TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU
kamu dimana


__ADS_3

Michel berjalan tanpa arah tujuan, melangkahkan kakinya di jalan setapak yang penuh dengan rerumputan, melewati kebun dan juga persawahan, saking kesalnya kepada Daffa, ia sampai tidak menyadari bahwa ia sudah berjalan sangat jauh, dan kakinya sudah terasa pegal.


Michel memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil duduk di atas rumput, bibirnya tidak berhenti menggerutu dan memaki-maki Daffa kesal.


"Dasar cowok Nyebelin, cowok sok kegantengan, cowok sok alim" gerutu Michel seraya mencabuti rumput yang ada di hadapannya.


Tanpa terasa hari sudah mulai sore dan langit pun sudah terlihat gelap, sepertinya akan segera turun hujan, Michel baru sadar kalau ia sudah berjalan cukup jauh, tempatnya berada saat ini sangat sepi tidak ada orang satu pun di sana.


"Ya ampun... dimana gue sekarang, kok gak ada orang satu pun disini" ucap Michel bingung saat ia memutuskan untuk pulang.


"Aduhhh gimana caranya gue pulang, gue gak hafal jalannya, mana hp gue lobet lagi" ucap Michel semakin bingung.


"Daffa... Sifa.... Ibu..." teriak Michel, ia mencoba mencari jalan pulang, namun jalan yang ia lalui justru semakin rimbun, penuh dengan pepohonan yang sangat besar, Michel menjadi semakin takut


"Daffa...." teriak Michel lagi, dan setelah itu... hujan turun begitu lebat di sertai dengan petir, dan langit pun sudah semakin Gelap, Michel langsung berlari dan berteduh di bawah pepohonan, ia bingung harus berbuat apa, kedua bola matanya tampak sudah penuh dengan air mata yang menggenang.


"Mami... Papi... tolongin aku... aku takut" untuk pertama kalinya Michel menangis dengan memanggil nama Papi dan Maminya, selama ini ia selalu berusaha kuat dan tegar di depan semua orang.


Saat ini Michel memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang cukup besar, untuk melindungi dirinya dari air hujan,ia memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya lagi, sebab langit sudah tampak gelap, jalanan yang ia lewati sudah tidak terlihat, ia takut jika dirinya tersesat semakin jauh, Michel hanya bisa pasrah dan menunggu seseorang menemukannya, berharap segera mendapatkan pertolongan.


Takut.. lelah... dan juga dining, itulah yang di rasakan Michel saat ini, ia benar-benar takut berada dalam kegelapan, takut jika ada hewan buas yang memangsanya, kakinya juga pegal karna berjalan terlalu jauh, tubuhnya pun menggigil dan basah kuyup terkena air hujan, ia duduk di bawah pohon seraya memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di atas lutut, ia tidak berani untuk membuka matanya, takut jika ada hantu ataupun hewan buas yang mengganggu dirinya.


Daffa begitu khawatir terhadap keadaan Michel, ia kembali lagi ke kebun tadi untuk mencari Michel, berharap jika Michel ada di sana, tidak hanya di situ saja ...Daffa juga mencari Michel ke kebun lain, ia mengelilingi persawahan dan juga perkebunan yang ada di sekitar sana, namun ia tidak menemukan keberadaan Michel.


"Michel..... kamu di mana" teriak Daffa, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Michel di sana


"Ya Allah... kamu di mana Chel..." ucap Daffa khawatir, bahkan ia sudah tidak mempedulikan dirinya sendiri yang sudah tampak lelah mencari Michel sejak tadi.


Hujan turun begitu sesar di sertai dengan petir yang menggelegar, namun Daffa tidak menyerah begitu saja, ia terus lanjutkan pencariannya, ia tidak akan berhenti sebelum Michel di temukan, Di bawah guyuran air hujan... Daffa masih tetap bertahan.. menyusuri jalanan setapak untuk menemukan sang istri.


"Ya Allah... hujan nya deras sekali, bagaimana keadaan Michel sekarang, semoga Michel baik-baik aja" ucap Daffa di bawah guyuran air hujan, di tengah-tengah ladang yang begitu luas, tubuhnya basah kuyup, pandangannya terus mengitari seluruh tempat tersebut untuk mencari keberadaan Istrinya.


