
Michel tampak ragu-ragu untuk masuk ke dalam kamar Daffa, bahkan ia beberapa kali mengurungkan niat nya untuk mengetuk pintu, cukup lama ia berdiri di depan pintu untuk menguping dari luar, namun Michel tidak dapat mendengar apapun dari dalam kamar.
"Daf... Daffa..." ucap Michel sambil mengetuk pintu, namun sama sekali tidak ada jawaban.
"Kok dia gak nyaut sih, apa dia masih tidur, tapi kayanya gak mungkin, biasanya Daffa bangun sebelum subuh, trus langsung pergi ke mesjid. Apa dia lagi kamar mandi ya" gumam Michel.
Akhirnya Michel memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Daffa dan memastikan bahwa Daffa ada di dalam kamar.
Michel mendapati Daffa tengah tertidur dengan mengenakan Koko dan juga sarung, sepertinya setelah melaksanakan shalat subuh Daffa kembali tidur.
"Tumben Daffa tidur lagi, apa semalem dia gak bisa tidur ya" ucap Michel heran, biasanya seusai melaksanakan shalat subuh, Daffa langsung berolahraga, apalagi saat weekend.
Michel segera menghampiri Daffa, dan duduk di sisi tempat tidur, ia menatap wajah Daffa lekat, ada rasa rindu kepada suaminya itu, padahal mereka baru semalam saja tidur terpisah.
"Daf... bangun Daf... sudah siang" ucap Michel sambil mengusap lengan Daffa.
Daffa tampak menggeliat sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, beberapa saat kemudian ia baru menyadari bahwa ada Michel duduk di sampingnya.
"Michel... " ucap Daffa yang langsung beringsut untuk duduk.
"Jam berapa sekarang, udah siang ya, aku belum bikin sarapan buat kamu, soalnya tadi abis shalat subuh aku ketiduran lagi, semalem gak bisa tidur" ucap Daffa tampak panik.
"Sebentar ya Chel, aku ganti baju dulu, setelah itu aku bikinin kamu sarapan, pasti kamu udah laper banget ya" Daffa hendak turun dari tempat tidur, di saat-saat seperti itupun Daffa masih mengkhawatirkan Michel.
"Daf... kamu kamu Mau kemana, duduk dulu Daf, kesadaran kamu masih belum terkumpul, nanti kamu pusing" ucap Michel seraya menahan tangan Daffa, dan memintanya untuk tetap duduk
"Aku kesini bukan untuk minta kamu bikinin sarapan, justru aku ke sini mau mengajak kamu sarapan, tadi aku sama ayu udah masak, sekarang ayu sama kak Fahri sedang menunggu kita di bawah" Jelas Michel.
"Memangnya semalem kamu begadang sampe jam berapa sih, mata kamu sampe merah gitu, memangnya kenapa kamu sampe gak bisa tidur" tanya Meisya heran.
"Waktu tengah malem aku kebangun, aku gak bisa tidur lagi, kepikiran kamu terus, trus aku langsung shalat tahajud dan ngaji sampai subuh, selesai shalat subuh aku tidur lagi, kesiangan deh bikin sarapan untuk kamu" jelas Daffa
"Ya sudah ayo sekarang kita turun, kita sarapan sama-sama di bawah" Sebenarnya Michel pun merasakan hal yang sama dengan Daffa, tidurnya tampak gelisah, ia berguling ke sana kemari mencari posisi yang nyaman untuk tidur, tapi tetap saja ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Kalo gitu aku ganti pakaian pakaian dulu ya" ucap Daffa sambil membuka kancing Koko nya, tapi entah Kenapa Daffa tampak kesulitan untuk membukanya, mungkin karna ia masih mengantuk.
"Sini Daf aku bantuin" ucap Michel yang melihat Daffa tampak kesulitan.
