TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU
Hilang


__ADS_3

Setelah Melihat Naya dan juga Daffa tadi Pagi, Michel jadi uring-uringan dan marah-marah tidak jelas, bahkan ia sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada diri dan perasaannya itu.


sejak selesai sarapan, Michel langsung mengurung diri di kamar sendirian, menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik melalui ponselnya sambil bertukar pesan dengan teman-teman dan juga kekasihnya melalui ponselnya itu.


"Chel... kok lo Lo gak ngasih tau kita sih kalo Lo mau liburan ke situ, tau gitu gue ikut kan, sekalian gue mau kenalan sama calon mertua gue" ucap Jessy saat melakukan panggilan Vidio kepada Michel, semua teman-teman Michel dan Juga Andrew sangat kesal kepada Michel karna Michel tidak memberitahu mereka semua jika ia akan pergi berlibur ke kampung halaman Daffa.


"Gue berangkat nya dadakan Jes... itu juga di paksa sama bokap Gue buat ikut kesini, katanya kalo gue liburan di Jakarta, gue pasti bakalan keluyuran gak jelas terus" Jelas Michel.


"Yah... liburan kali ini gak asik dong gak ada elo, kita gak bisa dugem bareng lagi"ucap Jessy


"Ia... liburan kali ini bakalan jadi liburan terburuk gue, bete gue di sini, gak bisa kemana-mana, gak ada Mall ataupun Caffe buat nongkrong, yang ada cuman Kebun sama sawah"gerutu Michel.


"Ya udah Chel... lo nikmatin aja liburannya, jarang-jarang kan Lo bisa ngerasain udara yang sejuk dan juga alami, gak banyak polusi kaya di sini"ucap Jessy lagi.


"Teh... teteh..." panggil Sifa dari luar kamar, kamar tersebut tidak memakai pintu, melainkan hanya memakai tirai untuk menghalangi pintu kamar tersebut.


"Eh... udah dulu ya Jes... Ade nya Daffa manggil gue, nanti gue telpon lagi ya Jes"ucap Michel Sebelum mematikan panggihan nya.


"Ada apa Sifa" tanya Michel saat ia keluar dari dalam kamar seraya membuka tirai kamar tersebut.


"Aku sama ibu mau ke kebun menyusul kak Daffa yang sedang mengambil singkong di sana, apa teteh mau ikut" ajak Sifa.


"Mmmm ayo... aku juga bete di kamar terus" jawab Michel.


Daffa tengah sibuk mencabut beberapa batang singkong yang sudah siap untuk di panen, Ibu dan Juga Sifa selalu membuat singkong tersebut untuk di jadikan keripik, dan nanti keripiknya mereka jual untuk menambah-nambah biaya hidup mereka sehari-hari agar tidak terlalu mengandalkan Daffa.


Daffa pernah melarang ibunya untuk melakukan hal itu, karna ia tidak mau ibunya nanti kelelahan dan membuat penyakitnya kambuh lagi, tapi ibu meyakinkan Daffa kalau pekerjaan ini tidak terlalu berat, selain itu ada sifa yang membantu ibu, Ibu hanya mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan saja.


"Daffa kamu teh sedang apa" tanya Naya yang tengah membawa sebuah rantang untuk makan siang para pekerja di kebunnya, kebetulan kebun Naya berdekatan dengan kebun milik Daffa, namun bedanya... kebun milik keluarga Naya sangat luas sampai berhektar-hektar, berbeda dengan kebun milik Daffa yang hanya beberapa meter saja.


Naya merupakan keluarga yang cukup berada di Desa tersebut, orang tuanya memiliki banyak sawah dan juga kebun, ayahnya juga cukup terpandang di kampung tersebut, karna ayah Hana adalah seorang kiyai yang mendirikan mesjid kampung itu.


"Aku sedang mengambil singkong untuk ibu" jawab Daffa .


"Oh... untuk di jadikan keripik ya" ucap Naya


"Ia..."


"Kamu sendiri dari mana Nay..."tanya Daffa.


"Aku teh habis mengantarkan makan siang untuk para pekerja di kebun Bapa"jawab Naya


"Oia kamu sudah makan siang apa belum, kebetulan ada pekerja bapak yang tidak datang, jadi makanannya lebih satu" ucap Hana.


