
Marissa adalah Putrinya, Endra dan Zaskia. Tentunya, Juga, Adik kesayangan Dina dan Diyan. Terlihat Wanita cantik yang sudah dewasa itu, tidak sabaran untuk segera masuk kedalam rumah yang kini, Dirinya tengah berdiri dengan gelisah di samping sang Papa yang sedang memcoba membuka pintu rumah yang terkunci dari dalam.
" Pa, Lama banget... Rissa uda gak sabaran tahu... " Keluh Marissa kesal yang begitu cepat merasa bosan menunggu sang Papa membuka pintu, Padahal baru saja mereka sampai di depan rumah Kediaman Prabowo.
" Iya, Bentar... Rissa " Ucap Endra, menyahuti keluhan putrinya sambil memutar kunci cadangan untuk dapat membuka pintu dengan wajahnya terlihat serius yang masih tampan pada usianya yang sudah tidak muda lagi.
Begitu juga dengan Zaskia yang masih terlihat cantik dan awet muda, Dengan wajahnya terukir senyuman melihat tingkah putrinya yang tidak sabaran memasuki rumah yang ingin segara bertemu dengan Kakak-kakaknya. Di dekat Zaskia ada sepasang orang tua lanjut usia, Itu terlihat dari rambutnya yang sebagian memutih dan kulitnya yang keriput, memakai jaket berbulu tebal dengan warna yang senada, Yaitu Ungu pudar. Merupakan, Orang tua Endra yang berarti mertuanya Zaskia.
Tapi, Semenjak Zaskia menikah dengan Endra, Mertuanya itu sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri, Karena dirinya sudah jadi yatim piatu, Ketika dirinya sudah menikah dengan Endra setahun lebih. Walau mertuanya sudah lanjut usia, Masih terlihat sehat dan Masih sanggup melalukan perjalanan panjang. Salah satu contohnya hari ini, Perlahan dari London ke Indonesia, tentunya banyak memakan waktu lamanya. Tapi, Masih mampu berdiri dengan hanya di dampingi Endra, Zaskia dan Marissa selama dalam perjalanan sampai rumah.
" Kak Dina! Kak Diyan! Adik kesayangan Kalian Uda pulang! " Teriak Marissa, Ketika pintu telah berhasil terbuka, Dia langsung berlari masuk dan berteriak dengan keras, Hingga suaranya Menggelegar di dalam rumah.
" Sayang, Jangan berteriak dong, Kakak Kamu pasti masih tidur. Ini masih terlalu pagi, Marissa " Kata Zaskia lembut pada putrinya.
" Biarin aja, Ma. Rissa yakin, Kakak, Rissa pasti langsung bangun, saat tahu! Adik kesayangannya sudah pulang " Balas Marissa tersenyum girang.
Manik mata Marissa, menatap interior design rumah dan Dia melangkah menuju dapur, Tidak tahu, Apa yang akan Marissa lakukan?. Sampai beberapa menit lamanya, Marissa keluar dari dapur dan kemudian, berlari menaiki tangga, menuju salah satu pintu yang diyakini kamar Kakaknya. Zaskia dan Endra tersenyum, melihat tingkah putrinya. Sedangkan, Sepasang Suami-istri yang lanjut usia itu, tengah duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan layar lebar yang baru saja di nyalakan, menyiarkan sebuah liburan di salah satu negara yang terkesan ke indahan dan keromantisannya.
" Mas " Zaskia mengalihkan perhatiannya dari siaran layar lebar itu, ke arah sang Suami yang duduk di sampingnya yang ternyata juga sedang menatap wajahnya.
" Aku, Tahu, Apa yang Kamu pikirkan Sayang? Kamu ingin, Dina dan Diyan bulan madu kesanakan? " Tanya Endra, menebak isi pikiran Sang Istri tercintanya. Zaskia mengaguk kepalanya cepat, membenarkan tebakan Suaminya yang begitu tahu dengan yang diinginkannya.
" Aku, Akan memesan tiketnya dan Mungkin, Minggu depan... Dina dan Diyan akan pergi ke sana " Ucap Endra dengan isyarat dagunya menuju ke arah layar TV.
" Dan Semoga... Ketika Dina dan Diyan pulang, segara memberikan kita kabar baik " Zaskia merasa sangat senang, mendengar yang suaminya katakan dan berharap hal itu akan terjadi. Karena Zaskia dan Endra tidak sabar ingin memiliki seorang Cucu.
__ADS_1
Sementara, Di dalam kamar, Diyan keluar dari kamar mandi, Dengan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya, menutupi kejantanannya. Dina yang duduk di pinggir ranjang, Terdiam mematung melihat dada bidang dan perut six pack yang masih basah, terlihat Menggoda, Tanpa sadar, Dina menelan salivanya, kerongkongannya seakan menjadi kering dan langsung membayangkan bibirnya meneguk tetesan air di tubuh sang Suami.
Diyan pura-pura tidak melihat Dina, Dia merasa malu mengingat apa yang telah dilakukannya bersama Sang istri beberapa menit lalu. Bahkan, Diyan mandi tidak memakan waktu, cukup cepat, Hanya karena takut kepergok oleh Adiknya yang kapan saja bisa masuk kedalam kamarnya, Diyan sangat tahu sifat Si Adik.
" Ini... Pakailah " Diyan merasa gugup memberikan parper bag pada Istrinya. Dina tersadar dari khayalannya, dan Dengan canggung menerima parper bag pemberian Suaminya.
" Emm Terima Kasih " Ucap Dina Canggung.
" Pergilah mandi " Titah Diyan dan bersamaan dengan itu, suara pintu kamarnya terdengar, Ada yang mengetuk dari laur kamarnya.
