TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU
bernyanyi


__ADS_3

Michel dan Daffa pergi ke kampus bersama-sama, awalnya Michel menolak untuk satu mobil bersama Daffa, ia memutuskan untuk membawa mobil sendiri, tapi Daffa berhasil membujuk Michel untuk pergi ke kampus bersamanya.


Di dalam mobil, Michel lebih banyak diam dan membuang pandangannya ke arah samping sebelah kiri, ia tidak menghiraukan ucapan-ucapan Daffa yang terus mengajak nya berbicara sejak tadi.


Akhirnya mereka pun telah sampai di halaman kampus, Michel segera keluar dari dalam mobil tanpa berpamitan terhadap Daffa, Michel memang sangat keras kepala, sekali dia kecewa pada seseorang, akan sangat sulit untuk melunakkan hatinya lagi, begitupun sebaliknya, sekali dia mencintai seseorang, ia akan mencintai orang tersebut dengan sepenuh hatinya.


Di depan kampus, Michel melihat Andrew tengah berbicara dengan teman-teman nya, mungkin mereka tengah mengucapkan bela sungkawa kepada Andrew, Michel segera menghampiri Andrew untuk menghibur Andrew dan menyampaikan permintaan maafnya kepada Andrew karna kemarin ia tidak bisa datang untuk menemui dan menemani Andrew di sana, ia tidak menghiraukan Daffa yang sejak tadi memanggil-manggil namanya dan mengikuti Michel di belakang.


"Andrew " ucap Michel saat menghampirinya,


Belum juga selesai Michel berbicara, tapi Andrew sudah terlebih dahulu menghampiri Michel dan memeluknya, Michel benar-benar sangat terkejut.


"Sekarang Nenek udah gak ada Chel, aku udah gak punya siapa-siapa lagi, gak ada lagi orang yang sayang sama aku, hanya nenek yang selalu ngertiin aku, kamu tau kan Chel, selama ini orang tua aku selalu sibuk dengan pekerjaannya" ucap Andrew di pelukan Michel.


Daffa yang pada saat itu sudah berada di sana juga, merasa sangat kesal melihat Andrew memeluk istrinya, tangannya mengepal, ia hendak melangkah untuk memisahkan mereka berdua tapi tangannya di tahan oleh ayu


"Tolong tahan emosi kamu Daf, saat ini Andrew sedang berduka" ucap Ayu pelan.


"Kamu yang sabar Ya Drew... ada kita di sini yang akan selalu ada untuk kamu" jawab Michel sambil mengelus punggung Andrew, kemudian Michel melepaskan pelukan Andrew, ia berusaha menjauh kan tubuhnya dari Andrew, karna ia sadar, Daffa tengah menatapnya dari tadi, dengan tatapan tidak suka.


"Makasih Chel... makasih banyak, hanya kamu orang sangat berarti di hidup aku saat ini" ucap Andrew lagi.


"Kalo begitu Ayo sekarang kita ke kelas, sebentar lagi dosen dateng" ajak Chika.


Mereka berjalan beriringan untuk menuju ke kelas mereka masing-masing.


"Guys... gue ke toilet dulu ya, kalian duluan aja ke kelas" pamit Michel, kemudian ia berbelok ke arah samping, dan ternyata Daffa pun mengikutinya.


"Chel tunggu..." ucap Daffa menarik tangan Michel, saat itu kebetulan sedang sepi.


""Ada apa lagi Daf... aku lagi gak mau bicara sama kamu" jawab Michel tampak malas, ia sudah kembali ke mode jutek seperti dulu.


"Kenapa tadi kamu diem aja waktu Andrew meluk kamu, kamu sudah janji sama aku kalau kamu akan menjaga jarak sama Andrew" Terlihat sangat jelas Bahwa Daffa tidak rela jika Istrinya di sentuh oleh orang lain.


"Trus aku harus gimana...? kamu mau aku dorong Andrew sampai jatuh, atau... kamu mau aku nampar dia di depan umum ? ia ? dia itu sedang berduka Daf... aku cuman ngasih dukungan aja sama dia"jelas Michel kesal.