"Michel.... kamu dimana" teriak Daffa lagi, seraya mengusap seluruh wajahnya dengan kasar dari guyuran air hujan.


"Apa mungkin Michel jalan ke arah sana, tapi jalan itu kan menuju ke arah hutan" ucap Daffa mengira-ngira, tapi untuk menghilangkan rasa penasarannya... Daffa mencoba untuk berjalan ke arah sana untuk mencari Michel. Semakin lama jalanan sudah semakin gelap, Daffa membutuhkan sesuatu untuk menerangi jalan yang akan ia lalui, beruntung Handphone nya masih hidup jadi ia bisa menggunakan handphone tersebut untuk menerangi jalanan tersebut.


Daffa sudah benar-benar merasa sangat lelah, kakinya sudah kotor dan juga pegal, tubuhnya pun sudah sangat menggigil, bahkan suaranya pun sudah hampir habis karena ia tidak berhenti berteriak sejak tadi, saat ini ia sudah tidak sanggup untuk berteriak lagi, tapi ia tidak akan pernah berhenti untuk mencari Michel sebelum ia berhasil menemukannya.


Daffa berjalan semakin jauh, tapi untungnya Hujan sudah mulai surut, namun jalanan tersebut nampak licin bercampur lumpur, Daffa memberanikan diri untuk masuk ke arah hutan, menembus rerimbunan yang begitu gelap, hanya dengan bermodalkan cahaya dari balik ponselnya, di iringi oleh suara jangkrik dan juga burung hantu yang membuat suasana semakin mencekam


Di tengah perjalanan... Samar-samar Daffa mendengar suara tangisan seseorang perempuan, pelan-pelan Daffa mengikuti asal suara tangisan tersebut, hingga akhirnya ia melihat seseorang berambut panjang yang tengah duduk di bawah pohon sambil menunduk dan memeluk kakinya, namun ia tidak dapat melihat wajah perempuan tersebut karna wajahnya itu tertutup rambut.


Daffa melangkah dengan perlahan mendekati perempuan tersebut, ia yakin perempuan itu adalah Michel. "Michel...." Ucap Daffa seraya menyentuh bahu perempuan itu.


"Aaaaaaa pergi... Pergi jangan ganggu gue" teriak Michel, ia belum menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya adalah Daffa, Michel menutup wajahnya dengan kedua tangannya ia tidak berani untuk membuka matanya.

__ADS_1


"hey... Ini aku Chel" ucap Daffa seraya meraih kedua tangan Michel agar Michel membuka matanya dan melihat dirinya.


"Daffa..."Michel langsung memeluk Daffa sambil menangis tersedu-sedu, ia sangat senang melihat Daffa.


"Gue takut Daf... Gue takut" ucap Michel lagi sambil menangis.


"Syukurlah.. akhirnya aku bisa menemukan kamu, aku benar-benar khawatir sama kamu"Ucap Daffa seraya memeluk tubuh Michel dengan begitu erat


"Gue mau pulang Daf... Gue takut" ucap Michel lagi.


"Ia ia Chel aku akan membawa kamu pergi dari sini, tapi kamu tidak apa-apa kan" Daffa menangkup kedua pipi Michel, kemudian ia memeriksa tangan dan Kaki Michel untuk memeriksa keadaannya, Michel masih sangat Shock, ia sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi selain menangis.


"Ayo naik ke punggung aku Chel... Kita akan segera pulang ke rumah" Daffa membawa Michel pulang dengan menggendongnya, berjalan di bawah cahaya rembulan dengan pakaian yang sama-sama basah kuyup dan juga kotor, Daffa tidak tega jika membiarkan Michel untuk berjalan, padahal dia sendiri pun sudah sangat lelah, tapi ia menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk menggendong Michel dan membawanya pulang ke rumah.


Melihat semua pengorbanan Daffa kepadanya, membuat hati Michel sangat tersentuh, apalagi saat melihat kekhawatiran Daffa terhadapnya tadi, dari sana ia bisa merasakan perhatian yang begitu tulus dari Daffa dan semua itu membuat hatinya tiba-tiba bergejolak.


