TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU
hari pertama


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dafa sudah berangkat dari rumahnya untuk mulai bekerja di rumah Pak Farhan, orang telah ia tolong tempo hari, Dafa juga sudah bercerita dan meminta ijin kepada ibunya perihal tawaran kerja dari Pak Farhan, sebab jika ia bekerja nanti, ia tidak bisa bertemu dengan ibunya setiap hari karna tempat tinggal Pak Farhan berada di Jakarta sedangkan tempat tinggalnya berada di Bogor, secara otomatis Dafa tidak akan bisa pulang setiap hari di karnakan jarak yang di tempuh lumayan jauh, tapi untungnya sang ibu mengijinkan Dafa untuk menerima pekerjaan tersebut dan mengadu nasib di ibukota.


Sebetulnya berat bagi Dafa meninggalkan ibunya yang sedang sakit-sakitan, tapi ia juga memang sedang membutuhkan pekerjaan ini, lebih tepatnya membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan mereka dan membiayai pengobatan ibunya, mengingat saat ini sangat sulit untuk mencari pekerjaan, apalagi ia belum lulus kuliah dan tidak mempunyai pengalaman bekerja sebelumnya.


Beruntung ia mempunyai seorang adik perempuan yang sudah bisa di andalkan untuk menjaga ibunya di rumah, adik perempuannya itu bernama Sifa, ia baru berusia 16 tahun, dan masih mengenyam pendidikan di bangku SMA, awalnya sifa tidak ingin melanjutkan sekolahnya, ia tidak mau membebani ini dan Kakaknya, namun Dafa melarang Sifa untuk berhenti sekolah, ia tidak ingin Adiknya putus sekolah, ia berjanji akan berusaha sekuat mungkin untuk membiayai sekolah adik satu-satunya itu, sampai ke perguruan tinggi nanti, itulah cita-cita Dafa saat ini.


"De... Kaka titip ibu ya... kamu jaga ibu baik-baik, tolong kamu ingatkan ibu agar makan dan minum obat yang teratur" pesan Dafa pada sang Adik


"Ia kak, Kakak gak usah khwatir Sifa pasti jagain ibu, kakak jangan terlalu memikirkan ibu, Kaka pokus aja dengan pekerjaan kakak" Jawab sang Adik.


"Makasih ya de... kamu sudah mau bantuin Kaka jagain ibu, oia de kalau kamu sekolah, kamu minta tolong sama Bu Ani aja ya buat jagain ibu selama kamu sekolah, Kemarin juga Kaka udah bilang sama Bu Ani tentang masalah ini dan Bu Ani bersedia untuk bantuini kita jagain ibu, Kemarin Naya juga bilang ke Kaka bahwa dia akan sering-sering nemenin kamu disini selama Kaka gak ada" jelas Dafa, Bu Ani merupakan tetangga dekat mereka sejak dulu , rumah mereka bersebelahan, dan Naya merupakan anak gadis Bu Ani yang juga teman Dafa sejak kecil, mereka juga teman satu sekolah sejak SD sampai dengan SMA karena mereka memang seumuran.


"Ia ka... pokonya kaka tenang aja, insya Allah ibu pasti akan baik-baik aja" Sifa mencoba meyakinkan Kakaknya agar tidak khawatir lagi.


"Yaudah de kakak mau ke kamar ibu dulu, Kakak mau pamit dulu sama ibu"


Saat Dafa masuk ke dalam kamar ibunya, sang ibu baru saja selesai melaksanakan Shalat subuh, ia masih mengenakan mukena berwarna putih dan duduk di atas sajadah.


"Bu... Dafa pamit ke Jakarta sekarang ya, ibu beneran gak apa-apa Dafa tinggal, kalau ibu gak ijinin Dafa berangkat, Dafa gak akan berangkat, Daffa khwatir dengan keadaan ibu" Sepertinya Dafa masih sangat berat meninggalkan sang ibunda.


