TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN PENGAWAL PRIBADIKU
Dua pengakuan di hari yang sama


__ADS_3

Michel merasa sangat lega karna ia sudah mengeluarkan seluruh isi hatinya kepada Daffa, namun masih ada satu yang mengganjal di pikiran Michel... sebab Daffa belum mengutarakan perasaannya terhadap Michel, walaupun tadi Daffa sempat memeluk dirinya tapi ia masih belum tau apa maksud dari pelukan suaminya itu, apakah karna Daffa juga mencintainya atau karna Daffa hanya merasa kasihan terhadapnya.


Saat ini Daffa tengah duduk menyendiri di teras depan, ia tengah melamun sambil menikmati udara segar, semua kejadian tadi benar-benar membuat dirinya Shock, ia tidak menyangka jika Michel tiba-tiba mengungkapkan perasaannya, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang Michel katakan tadi, baginya ini sangat tidak masuk akal, sebab ia tau betul bagaimana cintanya Michel kepada Andrew, bagaimana Michel sangat membencinya selama ini, dan sekarang dengan mudahnya Michel mengatakan kalau dia mencintai Daffa.


"Daf... Lo lagi ngapain" tanya Michel menghampiri Daffa, kemudian ia mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Daffa.


"Saya lagi menikmati angin segar" jawab Daffa dengan pandangan lurus ke depan.


"Daf... Lo masih marah bukan sama gue" ucap Michel seraya mengguncang tangan Daffa.


"Nggak" jawab Daffa lagi, ia hanya melirik Michel sekilas.


"Kalo Lo udah gak marah sama gue, kenapa lo masih ngediemin gue kaya gini" selidik Michel.


"Saya gak ngediemin kamu, saya cuma lagi pengen nikmatin udara segar aja" kilah Daffa.


"Ya udah kalo gitu gue buatin teh dan bawain cemilan ya buat temen nongkrong" ucap Michel sambil beranjak dari tempat dukuknya dan bergegas pergi ke dapur.


"Neng... lagi apa di sini" tanya ibu yang baru saja masuk ke dapur.


"Aku mau bikin teh buat Daffa Bu.." ucap Michel yang tengah merebus air "Ibu punya cemilan gak" tanya Michel.


"Ibu gak punya makanan ringan, adanya cuman singkong, kalo gitu ibu gorengin singkong dulu ya, neng Michel mau gak"jawab Ibu.


"Boleh Bu..." jawab Michel senang.


Ketika Michel meninggalkan Daffa ke dalam rumah... tiba-tiba Naya melintas di depan rumah Daffa, Naya mengenakan Kaos panjang dan juga rok span semata kaki dan juga mengenakan jilbab berwarna putih, sepertinya ia hendak mengajar anak-anak mengaji.


Naya sama sekali tidak menegur Daffa ataupun melirik ke arah Daffa, sepertinya Naya sengaja berpura-pura tidak melihat Daffa dan berusaha menghindarinya.


"Nay... tunggu " teriak Daffa, seketika Naya berhenti tanpa menoleh ke belakang, ia justru malah menunduk.saat Daffa menghampiri nya.


"Nay .. kamu mau mengajar anak-anak mengaji" ucap Daffa yang tengah berdiri tepat di hadapan Naya.


"Ia..." jawab Naya masih tidak berani menatap Daffa, tidak seperti Naya yang biasanya, Naya yang selalu ramah dan juga selalu tersenyum.


"Nay... kamu pasti sudah tau tentang pernikahan aku dan Michel dari ayah kamu" ucap Daffa memulai percakapan.


"Ia... aku udah tau dan aku benar-benar kecewa sama kamu" akhirnya Naya angkat bicara "kamu udah membohongi aku dan juga orang tua aku, kamu udah membuat Ayah aku malu, Kenapa kamu gak jujur sama aku Daf... kenapa kamu gak bilang kalau dia adalah istri kamu, kenapa kamu merahasiakan ini dari aku " Ucap Naya sambil berkaca-kaca


"Aku gak bermaksud untuk membohongi kamu Nay... aku_" Ucap Daffa bingung harus mulai cerita dari mana.


"Daf.... kita itu udah sama-sama sejak kecil, Kita udah janji untuk tidak pernah merahasiakan apapun, tapi... kamu merahasiakan hal sebesar ini dari aku, kenapa Daf... waktu itu kamu bilang sama aku kalau kamu bekerja di Jakarta, dan kamu bilang dia adalah anak majikan kamu, tapi ternyata kamu sudah menikah dengan perempuan kota itu, kamu udah bohongin aku Daf... kamu juga udah membuat ayah ku malu" satu tetes air mata lolos begitu saja dari bola matanya.


