
Seperti yang telah mereka bicarakan tadi pagi bahwa setelah sepulang kuliah, Jessy dan Chika berencana untuk pergi ke Mall untuk berbelanja, namun mereka sedikit kecewa karna Michel dan Ayu tidak bisa ikut.
"Kalian yakin gak ikut kita ke Mall" tanya Jessy kepada Ayu dan Michel, ia masih berharap jika kedua sahabatnya itu akan berubah pikiran.
"Sorry Jes, suasana hati gue saat ini sedang kurang baik, kalian have fun aja ya" jawab Michel yang sejak tadi pagi tampak murung memikirkan masalahnya dengan Andrew, ia bingung harus bagaimana.
"Maaf banget ya Jes, aku gak bisa ikut, tapi kapan-kapan aku pasti ikut"jawab Ayu.
"Ya udah deh kita pergi duluan ya" ucap Jessy sambil membuka pintu mobil Chika, karna Chika sudah sejak tadi masuk ke dalam mobil.
"Yu... lo mau bareng sama gue gak" ajak Michel.
"Nggak Chel, aku naik angkot aja, aku gak mau ngerepotin kamu sama Daffa, rumah kita kan beda arah" tolak Ayu.
"Ya udah kalau begitu, aku juga duluan ya, kamu hati-hati di jalan" ucap Michel yang sedang tidak punya tenaga untuk membujuk Ayu, toh ayu pasti akan tetap menolak.
Michel masuk ke dalam mobil dengan langkah gontai, tanpa ada senyuman ataupun keceriaan seperti biasanya, namun ia tidak lupa untuk mengucapkan salam dan meraih tangan Dafa dan mencium punggung tangan Suaminya itu yang sudah sejak tadi menunggu istrinya di dalam mobil, Daffa pun tidak lupa mencium kening Michel dan mengusap rambut wanita yang sangat ia cintai.
"Sayang... Kenapa wajah kamu murung seperti itu, apa ada masalah" tanya Daffa yang menyadari raut wajah istrinya tampak berbeda tidak seperti biasanya.
"Tidak apa-apa Daf, nanti kita ngobrol di rumah aja" jawab Michel seraya memasang sabuk pengamannya.
Sementara di depan kampus, Ayu tengah menunggu angkutan umum yang lewat di depan sana, namun tiba-tiba sebuah mobil sport yang terasa tidak asing baginya berhenti tepat di hadapannya, perlahan-lahan kaca mobil tersebut terbuka, ternyata di dalam mobil tersebut adalah Fahri, Pria tampan yang tengah mengenakan kacamata hitam.
"Yu... ayo masuk" ucap Fahri seraya membuka kacamata hitamnya.
Ayu tampak bingung kenapa tiba-tiba Fahri datang ke kampusnya.
"kamu ngapain datang kesini" ucap Ayu heran.
"Ayo masuk aja, nanti aku jelasin di jalan" ucap Fahri lagi, namun Ayu tampak masih ragu-ragu.
__ADS_1
"Lo tenang aja, gue gak bakalan macem-macem kok sama Lo" Bujuk Fahri lagi dan akhirnya Ayu pun dengan terpaksa masuk kedalam mobil Fahri.
"Kak kamu masih belum jawab pertanyaan aku, ngapain kamu nemuin aku kesini, trus sekrang kamu mau bawa aku kemana" Tanya Ayu penasaran.
"Gue mau ngajak Lo ke mall, gue mau minta anter Lo untuk pilihin kado buat mantan gue yang kemarin itu, gue juga mau beliin gaun buat Lo, buat ke acara pesta ulangtahun dia
nanti.
"Kamu gak perlu repot-repot beliin aku gaun, aku bisa pakai baju yang ada di rumah" tolak Ayu.
"Gak apa-apa Yu, anggap aja ini sebagai tanda terimakasih gue karna Lo udah mau nemenin gue ke pesta nanti, kalo bukan karna bantuan lo, semua temen-temen gue pasti bakalan ngebuli gue karna gue masih ngejomblo sampai saat ini" jelas Daffa.
"Tapi..."
"Udah gak Lo gak usah protes, sebentar aja kok gak akan lama, nanti gue langsung antar Lo pulang" ucap Daffa sambil terus melajukan mobilnya.
"Tunggu-tunggu kak" ucap Ayu seraya mengehentikan langkah Fahri untuk masuk ke dalam Mall.
