
Seusai melaksanakan shalat isha berjamaah, Michel dan Daffa menghabiskan waktu dengan bercengkrama di atas tempat tidur seraya menyandarkan punggung mereka di sandaran tempat tidur.
"Daf apa gak sebaiknya kita bawa ibu kamu dan Sifa untuk untuk tinggal di sini bersama kita, biar kita bisa memperhatikan kesehatan ibu setiap waktu, jadi kita tidak terus menerus mengkhawatirkan keadaan ibu di sana" ucap Michel sambil memeluk dafa dari samping dan membenamkan kepalanya di bahu Daffa.
"Tidak Chel... ini rumah Papi kamu, saya tidak ingin merepotkan Papi kamu terus menerus, beliau sudah terlalu banyak menolong saya"
"Mmmmm... Bagaimana kalau kita menyewa rumah di daerah sini, jadi kita bisa sering-sering mengunjungi mereka" ucap Michel lagi.
"Nggak Chel... saat ini aku belum mempunyai pekerjaan tetap, pekerjaanku hanya membantu memeriksa berkas yang di kirim oleh Papi kamu, walaupun aku di gaji tapi aku merasa belum bekerja sepenuhnya" tolak Daffa lagi.
"Tapi Daf..."
"Sudah Chel... kamu tidak perlu memikirkan semua itu, Ibu dan Sifa pasti baik-baik saja di sana, makasih karna sudah sangat peduli kepada ibu dan adik aku" ucap Dafa seraya menatap wajah Michel dan mengelus rambutnya
"Aku sudah menganggap Ibu kamu seperti Ibu aku sendiri, aku sangat menyayangi mereka, mereka memperlakukan aku dengan sangat baik di sana"
"Aku yakin Ibu dan Sifa juga pasti sangat menyayangi kamu" Ucap Daffa lagi, kini ia mengelus pipi istrinya.
"Kalau kamu gimana ?" Michel menatap wajah Daffa lekat hingga tatapan mereka bertemu.
"Aku_ " Daffa tampak terdiam beberapa saat.
"Aku sangat mencintai kamu" ucap Daffa tulus dari hatinya, kemudian ia meraih dagu Michel dan perlahan-lahan mendekatkan wajahnya dan membenamkan bibirnya di bibir ranum Michel.
Michel memejamkan kedua matanya untuk menyambut sentuhan bibir suaminya.
Daffa melakukannya dengan sangat lembut dengan penuh kasih sayang, berbeda dengan lelaki pada umumnya yang melakukan nya dengan penuh nafsu.
Semakin lama keduanya semakin terbawa oleh suasana, mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari itu, perlahan Daffa mulai membuka kancing piama Michel, dan sepertinya Michel pun tidak keberatan sama sekali, ia sudah siap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Namun di saat Daffa hendak membuka kancing kedua, tiba-tiba Daffa berhenti, ia tampak teringat dengan sesuatu. Daffa sedikit menjauh dari Michel, hal itu membuat Michel heran.
"Kenapa ?" tanya Michel penasaran dengan nafas yang sedikit tidak beraturan.
"Maaf Chel saya belum bisa melakukannya"
"Tapi kenapa Daf ?" tanya Michel lagi.
"Saya ingin melakukannya saat kamu benar-benar menjadi milik saya seutuhnya, setelah kamu menyelesaikan hubungan kamu dengan Andrew" jelas Daffa.
"Saya harap kamu tidak tersinggung, semua ini untuk kebaikan kita berdua. Kamu gak keberatan kan Chel" ucap Daffa merasa sangat bersalah.
"Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu" Jawab Michel yang tampak paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Daffa.
"Syukurlah kalau kamu mengerti" Daffa merasa lega mendengar jawaban Michel ia benar-benar takut jika Michel marah dan kecewa dengan apa yang ia lakukan.
"Saya permisi ke kamar mandi dulu ya" Daffa berusaha menghindari Michel, karna walau bagaimanapun dia hanyalah lelaki biasa, namun Daffa masih bisa mengendalikan dirinya.
"Hhmmmm baiklah kita liat saja nanti, sampai dimana kamu bisa kuat dan bertahan dari godaan ku, apa kamu masih bisa mengendalikan diri kamu" gumam Michel dengan pikiran nakal nya.
__ADS_1
**
Pagi hari
Michel dan Daffa sudah sampai di halaman parkir kampus mereka, keduanya masih terlihat sedikit canggung dengan kejadian semalam.
"Daf... hari ini aku akan menemui Andrew, aku akan mengakhiri hubungan aku sama dia" ucap Michel sebelum turun dari mobil.
"Saya serahkan semuanya sama kamu, saya tau ini semua pasti tidak mudah untuk kamu, tapi saya percaya sama kamu, saya yakin kamu bisa menyelesaikan semua ini dengan baik"ucap Daffa seraya menggenggam tangan Michel.