"Ini lubang nya kekecilan, pantes aja sulit di buka kancing nya, gak bener nih yang bikin baju, harusnya bikin lubang nya aga gedean dikit " Gerutu Michel yang tengah pokus membuka Kancing baju Daffa, Tapi Daffa malah tersenyum memandangi istrinya, ia merasa senang karena Michel sudah mau bicara lagi kepadanya.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu" tanya Michel Yang menyadari bahwa Daffa tengah tersenyum.
"Kamu makin cantik kalo lagi kesel " Goda Daffa.
"Udah... gak usah gombal, gak akan mempan, aku masih kesel sama kamu" ucap Michel cemberut.
"Trus aku harus gimana dong biar kamu gak ngambek lagi" Daffa semakin gemas melihat istrinya cemberut seperti itu.
"Mana aku tau, pikir aja sendiri" Michel kembali membuka kancing baju Daffa, berpura-pura tidak menghiraukan gombalan Daffa.
"Udah selesai, ayo sekarang kamu ganti baju , nanti aku tunggu di bawah" ucap Michel hendak pergi meninggalkan Daffa.
__ADS_1
"Eh mau kemana" Daffa menarik tangan Michel "selesaikan dulu pekerjaan kamu. Karna kamu yang membuka kancing bajunya, jadi kamu juga yang harus bukain dan pakein lagi baju gantinya, katanya pamali kalau pekerjaan di kerjain setengah-setengah" jelas Daffa, kini giliran Daffa yang menggoda Michel seperti apa yang di lakukannya kemarin.
"Pepatah dari mana tuh, kok aku baru denger" Michel mengerutkan dahinya.
"Dari orang tua jaman dulu, kalau kamu gak percaya, tanya aja sama ibu" Daffa berusaha meyakinkan Michel.
"Ayo sekarang bukain baju aku"ucap Daffa lagi.
"Tapi_" Michel tampak bingung.
"Ayo... kamu gak usah malu-malu, kan kemarin kamu sendiri yang bilang kalau kita itu udah lama nikah, jadi gak perlu malu lagi" Daffa menarik tubuh Michel agar lebih dekat.
Entah kenapa kali ini Michel tampak gugup, padahal kemarin.. ia sendiri yang menggoda Daffa, tanpa merasa malu sama sekali.
Dengan sedikit ragu-ragu, Michel mulai mengeluarkan lengan kanan Daffa dari dalam pakaiannya, baru sampai segitu saja Dada Michel mulai dag-dig-dug tidak karuan,lengan Daffa benar-benar kokoh, otot-otot nya terbingkai dengan sempurna, kemudian Michel kembali membuka lengan baju sebelah kanan, hingga akhirnya Daffa bertelanjang dada, tubuh nya benar-benar sangat atletis.
"A_aku ambil kan dulu baju ganti nya ya" Michel semakin gugup setelah melihat tubuh suaminya yang begitu sempurna.
Daffa kembali menahan tubuh Michel, ia menarik pinggang Istri nya itu hingga tubuh Michel menempel di dada bidang Daffa, kemudian Daffa melingkarkan tangannya di pinggang Michel, hal itu membuat perasaan Michel semakin tidak karuan, ia hanya bisa menunduk tanpa berani menatap wajah Daffa, entah kenapa tiba-tiba Michel jadi pendiam.
"Kamu kenapa nunduk terus, kamu gak mau melihat wajah suami kamu ini, kamu masih marah ya sama aku" ucap Daffa seraya mengangkat Dagu Michel
"A_aku... " Akhirnya Michel memberanikan diri menatap wajah Daffa, ia bingung harus bicara apa.
"Maaf kalau sikap aku sudah menyakiti perasaan kamu, tapi asal kamu tau, aku tidak pernah sedikitpun meragukan kamu, aku benar-benar tulus menyayangi kamu" ucap Daffa seraya menyelipkan rambut Michel ke belakang telinganya, dan tangan satunya masih berada di pinggang Michel.
"Tolong jangan marah lagi, aku sangat tersiksa melihat kamu seperti ini, kamu mau kan maafin aku" Wajah Daffa tampak memelas.
