Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Satu kamar


__ADS_3

Matahari telah terganti dengan rembulan sabit yang bersinar terang di angkasa luas gelapnya langit malam. Serta keindahan gemerlap Bintang yang menghiasi hamparan langit biru gelap di angkasa. Pada hari yang begitu larutnya malam yang tenang dan sunyi. Sepasang suami-istri, Tengah sibuk mengemas barang di salah satu kamar. Di saat, Semua orang sudah pada terlelap di dalam tidurnya.


Jam dinding, dengan jarum jam pendeknya menunjukkan Jam sebelas lewat, menanda malam sudah larut. Dina tengah sibuk mengemas barang-barang, Sesuai rencananya dengan Diyan Sore tadi. Agar, Orang tua mereka, Tidak ada yang tahu, Jika selama menikah, Dirinya dan Diyan, Beda kamar. Maka, Mereka berdua, Menggunakan waktu malam ini, Memindahkan Barang-barang Dina ke kamar Diyan. Setelah, Dina selesai mengemas barang dalam dua koper dengan ukuran yang berbeda, Bersamaan dengan itu, Diyan memasuki kamarnya dan tidak lupa menutup pintu kamarnya, Agar tidak ada yang melihat, Mereka berdua di tengah malam gini di dalam kamar tamu.


" Apa cuma ini saja barang-barangnya? Apa tidak ada yang lain? " ucap Diyan pada Istrinya yang keliatan lelah, Sembari sepasang bola mata hitamnya, Menatap dua koper besar dan kecil yang memiliki warna yang sama, yaitu Kuning.


" Emm, Iya, Mas Diyan. Cuma ini saja " Balas Dina seadanya, Sambil memeluk parper bag, Seakan takut, Bila Suaminya yang tengah menatap bingung dirinya, Akan melihat isi di dalam parper bag itu.


" Iya, Sudah. Aku, yang akan membawa koper ini dan Kamu, Segeralah ke kama Kita, Sebelum Ada yang melihat " Walau Diyan merasa penasaran dengan isi parper bag yang ada di dalam pelukan Dina. Diyan lebih memilih untuk tidak mempedulikan itu, Berpikir, Mungkin itu barang kesayangan Dina Atau sebuah rahasia Dina yang tidak ingin di lihat oleh dirinya.


Dina menghela nafas lega, Melihat Diyan telah pergi dari hadapannya, Dengan membawa kedua kopernya sekaligus. Dina menatap isi parper itu, Sudut bibirnya tertarik, Membentuk senyuman tipis, Dengan debaran jantung yang tiba saja, Berdebar kencang.


" Jika, Bukan, Karena paksaan Gita dan Mila. Aku, Tidak akan mungkin, Membeli pakaian ini " Dina menghela nafas panjang, Berusaha mereda debaran jantung yang berdebar kencang, Ketika bayangan pagi tadi, terbesit di pikirannya, membuat suhu tubuhnya panas dingin.


Dina menghela nafas terus menerus dan menggelengkan kepalanya, Berusaha meredakan gejolak aneh dalam dirinya dan mengusir bayangan negatif dari pikirannya. Merasa lebih rileks, Dina pun keluar dari kamarnya dan tidak lupa menutup pintu kamarnya.


" Kamu, Lama sekali " Kata Diyan yang tiba saja muncul, Dengan berdiri di belakang Dina. Dina terkejut, dan untungnya, Dina hampir saja berteriak, Jika tidak mengingat dirinya dan Diyan yang diam-diam memindahkan barang, Tanpa sepengetahuan siapa pun.


Dina berbalik badan, Menatap kesal Pria yang tengah berdiri menatapnya itu. Tanpa mengatakan apa pun, Dina melangkah kakinya terlebih dulu menaiki anak tangga. Meninggalkan Diyan di belakangnya, Hingga pada detik berikutnya, Diyan mengikuti langkah Istrinya menunjuk kamar yang akan menjadi kamar mereka bersama.

__ADS_1


Namun, Dina dan Diyan, Tidak menyadari, Ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh. Orang itu, Berdiri di balik tembok, Di tapak tangannya ada segelas air putih. Dengan senyuman dan binar matanya yang terlihat senang melihat Dina dan Diyan. Setelah, Dina dan Diyan tidak terlihat di tangga, Orang itu pun keluar dari persembunyiannya.


" Dina, Diyan... Tanpa, Kalian berdua kasih tahu atau apa lagi di sembunyikan seperti itu. Mama dan Papa sudah tahu akan hal itu. Karena, Rumah ini, Ada Cctv tersembunyi... " Bisik Zaskia tertawa kecil, Dan kemudian, Dia pun pergi menuju kamarnya.


Di dalam suatu ruangan yang bukan lagi menjadi kamar Diyan sendiri. Kini, MUNGKIN, Dina juga akan tidur di kamarnya bersama dirinya dalam satu ranjang dan satu selimut yang sama. Dina dan Diyan berdiri di sisi ranjang dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Keduanya saling diam, Menatap ranjang itu dalam keheningan, Hanya Debaran jantung mereka berdua yang bisa di dengar.


