TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU
Tidak pernah akur


__ADS_3

Suara alarm yang begitu nyaring membuat Michel terbangun dari tidurnya yang baru beberapa jam itu, ia sengaja memasang alarm tersebut untuk membangunkannya agar ia tidak terlambat lagi datang ke kampus


Dengan mata terpejam, tangan Michel mencoba meraba dan meraih benda yang mengeluarkan bunyi yang membuat telinganya terasa sakit itu, setelah mendapatkannya Michel segera mematikan bunyi tersebut, perlahan Michel berusaha membuka kedua matanya yang begitu lengket itu dan mencoba mengumpulkan kesadarannya, kemudian ia duduk sejenak sampai kesadarannya benar-benar terkumpul, ingin rasanya Michel kembali tidur dan menghabiskan waktu di kamar nya namun ia tidak ingin mendapatkan Malasah lagi dengan Dosennya itu.


Dengan langkah gontai Michel berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan menghilangkan bau alkohol yang menempel di tubuhnya.


Setelah setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaiannya, Michel berdiri di depan cermin untuk memoles sedikit wajahnya, namun ia baru menyadari bahwa matanya terlihat bengkak, mungkin karena semalam ia terlalu lama menangis.


Setelah selesai memoles wajahnya Michel memutuskan untuk memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang sembab, ia tidak mau jika teman-teman di kampusnya melihat kedua matanya itu.


Saat Michel sudah turun dari kamarnya ia melihat Mami Papi dan kakaknya tengah menikmati sarapan mereka, Michel berusaha untuk berpura-pura tidak melihat mereka namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil dirinya.


"Chel... ayo sarapan dulu" ucap Nana mengajak anaknya untuk sarapan, sebetulnya tadi pagi ia sudah mengetuk pintu kamar putrinya, karna pintu tersebut terkunci dari dalam, ia bermaksud untuk membangunkan putri bungsunya itu, namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.


"Aku belum laper Mi..." jawab Michel tanpa menoleh sedikitpun dan kembali melanjutkan langkahnya .


"Sel... tunggu dulu, Mami mau bicara sama kamu" cegah Nana yang melihat putrinya pergi begitu saja, Michel tidak menghiraukan panggilan Maminya sedikitpun.


"Sudah biarkan saja anak itu pergi, nanti kalau emosinya sudah reda pasti dia baik sendiri" Cegah Farhan terhadap Istrinya yang bermaksud untuk mengejar Michel.


"Michel kenapa Mih..." tanya Fahri yang melihat sikap Adiknya itu seraya menyendokkan makanannya ke dalam mulut.


"Tidak apa-apa nak... Adik kamu cuma lagi ngambek aja" jelas Nana terhadap putra nya.


"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu ya Mih... Ucap Fahri yang sudah terlebih dahulu menyelesaikan sarapannya, dan kemudian Fahri meraih dan mencium tangan Mami dan Papi nya dengan sopan.


"Kamu hati-hati ya sayang..." ucap Nana seraya mengusap rambut putranya.

__ADS_1


"Ia Mih... Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam.." ucap Mami dan Papi secara bergantian.


Sebetulnya Fahri pun merasakan hal yang sama dengan apa yang Michel rasakan, ia pun sama kecewa terhadap orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaan nya, namun Fahri lebih bersikap dewasa mengatasi kekecewaannya itu, ia lebih memilih menyembunyikan perasaannya ketimbang harus memberontak seperti apa yang dilakukan Adiknya, ia mengerti bahwa orang tuanya melakukan itu untuk mereka, namun terkadang ia pun ingin menuntut haknya sebagai anak, mengharapkan waktu dan kasih sayang dari orang tuanya.


Setelah selesai berpamitan kepada orangtuanya, Fahri berjalan menuju ke garasi rumahnya, Saat ia sampai di sana ia melihat Michel yang tengah memanaskan mobil yang akan ia gunakan untuk pergi ke kampus, Fahri baru mengingat bahwa kemarin saat ia pulang dari kampus, seseorang mengantarkan Motor Sport kesayangannya kerumah, namun bagian kaca depan motor tersebut tampak pecah dan penuh dengan goresan, Fahri tampak kesal melihat motor kesayangannya pulang dalam keadaan rusak , siapa lagi pelakunya kalau bukan adik perempuan satu-satunya itu, ia tidak suka jika Michel menggunakan barang kesayangannya tanpa izin.


Selama ini Michel memang sangat hobi mengendarai motor, ia selalu meminjam motor Kakaknya secara diam-diam, orang tua Michel sengaja tidak mengijinkan Michel untuk mengendarai motor apalagi sampai membeli nya , mereka khwatir dengan keselamatan putrinya, namun bukan Michel namanya kalo dia tidak nekat, walaupun dia tidak mempunyai motor sendiri, namun Michel punya beribu cara untuk melakukan hobinya itu.