"Ia... saya sudah maafin kamu, ayo sekarang kita ke bawah, kak Fahri sama ayu udah nungguin kita" Ucap Michel berusaha menghindar, ia sudah tidak tahan melihat tatapan mata Daffa.
Daffa menggiring tubuh Michel ke atas tempat tidur, ia membaringkan tubuh Michel dan mengungkungnya dari atas, Daffa masih belum berhenti ******* bibir sang istri, begitupun dengan Michel yang terlihat sangat menikmatinya.
Bibir Daffa mulai menyusuri leher jenjang sang istri, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Michel bagaikan tersengat listrik.
Tangan Daffa mulai membuka kancing piyama Michel satu persatu, sepertinya Daffa sudah tidak bisa lagi menahan hasrat yang selama ini ia tahan.
"Tunggu Daf... " tiba-tiba Michel membuka matanya, ia menahan tangan Daffa untuk membuka kancing piyama terakhir.
"Ada apa " Tanya Daffa menghentikan aktifitasnya sejenak.
"Kamu yakin..." Tanya Michel meminta kepastian, ia tidak ingin Daffa melakukannya hanya karna terpaksa dan juga karna hawa nafsu saja, ia ingin melakukan semua itu karna cinta.
"Aku bukan wanita yang baik Daf... apa kamu yakin mau menerima aku seutuhnya, walaupun aku sudah tidak suci lagi" Michel benar-benar ingin tau apakah Daffa mau menerima segala kekurangannya itu, ia tidak ingin membuat Daffa menyesal akhirnya.
"Saya tulus mencintai kamu, saya gak perduli dengan semua itu, saya mencintai kamu apa adanya" jawab Daffa dari dalam lubuk hatinya, ia sadar bahwa di dunia ini tidak ada orang yang sempurna, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.
Michel benar-benar lega dan bahagia mendengar ucapan Daffa, ia bersyukur mendapatkan suami yang bisa menerima dirinya apa adanya, apalagi dengan masa lalu Michel yang begitu kelam.
Daffa kembali ******* bibir Michel, melanjutkan kembali permainan yang sempat tertunda, sekarang sudah tidak ada lagi keraguan di antara mereka, bahkan Daffa sudah tidak perduli dengan ucapannya waktu itu, walaupun Michel masih mempunyai hubungan dengan Andrew, Cinta Michel hanya untuknya
Keduanya sudah benar-benar di kuasai dengan hawa Nafsu, pakaian mereka sudah berserakan di mana-mana karna Daffa melemparkan nya ke sembarang arah.
__ADS_1
Michel tampak menjerit dan meringis kesakitan saat Daffa benar-benar melakukan permainan yang sesungguhnya, Michel meminta Daffa untuk melakukannya dengan pelan-pelan, Daffa sempat heran kenapa Michel berbicara seperti itu, ia juga melihat Michel tampak kesakitan, padahal hal seperti ini bukan yang pertama kalinya untuk Michel, seharusnya Michel sudah terbiasa dan tidak asing lagi dengan hal seperti itu. Tapi terlepas dari itu semua,Daffa tetap memenuhi permintaan Michel, ia melakukannya dengan penuh kelembutan dan penuh kasih sayang, bukan atas dasar hawa Nafsu saja.
Keduanya sudah terkapar lemah tak berdaya, di penuhi dengan keringat di sekujur tubuh mereka, kemudian Daffa membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya, mencium dahi istrinya itu dengan lembut.
Setelah beristirahat sejenak dan mengumpulkan kembali energi mereka yang terkuras habis, Daffa mengajak Michel untuk mandi, ia memunguti pakaian Michel dan memberikan pakaian tersebut kepadanya.
"Ayo Chel kita mandi" Daffa sudah mengenakan pakaiannya kembali, sedangkan Michel masih menggulung tubuhnya dengan selimut, ia masih terlihat lemas.
"Kamu mandi duluan aja Daf... ini aku masih sakit" Michel tampak meringis, tubuh bagian bawahnya masih terasa perih.
