
Setelah mendapatkan ponsel itu, Risa dapat melihat siapa orang yang sedang menghubunginya.
“Juna? Baru juga di omongin, sekarang udah langsung telepon aku. Apa disini ada kamera pengawas ya? Kok bisa kebetulan banget sih? Tapi ada apa dia tiba-tiba telepon aku?” ujar Risa penuh dengan tanda tanya.
Lalu kemudian, Risa pun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya, Risa menerima panggilan dari Juna itu.
“Halo.”
“Risa.” panggil Juna dari seberang sana.
“Apa?!” tanya Risa.
“Kamu lagi dimana?”
“Aku? Lagi ada di kamar. Kenapa?”
“Kamar siapa?”
“Kamar aku lah, masa iya kamar kamu.” ujar Risa.
“Sekarang kamu keluar dari kamar kamu, terus masuk ke kamar aku.” kata Juna.
“Eh? Ngapain? Enggak mau ah.” ujar Risa.
“Risa, please, tolong nurut sama aku kali ini aja. Aku cuma mau minta tolong ke kamu buat cari dokumen yang ada di kamar aku. Itu dokumen penting banget.”
Risa terlihat menghela nafasnya, ia sebenarnya ingin menolak. Tapi karena Juna sudah berkata tolong, ia tidak bisa lagi menolaknya.
“Tapi aku kan enggak punya kunci kamar kamu.”
“Kamar aku enggak aku kunci, kamu langsung masuk aja. Cepetan.” kata Juna.
“Iya, iya, sabar. Ini juga lagi mau ke kamar kamu.” ujar Risa.
Risa pun kemudian turun dari tempat tidurnya, lalu keluar dari kamarnya dan beralih menuju ke kamar Juna yang tepat ada di depan kamarnya.
“Aku udah masuk ke kamar kamu.” kata Risa setelah ia masuk ke dalam kamar Juna.
“Sekarang kamu buka laci nomor dua yang ada di dekat tempat tidur. Disana ada dokumen rekam medis pasien, satu dokumen asli yang tujuh rangkap lainnya fotokopian.”
Risa berjalan menuju ke arah nakas dekat tempat tidur Juna. Gadis itu pun mulai membuka laci, mengikuti instruksi dari Juna.
“Iya ada, ada tujuh rangkap sama yang asli satu, jadi ada delapan rangkap.” kata Risa.
“Bagus, kalau gitu, cepat kamu kirim ke rumah sakit universitas Medicalis, sekarang juga, di lantai enam, bagian spesialis bedah toraks dan kardiovaskular. Aku tunggu kamu, jangan lama-lama.” ujar Juna, setelah itu, ia langsung mematikan sambungan panggilannya begitu saja.
“Halo? Juna? Halo?!” panggil Risa, tapi yang ia dapatkan hanya bunyi panggilan terputus.
“Sialan. Ini maksdunya apa?!” tanya Risa sembari melihat beberapa rangkap dokumen tebal yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Dia pikir aku ini kurir?! Enak saja. Jangan harap aku mau antar dokumen itu.” ujar Risa yang kemudian membalikkan badannya.
Tapi beberapa langkah Risa berjalan, ia tiba-tiba berhenti sejenak. Lalu menatap kembali ke arah dokumen itu.
Kemudian, sebuah helaan nafas menjadi langkah awal kakinya untuk berbalik dan menuju ke arah dokumen itu lagi.
Risa pun akhirnya mengambil delapan rangkap dokumen rekam medis yang berisikan puluhan halaman itu. Lalu ia membawanya keluar dari kamar Juna.
“Berat.” keluhnya.
“Risa, kamu ini bodoh ya? Kenapa juga mau anterin ini dokumen? Aku emang beneran bodoh kan?” ucap Risa sembari membawa dokumen rekam medis delapan rangkap itu dan berniat mengantarkannya ke rumah sakit, tempat Juna sedang menunggunya.
•••
Juna terlihat menatap layar ponselnya sejenak. Lalu kemudian menghela nafasnya dan kembali berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Gimana? Sudah suruh orang rumah buat antar?” tanya Leo.
“Sudah, sebentar lagi dokumennya bakal ada disini, enggak akan lama kok. Paling lama tiga puluh menit.” ujar Juna.
“Oke, karena kamu bilang paling lama tiga puluh menit. Jadi kalau sampai lewat tiga puluh menit, saya pastikan kamu keluar dari tim operasi ini.” kata dokter Ali.
“Iya dokter, percaya sama saya, tiga puluh menit lagi dokumennya pasti sudah sampai.” ujar Juna yang tampak begitu yakin.
Untung saja, ayah sama orangtuanya Risa beliin kami rumah dekat rumah sakit. Sebenernya lima belas menit juga sudah sampai. Tapi antisipasi aja kalau si Risa tiba-tiba berubah jadi siput. — batin Juna, lalu kemudian ia tampak duduk kembali ke kursinya.
Tujuh belas menit kemudian.
Tinggal tiga belas menit lagi waktu yang diberikan oleh dokter Ali padanya. Kalau sampai Risa datang lebih dari tiga puluh menit. Habis sudah kesempatan Juna untuk mendapatkan nilai tambahan di hasil akhir untuk kenaikan semester residennya.
Kok Risa belum dateng ya? — batin Juna.
“Tiga belas menit lagi. Kalau sampai orang yang kamu suruh itu belum dateng juga. Kamu lebih baik segera keluar dari ruangan ini.” ujar dokter Ali yang sepertinya melihat kegelisahan dari diri Juna.