"Aku minta maaf Nay... aku gak bermaksud untuk merahasiakan semua ini, aku memang ingin cerita sama kamu, tapi aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan masalah ini"jawab Daffa lagi


"Menunggu ? menunggu sampai kapan Daf... menunggu sampai perasaan aku semakin dalam, atau menunggu sampai aku mengetahuinya sendiri, agar aku lebih sakit hati dari ini" nada bicara Naya mulai meninggi.

__ADS_1


"Semakin dalam ?" ucap Daffa bingung "Maksud kamu apa Nay... aku gak ngerti"


"Kenapa sih Daf... kamu gak pernah peka sama perasaan aku, apa kurang cukup, perhatian yang aku berikan sama kamu selama ini, Kenapa kamu gak pernah sadar Daf kalau aku itu cinta sama kamu Daf... aku cinta sama kamu..." Pada akhirnya Naya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya selama ini kepada Dafa.


Daffa benar-benar Shock mendengar semua ini, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia benar-benar bingung karna di hari yang sama ia mendapatkan pengakuan dari dua orang wanita sekaligus.


"Selama ini aku selalu menunggu kamu pulang Daf... berharap suatu hari nanti kamu datang dan mengungkapkan perasaan kamu, tapi ternyata aku salah... ternyata kamu justru pulang dengan membawa seorang istri, dan lebih parahnya kamu berbohong sama aku, dan membuat aku semakin berharap sama kamu, aku pikir selama ini kamu meninggalkan kampung ini untuk bekerja di kota, tapi ternyata kamu di sana malah menikah dengan gadis kaya raya, kamu benar-benar sudah berubah Daf... kamu bukan Daffa yang aku kenal dulu, kamu merahasiakan hal sebesar ini dari aku, kamu sudah mempermainkan perasaan aku, kalau saja kemarin kamu jujur... mungkin aku akan berhenti berharap, dan aku juga akan melarang ayah untuk ke rumah kamu, kamu benar-benar telah membuat aku dan ayah kecewa"Tangisan Michel semakin pecah.


"Nggak Nay... aku gak bermaksud bohongin kamu, aku memang mau cerita sama kamu Nay... tapi aku sedang mencari waktu yang tepat untuk bicara. Pernikahan aku dan Michel sangat mendadak Nay... ini semua bukan keinginan kami, kami menikah karna terpaksa" Daffa berusaha untuk menjelaskan semua nya kepada Naya, agar Naya dan orang tuanya tidak salah paham kepadanya, namun satu hal yang tidak ia sadari, bahwa sejak tadi ada seseorang yang tengah menyaksikan dan mendengarkan percakapan mereka berdua, ya... dia adalah Michel yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa nampan.


Dada Michel terasa sangat sesak mendengar pengakuan Daffa saat mengatakan bahwa pernikahan mereka karna terpaksa, walaupun memang itu kenyataan yang sebenarnya, tapi entah kenapa Michel tidak suka mendengar hal itu, itu semua seolah membuktikan bahwa Daffa tidak mencintainya dan cintanya kepada Daffa hanya bertepuk sebelah tangan. Michel akhirnya meletakan nampan tersebut di atas meja dan kemudian pergi ke dalam kamar.


"Terlepas kamu terpaksa atau tidak, yang pasti saya sangat kecewa sama kamu, saya kecewa dengan ketidak jujuran kamu, kamu sudah melukai hati saya dan juga orang tua saya"ucap Naya dan kemudian ia pergi meninggalkan Daffa.


"Nay... tunggu Nay" ucap Daffa saat Naya pergi, Naya tak menghiraukan teriakan Daffa sama sekali.


"Ya Allah... bagaimana ini, kenapa semuanya jadi seperti ini" ucap Daffa seraya mengusap wajahnya, menatap kepergian Naya yang semakin menjauh.


Setelah bayangan Naya sudah tak terlihat lagi, Daffa memutuskan untuk masuk kerumahnya, namun saat ia sampai di terasa rumah, ia melihat Sebuah Nampan yang berisi makanan dan juga teh, namun ia tidak melihat siapapun di sana, itu artinya tadi ada orang yang datang ke teras untuk menyimpan nampan tersebut dan menyaksikan percakapan mereka.


"Michel...." gumam Daffa, ia yakin tadi Michel mendengarkan pembicaraan nya dengan Naya, Daffa buru-buru berjalan ke kamar nya untuk menemui Michel.


Saat Daffa masuk ke dalam kamar... ternyata Michel tengah memasukan pakaian dan barang-barang nya kedalam koper. "Chel... kamu mau kemana " tanya Daffa seraya menghampiri Michel.


"Gue mau pulang Ke Jakarta" jawab Michel tanpa melihat ke arah Daffa.


"Nggak... gue mau pulang sekarang" bentak Michel.


"Tapi sekarang udah sore Chel... kita pulang nya besok aja pagi-pagi" cegah Daffa lagi.