"Belum... sebentar lagi juga saya mau pulang, takut keburu zuhur, mau shalat Zuhur di mesjid" jawab Daffa


"Ya sudah atuh kamu teh makan dulu aja, lagian ini teh baru jam sebelas siang, masih ada waktu buat makan dulu"ucap Naya

__ADS_1


"Tidak usah... nanti saya makan di rumah aja" tolak Daffa.


"Kamu mah dari dulu gak berubah-berubah Daf, masih aja malu-malu, padahal kan kita itu temenan sejak kecil" ucap Naya lagi


"Bukan begitu Nay..." bantah Daffa.


"Kita duduk di sana yuk, lebih sejuk, soalnya di sini mah panas" Ajak Naya untuk duduk di bawah Pepohonan.


"Sok atuh di makan Daf..." Ucap Naya saat mereka sudah duduk di atas rumput dan ia telah memberikan rantang yang ia bawa tadi kepada Daffa.


"Ia... aku cobain ya..." jawab Daffa mengambil sebuah rantang yang di berikan Naya.


"Bismillahirrahmanirrahim" ucap Daffa sebelum memakan makanan tersebut.


"Ini teh masakan siapa Nay..." tanya Daffa seraya menikmati makanan yang di berikan Naya.


"Ini masakan aku Daf..."


"Gak enak bukan masakannya" tanya Naya khawatir jika masakan yang ia buatnya tidak enak.


"Enak Nay... enak banget malah" jawab Daffa, Naya merasa sangat tersanjung mendengar pujian Daffa, pipi wanita yang tengah mengenakan kerudung putih itu langsung bersemu merah.


Dari arah kejauhan, Michel, Sifa dan juga Ibunya tengah berjalan menuju ke arah kebun Daffa, mereka juga membawakan makanan dan juga minum untuk Daffa.


"Bu... sepertinya kita telat datangnya"


"Si aa udah keburu makan sama kak Naya"ucap Sifa.


"Tuh... mereka lagi ni'is (ngadem) di di bawah pohon sambil makan" Tunjuk Sifa, sontak pandangan Ibu dan juga Michel langsung tertuju ke arah Daffa dan juga Naya yang tengah duduk berdua sambil tertawa, entah apa yang tengah mereka bicarakan saat ini, yang pasti mereka berdua terlihat sangat akrab, mungkin mereka tengah menceritakan tentang masa lalu mereka waktu sekolah dulu sebab Naya dan juga Daffa selalu sekolah di tempat yang sama dari SD sampai SMA.


Melihat kedekatan mereka lagi, membuat Michel semakin kesal, lagi-lagi Michel melihat Daffa tertawa begitu lepas dengan perempuan itu, padahal selama ini Daffa tidak pernah terlihat seceria itu bila bersamanya , Daffa lebih banyak diam dan juga serius jika bicara dengan Michel.


"Dasar cowok aneh, kalo lagi sama gue aja... kaku banget sikapnya, tapi sama cewe itu ceria banget, dasar cowok nyebelin"gumam Michel Kesal.


"Eh... ada teh Hana di sini" ucap Sifa menghampiri mereka berdua, sedangkan Michel pura-pura cuek dan tidak peduli dengan semua itu.


"Ibu... Sifa... kalian kesini juga" ucap Hana saat melihat kedatangan mereka, sedangkan Daffa justru menatap Michel yang tampak cemberut.


"Ia nak... kami mau mengirim makan siang untuk Daffa, tapi sepertinya Daffa sudah makan" ucap Ibu.


"Ia Bu... kebetulan tadi ada satu pekerja yang tidak datang, jadi makanan yang di bawa Naya lebih, dan kebetulan Daffa juga belum makan" jelas Naya.


"Ibu... kenapa ibu nyusulin Daffa ke sini, harusnya ibu istirahat di rumah aja, Nanti ibu kecapean"ucap Daffa Khawatir.


"Tidak apa-apa Nak... ibu bosan di rumah terus, lagipula kebun ini tidak terlalu jauh dari rumah"jawab Ibu.


"Berhubung kamu sedang makan, kita makan sama-sama aja ya, ibu sengaja masak banyak tadi untuk kita makan sama-sama di sini"

__ADS_1


"Naya kamu juga ikut makan ya"


"Sifa ayo kamu kamu buka tikarnya untuk duduk.


"Ia Bu..."Sifa langsung membuka tikar yang ia bawa tadi,. kemudian ia menyiapkan semua makanan yang di masak oleh ibunya untuk mereka makan sama-sama.


