Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Hubby And Wifey


__ADS_3

Good Morning, everybody.


Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.


Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


“Sa?” panggil Juna, ia masih mencoba menyadarkan Risa dari lamunannya.


“Kamu sakit?”


Risa menggeleng, “Tidak,” jawabnya.


“Terus kenapa tingkah kamu aneh gitu? Kamu dari tadi geleng-geleng kepala terus,” ucap Juna.


“Oh itu, aku— ”


“Risa,” panggil Dewi dari luar kamar putrinya.


“Mama panggil kamu tuh,” ucap Juna.


“Iya, aku juga denger,” kata Risa, ia kemudian berjalan menuju pintu kamarnya, membuka pintu itu.


“Juna mana?” tanya sang ibu ketika pintu itu baru saja di buka olehnya.


“Itu, lagi istirahat,” jawab Risa sembari menunjuk Juna dengan dagunya.


Dewi mengintip sedikit ke dalam kamar Risa, di lihatnya sang menantu yang tampak tersenyum ramah menatapnya.


Juna hendak turun dari tempat tidur untuk menyapa mertuanya itu. Namun dengan cepat Dewi melarangnya.


“Eh, kamu mau ngapain Juna? Enggak perlu turun. Udah kamu istirahat aja. Mama cuma mau lihat kamu sekalian bawain bubur buat kamu makan. Aro bilang kamu belum makan malam,” ujar Dewi sembari mengangkat sedikit semangkuk bubur yang di pegangnya.


“Iya, Ma. Terimakasih, maaf sudah repotin Mama,” kata Juna, sopan.


“Iya sama-sama. Kamu sama sekali enggak repotin kok. Mama malah mau minta maaf karena Risa masih kurang baik jadi istri. Mama harap kamu mau maafin Risa. Kedepannya Mama pastiin kalau Risa bakalan jadi istri yang baik buat kamu. Iya 'kan, Sa?” ujar Dewi sembari menyenggol lengan Risa.


“Ah, itu, iya,” jawab Risa seadanya.


Juna tersenyum menanggapi. Ia juga berharap seperti itu. Risa dan dirinya hidup rukun tanpa memikirkan masa lalu.


“Ya udah, ini kamu ambil buburnya,” ucap Dewi pada Risa, wanita paruh baya itu pun memberikan semangkuk bubur hangat yang di bawanya kepada Risa.


“Loh? Kok di kasih ke Risa sih, Ma?” tanya Risa, bingung.


“Suami kamu 'kan lagi sakit. Kamu sebagai istri yang baik harus suapin dia makan bubur itu,” kata ibunya.


“Kenapa aku? Dia kan bisa— ”


“Risa... kamu 'kan istrinya. Sudah seharusnya rawat dia dengan baik. Kamu juga enggak boleh bilang gitu lagi. Merawat suami yang lagi sakit itu pahala besar loh. Bisa masuk surga. Kamu emangnya enggak mau?” ujar Dewi, memberikan petuahnya.


“Iya, mau. Tapi— ”


“Jangan bilang tapi atau apalah itu. Kamu rawat dan layani suami kamu dengan baik. Jangan nakal sama suami kamu, nurut. Inget itu. Ya udah, Mama pergi dulu,” kata ibunya. Setelah itu, Dewi menutup pintu kamar Risa.


“Jangan lupa pintu kamarnya di kunci ya, Jun. Biar aman, enggak ada yang ganggu,” gurau sang ibu dari luar kamar.

__ADS_1


Risa mendengus kesal. Ia menatap semangkuk bubur hangat yang di ada dalam tangkupan tangannya itu dalam diam. Lalu kemudian menghela napasnya sesaat.


“Kamu kalau enggak mau suapin aku. Letakkan saja buburnya di atas meja itu, nanti biar aku makan sendiri,” kata Juna, tak ingin membuat Risa kesal karena harus terpaksa menyuapinya.


Risa yang tadinya masih menatap pintu dengan tubuh membelakangi Juna, ia pun berbalik. Menatap suaminya itu sejenak, lalu berjalan mendekatinya.


“Biar aku bantu kamu makan,” tawar Risa.


“Kamu yakin? Kalau kamu enggak mau, enggak masalah kok. Lagian, aku enggak mau kamu ngelakuin sesuatu ke aku dengan terpaksa,” jawabnya, terlihat pengertian.


“Aku sama sekali tidak terpaksa. Ini keinginan aku sendiri,” kata Risa sembari menyendok buburnya, lalu mengarahkan sesendok bubur itu ke mulut Juna.


“Aaa... buka mulut kamu,” ucap Risa memberi aba-aba layaknya seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.


Juna menurut, ia membuka mulutnya, lalu menerima suapan Risa dengan senang hati.


“Gimana? Enak?” tanya Risa.


“Hambar,” jawab Juna jujur.


Risa menghela napasnya, ia tahu maksud Juna, pria itu tidak suka bubur karena rasa dan teksturnya yang tidak pernah menyenangkan lidah.


“Semua bubur untuk orang sakit tentu saja harus sedikit hambar,” ujar Risa.


“Jangan mengeluh, ayo habiskan. Kamu harus makan banyak, lalu minum obat dan istirahat,” nasihat sang istri.


Juna mengangguk, tidak berniat untuk protes sama sekali. Ia senang melihat Risa yang tampak peduli padanya.


•••


Pagi itu Juna bangun lebih dulu. Ia terlihat keluar dari dalam kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya.


