
Langit, Berwarna biru tua terang, Di Angkasa. Tidak ada bintang mau pun Bulan yang ingin tenggelam dalam suasana dinginnya alam semesta. Saat ini, Hari pagi dan bukan malam.
Diyan, Berdiri, Di depan tenda, Dengan memakai jaket tebal berwarna biru. Sambil berlipat kedua tangannya, Di atas perut. Sehingga, Rasa dinginnya alam terbuka, Tidak membuatnya menggigil dan mungkin, Hanya sedikit merasakan kedinginan.
Bola matanya yang sehitam langit malam, Menatap hamparan gemerlap lampu kota Bandung. Terlihat sangat indah dan menakjubkan, Diyan menikmati keindahan alam, Sebelum matahari terbit, Di Angkasa.
Di dalam tenda, Dina tertidur lelap dengan posisi miring. Detik kemudian, Dina bergeliat dalam tidurnya, Dan tangan kanannya, Meraba-raba sisi tempat, Di sebelahnya. Mata yang tadinya, Terpejam dengan mimpi indahnya, terbuka pelan. Terganggu, Karena, Rabaan tangan lembut, Dina, Tidak merasakan kehadiran, Suaminya, Di sisinya. Membuat, Dirinya terbangun, Dengan mata abu-abuannya, Menatap, Di sebelahnya, Kosong.
" Di mana, Mas Diyan? " Ucap Dina, Dengan mata yang seketika terbelalak lebar Dan terkejut. Karena Tidak melihat, Suaminya, berada Di sebelahnya.
Dina, Bangun dan terduduk, Dengan sedikit terburu-buru, Mengambil jaketnya dan langsung membuka pintu tenda. Mengeluarkan kakinya dari tenda, Sambil memakai jaketnya. Namun, Kecemasan dan kepanikan yang tadinya, Dina, Rasakan, Hilang, Di bawa dinginnya angin alam terbuka. Ketika, Matanya, Menemukan tubuh yang berdiri tegap, membelakangi tenda dan Dirinya.
Senyuman terukir, Di wajah kusut sehabis bangun Tidur. Namun, Kecantikan yang, Dina, Miliki tidak luntur. Dina, Mengurungkan keinginannya keluar dari tenda untuk sementara. Karena, Dina, Hanya ingin mengambil botol air kemasan, Aqua besar, Di sudut tendanya. Kembali keluar tenda, Dengan menekuk kedua lututnya, sedikit mengekang. Kemudian, Tapak dan jemari tangan kanannya, Menampung air dari botol yang ada, Di tangan kirinya. Dina, Membasuh wajahnya, dan mencuci mulutnya, Dengan berkumur. Selesai melakukan kegiatan itu, Dina, merasa sangat segar.
Setelahnya, Dina, Memperbaiki jaketnya yang belum benar tertutup rapat. Dina, Pun berdiri dari duduknya, Dan melangkah perlahan mendekati, Diyan yang belum menyadari, Istrinya yang sudah terbangun.
" Mas... Selamat pagi " Bisik Dina, Sambil kedua tangannya melingkar, Di perut, Suaminya. Diyan, terkejut, ketika merasakan pelukan tiba-tiba, Di belakangnya. Tapi, Diyan, Bersyukur dengan menghela nafas lega. Di saat, Mendengar suara lembut, Istrinya.
" Selamat pagi, Istriku " Ucap Diyan, Sambil menarik tangan, Dina dan membuat, Dina berdiri, Di hadapannya.
" Aku, Mencintai, Mu, Dina " Diyan mengakhiri ucapannya, Dengan memberikan kecupan manis, Di kening, Istrinya, Yang sudah menjadi kebiasaannya, Di setiap harinya. Tidak pernah ada rasa bosan melakukan dan mengucapkan hal yang sama, Di setiap harinya, Bersama, Dina.
