Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Tamu bulanan


__ADS_3

Waktu berlalu, Hari berganti, Diyan kembali bekerja dan Dina, Punya waktu untuk melakukan apa pun yang, Dia mau. Seperti saat ini, Dina bersantai di dalam kamarnya dari siang hingga sore, Karena sedang kedatangan tamu bulanannya.


" Kak Dina, lagi ngapain? " Tanya Marissa yang tiba-tiba memasuki kamar, Dina dan Diyan, Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


" Rissa! " Seru Dina terkejut yang baru saja memasukan Kaset/CD ke dalam laptopnya. Berencana ingin menonton Siaran Video, Sendirian. Tapi, Dina tidak menduga, Jika Adiknya itu, Akan menemaninya.


" Harusnya, Kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk " Kata Dina memperingati, Adiknya itu.


Marissa tertawa kecil, Dan kemudian, Duduk di ranjang, di samping, Kakaknya. Ingin tahu, Apa yang tengah, Dina lakukan? dengan benda canggih yang berbentuk persegi panjang, Hanya saja bisa di lipat, Menjadi persegi, Yaitu laptop.


" Aku, Mau menonton siaran Video dari kaset yang, di berikan, Mama " Jelas Dina.


" Kaset? Yang mana, Kak? " Tanya Marissa.


" Itu... Yang, Kamu tonton sama, Mama dan Papa, Di hari, Aku dan Mas Diyan, Baru pulang " Dina, Sengaja tidak menyebutkan 'bulan Madu' Karena itu, Akan membuatnya sangat malu dan Tanpa sengaja mengenang masa indahnya bersama, Diyan, Saat masih di Paris.


" O... Kaset yang itu, Saat Kakak dan Kak Diyan, Baru pulang pada malam itu, dari bulan madu " Ucap Marissa, Setelah beberapa detik mencoba mengingat Kaset yang di maksud, Dina. Namun, Marissa tidak tahu, Jika Perkataan terakhirnya membuat, pikiran Dina Membayangkan kenangan manis yang memabukkan itu.


" Membayangkan saja, Membuat, Ku panas dingin begini... dan Bahkan... Aku, Menginginkannya! Tidak! Aku, Harus bisa menahannya! " Tukas Dina dalam hatinya, Merasa sangat malu pada, Dirinya yang begitu cepat bergairah. Padahal, Saat ini, Dina sedang kedatangan tamu bulanannya.


Siaran Video pun, Di mulai. Pertama pada hari pernikahan Dina dan Diyan, Video itu, Mengukir senyuman kegetiran di wajah cantik, Dina. Pernikahan yang, Di lakukan karena Terpaksa, Dan Di tambah lagi, Pada malam pernikahan itu, Juga Dirinya harus menjadi pelampiasan kemarahan, Diyan.

__ADS_1


Gairah, Dina hilang karena perasaan hatinya yang, Di selimuti kegundahan. Namun, Dina dengan cepat menepis perasaan kesedihan dan rasa sakit, Di hatinya. Karena, Dina tahu, Diyan mencintainya, dan Karena Cinta itulah, Yang membuat, Diyan melampiaskan kemarahannya pada, Dirinya. Akan rasa kecewa, Karena Dirinya mau menikahi saudara baginya dalam keadaan terpaksa.


" Mas Diyan, Aku sekarang sangat sadar... Apa yang membuat, Kamu sangat marah pada, Ku? Kamu, Kecewa terhadap, Ku, Karena, Aku mau menikahi, Mu akan keadaan terpaksa. Tapi, Itu dulu, Mas Diyan... Andai Waktu dapat, Ku putar. Andai, Aku tahu... Kamu, Mencintai, Ku. Mungkin, Aku akan merasa bahagia, Bisa mendengarnya langsung dari, Mu. Tapi, Jika ada saatnya, Aku ingin, Kita mengulang masa indah pernikahan Kita. Apakah Bisa? " Lirik Dina di dalam hatinya.


Binar mata ke abu-abuan, Dina berkaca-kaca. Tangan lembutnya, Mengusap wajah tampan, Diyan, Di Video itu. Siaran Video berlanjut, Dina dan Diyan, Berbeda kamar. Ketika, Malam dan Pagi, Makan bersama dalam kesunyian yang terasa asing. Air mata, Dina kembali tumpah, Saat itu, Dirinya sangat merindukan sikap, Diyan yang dulu, Di saat makan bersama.


