
satu bulan telah berlalu, hari ini Daffa memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, karna semenjak ia menikah dengan Michel, ia belum sempat untuk mengunjungi Ibu dan Adiknya dan melihat keadaan ibunya saat ini.
Awalnya Daffa berniat untuk pulang sendiri, namun Pak Gunawan meminta Michel untuk ikut bersama suaminya, sekaligus untuk berkenalan dengan ibu mertuanya itu sebab sampai saat ini Michel belum pernah bertemu dengan ibu dan adik Daffa, bahkan mengetahui nama mereka pun tidak, Michel seolah tidak peduli dengan keluarga Daffa.
Bukan pak Gunawan namanya kalau ia tidak berhasil membujuk Michel untuk ikut bersama dengan Daffa, sepeti biasa pak Gunawan menggunakan kelemahan Michel untuk memaksanya ikut bersama suaminya.
"Kenapa sih kita gak pake mobil gue aja, kan lebih nyaman, seumur-umur gue belum pernah naik bis kaya gini" Gerutu Michel seraya mendaratkan tubuhnya di kursi penumpang bis di dekat jendela.
"Saya gak mau jika kedatangan kita menjadi pusat perhatian orang-orang, memangnya kamu mau kalau orang-orang curiga dengan status kita" Jawab Daffa yang ikut duduk di sebelah Michel.
"Nggak gue gak mau, awas aja ya kalau Lo sampai bilang ke orang-orang kalau gue istri Lo, cukup Ibu sama ade Lo aja yang tau tentang pernikahan kita" ancam Michel.
Bis yang di tumpangi Daffa dan juga Michel sudah melaju sejak setengah jam yang lalu, Michel tampak tidak nyaman berada dalam bis tersebut, sejak tadi ia terus menerus mengibaskan tangannya ke area wajah dan juga lehernya karna merasa panas.
"Masih jauh ?" tanya Michel untuk yang kesekian kalinya, sejak tadi ia tidak berhenti menanyakan kapan ia sampai.
"Ia... setelah ini kita masih harus naik angkutan umum untuk sampai ke rumah saya, sebab rumah saya masuk ke pedesaan" jelas Daffa yang tengah serius membaca buku yang ia bawa.
"What... naik angkutan umum" ucap Michel terkejut, naik bis saja ia sudah sangat tidak nyaman apalagi naik angkutan umum yang harus berdesak-desakan dengan orang-orang.
"Nggak pokoknya gue mau naik angkot, gue mau naik Taxi aja"ucap Michel lagi.
"Di sini tidak ada Taxi, hanya ada ojeg dan juga angkutan umum, sebaiknya kamu tidur saja, nanti kalau sudah sampai saya akan membangunkan kamu" ucap Daffa yang kemudian kembali membaca bukunya lagi.
Karna terlalu fokus membaca buku, Daffa sampai tidak menyadari bahwa Michel sudah tertidur sejak beberapa saat yang kalu, Daffa melihat kepala Michel tampak terbentur kaca jendela beberapa kali, sebab Michel tertidur dengan menyandarkan kepalanya ke kaca tersebut.
"Ternyata dia tertidur, pantas saja sepi tidak ada yang ngomel-ngomel lagi." gumam Daffa dalam hati seraya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Daffa merasa tidak tega melihat hal tersebut, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk meraih bahu Michel dan menyandarkan kepala Michel di bahunya dengan hati-hati, sebab ia takut jika Michel terbangun dan bisa di pastikan Michel akan menuduhnya berbuat macam-macam.
"Dasar anak ini, gimana kalau ada yang berbuat macam-macam, pasti dia tidak akan tau" gumam Daffa lagi saat melihat Michel tampak begitu pulas walaupun di dalam Bis, Michel sampai tidak menyadari saat Daffa meraih pundak dan kepalanya, bahkan saat ini Michel melingkarkan tangannya di perut Daffa.
__ADS_1
"Chel bangun" ucap Daffa sedikit menunduk ke ke arah samping untuk melihat wajah Michel yang tengah tertidur pulas di atas bahunya, seraya mengguncang bahu Michel.
"Hhhmmmm" gumam Michel namun belum juga membuka matanya.
"Kita sudah sampai ayo kita turun" ucap Daffa lagi
"Gue masih ngantuk" gumam Michel lagi.
"Hey... ini bukan di rumah, kita di dalam Bis" ucap Daffa lagi seraya mengusap Pipi Michel agar Michel cepat tersadar.
"Di dalam Bis" ucap Michel dengan suara serak khas bangun tidur, seraya mengucek- ngucek matanya untuk mengumpulkan kesadarannya dan penglihatannya.
"Sudah tidur nya" tanya Daffa saat kesadaran Michel sudah mulai terkumpul.
"Apa kamu mau seperti ini saja sampai nanti sore" sindir Daffa karna Michel masih saja bersandar di bahunya, seketika Michel membulatkan matanya untuk melihat posisinya saat ini, ia buru-buru menjauhkan tubuhnya dari Daffa dan duduk dengan tegak seraya merapihkan Rambutnya yang berantakan.