Tidak bisa, Di pungkiri, Kamar ini merupakan saksi bisu, Kejadian pagi tadi yang begitu penuh gairah liar yang membuat tubuh mereka mabuk kepayang dalam panasnya hawa liar dalam diri sendiri yang menghilangkan akal sehat. Bahkan, Dina dan Diyan sudah melihat tubuh polos masing-masing, Tanpa ada helai benang pun melekat di tubuh mereka berdua, Pagi tadi dan Hampir saja. Dina kehilangan keperawanannya, Bila bukan suara Si Adik yang menghentikan dan mengembalikan Akal sehatnya juga Diyan.


" Hmm " Diyan berdeham, memecahkan keheningan di dalam kamarnya, dan sedikit membuat Dina kaget, Mendengar dehamannya yang Tiba-tiba.


" Dina, Kamu tidurlah di ranjang, Aku tidur di sofa saja " Kata Diyan lembut. Diyan pun melangkahkan kakinya ke sisi ranjang sebelah kanan dan Mengambil bantal. Tapi, langkah terhentinya, Di saat, Diyan ingin mendekati sofa, Terdengar suara istrinya.


" Dina... Kamu, Yakin? " Tanya Diyan menatap punggung belakang istrinya, Dalam debaran jantungnya yang semakin berdebar kencang, Melihat Dina tidur di hadapannya.


" Tidurlah, Selamat malam " Dina menanggapi pertanyaan Suaminya, Dengan ucapannya saja. Kemudian, Dina memejamkan matanya dan berusaha untuk menggapai mimpi indahnya.


Diyan terdiam seribu bahasa, Mendengar ucapan Istrinya. Perasaan hatinya menjadi tidak nyaman, Ragu dan Bimbang, Antara menghindari Dina, Dengan memilih tidur di sofa atau menuruti perkataan Dina, Yaitu tidur satu ranjang dan satu selimut dengannya.


Diyan menghela nafas berat, Berusaha menahan gejolak dalam dirinya dan mengusir bayangan negatif dari pikirannya. Diyan yang merupakan Pria normal yang sudah matang pada umumnya, pasti membutuhkan kepuasan batin. Melihat tubuh Wanita yang merupakan Istrinya, Membuat batin sedikit merasa tersiksa dan membuat kepala sedikit merasa pusing, Karena terus menahan gairah dalam dirinya.

__ADS_1


pada akhirnya, Diyan pun menuruti perkataan Istrinya. Tidur di samping Dina, Hanya saja, Diyan sengaja meletakkan guling di antara dirinya dengan Dina. Diyan tidak ingin melewati batasnya sebagai seorang Pria sejati. Tanpa, Ada izin dan persetujuan Dina, Istrinya, Diyan tidak ingin melakukannya.


Diyan berbaring dengan posisi terlentang, Menatap langit-langit kamar, Tidak tahu apa yang tengah di pikirannya dalam perasaanya yang resah, Gelisah dan takut melewati batas guling yang telah di buatnya. Sampai menit kemudian, Diyan mengambil guling itu, Melemparnya ke lantai, Mendorong dirinya, mendekati Tubuh istrinya.


" Izinkan, Aku memeluk, Mu " Bisik Diyan yang tidak perduli, Apakah Dina mendengarnya atau tidak? Itu tidak penting, Bagi Diyan, Dia hanya ingin memeluk dan mencium aroma wangi dari tubuh Dina.


Diyan melingkar tangannya di perut Dina, Memeluk erat tubuh Dina dan sedikit memperbaiki selimut tebal itu. Dina yang memang belum tidur, Karena hawa panas di tubuhnya dan di tambah lagi, Nafas hangat menyapu kulit di tengkuk lehernya serta tangan Diyan yang melingkar erat di perutnya. Membuat jantung Dina berdebar kencang, Dengan desir lembut darah di dalam tubuhnya, Seakan mendidih.


" Mas Diyan, Aku... Aku... Tidak nyaman " Suara Dina seperti desakan, Nafas hangat Diyan semakin berat mendengarnya.


" Berbaliklah, Dina " Bisikan lembut Diyan, bagaikan godaan untuk Dina, Membuat Dina tidak mampu menolaknya.


Dina berbalik badan, Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Suaminya yang terasa hangat dan nyaman, Membuat hatinya merasa tenang. Tapi, tidak dengan debaran jantungnya dan debaran jantung Diyan, Terus berdebar dengan kencang, Seiring hembusan nafasnya semakin memburu.


" Aku, Hanya ingin memeluk, Mu. Tidurlah " Kata Diyan dengan nafasnya yang terasa berat dan suaranya yang serak basah, Terdengar seksi, Menggelitik Indra pendengaran Dina.


Dina tidak menanggapi perkataan Suaminya dengan mengatakan apa pun. Dina merilekskan pikirannya, kembali memejamkan matanya, Berharap, dapat tidur dan menggapai mimpi yang indah. Diyan melakukan hal sama dengan yang istrinya lakukan, memejamkan mata dan berusaha untuk tidur, memcoba kembali menggapai mimpi indahnya. Saling berpelukan, memberikan kehangatan di dalam satu selimut ditengah dinginnya malam.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2