"Ibu baik-baik aja Nak...Dafa gk usah khwatir, ada Sifa yang jagain ibu, Dafa pokus aja dengan pekerjaan Dafa, jaga diri Dafa baik-baik, ibu Doain Mudah"an Dafa betah disana, dan Dafa bisa meraih cita-cita Dafa selama ini, ibu minta maaf ya nak... gara-gara Ibu sakit-sakitan, Dafa jadi terpaksa cuti kuliah"


"Ibu gk boleh bicara gitu, justru Dafa yang harus minta maaf karna selama ini Dafa selalu ngerepotin ibu, Dafa belum bisa bahagiain ibu, selama ini Ibu berjuang sendiri, membesarkan Dafa dan Sifa sampai seperti sekarang ini"

__ADS_1


"Semua itu sudah menjadi kewajiban ibu nak... tapi ibu hanya bisa melakukan sebatas itu saja, ibu tidak bisa memenuhi semua keinginan kalian dan memberikan Fasilitas yang baik untuk kalian, seperti orang tua yang lain"


"Nggak bu, nggak... bagi Dafa semua ini sudah lebih dari cukup, Dafa berterimakasih banyak sama Ibu karna Ibu sudah menjadi ibu yang terbaik untuk Dafa dan Sifa, Doakan Dafa semoga Dafa bisa membalas semua pengorbanan Ibu selama ini, dan bisa membahagiakan ibu dan juga Sifa.


"Pasti nak... pasti, tanpa Dafa minta pun, ibu selalu mendoakan Dafa dan Juga Sifa"


"Kalau begitu Dafa berangkat dulu ya, ibu juga harus jaga kesehatan ibu, Dafa gak mau Ibu drop lagi, kalau ibu perlu sesuatu, langsung hubungin Dafa ya"


"Ia nak... ia, Dafa hati-hati ya di jalan, kalau sudah sampai langsung hubungin ibu_


"Ia Bu... Assalamualaikum" ucap Dafa seraya mencium punggung tangan sang ibunda.


"Waalaikumsalam" jawab ibu dengan mengelus kepala putra sulungnya.


"Assalamualaikum... Apa benar ini kediaman Pak Farhan" tanya Dafa kepada asisten rumah tangga yang membukakan pintu tersebut.


"Waalaikumsalam... Ia benar, maaf ada keperluan apa ya" tanya bi Minah yang merasa heran ada tamu sepagi ini.


"Saya sudah ada janji sama Pak Farhan hari ini, kemarin mendapatkan tawaran kerja dari Pak Farhan untuk menjadi supir pribadi di rumah ini" jelas Dafa.


"Oh... Kalau begitu silahkan duduk dulu, saya akan menemui tuan dulu"


"Ia bi... Terima kasih"

__ADS_1


"Permisi tuan, di luar ada tamu" ucap Bibi memberi tau majikannya yang sedang sarapan.


"Siapa bi " tanya Pak Farhan yang tengah asik menikmati sarapannya.


"Bibi lupa, nanyain namanya, tapi dia bilang katanya mau bekerja di sini sebagai supir" jelas Bi Minah


"Oh... Mungkin Yang bibi maksud itu Dafa"


"Siapa Pih... " Tanya Nana Istrinya.


"Itu loh Mih... yang pernah Papah ceritain ke mamih, Orang yang nolongin PapIh waktu tas Papah di jambret" jelas Farhan


"Oh... yang mau kerja jadi supirnya Michel"


"Ia Mih... Hari ini dia sudah mulai bekerja"


"Memangnya Papih udah cerita tentang masalah ini ke Michel, kalau anak nya gak mau gimana" ucap Nana yang sudah hapal watak anak perempuan nya itu.


"Belum Mih... Papih belum sempet bilang sama Michel, karna Papih yakin dia pasti akan menolak, tapi Papih gak peduli, dia mau atau nggak, Michel harus tetap terima keputusan Papih, ini semua buat kebaikan Michel juga" Jelas Papih yang tidak suka dengan penolakan"


"Tapi Papi harus Pelan-pelan ya ngmong sama Michel nya, Papih jangan Emosi, Michel itu kalo di kerasin malah akan semakin berontak" ucap Nana yang sangat khawatir jika anak dan suaminya akan kembali bertengkar.


"Ia aku akan coba, aku sudah gak tau lagi bagaimana caranya ngadepin anak itu, aku takut dia akan semakin terjerumus dengan pergaulan yang tidak benar, sedangkan kita tidak bisa mengawasinya setiap saat, semoga dengan cara ini akan membuat Michel berubah, dan kita tidak akan terlalu Khawatir dengannya."

__ADS_1


__ADS_2