"Makasih Daf... kamu sudah mau bersabar untuk itu, kamu bisa mengerti dengan posisi aku"
"Saya akan selalu menunggu kamu sampai waktunya tiba, sampai kamu benar-benar menjadi istri saya yang sesungguhnya" ucap Daffa lagi.
"Aku duluan ya Daf" pamit Michel seraya mencium punggung tangan Daffa, dan setelah itu Daffa pun mencium kening Michel sebelum mereka berpisah, karna saat di kampus mereka akan bersikap seolah-olah mereka tidak mempunyai hubungan apapun.
"Assalamualaikum" ucap Michel seraya membuka pintu mobilnya.
"Waalaikumsalam" jawab Daffa yang tidak lepas menatap sang istri.
"Ada apa apalagi, apa ada yang ketinggalan" tanya Daffa saat Michel kembali membuka pintu mobilnya.
"Nggak aku cuman mau ngingetin kamu aja"
"Ngingetin apa" Daffa mengerutkan keningnya.
"Jangan tebar pesona sama mereka"
"Jangan senyum-senyum sama mereka"
"Pokoknya senyuman kamu cuman buat aku"
"MENGERTI" ucap Michel dengan segerombol peringatan untuk suaminya.
"Baik tuan putri...." jawab Daffa sambil tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
**
"Don tunggu..." teriak Michel saat berpapasan dengan Doni yang merupakan sahabat Andrew.
"Ada apa Chel" jawab Doni menghentikan langkahnya.
"Lo ngeliat Andrew gak, gue gak bisa ngehubungin dia, soalnya hp gue rusak"
"Emang nya Lo gak tau Chel ?"
"Andrew kemaren ke Surabaya" jawab Doni
"Ke Surabaya... ngapain ?" Michel mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Nenek nya Andrew meninggal, jadi kemaren Andrew langsung berangkat ke Surabaya" jelas Doni.
"Innalilahiwainailaihirojiun..." ucap Michel tampak terkejut "
"Dia pasti sedih banget sekarang, selama ini dia Deket banget sama neneknya karna menurut Andrew cuman neneknya yang peduli sama dia"
"Ia Chel... Andrew pasti sangat terpukul" ucap Doni lagi.
"Nanti kalau Andrew pulang tolong hibur dia ya Chel, cuma elo yang bisa bikin dia bahagia, akhir-akhir ini dia terus menerus mikirin elo, katanya Lo susah banget buat di hubungin, galau banget dia" sambung Doni.
**
"Chel.... Lo kemana aja kok baru Dateng" tanya Chika yang sudah berada di kelas bersama Jesy dan Ayu.
"Chel... Lo kenapa, keliatannya Lo sedih banget" tanya Jessy.
"Gue barusan nyariin Andrew, tapi Doni bilang katanya Nenek nya Andrew meninggal" jelas Michel seraya mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Ayu.
"Innalilahiwainailaihirojiun" ucap Mereka bertiga
"Lo gak mau nyusulin Andrew ke sana Chel, lo kan udah beberapa kali ketemu sama neneknya Andrew" ucap Jessy
"Nggak deh kayanya, gue nungguin Andrew balik ke sini aja"
"Oia... BTW hp lu kenapa sih gak bisa di hubungin dari kemaren" tanya Chika.
"Hp gue rusak, gue belum sempet beli yang baru" jelas Michel.
"Rusak ? perasaan hp lo masih baru deh, masa udah rusak lagi" tanya Chika penasaran.
"Itu... hp gue_ " Michel tampak berpikir "kemaren hp gue jatoh di kamar mandi" jelas Michel sedikit bingung.
"Oh gitu.... kalo gitu pulang dari kampus kita ke mall yuk, nyari Hp baru, gue juga udah bosen sama hp gue" ajak Chika.
"Boleh juga tuh, gue juga pengen Shoping, kita juga udah lama kan gak nongkrong bareng" Sambung Jessy.
"Waduh gimana nih... kalau gue beli hp baru, nanti Daffa tersinggung lagi, gue kan udah janji sama Daffa mau pake hp yang di beliin Daffa nanti" gumam Michel dalam hati.
"Chel... kok malah bengong, gimana mau gak" Chika menepuk bahu Michel.
"Mmmmhhh sorry hari ini gue gak bisa, soalnya gue ada perlu" jawab Michel bohong
"yaaaah padahal udah lama banget kita gak nongkrong bareng" Chika tampak kecewa.
"Kalau kamu Yu" Jessy bertanya kepada Ayu.
"Maaf aku juga gak bisa, soalnya ayah minta aku pulang cepet hari ini" jawab Ayu.
"Gak seru ah kalian" Jessy dan Chika tampak kecewa.
__ADS_1