
"Daf... kamu sudah pulang" Tanya Momy Michel saat menantunya itu baru saja pulang kuliah.
"Ia mih..." Jawab Daffa seraya mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Michel dimana Mih..." Daffa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Dia ada di kamarnya, tadi Momy ajak dia duduk di taman belakang sebentar buat cari udara segar" jelas Momy
"Makasih ya Mih... udah jagain Michel"
"Maaf jadi merepotkan Momy"
"Kamu tidak perlu berterima kasih nak... Michel kan anak Momy juga" Icao Momy lagi sambil tersenyum.
"Ia Mih... tapi sekarang Michel sudah menjadi tanggung jawab Daffa seharusnya Daffa yang merawat Michel"
"Tidak apa-apa Daf... Mami juga seneng bisa menemani Michel, kamu juga tau sendiri kan selama ini Momy jarang sekali memiliki waktu berdua bersama Michel"
"Makasih ya Daf... selama ini kamu sudah menjaga Michel dengan baik"
"Ia Mih... sama-sama"
"Kalo begitu Daffa ke kamar dulu ya, Daffa mau melihat keadaan Michel"
"Ya sudah kalau begitu"
"Tapi setelah itu kamu makan dulu ya, momy sudah masakin buat kamu"
**
"Assalamualaikum..." ucap Daffa saat masuk ke dalam kamarnya.
"Waalaikumsalam..." jawab Michel yang tengah duduk bersandar di tempat tidur. Kemudian Michel mencium punggung tangan suaminya dan setelah itu Daffa membalasnya dengan mencium dahi Michel dengan sangat lembut.
"Daf.. kamu lama banget sih pulang nya, aku nungguin kamu dari tadi, aku kangen sama kamu" Ucap Michel manja seraya memeluk tubuh suaminya yang tengah berdiri di samping tempat tidur.
"Maaf ya... tadi aku mampir dulu sebentar ke tukang buah, tadi di jalan kebetulan aku lihat yang jualan mangga muda, terus aku inget sama kamu, biasanya kalau lagi hamil muda suka pengen makan rujak" jelas Daffa.
"Maaf ya .. kamu jadi nunggu lama" ucap Daffa lagi seraya mengusap-usap rambut istrinya.
"Tapi aku lagi gak pengen makan rujak, aku cuma pengen kamu pulang" ucap Michel lagi. wajar saja selama ini Michel dan Daffa selalu bersama-sama setiap hari, dari pagi sampai malam, apalagi mereka kuliah di tempat yang sama, jadi mereka berdua hampir tidak pernah berpisah, kecuali saat berada di kelas masing-masing.
"Aku juga sama, waktu di kampus inget terus sama kamu, rasanya gak sabar ingin cepat-cepat pulang"
"Sekarang gimana keadan kamu sayang" Tanya Daffa seraya mendaratkan tubuhnya di samping Michel.
"Aku sudah mulai merasa lebih baik"
"Sudah gak terlalu pusing" Michel membenamkan kepalanya di bahu Daffa.
"Syukurlah... aku seneng dengernya"
"Kamu sudah makan ?"
__ADS_1
"Belum..." Michel menggelengkan kepalanya.
"Aku sengaja nungguin kamu"
"Kenapa gak makan duluan"
"Kamu kan lagi0 hamil"
"Kamu harus makan tepat waktu" omel Daffa
"Yasudah kalau gitu aku mau mandi dan ganti baju dulu setelah itu kita makan sama-sama, mangga nya aku simpen di kulkas aja ya buat nanti"
**
Semenjak mengetahui kebenaran tentang Michel dan Daffa, Jessy benar-benar frustasi, sebab perasaannya kepada Daffa benar-benar tulus, bukan hanya sekedar main-main, maka dari itu Perasaan Jessy benar-benar hancur saat mengetahui semua itu.
Semenjak saat itu, Jessy kembali terjerumus ke dunia malam, hampir setiap malam ia selalu pergi ke club' malam untuk mabuk-mabukan dan bersenang-senang di sana.
Begitupun dengan Andrew yang sama hancurnya seperti Jessy, mereka berdua merasa telah menjadi korban penghianatan, dan merasa memiliki nasib yang sama. sama-sama menyedihkan karna di hianati oleh orang yang mereka cintai.
"Drew temen-temen lo mana, tumben lo sendirian" Tanya Jessy saat melihat Andrew seorang diri.
"Mereka lagi ada urusan"
"Udah sini... kita minum bareng"
"Nanti gue yang traktir"
"Lo boleh minum sebanyak apapun yang Lo mau" ajak Andrew.
"Gimana kalo kita taruhan aja"
"Siapa yang mabok lebih dulu, berarti dia yang kalah" Jessy memberikan penawaran.
"Hukumannya apa" Tanya Andrew penasaran.