"Tapi kamu itu sudah punya suami Chel, gak pantes peluk-pelukan sama pria lain"


Michel tertawa sinis mendengar ucapan Daffa, "Suami... ? kamu bilang kamu suami aku ? mungkin lebih tepatnya suami yang meragukan istrinya sendiri" ucap Michel sambil pergi meninggalkan Daffa.


Di rumah


Sepulang dari kampus, Michel dan Daffa masuk ke kamarnya masing-masing, Michel benar-benar teguh dengan pendirian nya, bahwa mulai malam ini mereka akan tidur terpisah seperti dulu.


"Yu... kamu lagi ada di mana, kamu sibuk gak hari ini" Ucap Michel dari balik ponselnya.


"Nggak.... memangnya ada apa Chel... kok kedengeran nya kamu sedih gitu, kamu lagi ada masalah sama Dafa ?" tanya Ayu penasaran.


"Ia Yu... sekarang aku lagi butuh temen curhat, kamu bisa gak nginep di rumah aku malam ini, cuma kamu yang bisa dengerin cerita aku" ucap Meisya lirih.


"Ya sudah kalau begitu, aku siap-siap dulu ya Chel... setelah itu aku langsung berangkat ke rumah kamu" Ucap Ayu tidak keberatan.


"Makasih banyak ya Yu" ucap Michel sebelum menutup telponnya, entah kenapa ia merasa sedih dengan keputusan yang ia ambil sendiri, ia merasa kamarnya terasa sepi, seperti ada sesuatu yang hilang, padahal biasanya ia selalu bercerita dan bercanda bersama Daffa di dalam kamar, namun ego nya terlalu tinggi untuk menarik ucapnya kembali.


"Chel... sebenarnya kamu dan Daffa ada masalah apa, bukannya kemarin kalian baik-baik aja" tanya Ayu yang sudah tiba beberapa saat lalu.


Michel menarik napasnya panjang, kemudian ia menceritakan permasalahannya kepada Ayu, saat ini ia benar-benar membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya.


"Maaf ya Chel... bukannya aku bermaksud membela Daffa, menurut aku... Daffa hanya ingin menunggu kepastian dari hubungan kamu dan Andrew, mungkin dia tidak ingin ada orang ketiga di antara kalian, dia hanya sedang menunggu kamu menjadi miliknya seutuhnya, pasti berat buat Daffa melihat istrinya sendiri masih mempunyai ke kasih di luar sana, lelaki manapun tidak akan ada yang rela berbagi cinta dengan pria lain.


" kamu juga gak salah Chel... karna pada dasarnya hubungan kamu dan Andrew memang sudah ada sebelum Daffa hadir ke dalam hidup kamu, wajar kalau kamu sulit untuk melepaskan Andrew begitu saja, dan menyakiti perasaannya, karna walau bagaimanapun Andrew pernah ada dalam hati kamu, dan Andrew juga sangat mencintai kamu, Andrew pasti sangat hancur jika mengetahui kebenaran ini"

__ADS_1


"Kalian hanya perlu bersabar dan saling mengerti satu sama lain, aku yakin seiring berjalannya waktu kalian bisa melewati dan menyelesaikan semua ini dengan baik, toh semua ini bukan kesalahan kalian sepenuhnya, kalian tidak bermaksud menghianati Andrew dari belakang, aku yakin suatu saat nanti Andrew juga akan mengerti, kamu hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk mengatakan nya" ucap Ayu menyuarakan pendapatnya kepada Michel.


"Makasih banyak Yu... kamu sudah mau repot-repot datang kesini dan dengerin cerita aku, makasih juga atas semua saran kamu, perasaan aku jadi lebih lega" ucap Michel sambil menggenggam tangan ayum


"Sama-sama Chel... kamu gak perlu sungkan untuk cerita apapun ke aku, aku akan selalu siap jadi pendengar yang baik untuk kamu, kalo gitu sekarang kamu tidur, istirahat biar pikiran kamu lebih tenang"


Setelah melihat Michel tidur, Ayu pergi ke dapur untuk mengambil minum, karna air di kamar Michel sudah habis, selain itu ia juga merasa belum mengantuk, matanya masih terasa segar.


"Ayu... kamu lagi ngapain" ucap Fahri yang kebetulan pergi ke dapur.