"Kita balik lagi aja ya, soalnya aku baru ingat kalau Jessy sama Chika juga pergi ke mall tadi" Ayu merasa tidak enak jika bertemu dengan mereka, selain karna telah menolak ajakan mereka, ia juga tidak ingin Chika salah paham jika melihat dirinya jalan bersama Fahri seperti yang mereka tau, selama ini Chika sangat menyukai Fahri.
"Memangnya kenapa kalau mereka kesini juga, lagian Mall ini luas banget, jadi gak kita bakalan ketemu mereka"
"Tapi aku..." ucap Ayu bingung.
"Udah jangan kebanyakan mikir, ayo kita masuk" Ucap Fahri seraya menggenggam tangan Ayu, Ayu benar-benar kaget saat Fahri tiba-tiba menarik tangannya, ia berjalan mengikuti langkah Fahri sambil menatap tangan mereka berdua.
"Aku bisa jalan sendiri kak" ucap Ayu berusaha melepaskan tangannya.
"Maaf-maaf aku gak sengaja" Fahri baru menyadari perbuatannya itu.
**
__ADS_1
"Daf... ada yang mau aku omongin sama kamu" Ucap Michel saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar.
"Bicara aja Chel....saya memang sedang menunggu kamu bicara, saya tau kamu ingin membicarakan sesuatu kepada saya, tapi kelihatannya kamu ragu" ucap Daffa seraya membuka sepatunya.
"Ini tentang Andrew Daf, tadi pagi aku udah janji sama kamu kalau aku mau menyelesaikan hubungan aku sama Andrew tapi_" Michel mendaratkan tubuhnya di sisi Daffa, ia tampak bingung untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi nenek nya Andrew meninggal dan kamu gak tega untuk menyakiti perasaan Andrew di saat dia sedang berduka seperti ini" Daffa melanjutkan kata-kata Michel.
Michel benar-benar terkejut dengan ucapan Suaminya itu, bagaimana mingkin Daffa bisa tau tentang apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Aku tau... sejak tadi kamu sangat gelisah memikirkan hal ini, kamu pasti tidak sampai hati untuk menyakiti perasaan Andrew karna walau bagaimanapun Andrew pernah menjadi bagian dari hidup kamu, aku bisa ngerti perasaan kamu Chel"
"Kamu_kamu mau kan Daf bersabar sedikit lagi untuk merahasiakan hubungan kita yang sebenarnya, menunggu sampai suasana hati Andrew benar-benar pulih" Ucap Michel harap-harap cemas, ia takut jika Daffa keberatan, karna ia tau tidak akan ada seorang suami yang rela melihat istrinya masih menjalin hubungan dengan pria lain.
Daffa mengangguk sebagai tanda ia setuju.
"Kamu serius Daf... kamu gak marah kalau aku menunda rencana aku untuk mutusin Andrew" Ucap Michel memastikan.
"Ia... aku gak keberatan, asaaaal... kamu harus bisa menjaga batasan kamu karna kalian bukan muhrim, dan sekarang kamu sudah punya suami, kamu adalah milik aku" Ucap Daffa seraya mencubit hidung Michel.
"Makasih Daf... makasih banyak, kamu benar-benar suami yang pengertian, aku janji, aku akan jaga jarak sama Andrew, Aku gak akan macem-macem sama dia" ucap Michel seraya memeluk tubuh suaminya, membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, kemudian Daffa mencium pucuk kepala istrinya
Sebenarnya berat bagi Daffa untuk menyetujui hal itu, namun ia juga tidak mau egois, ia juga tidak mau terlalu menekan Istrinya, karna ini juga bukan kesalahan Michel, karna walau bagaimanapun Andrew lah yang lebih dulu ada di sisi Michel, jadi ia harus lebih bersabar lagi dengan semua ini, karna pasti tidak mudah untuk Michel untuk menyelesaikan semua ini.
Sekarang kamu mandi gih duluan, bau acem" ucap Daffa menggoda istrinya sekaligus untuk menghiburnya.
"Enak aja bilang aku bau asem, orang parfum aku belinya di luar negri, jadi wanginya awet sampai malem, kamu tuh yang bau asem" Ucap Michel yang tidak mau melepaskan pelukannya sedikitpun.
"Masa sih... tapi kok istri aku betah banget ya meluk suaminya, nempel terus dari tadi" Goda Daffa lagi.
"Biarin... suka-suka aku dong, walaupun bau asem tapi aku suka, wanginya kaya nano-nano gitu, asem-asem manjahh" Michel tidak mau kalah menggoda Suaminya., keduanya terbahak-bahak mendengar candaan Michel.
__ADS_1