
Setelah Bibi pergi, Michel langsung menghubungi Papi nya untuk menanyakan tentang siap yang akan menggantikan bibi untuk mengurus semua pekerjaan rumah.
"Halo Pih... kapan Papi akan mengirimkan orang untuk menggantikan Bibi di sini" tanya Michel tanpa basa-basi.
"Papi sudah meminta anak buah Papi untuk mencarikan orang untuk menggantikan bibi, tapi papi tidak ingin orang sembarangan yang menggantikan posisi bibi, jadi pasti akan membutuhkan waktu yang lumayan lama" jelas Pak Farhan, ia sudah bisa menebak bahwa putrinya pasti akan langsung menghubungi nya.
"Sudah lah Pih... gak usah pake pilih-pilih segala, yang penting orang itu bisa bekerja, toh cuman buat sementara juga kan" protes Michel.
"Nggak Chel... Papi gak mau memperkerjakan orang sembarangan, Papi gak bisa percaya begitu saja sama orang lain" Pak Farhan kembali memberikan alasan.
"Tapi Pih... nanti siapa yang ngerjain tugas rumah dan nyiapin makanan" Tanya Michel bingung.
"Ya untuk sementara kamu yang harus mengerjakan semua itu" Jawab Papi enteng namun berat buat Michel.
"Whattt yang bener aja Pih... masa aku harus mengurus rumah sebesar ini, Papi kan tau sendiri aku gak pernah ngelakuin hal kaya gitu, Lagi pula aku gak bisa masak" Gerutu Michel.
"Maka dari itu kamu harus belajar dari sekarang, kamu harus membiasakan diri melakukan semua nya sendiri, jangan terlalu mengandalkan orang lain, kamu itu sudah menikah, sudah sepantasnya kamu melakukan tugas kamu sebagai seorang istri" ucap Pak Farhan tegas.
"Tapi Pi..." protes Michel
"Nanti kita bicarakan lagi masalah ini, papi akan segera menghubungi kamu kalau sudah mendapatkan pengganti yang cocok.
Oia Chel.. Papi dan Mami tidak bisa kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini, karna pekerjaan Kami di sini masih belum selesai, kamu jaga diri baik-baik ya, dan nurut sama suami kamu" ucap Pak Farhan lagi dan langsung mengakhiri panggilan nya tanpa menunggu jawaban Michel.
"Tapi Pih... halo... halo Pih aku belum selesai bicara" teriak Michel kesal.
"Papi bener-bener nyebelin.... kenapa sih hidup gue jadi menderita kaya gini, sampai kapan sih gue kaya gini terus, gue pengen bebas kaya dulu lagi" gerutu Michel sambil berjalan menuju kamarnya, sesampainya di kamar ia langsung melemparkan tasnya ke atas tempat tidur dengan wajah cemberut, saat itu Daffa sudah berada di kamar terlebih dahulu, ia tengah menatap layar laptopnya sambil duduk di sofa sambil bersila untuk mengerjakan tugas yang dikirimkan oleh pak Farhan yang telah di kirim lewat email, ia melirik Michel sekilas dan kembali fokus dengan pekerjaannya, ia sudah bisa menebak apa yang membuat Michel kesal.
Baru saja Michel hendak mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, kedua bola mata Michel langsung berbinar, ia mengira bahwa itu adalah bibi yang tidak jadi pulang kampung, Michel buru-buru membuka pintu kamarnya namun saat ia membukanya ternyata Fahri yang ada di balik pintu tersebut, Michel benar-benar kecewa akan hal itu.
"Chel... bibi kemana sih, tumben gak ada di rumah, di dapur juga gak ada makanan, Kaka lapar pengen makan" tanya Fahri bingung, ia baru saja pulang kuliah dan merasa sangat lapar.
__ADS_1
"Bibi gak ada lagi pulang kampung" Jawab Michel cepat tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Kakak nya itu.
"Kalo gitu sekarang kamu bikinin makanan buat kakak, kakak laper banget nih" pinta Fahri.
"Enak aja nyuruh-nyuruh, bikin aja sendiri, emangnya aku pembantu kakak" Tolak Michel.
"Emang nya kamu udah lupa, kamu itu masih punya hutang sama kakak" ucap Fahri lagi.
"Hutang apaan...? aku gak ngerasa tuh punya hutang sama kakak" bantah Michel.
"Kamu jangan pura-pura lupa deh, waktu itu kamu minta Kakak untuk datang ke pesta ulangtahun temen kamu, dan kamu janji akan melakukan semua permintaan kakak selama satu minggu, kamu belum membayar hutang kamu sama sekali karna waktu itu kamu mau nikah, dan sekarang kakak mau tagih janji itu sekarang juga" Jelas Fahri untuk mengingatkan Michel.
"Ya ampun... kenapa gue sampe lupa sih sama janji gue ke kak Fahri, sial banget sih gue" gumam Michel dalam Hati.