"Ya Allah Neng Michel.... Kenapa bisa seperti ini" ucap Ibu panik saat melihat kedatang Michel dan Daffa dengan keadaan seperti itu, Ibu langsung meminta Sifa untuk mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh mereka, ia juga meminta Sifa untuk menyiapkan air hangat untuk mereka mandi dan membersihkan tubuh mereka, Sifa dan juga Ibu sangat khawarit dengan keadaan mereka berdua, mereka langsung sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menghangatkan tubuh Michel dan juga Daffa.


"Ini Neng... Di minum susu jahe nya, ibu sengaja bikinin ini untuk menghangatkan tubuh Neng Michel, Ibu juga bikinin sup ayam kampung untuk Neng Michel, setelah ini Neng Michel langsung makan ya, mumpung masih anget, Neng Michel pasti laper kan belum makan lagi dari tadi siang" ucap Ibu menghampiri Michel yang tengah duduk di atas tempat tidur, tadi ia sudah mandi dengan air hangat yang di siapkan oleh Sifa.


"Makasih bu... Ucap Michel seraya mengambil minuman tersebut dari ibu mertuanya, ia merasa sangat terharu dan juga bahagia dengan perhatian yang di berikan oleh ibu mertuanya itu, ibu mertuanya itu terlihat sangat menyayanginya, ia merasa bahagia dengan semua itu, di rumah ini ia merasa sangat di cintai dan di sayangi.


"Ternyata Daffa benar, rumah yang besar dan juga mewah tidak menjamin untuk memberikan kenyamanan, di rumah ini gue merasa nyaman karna orang-orang di rumah ini memperlakukan gue dengan penuh kehangatan" Gumam Michel seraya menggenggam erat gelas tersebut dengan kedua tangannya kemudian menyeruput minuman yang di buatkan ibu mertuanya itu.


"Aku mau makan di sini saja, badan aku masih lemes" jawab Michel.


"Ya sudah kalau gitu aku ambilin dulu ya sup ayam nya" ucap Daffa yang hendak pergi keluar.


"Daf...."ucap Michel ragu-ragu


"Ada apa Chel" jawab Daffa berbalik ke arah Michel, namun tanpa di duga Michel meraih tangan Daffa dan kemudian memeluk tubuh suaminya itu.


"Makasih ya Daf.... lon udah nolongin gue tadi, gue gak tau gimana nasib gue tadi kalo Lo gak datang" ucap Michel dalam pelukan Daffa, Daffa merasa sangat terkejut saat Michel tiba-tiba memeluknya, tidak biasanya Michel bersikap manis seperti ini.


"Kamu tidak perlu berterima kasih Chel... ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai suami kamu, aku juga minta maaf karna tadi siang aku tidak memperhatikan kamu" ucap Daffa seraya mengusap-usap rambut Michel.


"Aku keluar dulu ya... ngambil supnya" ucap Daffa mencoba melepaskan pelukan mereka.


"Bentar Daf... gue masih pengen kaya gini, gue bener-bener masih takut dengan kejadian tadi" Michel sudah tidak malu lagi mencegah Daffa untuk pergi dan memeluknya, ia merasa tidak rela melepaskan pelukan Daffa, karna pelukan Daffa membuat Ia merasa nyaman.


"Aa... teteh... ayo kita mak_" Sifa yang berniat mengajak Mereka untuk makan bersama tidak sengaja melihat mereka sedang berpelukan "Eh... maaf aku gak sengaja" ucap Sifa merasa tidak enak, ia buru-buru pergi dari kamar Daffa, sontak mereka berdua pun merasa malu dan terkejut, hingga keduanya sama-sama melepaskan pelukannya.


"Ibu ibu.., tau gak barusan Sifa liat si Aa sama si teteh lagi pelukan di kamar, kayanya mereka udah mulai saling suka deh" ucap Sifa menemui ibunya di dapur.


"Kamu ngintip as sama teteh kamu" tanya ibu.

__ADS_1


"Nggak bu... tadi Sifa gak sengaja ngeliat mereka berdua lagi pelukan pas Sifa mau ngajakin makan"Jelas Sifa.