" Kak! Bangun! Uda pagi Tahu! " Teriak Marissa sambil terus mengetuk pintu, terdengar cukup keras.
" Aku, Saja. Kamu, Pergilah mandi " Diyan berkata lagi, ketika melihat Dina ingin melangkah pergi menuju pintu. Tapi, dengan cepat, Diyan menghentikan langkah Istrinya.
" Kenapa Dina tidak bilang...? Tahu, gini lanjut saja tadi, Maunya " Diyan berucap dalam hati dengan sedikit kesal dan kecewa. Diyan, mengira pintu kamarnya tidak terkunci, Karena Dia memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Berbeda dengan Dina yang selalu menjadi kebiasaannya mengunci pintu kamar.
Diyan tersadar dari rasa kekesalan dan kekecewaannya, Ketika terdengar lagi suara ketukan pintu dari luar. Diyan pun membuka pintu, Dan dugaannya tepat, Si Adik yang mengetuk pintu kamarnya.
" Nanti dulu, Kakak mau pakai baju " Ketus Diyan dengan wajah datar, kesal terhadap Adiknya. Marissa yang ingin mengatakan sesuatu dengan binar senang di mata, Urung, Ketika mendengar perkataan Sang kakak yang seakan, tidak senang melihat kehadirannya.
" Ma! Pa! Kak Diyan! Enggak sayang, Rissa lagi! " Marissa berlari pergi, Meninggalkan Diyan yang terdiam dan detik kemudian sosok Adiknya, hilang dari pandangannya, Diyan menggelengkan kepalanya dengan tingkah laku Adiknya yang terlalu manja.
Diyan kembali menutup pintu, dan menguncinya. Dia melangkah mendekati ranjang, melihat pakaian yang ternyata sudah di siapkan Istrinya untuknya, dan Diyan pun memakai bawahannya, celana training berwarna biru tua. Hanya saja, Diyan sengaja tidak memakai atasannya, Yaitu kaos oblong hitam yang pasti semakin menambah kadar ketampanan, Kaos itu dibiarkan tergeletak diranjangnya begitu saja.
Dina keluar dari kamar mandi, dan terkejut, Mendapati Suaminya bertelanjang dada, terduduk di pinggir ranjang menatap dirinya dengan tajam. Memperlihatkan dada bidang dan perut six pack yang seakan menggodanya. Tapi, dengan cepat, Dina mengalihkan perhatiannya dan berpura-pura sibuk mengeringkan rambut pirangnya yang panjang.
__ADS_1
" Istriku, Duduklah " Ucap Diyan lembut di tambah dengan tatapannya yang tajam, mengunus hati Dina dan Jantung berdebar kencang mendengarnya.
" Tidak, Aku... Di sini saja " Tolak Dina yang tengah malu dan salah tingkah.
" Duduk, Atau Suamimu menggendong, Mu, Istriku " Mendengar perkataan Suaminya lagi, Dina mengagukkan kepalanya dan berjalan cepat, mendekati ranjang dan duduk di samping Suaminya, Hanya saja, Dina sengaja menjaga jaraknya.
Diyan tersenyum melihat istrinya menjaga jarak dengannya. Diyan pun berdiri dari duduknya, berdiri di depan istrinya dan kedua tangannya terulur, menggapai handuk yang membuat istrinya terus sibuk mengusap rambutnya, dan mengabaikan dirinya. Dina terkejut, merasa tangan Suaminya bersentuhan dengan tangannya dan langsung menurunkan kedua tangannya.
" Biarkan, Aku yang mengeringkan rambut, Mu. Agar, Istriku menyadari kehadiran, Suaminya " Ucap Diyan, Menyindir lembut Wanita yang hanya diam saja duduk di depannya.
Diyan mengusap handuk di kepala Istrinya dengan lembut. Perlahan, Usapan itu, Mendorong kepala Dina kebelakang, dengan ragu dan malu Dina pun terbaring di ranjang, Akibat dorongan kedua tangan dan tatapan Suaminya yang seakan memberikannya perintah.
" Kenapa, Istriku tidak bilang? Bila, Sudah mengunci pintunya, em? " Diyan bertanya dengan kedua tangannya, berada diantara kepala Dina dan Wajah tampan Diyan, tepat berada di depan atau diatas wajah Dina.
" Apa harus ku beritahu? " Dina balik bertanya, Walaupun dirinya merasa sangat malu, Sampai-sampai, Dia memalingkan wajahnya dan tidak berani membalas tatapan Mata Suaminya.
" Tentunya sangat harus, Agar Aku tahu melanjutkan atau Tidak. Kamu tahu? kenapa Suamimu ini bertanya begini pada, Mu, Istriku? " Dina menggelengkan kepalanya dengan pelan, menanggapi perkataan Suaminya, Dengan menatap sekilas wajah Pria yang tengah mengunci pergerakannya.
" Kamar ini kedap suara dari dalam, Bila pintu di kunci rapat dan Kalau tidak di kunci, Maka apa yang terjadi di dalam kamar? Akan kedengaran sampai keluar, Istriku " Jelas Diyan, berbisik lembut dengan wajah yang semakin mendekati wajah Dina.
Dina terdiam mematung, mengerti maksud penjelasan Suaminya. Namun, Dina tidak berani mengatakan apa pun, Hanya diam dengan tubuhnya yang membeku dan bernafas terasa sulit, Karena wajah Diyan terasa semakin dekat dengannya.
" Maukah, Istriku mengulangnya... " Bisik Diyan di daun telinga Dina, Sehingga terasa menggelitik pendengaran Dina, membuat tubuhnya meremang dan panas dingin, Ketika merasakan, Tubuh besar Diyan begitu sangat dekat dengannya.
...Bersambung...
__ADS_1