“Sebentar lagi pasti dia— ”
“Permisi. Apa ada yang bernama Juna?” tanya seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Risa, aku disini.” panggil Juna sembari mengangkat tangannya.
Risa pun menghela nafasnya, ia segera berjalan menghampiri Juna dengan susah payah karena sudah merasa lelah membawa dokumen yang sangat berat baginya itu.
Sesampainya di depan Juna yang tampak baru saja ingin berdiri. Risa pun langsung melemparkan dokumen itu ke atas paha Juna, membuat Juna kembali terduduk di kursinya.
“Eh, Mbak, kok main lempar aja. Itu dokumen penting loh, nanti kalau rusak gimana? Mbak-nya mau tanggung jawab?” kata seorang dokter anestesi, Meta.
“Rusak? Ck, palingan juga kusut aja.” balas Risa yang kemudian berbalik untuk pergi dari ruangan itu.
“Tunggu dulu.” kata dokter Ali yang tiba-tiba menghentikan langkah kaki Risa.
__ADS_1
Semua orang yang ada di ruangan, termasuk Juna, mereka merasa kalau dokter Ali akan marah pada Risa karena telah memperlakukan dokumen rekam medis pasien layaknya sekumpulan kertas tidak berguna.
“Kamu, apa kamu Farisa Irie?” tanya dokter Ali.
“Bagaimana dokter bisa mengenalnya?” Juna tiba-tiba bersuara.
Dokter Ali tampak menatap Juna sekilas, lalu kemudian mengabaikannya, pria berusia tiga puluh dua tahun itu terlihat berjalan mendekati Risa yang baru saja membalikkan badannya.
Ketika melihat dokter Ali, Risa terlihat mengernyitkan keningnya, ia merasa memorinya seolah pernah menyimpan ingatan tentang pria yang kini telah ada di hadapannya itu.
“Benar, kamu adalah Risa. Akhirnya aku menemukanmu.” ujar Ali, ia tiba-tiba memeluk Risa begitu saja.
Tindakan dari dokter Ali itu membuat semua orang menganga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Tubuh Risa pun terasa menegang beberapa saat karena tiba-tiba saja mendapat pelukan dari pria yang masih terasa samar-samar di ingatannya.
Sedangkan Juna, pria itu terlihat menatap Risa tajam, ia merasa tidak suka dengan pemandangan yang membuat hatinya bergemuruh itu.
“Dokter, kalau anda tidak cepat melepaskan pelukan anda, orang lain yang tidak sengaja melihatnya, nanti mengira kalau anda ini sedang melakukan pelecehan seksual.” kata Juna.
“Siapa yang sedang melakukan pelecehan seksual.” ucap Ali sembari melepaskan pelukannya dari Risa. “Aku hanya sedang melepaskan kerinduanku pada perempuan yang sudah lama aku rindukan.” katanya.
Perkataan dari dokter Ali itu membuat suasana terasa semakin canggung. Risa pun kemudian terlihat melirik ke arah Juna yang tampak semakin merasa geram dengan situasi saat ini.
Risa hanya bisa meringis, menggigit bibir bawahnya, ia harus segera mencari ide untuk bisa lepas dari situasi yang menurutnya sangat gila.
“Apa kau mengenalnya?” tanya Juna ketika mata mereka bertemu pandang.
Perlahan, Risa menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
“Juna, saya tidak tahu kalau kamu kenal sama Risa. Tapi Risa ini adalah perempuan yang sudah hampir jadi pacar saya. Dia ini satu-satunya perempuan yang berhasil membuat saya jatuh hati hanya dengan melihatnya sedang memasak.” kata Ali, sampai membuat tim nya merasa kalau mereka benar-benar sedang bermimpi, sangat sulit untuk dipercaya.
Bagaimana tidak, dokter Ali itu terkenal sebagai seorang dokter yang sangat dingin dan tegas. Tapi sekarang, di hadapan Risa, ia terlihat sangat manis dan begitu hangat.
Apa dia ini memang orang yang sangat vulgar? Apa harus sejujur itu? Ck. — batin Risa dan Juna yang sama.
“Eng, itu, karena saya tidak ada keperluan disini lagi, saya permisi. Maaf mengganggu breafing kalian.” ujar Risa.
“Kamu enggak ganggu kami kok Ris, lagian operasinya masih empat jam setengah lagi. Masih ada waktu sekitar tiga jam lagi untuk siap-siap. Jadi kamu sama sekali enggak ganggu. Tadi kamu seharusnya santai aja anterin dokumennya, enggak usah terburu-buru sampai keringat kamu keluar banyak kayak gini, jadi enggak tega aku lihatnya.” ujar dokter Ali sembari mengelap kening Risa menggunakan sapu tangannya.
Risa kemudian terlihat kembali menatap Juna melalui sudut matanya, dari ekor matanya itu, Risa dapat melihat kalau Juna tampak sangat emosi, Risa bahkan melihat tangan Juna terkepal kuat sampai buku-buku jari pria itu terlihat memutih.
Dia lagi enggak cemburu kan? Kok kayak mau meledak gitu? — batin Risa, masih menatap Juna dalam diam.
“Dokter Ali.” panggil Juna, pria itu sudah berdiri dari kursinya.
Ali yang tadi tampak sibuk mengelap wajah Risa, ia menolehkan kepalanya, menatap Juna yang terlihat sudah berjalan ke arahnya.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