"Kak Fahri... " Ucap Ayu kaget karna tiba-tiba Fahri muncul di belakang nya.


"Aku lagi ngambil minum, soalnya di kamar Michel airnya habis" jelas Ayu.


"Sejak kapan kamu di sini, tumben jam segini belum pulang" Tanya Fahri yang tidak tau bahwa ada Ayu di rumahnya.


"Aku datang ke sini tadi sore, pas mau magrib, Michel minta aku buat nginep disini" jelas Ayu.


"Nginep ?tumben banget dia, pasti dia lagi ada masalah sama Daffa. Baru aja kemaren mereka mesra-mesraan, sekarang udah ribut aja" ucap Fahri sambil membuka lemari pendingin.


"Ya udah aku permisi dulu ya ka" ucap Ayu hendak kembali ke kamar Michel.


"Eh kamu mau kemana" ucap Fahri menahan Ayu pergi.


"Saya mau kembali ke kamar" jawab Ayu.


"Sekarang masih sore Yu, lagian kamu juga keliatannya belum ngantuk, kamu mau gak nemenin aku nongkrong di balkon, sekalian cari udara segar"


"Tapi " ucap Ayu tampak bingung.


"Udah gak usah tapi-tapian, nanti kalo kamu udah ngantuk kamu boleh langsung pergi, lagian Michel juga udah tidur kan, kamu pasti bete diem di kamar gak ada temen ngobrol" bujuk Daffa.


"Ok... nanti kamu nyusul ya, aku ke balkon duluan"


Fahri dan Ayu tengah menikmati indahnya pemandangan kota di malam hari dari atas balkon, terasa sunyi tenang dan damai, udara malam pun terasa sangat menyejukkan.


"Yu... kamu bisa main gitar gak" ucap Fahri tiba-tiba.


"Nggak... aku gak bisa kak, di antara kita berempat cuma Michel yang jago main gitar" jawab Ayu.


"Ya udah kalo gitu aku yang main gitar kamu yang nyanyi ya" ucap Fahri seraya meraih gitar yang ada di sebelahnya.


"Tapi aku gak bisa nyanyi"


"Ya udah aku kamu dengerin aja kalo gitu, tapi jangan ketawa ya kalau suara aku jelek"


"Jreng.... jreng..." Fahri mulai memetik senar gitar nya.


🎶 Waktu pertama kali


🎶 Kulihat dirimu hadir


🎶 Melihat mu memandang mu


🎶 sebagai bidadari...


🎶 lentik indah matamu


🎶 senyum manis bibirmu


🎶 hitam panjang rambut mu

__ADS_1


🎶 Anggun terikat.....


Ayu menatap Fahri dengan penuh kekaguman, selain tampan, suara Fahri juga sangat bagus, ia tidak menyangka jika Fahri piawai memainkan gitar dan juga bernyanyi.


"Gimana permainan gitar aku bagus gak" tanya Fahri yang baru selesai menyanyi, namun Ayu tampak sedang melamun menatap Fahri.


"Yu... kok kamu malah bengong" ucap Fahri melambaikan tangannya di depan wajah Ayu.


"Eh kak maaf, kak Fahri bilang apa tadi" Ucap Ayu yang baru tersadar.


"Nggak Yu, gak apa-apa, Oia kamu mau belajar main gitar gak"


"Memang nya kak Fahri mau ngajarin aku" Ayu malah balik bertanya.


"Ia... sini aku ajarin" Fahri meminta Ayu untuk lebih mendekat, kemudian ia memberikan gitarnya kepada Ayu, Setelah itu ia mulai mengajarkan ayu cara bermain gitar.


"Bukan gitu Yu... gini nih caranya" Fahri memegang tangan kiri Ayu dari belakang, dan juga tangan kanannya, seolah ia sedang memeluk ayu, kepala Fahri berada di tengkuk leher Ayu.


"Seperti ini ya kak" ucap Ayu sambil memutar wajah nya ke samping untuk meminta jawaban Fahri, namun hampir saja wajah mereka beradu karna wajah mereka benar-benar dekat.


Seketika mereka saling beradu pandang satu sama lain, keduanya sama-sama terdiam beberapa saat, larut dalam pikiran masing-masing, entah apa yang mereka rasakan dan pikirkan saat ini.