__ADS_1
" Aku, Juga mencintai, Mu, Mas... " Dina, Selalu saja, Mengucapkan kata indah, Di dalam hatinya. Sehingga, Hanya, Dirinya dan Tuhannya, Yang tahu Apa isi hatinya?
Dina, Bahagia dan tidak pernah bosan maupun menolak perlakuan manis dan istimewa, Diyan. Namun, Dina, Selalu saja menjawab pernyataan cinta, Diyan, Di dalam hatinya. Walau, Dina, Tahu, Diyan, Menginginkan balasan ucapan dari pernyataan cintanya. Tapi, Tidak tahu, Apa yang membuat, Dina, Malu dan selalu tidak mengungkapkan rasa cintanya pada, Diyan? Hanya, Tuhan, Waktu dan bersamaan dengan masalah yang akan datang, Tanpa, Di undangan, Bisa menjawabnya.
Menit berlalu, Dina dan Diyan bermesraan, Dengan senyuman dan tawa canda. Sampai akhirnya, Matahari akan terbit, Di balik bukit. Dina dan Diyan, berdiri berdampingan sambil bergandengan tangan. Menikmati Sunset bersamaan dengan awan tebal yang menjadi terlihat sangat indah, Di Angkasa. Tebalnya awan putih itu, Seakan mampu, Di sentuh. Namun, tidak mampu, Di genggam dalam kepalan tangan.
" Dina... Aku, Bersyukur. Masa itu, Hilang, Di Telang waktu. Kamu dan Aku, Masih tetap bersama dalam ikatan Sucinya pernikahan, Kita. Dulu, Aku, Berpikir... Dirimu, Bagaikan awan... Yang tidak bisa, Aku, Genggam dalam kepalan tangan, Ku. ingin! Hanya, Aku yang bisa memiliki, Mu. Tapi, Aku, Takut... Itu, Menyakiti, Mu. Namun, Kini... Aku, Bukan hanya bisa menggenggam tangan, Mu! Aku, Juga bisa memeluk, Mu dalam dekapan kehangatan dengan rasa cinta, Ku yang semakin bertambah, Di setiap waktunya, hanya untuk, Mu. Kamu, Hanya milikku dan takdir, Cinta, Ku! Aku, Bersyukur dan bahagia, Papa dan Mama, Menikahkan, Kita berdua! " Kata Diyan, Di dalam hatinya.
" Suasana, Di tempat ini, Tidak pernah berubah. Sama seperti, Kita yang masih tetap bersama. Walau, Sempat berpisah dalam enam tahun lamanya. Tapi, Kini... Aku dan Kamu, Menjalin ikatan yang tidak sama seperti dulu. Aku, Senang dan Bahagia, Menjadi istri, Mu. Walau jalinan pernikahan yang, Kita, Mulai... Dari sebuah keterpaksaan dan Bukan, dari sebuah Kejujuran, Cinta, Kita. Namun, Aku, Tidak akan membiarkan waktu memisahkan, Kita, Seperti dulu. Cukup! Enam tahun itu, Aku merasa kesepian dan sangat rindu dengan kehadiran, Mu. Aku, Ingin, Kamu selalu dan selamanya, Berada, Di dekat, Ku. Tanpa jarak dan tanpa ada perpisahan, Di antara, Kita. Mas Diyan, Aku mencintai, Mu... Sampai akhir hidup, Ku! " Ujar Dina, Di dalam hatinya.
Dina dan Diyan, Berkata, Di dalam hati. Bersamaan, Seiring debaran jantungnya yang berdebar kencang. Bersamaan, Seiring, sepasang mata Dina dan Diyan, Menatap, Sebentar keindahan alam semesta, Dan Seiring Menatap penuh, Wajah sang pujaan hati, Yang bercahaya, Diterpa cahaya matahari yang baru saja menunjukan wujudnya.