"Mmmmm yang kalah harus jadi pelayan selama satu minggu plus bayarin makan dan juga minum"
"Gimana ?" Ucap Jessy lagi.
"Deal" jawab Andrew tampak bersemangat.
Andrew langsung memesan beberapa botol minuman keras untuk mereka berdua.
Satu botol pertama mereka berdua masih tampak biasa-biasa saja, tidak ada perubahan yang berarti, kemudian berlanjut dengan botol kedua, mereka berdua mulai bertingkah aneh, berbicara dan tertawa tidak jelas.
Kemudian Saat menghabiskan botol ke tiga, Jessy mulai kehilangan kesadarannya, ucapannya semakin melantur dan semakin tidak bisa di kendalikan, berbeda dengan Andrew yang masih bisa menguasai kesadarannya, walaupun dia sudah terlihat mabuk.
" Hahah Lo kalah Jes.... mulai sekarang... Lo jadi pelayan gue selama satu minggu" Ucap Andrew dengan nada bicara khas orang mabuk.
"Gue siap jadi pelayan Lo seumur hidup gue Daf.... gue rela" jawab Jessy seraya membelai wajah Andrew.
"Gue Andrew Jes... gue bukan si bajingan itu"jawab Andrew sambil melingkarkan tangannya di leher Jessy.
__ADS_1
"Jangan tinggalin gue Daf... gue cinta sama Lo" ucap Jessy lagi seraya menangkup kedua pipi Andrew dan kemudian mengecup nya sekilas.
"Wah... parah Lo Jes... Lo udah bener-bener mabok, Cemen Lo... baru minum segitu juga, ayo gue anter Lo pulang" Andrew memapah Jessy untuk keluar dari club', mereka berdua berjalan sempoyongan, terutama Jessy yang beberapa kali hampir terjatuh.
Karna mereka berdua tidak membawa supir akhirnya Andrew mengajak Jessy pulang dengan menggunakan taksi, Andrew membawa Jessy menginap di apartemen nya, ia tidak berani mengantarkan Jessy ke rumahnya.
"Daf... kita ada di mana, kenapa lo bawa gue kesini" ucap Michel setelah Andrew membaringkannya di atas tempat tidur, begitupun dengan Andrew yang langsung berbaring si sebelah Jessy karna kelelahan memapah Jessy, selain itu kepalanya juga sudah semakin pusing.
"Oh.... gue tau, Lo pasti sengaja bawa gue kesini biar gak ketauan sama Michel kan"
"Gue tau sebenernya Lo juga suka sama gue kan, tapi lo takut sama Michel" ucap Jessy lagi, ia berbaring miring menghadap ke tubuh Andrew yang tengah terlentang.
"Daf... gue rela kok jadi istri kedua Lo, gue rela jadi istri simpanan Lo" Sambung Jessy yang sudah semakin melemah, sembari memeluk tubuh Andrew dari samping yang sudah terkapar tak berdaya, hingga akhirnya keduanya sama-sama tertidur di satu ranjang yang sama.
******
"Aaaaaaaaa" teriak Jessy saat ia terbangun dan menyadari bahwa dirinya tidur bersama Andrew.
Andrew pun langsung bangun saat mendengar teriakan Jessy.
"Drew... elo_elo ngapain gue semalem, kenapa gue bisa tidur bareng sama Lo, pasti Lo udah macem-macem kan sama gue" ucap Jessy seraya menyilangkan tangan nya di depan dada.
"Enak aja Lo... "
"Gue masih waras kali"
"Semalem Lo mabuk berat"
"Jadi gue bawa Lo kesini"
"Gue gak berani nganterin Lo kerumah"
"Gue takut di cingcang sama Bopak Lo" jelas Andrew.
"Elo_ elo gak bohong kan sama gue"
"lo serius kan gak terjadi apa-apa sama kita semalem" Tanya Jessy lagi memastikan.
"Nggak... tapi hampir"
"Lo tau gak, semalam Lo itu agresif banget sama gue, Lo ngira kalo gue itu si Daffa brengsek itu"
"Untung aja semalem gue masih waras"
"Kalo nggak... gue gak tau deh gimana jadinya" jelas Andrew lagi.
"Ma_Masa sih gue kaya gitu" ucap Jessy merasa malu dengan perbuatannya.
"Gu-gue bener-bener gak inget sama sekali"
"Ya udah deh kalo gitu, gue pulang dulu ya" Jessy hendak kabur karna malu kepada Andrew, ia ingin buru-buru pergi dari kamar itu
"Et... Lo mau kemana" ucap Andrew. seketika langkah Jessy terhenti.
__ADS_1
"Lo masih punya utang taruhan sama gue"
"lo inget kan perjanjian kita semalam, siapa yang mabuk duluan, dia harus jadi pelayan selama satu minggu" Seketika Jessy langsung menepuk dahinya sambil menunduk saat mendengar ucapan Andrew, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kalah dari taruhan yang dia buat sendiri.