"Ayo Teh Michel... duduk di sini" ajak Sifa, dan kemudian Michel duduk di sebelah Sifa, sedangkan Naya duduk di sebelah Daffa, mereka semua makan bersama-sama sambil bertukar cerita, mereka banyak bertanya kepada Daffa dengan suasana di kota, terutama Naya, ia sangat ingin tau, apa saja yang di lakukan Daffa selama bekerja di kota, berbeda dengan Michel yang tampak tidak suka melihat kedekatan mereka, sejak tadi ia tidak terlalu banyak bicara, ia hanya menjawab seperlunya saja.


"Nay... makasih ya makanan, masakan kamu enak banget" ucap Daffa saat mereka semua telah selesai makan.


"Ia Daf... Alhamdulillah kalau kamu suka sama masakan aku" ucap Naya senang.


"Oia Daf... nanti malam kamu mau kan bantuin aku ngajarin anak-anak ngaji, mumpung kamu lagi ada di sini, katanya anak-anak kangen sama kamu pengen di ajarin ngaji sama kamu"ucap Naya, sebelum bekerja di Jakarta Naya dan Daffa memang sama-sama mengajar ngaji anak-anak di mesjid yang di dirikan oleh ayah Naya.


"Ia... insyaallah... ba'da magrib saya ke masjid"jawab Daffa, Daffa dan Naya masih asik berbincang-bincang, sedangkan Ibu dan Sifa tengah sibuk membereskan rantang dan juga tikar yang mereka pakai tadi.


Michel sangat kesal karna merasa di acuhkan oleh Daffa, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu secara diam-diam.


"Dasar Cowok Nyebelin... mentang-mentang ada gebetannya, gue jadi di cuekin, gak sadar apa kalo dia itu udah punya istri"gerutu Michel sambil berjalan entah kemana.


"Daf... Michel mana " tanya Ibu saat ia selesai membereskan bekas makan mereka tadi, kini ia tengah bersiap untuk pulang.


"Bukannya tadi Michel sama Ibu" jawab Daffa.


"Justru aku Pikir Michel sama ibu" jawab Daffa.


"Mungkin teh Michel pulang duluan Bu..." jawab Sifa.


"Ia... sepertinya Michel pulang duluan" ucap Naya.


"Tapi kan Neng Michel baru pertama kali datang ke sini, apa mungkin dia hapal jalan pulang" ucap Ibu Cemas.


"Ibu Gak perlu khawatir... Michel pasti sudah ada di rumah sekarang"Ucap Daffa menenangkan ibunya, padahal ia sebenarnya khawatir terhadap Michel.


"Ayo... sebaiknya kita pulang sekarang"ajak Daffa, ia ingin segera memastikan keberadaan Michel.


Daffa bergegas pulang mendahului mereka bertiga agar cepat sampai di rumahnya, di sepanjang perjalanan pun ia terus mengamati orang-orang yang ada di sekitarnya, berharap ia bisa menyusul Michel dan bertemu dengannya di jalan. Sesampainya di rumah ternyata Michel tidak ada, ia sudah mencari Michel di kamar, di dapur, bahkan di kamar mandi, tapi ia tidak melihat keberadaan Michel.


"Bagaimana Daf... apa Michel sudah sampai"Tanya ibu yang baru saja tiba bersama Sifa, sedangkan Naya sudah pamit pulang ke kerumahnya.


"Michel tidak ada Bu... Daffa sudah mencari Michel kemana-mana" Jawab Daffa cemas.


"Ya Allah... kemana atuh Neng Michel teh... jangan-jangan Neng Michel nyasar" ucap Ibu panik.


"Kamu ini bagaimana sih Nak... kenapa istri kamu bisa hilang begini, kenapa kamu gak memperhatikan istri kamu, walaupun kalian hanya menikah kontrak tapi kamu harus menjaga dia, selama dia masih jadi istri kamu" omel ibu di sela-sela kepanikannya,


"Kayana mah teh Michel teh cemburu ngeliat aa deket-deket sama teh Naya" ucap Sifa yang sempat memperhatikan raut wajah Michel.

__ADS_1


"Maaf Bu... Daffa benar-benar gak tau kalau Michel pulang duluan, karna Daffa kira Michel sama ibu" jawab Daffa merasa bersalah.


"Sudah...sekarang kamu cari Neng Michel Sampai ketemu, ibu gak mau sampai terjadi apa-apa sama Neng Michel, dia itu baru pertama kali datang ke kampung kita, dia pasti belum hafal jalan"


__ADS_2