"So_sory gue gak sengaja" ucap Michel merasa malu.
Setelah turun dari Bus yang ia tumpangi tadi, Daffa mengajak Michel untuk naik angkutan umum yang akan membawa Mereka ke daerah tempat tinggal Daffa, penderitaan Michel semakin bertambah saat menaiki angkot tersebut, Selain harus berdesak-desakan dengan penumpang lain, Michel juga merasa tidak kuat dengan aroma angkot tersebut, sebab di dalamnya ada orang yang tengah membawa beberapa ayam hidup yang di beli penumpang tersebut dari pasar, bahkan ayam tersebut hampir saja terbang ke pangkuan Michel dan membuat Michel menjerit, beruntung pemilik ayam tersebut segera mengambil ayam nya itu.
"Hoek... Hoek" Michel tampak ingin muntah saat keluar dari Angkot tersebut.
"Kamu kenapa" tanya Daffa khawatir.
"Lo masih tanya gue kenapa?" ucap Michel kesal "kepala gue pusing gara-gara naik angkot tadi, coba kalau lo dengerin omongan gue buat bawa mobil gue, pasti gak akan kaya gini, pokoknya gue gak mau tau, nanti lo harus bilang sama Papi buat kirim supir kesini buat jemput kita pulang, gue gak mau naik angkot lagi titik"
"Ia.. ia nanti kita bicarakan lagi, ayo kita jalan sekarang soalnya rumah saya masih jauh, kita masih harus jalan melewati persawahan ini" ucap Daffa.
"Wahatt ? kita harus jalan ngelewatin sawah, Lo yang bener aja deh, Lo gak liat gue pake high heels kaya gini" ucap Michel semakin kesal.
"Hanya jalan ini yang lebih dekat untuk ke rumah saya, kalo kita pakai jalan lain, akan semakin jauh, Sebaiknya kamu lepas dulu sandalnya, soalnya jalanan nya licin" ucap Daffa lagi
__ADS_1
"Nggak nanti kaki gue kotor" tolak Michel.
"Yasudah terserah kamu saja" ucap Daffa seraya mengembuskan nafasnya dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Michel, ia sengaja melakukan hal tersebut untuk menakut-nakuti Michel, Michel pasti takut jika di tinggal sendiri di tempat yang asing baginya. Ia sudah bisa mengira Michel akan bersikap seperti ini, kalau saja bukan Pak Farhan yang meminta Daffa untuk mengajak Michel, ia pasti tidak akan mau membawa Michel ke sini karna ia yakin Michel pasti akan kesulitan untuk menyesuaikan dirinya di sini, tanpa fasilitas dan kemewahannya.
"Eh... Lo mau kemana tungguin gue" teriak Michel seraya mencopot sepatunya dan berlari kecil mengejar Daffa, ternyata rencana Daffa berhasil.
"Tunggu" ucap Michel lagi, ia berjalan sambil merentangkan kedua tangannya sambil menjinjing sepatu high heels nya.
Daffa langsung berhenti saat mendengar Michel berteriak, ia langsung berbalik ke belakang untuk melihat dan menunggu Michel, ia merasa kasihan melihat Michel yang tampak kesulitan berjalan dan beberapa kali hampir terjatuh.
"Sini pegang tangan saya" Daffa mengulurkan tangannya kepada Michel, dengan sedikit ragu-ragu Michel meraih tangan Daffa untuk berpegangan agar ia tidak terpeleset, sebelah tangan Michel menenteng sepatunya dan sebelah tangannya lagi menggenggam tangan Daffa dengan erat, mereka berjalan bersama-sama untuk melewati jalan tersebut.
"Daffa" seseorang laki-laki menyapa Daffa saat mereka telah melewati jalan persawahan tadi.
"Ujang" jawab Daffa.
"Eleuh_eleuh Daffa, kamu teh sekarang mah meni pangling sekali, keren pisan" ucap Ujang kagum.
"Kamu bisa aja Jang" ucap Daffa dengan senyum khasnya.
"Ajakin saya juga atuh Daf kerja di Jakarta, biar bisa teh bisa seperti kamu" ucap Ujang lagi.
"Ari ieu saha Daf meni gelis pisan, ini teh kabogoh kamu" tanya Ujang yang melihat wanita cantik di sebelah Daffa.
"Dia..." ucap Daffa bingung.
"Saya bukan pacar Daffa, Saya anak majikannya Daffa" jawab Michel menyela perkataan Daffa, ia tidak mau Daffa mengatakan yang sebenarnya, ia sedikit paham dengan apa yang di katakan oleh Ujang.
"Oh .. ini anak majikannya Daffa, mau liburan ya neng ke sini, si neng mah bener pisan liburan ke sini mah, di sini mah banyak pemandangan yang indah, udaranya juga masih sejuk pisan, berbeda sama di kota mah, si Neng mah pasti betah atuh tinggal di sini mah" jelas Ujang.
"Yasudah Jang saya duluan ya, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi" pamit Daffa
__ADS_1