"Makanya... kamu teh jangan suka main masuk aja ke kamar orang"


"Ia Bu... Sifa teh lupa, tapi Sifa seneng banget ngeliat mereka berdua Deket kaya gitu, kayana mereka berdua sudah saling suka deh Bu"


"Ia semoga aja seperti itu, ibu berharap pernikahan mereka langgeng, dan mereka bisa saling menyayangi satu sama lain, ya... walaupun pernikahan mereka itu karna keterpaksaan" ucap ibu dengan penuh harap


"A_ku Ke dapur dulu ya..."Daffa dan juga Michel tampak gugup dan salah tingkah setelah kejadian tadi.


"Ia... tapi jangan lama-lama ya Daf..." jawab Michel dengan wajah yang terlihat bersemu merah.


"Ia.." jawab Daffa seraya menganggukkan kepalanya dan kemudian ia pergi dari kamar tersebut.


"Daf... gimana keadaan Neng Michel..." tanya ibu saat Daffa masuk ke dapur.


"Michel masih lemes Bu, katanya mau makan di kamar aja"ucap Daffa seraya mengambil sebuah mangkok.


"Ya sudah sini ibu ambilin sup sama nasinya" ucap Ibu seraya mengambilkan sup tersebut kedalam mangkuk untuk di bawa oleh Daffa ke kamar, dan setelah ituDaffa langsung kembali lagi ke kamarnya dengan membawa semangkok sup dan sepiring nasi.


"Chel... ayo makan dulu, mumpung sup nya masih anget" ucap Daffa seraya menyimpan makanan tersebut di atas meja di samping tempat tidur.


"Tapi suapin ya" ucap Michel manja, Daffa semakin heran dengan sikap Michel... Michel yang biasanya galak kini berubah menjadi manja, entah apa yang membuat sikap Michel tiba-tiba berubah seperti itu, yang pasti Daffa sangat senang melihat Michel seperti ini, Michel jadi terlihat lebih manis dan menggemaskan.


"Daf... aku boleh nanya gak" tanya Michel sambil mengunyah makanan yang di suapi Daffa.


"Nanya apa" Jawab Daffa yang tampak telaten menyuapi Michel.


"Mmmm Naya itu siapa... pacar kamu?" tanya Michel penasaran.


"Bukan... aku dan Naya hanya temenan"jawab Daffa lagi seraya menyuapi Michel lagi


"Yakin cuman temenan ? aku perhatiin kamu deket banget sama dia"selidik Michel.


"Saya dan Naya berteman sejak kecil, bahkan kami selalu satu sekolah, dari mulai SD sampai SMA, Dan setelah lulus SMA kami memilih jalan kita masing-masing, Saya memilih untuk kuliah, sedangkan Naya lebih memilih untuk memperdalam ilmu agamanya, sebab sejak kecil ia bercita-cita sebagai ustadzah, mengikuti jejak ibu dan ayahnya, membantu orangtuanya mengurus pesantren yang di dirikan oleh ayahnya.


"Daf... kamu suka sama dia" tanya Michel ragu-ragu.


"Ya... saya suka dengan Naya, saya suka kepribadian nya, saya suka dengan tutur katanya... ramah, santun dan juga lemah lembut, saya juga suka dengan cara berpikir nya selama ini, saya dan Naya selalu satu pemikiran" jelas Daffa dengan tatapan kosong.


Mendengar semua pujian Daffa terhadap Naya membuat dada Michel terasa sesak, ia merasa bahwa ia tidak termasuk dengan kriteria perempuan idaman Daffa, karna kepribadian Naya dan dirinya benar-benar berbalik seratus delapan puluh derajat, ia benar-benar tidak suka mendengar Daffa memuji dan mengagumi orang lain seperti itu .


"Memangnya lo gak punya niat buat nembak dia, atau... ngelamar dia jadi istri lo" tanyanya lagi, ia merasa takut mendengar jawaban Daffa.


"Aku bukanlah orang yang pantas untuk dia, dia berhak mendapatkan pria yang lebih baik dan lebih sepadan dengannya, baik dari segi ilmu agama maupun dari segi materi"jelas Dafa, Jawaban Daffa benar-benar membuat perasaan Michel sakit.

__ADS_1


__ADS_2