1


Saat Juna tengah mengatur napasnya karena emosi yang memburu. Pintu ruangan itu tampak dibuka oleh seseorang, itu Risa.


Dengan wajah tertunduk takut, Risa berjalan pelan mendekati suaminya.


“Ada apa lagi?” ketus Juna. “Aku enggak mau ribut sama kamu, Sa. Jadi, aku mohon sama kamu kembali ke kamar dan tidurlah. Malam ini aku akan tidur di sofa ruang tamu saja,” ujarnya, tanpa mau menatap istrinya itu sedikit pun.


“Maaf,” lirih Risa.


Juna seketika menoleh. Risa masih menundukkan kepalanya, perempuan itu tak berani mengangkat kepalanya walau hanya satu detik saja.


“Maaf, aku salah,” ujar Risa, mengakui kesalahannya.


“Aku salah, aku minta maaf,” ulangnya lagi dengan tubuh yang mulai bergetar karena isak tangisnya. “Aku mohon jangan marah sama aku,” imbuhnya.


Juna menghela napasnya. Suami mana yang hanya diam saja saat melihat istrinya meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya. Juna tentu saja tidak bisa diam saja.


Pria itu kemudian beranjak dari duduknya, ia berjalan mendekati Risa, menangkup kedua pipi perempuan itu lembut.


Terlihat butiran bening tak henti-hentinya meluncur dari mata indah itu. Juna terenyuh, kini dia lah yang merasa bersalah.


Dengan penuh kehangatan, Juna mengecup kening Risa, lalu berpindah ke hidung perempuan itu, kemudian berpindah lagi ke kedua mata Risa. Dan terakhir, Juna mengecup cukup lama bibir ranum istrinya.


“Aku juga minta maaf,” ucap Juna, usai menyudahi kecupannya.


Risa mengangguk, perempuan itu kemudian masuk ke dalam pelukan hangat suaminya, menghirup aroma yang menjadi candunya.


Pertengkaran dalam rumah tangga memang hal yang wajar, tetapi terkadang pertengkaran kecil bisa menjadi besar jika tidak ada salah satu dari suami atau istri yang mengalah.


Pilihan Risa untuk meminta maaf adalah benar. Rumah tangga mereka mungkin akan semakin erat dengan adanya masalah kecil yang menimpa, menempa keduanya untuk semakin menguatkan genggaman cinta yang terikat di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2