Tapi, Kesunyian yang terasa asing itu, Telah hilang, Tergantikan dengan sikap, Diyan yang terkadang sangat susah jauh darinya. Tidak jarang, Membuat Dina merasa kesal pada sikap, Diyan yang terus saja menempel padanya dan sering menggodanya. Mengingat itu, tanpa sadar, Dina tertawa dengan sisa air mata yang membasahi pipinya.


Marissa, Hanya diam, Ikut menonton Siaran Video itu, dan membiarkan, Kakaknya itu, Berada dalam suasananya sendiri. Marissa tidak ingin mengganggu perasaan hati, Kakaknya itu, Yang bersedih, Senang, Dan Bahagia, Begitulah seterusnya.


Hingga pertengkaran pertama, Dina dan Diyan pada malam itu, Berada juga dalam Siaran Video itu. Dina, Masih mengingat jelas, Dirinya bertengkar dengan, Diyan, Karena Dia Lupa Waktu akan pulang dan juga tugasnya. Di tambah lagi, Diyan menemukan, Dirinya pada tempat yang tidak benar. Dina merasakan kesedihan lagi, Sadar, Itu memang kesalahannya. Dirinya, Adalah seorang Istri, Seharusnya, Dia menyiapkan Keperluan dan makan malam untuk, Suaminya yang habis pulang kerja.


Hingga, Dina merasa terkejut dan Semakin merasa bersalah. Melihat, Diyan bangun tengah malam dengan suara gemuruh langit, yaitu Hujan petir. Diyan, Memasak di dapur untuk mengisi perut yang lapar. Melihat, Diyan menikmati makanan yang terlihat tidak layak, Di makan itu. Bahkan, Dina bisa mendengarkan apa saja yang, Diyan katakan setiap kali memakan masakannya?


" Ternyata masak cukup sulit juga ya? "


" Enggak enak. Lebih enak masakan, Mama dan Kak Dina "


Mendengar berbagai macam komentar, Diyan mengenai masakannya. Dina tersenyum hambar, Sedangkan, Marissa menahan tawanya, Agar tidak pecah. Kemudian, Terdengar suara petir dalam video itu, sangat keras. Terlihat, Diyan berlari menuju pintu kamar tamu, Tempat Dina dulunya tidur, Ketika masih berbeda kamar dengan, Diyan. Diyan masuk kedalam kamar itu, Dan Dina pun mengingat apa yang terjadi, Di dalam kamar itu?


" Itu... Kedua kalinya, Aku dan Mas Diyan, Tidur satu kamar pada satu ranjang yang sama malam itu... Aku, Sangat ketakutan dan... Ternyata... Itu bukan mimpi, Itu nyata... Mas Diyan, Aku merindukan, Mu! " Dalam hati Dina.

__ADS_1


Video terus berlanjut, Diyan baru kembali dari luar Kota, Pada siang hari itu. Hingga, Sore tiba, Terlihat, Diyan duduk di sofa yang seakan menunggu seseorang. Tentunya, Menunggu, Dina yang tidak kunjung pulang juga. Terlihat, Diyan berbicara Sendirian, Mungkin karena merasa bosan menunggu, Dina.


" Dina, Lama sekali pulangnya? Bukankah, Kata orang suruhan yang, Aku pekerjakan untuk mengawasi, Dina. Dia, Bilang... Dina, Sudah selesai belanja, Di Mall bersama kedua teman Wanitanya itu. Tapi, Kenapa belum pulang juga? Apa masih ingin nginap, Di apartemen temannya? Atau jangan-jangan... Aku, Jemput sekarang saja!"


Mendengar yang, Di katakan, Diyan. Mata ke abu-abuan, Dina mendelik lebar, Sangat terkejut dan sedikit kesal. Jika ternyata, Diyan mengetahui apa pun yang, Di lakukannya. Walau pun, Diyan tidak ada, di dekatnya, Diyan tetap akan tahu semua yang, Dina lakukan. Terlihat, Diyan berdiri dari duduknya, Dan ingin melangkah ke Pintu. Tapi, sebelum itu, Pintu terbuka, dan Terlihat Dina dengan kedua Sahabatnya, Gita dan Mila muncul, Di Siaran Video itu.


