Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Risa On Top


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Risa bangun lebih awal. Terlihat dia memandangi suaminya yang masih terlelap dalam mimpinya.


Tangan Risa perlahan bergerak menyusuri setiap inci wajah rupawan itu.


Coba lihat, siapa si tampan ini? Ah benar. Ini suamiku, suamiku yang paling tampan di dunia.


Senyum manis terurai dibibir Risa. Ada segumpal rasa syukur yang masuk ke dalam hatinya.


Ya, dia bersyukur karena pria tampan dihadapannya ini adalah suaminya. Segala yang ada pada Juna adalah miliknya seorang.


“Aku tahu, aku tampan. Jadi, bisakan kamu berhenti menatapku dengan senyuman menggodamu itu?” gumam Juna dengan mata yang masih terpejam rapat.


Senyum Risa memudar, perempuan itu kemudian menarik hidung suaminya gemas.


“Ck. Jadi, kamu sudah bangun, ya?” kesalnya.


Juna terkekeh, pria itu kemudian membuka kelopak matanya. Sayu, mata itu menatap istrinya.


“Istriku …,” panggilnya manja.


“Apa?” jutek Risa.


Juna tersenyum penuh arti. Pria itu kemudian menunjuk bibirnya sembari mengerucutkan bibir itu beberapa senti.


“Ini maksudnya minta ditabok, 'kan?” tanya Risa. Raut mukanya menatap Juna sinis.

__ADS_1


“Kok 'gitu sih sama suami tercintanya? Ini minta dicium, Istriku,” ujar Juna.


“Enggak mau ah, kamu bau, belum sikat gigi,” kata Risa sembari memalingkan wajahnya.


“Kamu juga bau, belum sikat gigi,” balas Juna, tak mau kalah.


Sontak Risa pun menoleh padanya, “Kamu bilang apa?” tanyanya dengan mata menyalang bagai elang yang siap mencengkeram mangsanya.


“Aku bilang, kamu juga bau, belum sikat gigi, iler kamu aja masih ada tuh,” papar Juna sembari menunjuk sudut bibir istrinya.


Risa mendesis, dia menepis tangan Juna yang masih menunjuk sudut. Perempuan kemudian beranjak dari tidurnya. Dia bergerak naik ke atas tubuh Juna, duduk diperut sobek suaminya. Lalu, mendekatkan wajahnya pada wajah tampan pria itu.


“Coba ulangi lagi kalau kamu berani,” tantang Risa seraya melemparkan tatapan tajam pada suaminya.


Cup.


Kalimat Juna terpotong, Risa tiba-tiba mengecup bibirnya, kilas.


Bukannya marah. Senyum Juna malah semakin melebar, pria itu tentu saja senang. Ide cemerlang pun seketika menyala terang dikepalanya.


“Kamu bau—”


Cup.


Juna sengaja mengulangi perkataannya. Dan benar saja, sekali lagi Risa mengecup bibirnya. Lucunya, perempuan itu mengecup bibir Juna dengan ekspresi datarnya, seolah wanita itu tengah memberi Juna hukuman.

__ADS_1


Tawa Juna pun meledak, pria itu tak tahan lagi melihat sikap lucu dari istrinya itu.


Berbeda dengan Risa. Wanita itu semakin datar memandang suaminya. Tak suka dengan sikap Juna yang seakan tidak takut padanya.



“Kamu ketawa?” ketus Risa, menusuk pria itu dengan aura mendominasinya.


Juna berdehem pelan. Pria itu lantas menggelengkan kepalanya.


“Enggak,” cicitnya.


“Kamu pikir lucu?” tukas Risa.


Juna lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Pria itu tak tahu harus berkata apa. Aura Risa terlalu pekat.


Pagi ini, entah kenapa istrinya itu tampak mendominasi dirinya. Juna pikir awalnya terlihat lucu dan menyenangkan. Tapi kemudian, perempuan itu lama-lama terlihat menakutkan.


Risa sedang marah padanya. Begitukah?


Detik selanjutnya, tangan Risa tiba-tiba meraih tengkuk Juna, perempuan itu mendekatkan wajahnya, mengikis jarak yang ada diantara mereka.


“Cium aku,” perintahnya.


Juna terbelalak. Padahal biasanya dia menyukai kata itu. Namun kini, pria itu tampak kalap. Dia bingung harus berbuat apa. Apa dia harus mencium Risa? Bagaimana jika perempuan itu hanya mengujinya?

__ADS_1


__ADS_2