Dina, Menangis haru dalam pelukan, Suaminya. Menit kemudian, Diyan, Melepaskan pelukannya, dengan, Istrinya. Ketika membuka mata, Menyadari, Dirinya dan Dina, Menjadi tonton Romantis, Di tengah keindahan alam semesta.
" Dina, Kenapa menangis? Apa, Aku terlalu kencang meluk, Mu? " Kata Diyan pada, Istrinya, Dengan perasaan bersalah.
" Em Enggak, Mas. Aku, Hanya terharu aja. Aku-- " Dina, Belum menyelesaikan ucapannya. Tapi, Suaminya, Sudah menyelanya.
" Dina, Tidak perlu mengatakannya. Aku, Tahu dengan yang, Kamu rasakan dan ingin, Kamu katakan. Tapi, Jangan sekarang, Aku, Tidak ingin orang lain mendengarnya. Sekarang ini, Kita sudah jadi tontonan gratis "
Mendengar perkataan, Diyan. Dina, langsung menatap sekitarnya dan membenarkan dengan yang, Diyan katakan. Terlihat dari tatapan mata orang-orang Tertuju pada, Dirinya dan Suaminya. Karena, Malu dan tidak nyaman dengan pandangan orang, Di sekitarnya. Dina, Sedikit menunduk kepalanya dan membiarkan, Tangan dingin, Diyan membawanya masuk ke dalam tenda. Namun, Dina dan Diyan, Tidak menyadari, Tatapan sepasang mata kebiruan, Seorang Pria. Menatap sedih dalam perasaan hatinya yang tersakiti. Melihat, Kebahagiaan, mereka berdua.
__ADS_1
" Dina, Kamu masih ingin, Di sini? " Tanya Diyan, Dengan duduk, Di dekat, Istrinya, Di dalam tenda.
" Aku, Masih ingin sebentar, Di sini, Mas " Jawab Dina tersenyum cerah, Menatap wajah, Suaminya.
" Emm baiklah... Aku, Mau keluar sebentar untuk membeli sarapan, Kita berdua " Ucap Diyan, Sambil mengambil ponselnya dan kembali, Menatap, Dina.
" Ya, Udah, Mas. Pergi dan segeralah, Kembali " Kata Dina, Dengan senyuman, Di wajahnya.
Diyan, Mencium bibir, Dina secepat kilat. Kemudian, keluar dan berjalan cepat, Meninggalkan tenda. Dina, Tertegun, Mematung diam, Mendapatkan ciuman yang tiba-tiba dari, Diyan.
" Mas Diyan! " Seru Dina sedikit kesal dan Juga senang, Dengan serangan manis, Suaminya.
Sementara itu, pergerakan, Diyan, Di awasi sepasang mata kebiruan yang tidak jauh dari tempat, Diyan berdiri.
" Kenapa, Dina dan Diyan, Harus berada, Di tempat yang sama dengan, Ku?! Walau sudah begitu lama! Hati, Ku masih terasa sakit melihat kemesraan, Dina dengan, Diyan! Riana! Ini karena, Wanita kucing itu! Jika, Saja, Dia tidak meminta ke sini! Aku, Pasti! Tidak melihat Dina dan Diyan, Pagi ini. Sial! " Hardik seorang Pria, Dengan sepasang mata kebiruan itu, pergi dengan kaki tegapnya, melangkah lebar dan tidak sedikit pun, Ada niat menoleh kebelakang.
Diyan, Menoleh ke belakangnya. Ketika, Indra pernafasannya, Menghirup aroma parfum yang, tidak asing dari bawaan angin dan merasakan, Seseorang yang terasa mengawasinya. Namun, matanya tidak melihat seseorang yang ada dalam pikirannya. Hanya ada, Orang-orang yang berlalu lalang saja.
" Mungkin... Hanya, Perasaan, Ku saja. Mana mungkin, Dia, Ada, Di Kota Bandung ini " Gumam Diyan, Dengan menepis perasaan tidak nyaman, Di hatinya.
...Bersambung...
__ADS_1