"Tunggu apa lagi, Ayo cepat bikini makanan buat Kakak, kakak tunggu di kamar sekarang ya, gak pake lama" ucap Fahri yang langsung kembali ke kamarnya sambil tersenyum puas, kapan lagi dia bisa mengerjai adiknya.
"Sial banget sih hidup gue....." teriak Michel kesal.
"Kakak Fahri minta gue buat bikinin makanan buat dia, tapi gue gak bisa masak" Ucap Michel sambil cemberut.
"Ya sudah, ayo aku bantuin kamu masak" ajak Daffa
"Memangnya lo bisa masak..." tanya Michel ragu.
"Sedikit.." jawab Daffa seraya melalui Michel untuk pergi ke dapur, dan kemudian Michel mengikuti Daffa dari belakang.
sesampainya di dapur Daffa langsung membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan masakan yang ia perlukan.
"Kamu kupas ini ya dan kemudian kamu iris bahan-bahannya, aku mau menyiapkan bahan yang lainnya." Daffa memberikan bawang, cabai dan kawan-kawannya kepada Michel.
Michel masih tampak kebingungan dengan hal itu, ini adalah pertama kalinya ia masuk dapur untuk memasak, biasanya ia masuk ke dapur untuk mengambil makanan.
__ADS_1
"Aw..." desis Michel saat tangannya berdarah akibat terkena pisau.
Sontak Daffa terkejut mendengar teriakan Michel, ia segera menghampiri Michel untuk melihat keadaannya.
"Ada apa"tanya Daffa kwartir.
"jari gue kena pisau" jawab Michel sambil menyipitkan matanya untuk menahan perih Seraya menunjukkan jari telunjuknya kepada Daffa, Daffa langsung meraih tangan Michel dan menghisap telunjuk Michel dan membuang darah yang ada di mulutnya, ia melakukan hal itu berulang-ulang, Michel tertegun menyaksikan Daffa melakukan semua itu, Daffa terlihat panik dan juga Khawatir terhadap dirinya.
"Apa masih sakit" tanya Daffa membuyarkan lamunan Michel.
"Sedikit" jawab Michel masih dengan menatap Daffa yang tengah sibuk mengobati lukanya.
"Sebentar ya, aku ambilkan plester dulu" pamit Daffa.
Setelah mendapatkan plester nya, Daffa kembali meraih tangan Michel untuk memakaikan plester di jari Michel, sambil meniup-niup jari istrinya itu dengan lembut, untuk mengurangi rasa perihnya, baru kali ini ia merasakan perhatian dari seorang laki-laki yang tampak sangat tulus.
"Sebaiknya kamu duduk saja, biar aku yang menyelesaikan semua ini sendiri" ucap Daffa setelah selesai mengobati luka Michel.
"Gak apa-apa, tangan gue udah gak terlalu perih kok, mana lagi yang harus gue kerjain" Michel merasa tidak enak jika ia tidak membantu Daffa setelah apa yang di lakukan Daffa tadi.
"Baiklah... sekarang kamu tumis bumbu-bumbu ini, biar aku yang mengiris bumbu untuk masakan yang lain, tapi kamu hati-hati ya" Ucap Daffa khawatir membiarkan Michel memasak sendiri.
"Iya..." jawab Michel singkat.
Dengan arahan dari Daffa, Michel mulai menyalakan kompor dan memasukan bumbu-bumbu tersebut kedalam wajan yang sudah berisi minyak goreng, Michel terlihat takut saat berhadapan dengan semua itu, ia sangat takut jika tangan atau wajah ya terkena percikan Minyak panas, seketika dahi dan leher Michel tampak berkeringat karna kepanasan.
Menyaksikan hal itu, Dafa segera menghampirinya, ia langsung berinisiatif untuk mengikat rambut Michel yang terurai, agar Michel tidak merasa gerah.
"Mau ngapain loh" ucap Michel kaget saat tangan Daffa menyentuh rambutnya.
"Aku mau mengikat rambut kamu, lebih baik kamu diam saja dan perhatian masakan kamu, jangan sampai gosong, kamu tenang aja aku gak akan ngapa-ngapain kok sama kamu" ucap Daffa yang tengah sibuk mengikat rambut Michel di atas, ia mengambil ikat rambut yang melingkar di tangan kiri Michel, leher jenjang Michel terlihat dengan sempurna, tampak sangat putih di sertai dengan bulu-bulu halus di bagian leher belakangnya.
__ADS_1
"Tiba-tiba jantung Michel berdegup begitu cepat saat tangan Daffa menyentuh rambutnya, perasaannya tiba-tiba tidak karuan, begitupun dengan Daffa, ia merasa ada yang aneh di dalam hatinya, perasaan yang tidak pernah ada sebelumnya, keduanya larut dalam pikirannya masing-masing dan saling menepis perasaansakan mereka satu sama lain.