Pertengkaran kedua pun terjadi, Dina pastinya masih mengingat kenangan pahit itu, Yang terasa sangat menyakiti hatinya. Tapi, Melihat dan Mendengarkan suara, Di dalam Video itu, Perasaan, Dina bercampur aduk. Melihat, Diyan terduduk diam, Di lantai dalam Waktu cukup lama, Selesai pertengkaran keduanya dengan, Diyan. Hingga, Diyan kembali berdiri dalam keadaan tidak berdaya, Seakan putus asa akan rasa bersalah dalam pertengkaran kedua itu. Dina, Kini tahu, Apa yang membuat, Diyan kehujanan pada malam itu?


" Mas Diyan... Kamu, Sengaja kehujanan, Hanya untuk menghukum, Dirimu. Karena, Rasa bersalah, bertengkar dan membuat, Ku menangis akan rasa sakit hati karena perkataan, Mu. Maaf... Seharusnya, Aku tahu maksud hati, Mu sejak dulu. Mungkin, kemarahan yang, Kamu lampiaskan kepada, Ku, Hingga menyakiti hati, Ku. Aku, Mungkin, Akan memilih untuk langsung memeluk, Mu... dan Tidak membiarkan, Mu seperti itu... " Tangis Dina dalam hatinya, Merasa dadanya sesak. Melihat tiap detik, menitnya dan jam, Berlangsungnya Siaran Video itu.


Air mata, Dina tumpah membasahi wajah cantiknya. Tidak ada kata apa pun yang keluar dari mulutnya, Selesai siaran video itu, tunjukkan semuanya, Mengenai Dirinya dan Diyan. Marissa juga tidak mengatakan apa pun, Dirinya ikut merasa kesedihan yang, di rasakan, Dina. Hanya, Saja, Marissa memeluk, Kakaknya itu, Berbagi kesedihan, Di dalam kesunyian ruangan luas itu.


" Dina, Aku sudah pulang dan Kenapa, Kamu tidak menyambut, Suamimu ini!? " Kata Diyan yang tiba saja muncul dan berjalan memasuki kamarnya.


Dina terkejut, Mendengar suara, Diyan yang ternyata, Suami tampannya sudah pulang. Dengan cepat, Dina turun dari ranjang dan berlari memeluk erat tubuh kekar, Suaminya itu. Diyan sangat senang, Mendapatkan sambutan pelukan hangat dari, Istrinya. Marissa yang melihat itu, Tersenyum dan Tanpa kata, Dia pergi meninggalkan kamar, Dina dan Diyan. Tidak ingin mengganggu suasana hati kedua kakak kesayangannya.


" Kenapa, Kamu menangis? Apa... Karena kedatangan tamu bulanan, Mu masih menyakiti perut, Mu, Istriku? " Cecar Diyan, Terkejut dan Tidak senang melihat wajah basah, Dina. Dina, Tidak mengatakan apa pun, Selain terisak-isak akan sisa tangisannya.


" Sudah, Jangan nangis lagi... Ini, Aku bawa obat untuk, Mu. Setidaknya, Bisa meredakan sakit, Di perut, Mu, Dina " Ujar Diyan, Sambil memberikan obat dalam kemasan botol kecil pada tangan lembut, Istrinya itu.


Diyan, Kemudian mencium sekilas bibir Istrinya, Yang sudah menjadi candu untuknya. Sesudahnya, Pergi ke kamar mandi, Ingin membersihkan. Dirinya, Karena sebentar lagi akan makan malam bersama keluarganya. Dina, Tetap tidak bisa mengatakan apa pun, Hanya duduk diam di pinggir ranjang dan pada menit kemudian. Dina, Baru tersadarkan, Bila Marissa ternyata sudah tidak ada lagi di dalam kamarnya dan Diyan.

__ADS_1


" Aku, Akan mengatakannya! Aku, Tidak akan menundanya! Mas Diyan, Harus tahu! " Kata Dina menyakinkan hatinya.


...bersambung ...


__ADS_2