Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
She Is My Wifey


__ADS_3

Selamat pagi~


Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.


Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Juna keluar dari ruang perawatan. Bersamaan dengan itu, Risa terlihat datang menghampirinya. Gadis itu sudah lebih dari empat puluh lima menit menunggu di depan pintu kamar pasien.


“Risa?” Juna tak menyangka kalau istrinya itu sungguh akan datang ke rumah sakit, apakah demi Deon? cicit Juna dalam hatinya.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Risa dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Juna mendengus, hatinya mencelos, ia kesal.


“Kamu khawatir padanya?” tebak Juna.


Sesaat Risa menghela napas pedeknya, kemudian tanpa ragu ia menjawab, “Iya, tentu saja. Dia teman baikku,” tukasnya.


Juna tersenyum miris, “Teman baik, teman baik, teman baik. Kamu selalu mengatasnamakan teman baik biar kamu bisa ketemu sama dia 'kan?” tuduh Juna.


Risa mengernyit heran. Ia bingung dengan sikap Juna yang tiba-tiba terlihat marah dan kesal padanya.


“Kamu ini kenapa? Aku cuma mau pastiin kalau Deon baik-baik saja. Dia itu teman— ”


“Sudah cukup, Risa. Jangan ngomong teman atau apalah itu di depanku. Aku sudah muak dengernya,” tegur Juna. Kemudian, ia meraih tangan istrinya itu sembari berkata, “Ayo lebih baik kita pulang.”


“Tunggu Juna, aku mau lihat Deon sebentar, aku cuma mau mastiin dia baik-baik saja,” kekeh Risa.


Juna melepaskan tangan Risa, pria itu kemudian tampak menyisir rambutnya kasar, terlihat seperti menarik rambutnya sendiri.


“Dia baik-baik saja, Risa. Aku dokternya di sini. Aku yang tangani dia dan rawat lukanya. Kamu bisa tanya sama aku, enggak perlu temui pria itu,” gerutu Juna.


“Lagian sebentar lagi keluarganya juga bakalan datang. Kamu juga enggak perlu tunjukin kekhawatiran kamu sejelas ini 'kan? Kamu itu istri aku, Risa. Aku juga lagi sakit, aku belum sembuh sepenuhnya. Tapi kamu malah sibuk khawatir sama pria lain. Kamu mikirin hati suami kamu enggak sih?” tegas Juna.


Mata Risa tampak bergetar. Setiap kata yang Juna lontarkan menyerap masuk ke dalam lubuk hatinya. Rasa bersalah kembali menjalar memasuki wilayah terdalam hati gadis itu.


Tapi, rasa bersalah itu juga tertutupi oleh rasa khawatir terhadap Deon. Sebenarnya ada apa dengan Risa? Kenapa dia bingung dengan hatinya sendiri?


Di antara pertengkaran kecil suami-istri itu. Dua orang pria dengan usia berbeda mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


“Juna? Kamu belum pulang? Pulanglah. Pasien ini biar aku yang jadi penanggungjawabnya,” tutur pria yang baru datang itu. Dokter Ali berdiri di belakang Risa dengan jas dokter yang melekat sempurna di tubuhnya.


Risa pun menoleh, kemudian matanya menangkap dua sosok pria.


Risa bukan hanya mengenal salah satu dari mereka. Tapi dua pria itu, Risa mengenalnya, yaitu termasuk pria paruh baya yang berdiri di sisi Dokter Ali.


“Om Herman,” cicit Risa.


“Risa?” ucap pria paruh baya yang di panggil 'om' oleh Risa.


“Jadi kamu yang bawa Deon kemari. Kalau tahu itu kamu, om pasti enggak akan sekhawatir tadi,” ungkap pria paruh baya itu.


Risa tersenyum ramah, ia hendak menjawabnya. Tapi sayangnya, dia kalah cepat dengan Juna yang telah menyerobot perbincangannya.


“Tadi anak Bapak tiba-tiba datang ke rumah kami. Dia mencari istri saya dengan keadaan seperti itu. Pihak rumah sakit sudah menghubungi polisi. Kami dan polisi akan bekerjasama untuk mencaritahu penyebab kecelakaan yang terjadi dengan anak Bapak,” ujar Juna. Sengaja ia memulai perkataannya dengan fakta bahwa Deon datang kerumahnya dan ambruk ke dalam pelukan istrinya.


“Istri? Maksudnya— Risa kamu...,”


“Dia ini istrinya Dokter Juna, Pak,” tukas Dokter Ali, mewakili Juna untuk menjawab.


Pria paruh baya bernama Herman itu tampak kaget dengan fakta tersebut. Ekspresi keterkejutannya pun tercetak jelas di wajah tuanya.


Padahal, belakangan ini Deon sering sekali membicarakan Risa. Herman sungguh tidak menyangka kalau sang anak adalah korban gagal move on dari seorang wanita yang sudah bersuami.