Dan di saat keduanya tersadar, mereka mendadak gugup dan sama-sama salah tingkah.


**


Sebelum tidur... Daffa menyempatkan waktu untuk melihat Michel di kamarnya terlebih dahulu, sambil membawakan segelas susu kesukaan istrinya itu, karna sebelum tidur Michel sudah terbiasa meminum segelas susu.


Daffa membuka pintu kamar sang istri dengan sangat hati-hati, kemudian ia berjalan perlahan untuk menghampiri istrinya itu, yang tengah tertidur pulas, agar tidak membangunkan tidurnya, Daffa menyimpan susu tersebut di meja samping tempat tidur, kemudian dengan sangat hati-hati Daffa membalut tubuh Michel dengan selimut, setelah itu ia memandangi wajah cantik istrinya itu Sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah sang istri.


"Selamat tidur sayang... semoga kamu mimpi indah, maaf aku selalu menyakiti perasaan kamu, aku sayang sama kamu" ucap Daffa pelan, kemudian ia mengecup kening Michel dengan lembut, setelah itu ia pergi keluar dari kamar Michel.


Saat Daffa keluar dari kamar, Michel pun membuka matanya, ternyata tadi ia hanya pura-pura tidur, ia mendengar semua yang di katakan Daffa, tiba-tiba saja air mata nya menetes, ia merasa ucapannya kepada Daffa tadi pagi sangat kasar dan keterlaluan, ia benar-benar merasa sangat bersalah.


Akhirnya Michel bangun dan duduk di sisi tempat tidur, kemudian ia mengambil gelas susu Yang ada di atas meja, bukannya langsung meminum susu tersebut, Michel malah memandangi gelas tersebut dengan tatapan sedih, ia benar-benar terharu karna walaupun ia sedang marah kepada Daffa tapi Daffa masih tetap memperhatikannya.


Pagi-pagi sekali Ayu dan Michel sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan, lebih tepatnya Ayu yang memasak dan Michel yang membantunya, mereka berdua berkutat dengan bahan-bahan makanan dan penggorengan, kemudian mereka menyajikan hasil masakan mereka di meja makan, untuk sarapan bersama-sama, karna kebetulan hari ini adalah hari libur, jadi mereka mempunyai banyak waktu untuk melakukan semua itu.


"Hmmmm wangi banget, baunya sampai ke cium sampai ke kamar" ucap Fahri yang baru saja turun dari kamarnya, tanpa sengaja tatapan Ayu dan Fahri saling bertemu, kemudian Meraka segera memalingkan pandangan mereka karna masih merasa malu atas kejadian semalam.


"Kita sengaja masak pagi-pagi biar bisa sarapan bareng" jawab Michel yang masih sibuk menata makanan.


"Nah gitu dong .. kalo pagi-pagi itu masak, jangan cuman ngandelin suami aja" sindir Fahri, karna Biasanya Daffa yang selalu memasak untuk Michel.


"Enak aja, aku juga sering kok masakin kalian" Michel merasa tidak terima.


"Ia sering, tapi bisanya cuman bikin telor ceplok sama mie rebus doang" ledek Fahri lagi.


"Ya namanya juga baru belajar, lama-kelamaan juga aku pasti bakalan jago masak, liat aja nanti" Michel tak mau kalah.


"Bagus lah kalo kamu mau belajar, Oia Daffa mana"


"Mungkin masih di kamarnya" jawab Michel sambil melirik ke lantai atas, sejak tadi ia menunggu suami turun dari kamar, tapi gak datang-datang.


"Ya panggil dong Chel ke kamarnya, ajak dia turun ke bawah" ucap Fahri yang mengambil satu potong tempe goreng dan langsung memakannya.


"Buat apa, nanti kalo laper juga pasti turun" Gengsi Michel terlalu tinggi untuk menemui Daffa terlebih dahulu.


"Kak Fahri bener Chel, sebaiknya kamu temuin Daffa di kamarnya, siapa tau di belum bangun" ucap Ayu membujuk Michel.


"Mmmmm ya udah deh kalo gitu, aku ke atas dulu ya, kalian duluan aja sarapannya jangan nunggu aku"

__ADS_1


__ADS_2