“Kamu mau pergi kemana?” tanya Risa, putri tidur itu sepertinya baru saja terbangun dari mimpi indahnya.


Risa menguap, lalu merenggangkan tubuhnya. Kemudian ia berjalan mendekati Juna yang sedang berdiri di depan cermin.


“Kamu mau pergi kemana, Juna?” tanya Risa, mengulangi pertanyaannya lagi.


Juna menoleh ke arah Risa sembari membenarkan letak dasinya.


“Kerja,” jawab Juna.


“Kerja?”


“Iya,”


“Kamu lagi sakit, Juna...,” Risa mengingatkan.


“Semalam istriku merawatku dengan sangat baik. Karena itu, sekarang aku sudah merasa tidak sakit lagi,” ucap Juna sembari menatap Risa dengan senyum puasnya. Puas membuat wajah Risa memerah di pagi hari.


“Ck, tidak sakit lagi bagaimana? Lihat itu muka kamu saja masih pucat gitu. Pokoknya enggak boleh kerja sebelum kamu bener-bener sembuh,” kata Risa.


Juna menghela napasnya, ia pun menghadap ke arah Risa yang ada di sampingnya.


Di tatapnya mata coklat itu lama. Juna baru sadar, istrinya itu terlihat lebih cantik saat baru bangun tidur. Kecantikan alami. Rambutnya yang berantakan, wajahnya yang masih tampak sayu. Semua itu terlihat seksi di mata Juna. Menggoda nalurinya sebagai seorang pria dewasa.


“Kalau aku enggak kerja, gimana aku mau nafkahin kamu sama anak aku nanti?” ujar Juna sembari menatap perut Risa yang masih datar.


Gadis itu pun melotot tajam, Juna asal bicara, pria itu kembali menjadi sosok yang menjengkelkan, membuat Risa gemas padanya.

__ADS_1


“Sembarangan aja kalau bicara,” protes Risa.


Juna menanggapinya dengan cekikikan, “Suatu saat nanti, entah kapan itu, cepat ataupun lambat. Kamu pasti bakal hamil anak aku,” kata Juna, penuh keyakinan dan kepercayaan dirinya.


Seketika itu, Risa langsung memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Juna yang terasa menghanyutkan pikiran jernihnya.


“Semalam kayaknya aku salah kasih kamu minum obat deh. Kamu ngomong apa sih? Aku enggak paham,” cibir Risa, kemudian pergi dari hadapan sang suami.


Baru beberapa langkah Risa berjalan menjauh, gadis itu tiba-tiba berbalik, menatap Juna kembali.


“Kamu pokoknya enggak boleh berangkat kerja. Kalau pihak rumah sakit enggak ijinin, aku bakal temuin Ayah buat kasih kamu ijin enggak masuk kerja. Kalau ada yang iri karena kamu pakai orang belakang buat kasih kamu ijin, bilang sama aku. Nanti biar aku yang karantina mulut iri mereka itu,” ujar Risa.


“Tapi aku pengen kerja, Sa.” keluh Juna, “Aku bosan di rumah sendirian,” ucap Juna.


“Kata siapa kamu di rumah sendirian?” tanya Risa, “Aku hari ini libur kerja,” ujarnya.


“Kamu libur?”


“Iya.”


“Kamu ambil libur kerja karena aku?” tanya Juna lagi, mulai besar kepala.


Risa tersenyum menyindir, “Siapa yang libur kerja karena kamu. Aku hari ini emang libur. Hari ini jatah aku libur. Kamu jadi orang bisa enggak sih turunin rasa percaya diri kamu yang terlalu tinggi itu?” cibir Risa.


“Terserah, pokoknya aku anggap kamu libur kerja karena aku,” ungkap Juna.


“Ck, dasar. Ya, terserah kamu,” balas Risa, “Aku mau beresin pakaian aku dulu, habis itu kita pulang ke rumah,” sambungnya.


“Pulang? Kamu serius mau pulang ke rumah?” tanya Juna.


“Iya. Kenapa? Kamu enggak mau aku pulang ke rumah?”


“Bukan gitu, cuma enggak nyangka aja. Kamu sudah berubah pikiran,” jawab Juna.


“Aku bukannya berubah pikiran. Tapi karena enggak mau repotin Mama sama Papa. Kita udah punya rumah sendiri, tapi masa masih aja tinggal di sini,” ucap Risa.


“Jadi kamu masih belum bisa buka hati kamu buat mulai dari awal lagi sama aku?” tanya Juna.


Risa menghela napasnya sembari merapikan pakaian yang ada di dalam kopernya.


“Aku masih butuh waktu untuk berpikir,” jawab Risa.


“Berapa lama?”


“Tergantung sikap dan kelakuan kamu. Kalau kamu bener-bener berubah dan buat yakin, aku cuma butuh sedikit waktu untuk membuka hatiku kembali. Tapi kalau tidak, maka aku tidak akan segan untuk berpaling dari kamu,” ujar Risa.


“Juna, bukan cuma kamu saja yang bisa cari pasangan baru. Aku juga bisa. Ingat itu,” tegas Risa.


Juna hanya diam, mendengarkan.


Aku akan mengingatnya. — batinnya.


“Iya,” ucap Juna.


💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Ty vm.

__ADS_1


Q&A : Bagusnya... gimana cara Juna ungkapin perasaannya ke Risa? Lewat perkataan atau perbuatan? Tapi, apa Juna beneran cinta sama Risw?


__ADS_2