"Siapa bilang gue mau pulang sama Lo, gue mau pulang sendiri, lebih baik Lo urusin aja tuh cewe lu di sini" jawab Michel kesal seraya menutup koper nya, kemudian ia berjalan keluar melewati Daffa.


"Chel... tunggu Chel, aku gak akan mengijinkan kamu pulang sendiri, bahaya kalau kamu pulang sendiri" cegah Daffa dengan menahan koper Michel.


"Lepasin... gak usah sok-soan peduli sama gue, lagian gue juga gak butuh ijin dari Lo" Michel menarik kopernya dengan sekuat tenaga dan menghempaskan tangan Daffa, kemudian ia pergi keluar kamar, Daffa tetap mengikuti nya dari belakang.


"Neng Michel..." ucap ibu saat melihat Michel keluar dari kamar "Neng mau kemana" tanya ibu heran.


"Aku mau pamit pulang ke Jakarta Bu" jawab Michel.


"Pulang ? tapi kenapa mendadak sekali atuh Neng pulang teh" ucap Ibu sedih.


"Ia Bu... aku ada keperluan mendadak di Jakarta" jawab Michel bohong.


"Tapi kenapa gak nunggu besok pagi aja, sekarang mah sudah sore" ucap Ibu Khawatir.


"Nggak bisa Bu... soalnya urusannya gak bisa di tunda" jawab Michel bohong lagi.

__ADS_1


"Tapi Neng Michel pulangnya sama Daffa kan..." tanya Ibu.


"Nggak bu... Aku pulang sendiri, Daffa masih ada urusan di sini katanya" jawab Michel seraya menatap mata Daffa yang sejak tadi memperhatikan nya.


"Tapi..." ucap Ibu hendak bicara lagi.


"Ibu gak usah khawatir ya... aku gak apa-apa kok pulang sendiri. Aku pamit ya Bu... maaf kalau selama disini Michel selalu merepotkan ibu" ucap Michel seraya mencium punggung tangan mertuanya itu.


"Nggak nak... nggak... Neng Michel gak merepotkan ibu sama sekali, justru Ibu seneng Neng Michel ada disini, Ibu merasa mempunyai anak perempuan lagi"jawab Ibu tulus, ia menganggap Michel seperti anak kandungnya sendiri.


"Makasih ya Bu... makasih karna ibu sudah menyayangi aku seperti anak ibu sendiri, aku pasti akan kangen banget sama ibu" ucap Michel seraya memeluk tubuh Mertuanya, dan kemudian air matanya menetes, Michel bisa merasakan ketulusan dari mertuanya itu.


"Aku pamit dulu ya Bu..." ucap Michel seraya melepaskan pelukannya, kemudian ia mengambil koper yang berada di depan Daffa namun ia tidak memperdulikan Daffa sama sekali.


"Chel... tunggu Chel" ucap Daffa, namun Michel tidak menghiraukannya, Ibu dan Michel berjalan bergandengan menuju ke luar rumah.


"Teh... teteh mau kemana" tanya Sifa yang baru saja pulang dari warung.


"Teteh mau pulang Dek.." jawab Michel.


"Kok cepet pisan pulang nya... Sifa kan masih kangen... nanti Sifa gak ada temennya di sini" ucap Sifa sedih seraya memeluk tubuh Michel.


"Sifa jangan sedih ya... Kita kan masih bisa telponan sama Vidio call, teteh janji.. teteh akan sering-sering ngehubungin kamu" ucap Michel seraya mengusap rambut Sifa.


"Bener ya teh... teteh bakalan sering-sering ngehubungin Sifa"


"Ia...teteh janji, Teteh titip Ibu ya... tolong jaga Ibu baik-baik"


"Ia teh..." jawab Sifa.


"Ibu... Michel pamit dulu ya... assalamualaikum" Pamit Michel terhadap mertuanya, namun tidak terhadap suaminya, Michel pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun terhadap Daffa.


"Dafa... sebenarnya ada apa ini" tanya ibu saat Michel pergi.


"Apa yang terjadi antara kamu dan istri kamu, kalian bertengkar lagi" ucap Ibu curiga.


"Nggak bu... kami gak bertengkar" jawab Daffa bingung.


"Laku kenapa istri kamu sampai pulang " tanya ibu lagi.


"Aku juga gak tau Bu... Michel tiba-tiba marah saat aku saat aku sedang bicara dengan Naya " jelas Daffa.


"Ya ampun Daffa ... pantas saja istri kamu marah sama kamu, dia itu cemburu sama kamu nak... kenapa sih kamu gak bisa peka terhadap perasaan istri kamu" ucap Ibu kesal.


"Tapi Bu..." ucap Daffa lagi.


"Sekarang juga kamu ganti baju dan kejar istri kamu, Ibu gak mau neng Michel kenapa-napa" ucap Ibu memberi perintah.

__ADS_1


__ADS_2