“Risa, apa Deon sering menemuimu?” tanya Herman.


Juna yang menyadari hal itu. Ia berniat ingin menenangkan Risa. Tapi tatapan dari Dokter Ali yang melarangnya untuk tidak ikut campur sementara waktu, membuat Juna mengurungkan niatnya.


“Iya,” jujur Risa.


Herman menghela napasnya berat. Ia tidak menyangka kalau sang putra yang ia banggakan selama ini telah menjadi sosok pria yang ingin merusak rumah tangga orang lain.


“Sa, bisakah Om meminta sesuatu padamu?” tanya Herman.


Risa mengangguk cepat, “Ya,” jawabnya.


“Kedepannya, tolong kamu jauhi Deon. Kalau kamu tidak sengaja bertemu dengannya atau dia mendekatimu, tolong kamu menjaga jarak dengannya. Om minta sama kamu untuk jangan beri dia perhatian apapun itu bentuknya,” harapnya.


Risa bungkam, hatinya tiba-tiba merasakan kesedihan, tidak tahu kenapa ia merasa ada yang menusuk organ terdalamnya itu.


“Bapak sebagai orangtua dari Deon. Saya harap, Bapak juga mampu menasihati anak Bapak agar tidak mendekati istri saya lagi. Karena sebaik apapun istri saya menjauhi anak bapak, kalau anak bapak sendiri masih kekeh mendekati istri saya, itu percuma saja,” terang Juna.


Herman terdiam, tapi kemudian ia mengangguk paham dengan maksud Juna.

__ADS_1


“Saya mengerti maksudmu. Maafkan putra saya yang telah mendekati istrimu. Dia seperti itu karena merasa Risa itu sebagai perempuan yang penuh kasih sayang. Semua itu salah saya, karena tidak mampu memberikannya kasih sayang dari seorang ibu,” tutur Herman.


Hati Juna terenyuh. Mendengar perkataan itu, ia merasa seolah yang di maksud Herman adalah dirinya.


Kurang kasih sayang dari seorang ibu, itulah Juna.


“Ah, kalau begitu. Pak Herman, silahkan anda masuk ke ruang perawatan untuk melihat anak Bapak. Karena sebentar lagi dia akan sadarkan diri,” pungkas Dokter Ali. Mencoba mengalihkan suasana.


Herman tampak mengangguk, setuju dengan saran Dokter senior itu.


“Sekali lagi, maafkan anak saya,” ucapnya sebelum kemudian pergi dan masuk ke dalam ruang perawatan.


Dokter Ali menghela napasnya. Ia kemudian melihat Risa yang masih terpaku dalam diamnya.


Wanita itu masih saja terlihat mempesona walaupun sudah memiliki status sebagai istri orang. Wajar saja kalau banyak pria yang menyukainya. Bahkan termasuk dirinya sendiri. Tapi dengan cepat Ali menepisnya. Sudah seharusnya ia mengakhiri perasaannya pada gadis itu.


“Risa,” cicit Dokter Ali.


Risa pun menoleh padanya. Begitupun dengan Juna yang mulai mewanti-wanti kalau si Ali itu juga akan melancarkan aksinya untuk mendekati sang istri.


Dokter Ali tersenyum ramah, ia kemudian mendekati Risa, menepuk bahu gadis itu pelan.


“Bawa pulang suami kamu dan rawat dia dengan baik. Dia masih belum sembuh, lihat wajahnya masih pucat seperti itu,” kata Ali.


Risa menoleh sekilas ke arah Juna. Ya, Risa tidak dapat membantahnya, wajah suaminya itu kembali memucat. Keringat pun tampak mengalir dari keningnya. Padahal udara di sekeliling mereka dingin karena AC sentral.


“Baik, kami akan pulang. Terimakasih, Kak Ali,” balas Risa.


Dokter Ali mengangguk, “Semoga rumah tangga kalian langgeng,” dalihnya.


Juna tersenyum, menyambut perkataan Dokter Ali dengan baik, “Terimakasih, Senior,” ucapnya.


“Yasudah, cepatlah kalian pulang. Aku pergi dulu, aku harus memeriksa pasien bernama Deon itu,” tukasnya. Ali kemudian pergi dari hadapan mereka.


Setelah Dokter Ali pergi, Juna segera meraih tangan Risa, menggenggamnya hangat.


“Ayo pulang,” ajak Juna.


Risa hanya mampu mengangguk, tak dapat membantahnya.


💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Dan juga rekomendasikan cerita ini ke teman kalian yaaa. Ty vm.


NP : Tim Juna, Tim Dokter Ali, Tim Deon. ayo merapat... Jarang2 loh mereka di campurin jadi satu cem gado-gado.


__ADS_2