Dulu ia belajar mengendarai motor bersama Kekasihnya Saat SMA, ia sering bolos sekolah hanya untuk melakukan hobinya itu.


"Chel kamu apain motor kaka sampe rusak gitu, udah berapa kali kaka bilang, kaka gak suka kamu bawa motor kaka sembarangan tanpa seijin Kaka" tegur Fahri dari luar, sedangkan Michel berada di dalam mobil dengan kaca yang masih terbuka lebar


"Ya ampun kak... pelit banget jadi orang, orang motornya cuma lecet dikit doang juga, ribet banget sih, tinggal bawa ke bengkel aja, beres masalahnya" jawab Michel sambil mengeluarkan kepalanya sedikit dari jendela mobilnya.


"Ye... apa gak kebalik tuh omongan, mending aku dong walaupun kaya bocah tapi udah punya pacar, dari pada udah tua gini tapi belum punya cewe juga, jadi jomblo seumur hidup baru tau rasa Loh" ledek Michel padahal usia Mereka hanya terpaut dua tahu


"Michel... kamu makin kurang ajar ya sama Kakak"ucap Fahri semakin kesal.


"Biarin Weeeeekkk..." ucap Michel seraya menjulurkan lidahnya dan menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan kakaknya yang tengah kesal.


"Sel... kakak belum selesai bicara " teriak Fahri yang belum puas memarahi adiknya.


Jika kakak beradik itu bertemu, pasti akan selalu ada keributan di antara mereka, keduanya tak pernah akur dan tak pernah mau mengalah satu sama lain, sama-sama egois dan keras kepal, Fahri yang terkenal dingin dan cuek bisa berubah cerewet dan jahil saat bersama dengan Adiknya, hanya kepada Michel lah Fahri bersikap seperti itu sebab Fahri selalu bersikap dingin kepada setiap gadis kecuali kepada teman dekatnya, mungkin karna.selama ini ia belum bisa melupakan penghianatan yang di lakukan kekasihnya dulu.


Sebelum masuk kelas, Michel mampir ke kantin terlebih dahulu untuk mengisi perut nya yang terasa lapar, sebab tadi ia tidak sempet sarapan di rumahnya, tadi pagi ia sengaja menghindari kedua orangtuanya, ia tidak ingin mendapatkan ceramah lagi dari mereka.

__ADS_1


Michel sudah menghubungi ketiga temannya untuk bertemu di kantin, lagipula kelas baru akan di mulai 30 menit lagi jadi mereka masih ada waktu untuk menghabiskan waktu di sana.


"Chel... tumben pagi-pagi lo udah ngajakin kita kesini, emang lo gak sarapan di rumah"


"Ia tadi gue emang gak sarapan di rumah, gue lagi males ketemu bokap nyokap gue" Ucap Michel seraya memasukan makanannya ke dalam mulut.


"Pasti semalem lo ketauan pulang malem"


"Ya... gitu deh, tumben-tumbenan semalem bokap gue nungguin gue, biasanya juga dia gak peduli sama gue"


"Itu karna dia sayang sama kamu Chel"ucap Ayu mengingatkan


"Kalo mereka emang sayang sama gue, mereka pasti meluangkan waktu buat gue, bukan cuma ngurusin kerjaan mereka doang" ucap Michel kesal.


"Bener banget tuh Chel, mereka lebih mementingkan pekerjaan ketimbang anaknya sendiri" timpal Chika yang satu nasib dengan Michel


"Ia yu... gue kadang iri sama elo, orang tua lo perhatian banget sama lo, andai orang gua gue kaya orang tua lo, gue pasti seneng banget" Ucap Jessy juga.


"Tapi_" ucap ayu yang hendak menjelaskan.


"Ya udah lah kita gak usah bahas mereka lagi, bikin suasana hati jadi buruk aja pagi-pagi, Btw tumben-tumbenan lo pake kacamata ke kamapus" tanya Jessy penasaran


"Mata gue bengkak Jes... abis mewek semalem, diomelin bokap gue"


"Cengeng banget sih lu, gitu aja mewek, Untung semalem bokap nyokap gue lagi keluar Negri jadi gue aman"Ucap Jesy


"Kalo orang tua gue semalem baru balik dari luar kota, jadi mereka pada tidur pules" ucap Chika juga

__ADS_1


"Guys kita ke kelas sekarang yuk, 5 menit lagi kelas di mulai" ajak Ayu dan memotong percakapan mereka.


__ADS_2