"Apa sakit sekali , padahal tadi aku ngelakuinnya pelan-pelan" Daffa tampak panik dan merasa bersalah.
"Ia... masih sedikit perih. Udah cepetan kamu mandi gih, aku gak apa-apa kok" Michel mendorong suaminya untuk pergi.
"Beneran gak kamu gak apa-apa" Daffa masih tampak khawatir.
"Ia....." jawab Michel lagi.
Saat Daffa keluar dari kamar mandi, ternyata Michel sudah mengenakan pakaian nya lagi, ia tengah duduk di sisi tempat tidur. Michel langsung berdiri saat melihat Daffa keluar dari kamar mandi.
" Kamu udah Selesai mandi nya" tanya Michel sambil berjalan menghampiri Daffa.
"Udah... " jawab Daffa yang masih bertelanjang dada, Rambut dan badannya masih tampak basah.
"Ini handuk buat keringin rambut kamu, aku juga udah siapin baju ganti kamu" ucap Michel sebelum pergi ke kamar mandi.
"Makasih sayang... " jawab Daffa sambil mengacak rambut istrinya.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Daffa berniat untuk merapihkan tempat tidur dan mengganti sprei nya dengan yang baru, namun saat ia menyingkapkan selimut, ia melihat bercak darah di sprei tersebut, persis di tempat Michel berbaring tadi, Daffa benar-benar merasa heran melihat Noda darah tersebut.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Daffa menyadari bahwa ternyata selama ini istrinya masih virgin, dan ternyata dia adalah pria pertama yang mengambil kegadisan Michel.
Saat Michel keluar dari kamar mandi, Daffa langsung memeluk Michel dari belakang, ia benar-benar merasa bersalah kepada Michel, karna... ia sempat salah sangka kepada istrinya sendiri, ia sempat percaya kalau Michel benar-benar sudah tidak virgin lagi, seharusnya ia bisa memahami karakter istrinya sendiri, seharusnya ia tau, Michel bukan lah wanita seperti itu, yang menyerahkan kegadisannya begitu saja.
"Maaf kan aku" hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Daffa.
"Kenapa kamu minta maaf Daf" Michel tampak heran.
"Maaf karna aku sudah berburuk sangka sama kamu, seharusnya aku tau kalau kamu bukan tipe wanita seperti itu, seharusnya aku tidak percaya begitu saja dengan ucapan kamu, Kenapa kamu harus berbohong sama aku Chel" Daffa memutar tubuh Michel, agar ia dapat menatap wajah istrinya
"Maaf kan aku Daf... aku gak bermaksud untuk bohongin kamu, aku hanya ingin melihat seberapa besar perasaan kamu ke aku, aku tidak ingin kamu melihat dari sisi baikku saja, aku ingin kamu melihat aku dari sisi burukku"
"Tapi sekarang aku tau, kalau kamu benar-benar tulus mencintai aku, kamu mau menerima kelebihan dan kekurangan aku" jelas Michel.
"Terimakasih Chel... terimakasih" ucap Daffa seraya memeluk tubuh istrinya.
"Terimakasih untuk apa" Michel tidak mengerti dengan maksud ucapan Daffa.
"Terimakasih karna kamu sudah menjaga mahkota kamu, aku merasa menjadi pria yang sangat beruntung di dunia ini" ucap Daffa lagi.
Michel memang sering bergonta-ganti pacar , dan menyukai dunia malam, ia sering pulang larut malam dengan keadaan mabuk, tapi Michel selalu menjaga kesuciannya. Michel mempunyai sebuah pendirian, ia hanya akan menyerahkan mahkotanya kepada orang yang benar-benar mencintainya dan menjadi menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
......Happy Reading🥰🥰......
Boleh gak pinjem jempolnya sebentar buat like komen dan juga vote 😁 biar aku makin semangat ngehalu nya 🙏🙏 😁karna bikin cerita itu harus dengan hati yang gembira 🥰🥰