Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Wanita tua


__ADS_3

" Din, Lo benaran... Enggak mau ikut, Kita? " Tanya Mila.


" Enggak, Gue harus pulang. Sekarangkan Uda sore dan Lagian, Gue... Mungkin enggak bisa pigi ke tempat itu lagi. Karena, Mas Diyan, Enggak ngizinin, Gue " Jelas Dina tak enak hati, Dengan kedua Sahabatnya itu.


" Kalo enggak ada, Lo. Pasti kurang seru, Din. Tapi, Gak apa-apa deh, Kita sebagai Sahabat, Lo ngerti kok " Ujar Gita, Sedikit tidak senang. Tapi, Memcoba untuk tidak egois, Karena jarang dapat bertemu dengan, Sahabatnya dan Dina, Baru saja berbahagia dengan, Diyan. Gita, Tidak ingin merusak atau apa lagi, Membuat Kejadian yang dulu terulang lagi, Terhadap Dina dengan Diyan.


" Ya, Uda. Kalo gitu, Kita duluan, Ya, Din? " Ucap Mila dengan memberikan senyuman hangat pada, Dina. Dina tersenyum, sambil mengaguk kepalanya, Merasa lega, Kedua Sahabatnya tidak memaksa, Dirinya.


" Maaf, Ya. Dan Kalian hati-hati, Di jalan " Dina memeluk kedua Sahabatnya bersamaan. Dengan senang hati, Gita dan Mila, Membalas pelukan hangat, salam perpisahan persahabatan, Mereka.


Gita dan Mila, Pergi sambil melambaikan tangan pada, Dina. Dina tersenyum, Balas melambaikan tangan pada, Kedua Sahabatnya itu. Saat ini, Dina berdiri, Di depan Mall, Menatap kepergian kedua Sahabatnya. Hingga, Di detik kemudian, Dina melangkah kakinya menuruni tangga Mall.


" Aduh! " Suara parau, Seorang Wanita tua dengan pakaiannya yang memperlihatkan, Dirinya orang kaya. Menghentikan langkah, Dina yang berada cukup dekat dengannya dan Menatap Wanita tua itu, Perihatin. Terlihat kesakitan, Ketika menuruni tangga Mall.


" Nek, Nenek kenapa? Sini, Saya bantu " Dina, Mendekati Wanita tua itu, Dan Berucap dengan sopan dan Lembut. Agar tidak menghalangi jalan umum, Jika terus berdiri, Di tangga. Dina memapah, Wanita tua itu, Ke pinggiran tangga, Dan mendudukkannya, Di sudut tangga.


" Makasih, Cu " Ucap Nenek, Menatap wajah cantik, Dina dengan perasaan haru yang terlihat, Di mata ayunya. Tapi, Dina tidak memperhatikan tatapan haru, Nenek itu. Karena mata ke abu-abuannya, Menatap sekitar, Berharap ada yang mencari, Nenek itu.


" Sama-sama, Nek " Dina tersenyum, Menatap wajah tua yang sedikit keriput. Namun, Masih menunjukkan kecantikan dan aura wibawa, Sang Nenek.


Dina, Menatap penampilan, Nenek itu, Yang terlihat bukanlah orang biasa. Kemudian, Dina menatap sekitarnya, Mencari seseorang yang mungkin sedang mencari, Nenek itu. Tapi, Ternyata tidak ada sama sekali, Dan Dina, Merasa cemas dan resah jadinya. Tidak tega meninggalkan, Nenek itu, Sendirian, Di tempat umum seperti ini. Bagaimana, Bila nanti ada orang jahat yang ingin merampok atau berbuat jahat pada, Nenek? Pikir Dina.


" Nenek, Sama Siapa kesini? Atau mau, Saya antar pulang? " Kata Dina pada, Nenek itu. Karena, Dina juga sedang terburu-buru, Ingin segera pulang. Membuatnya langsung berinisiatif, Ingin mengantar, Nenek itu pulang.


Binar mata, Nenek itu, berkaca-kaca ada rasa haru juga bahagia yang luar biasa. Menatap wajah cantik, Dina yang mengkhawatirkan dan mencemaskan, Dirinya. Tanpa sadar, Nenek itu, Meneteskan air matanya. Dina, Yang melihat, Nenek itu, Menangis merasa semakin Khawatir. Berpikir, Kaki Nenek sangat sakit, Sehingga membuat, Nenek menangis.

__ADS_1


" Ya, Uda. Sekarang, Ayo, Nek. Saya, Antar pulang. Tapi, Kita ke rumah sakit dulu, Ya? "


Tanpa meminta persetujuan, dan mendengarkan, Nenek itu. Dina, Kembali memapah, Nenek itu, Berjalan bersamanya memasuki mobilnya. Setelah, Memastikan, Nenek itu, Duduk dengan nyaman, Di dalam mobilnya. Dina, Dengan hati-hati, Menutup pintu mobilnya dan Langsung, Berlari mengitari sebagian mobilnya. Membuka pintu bagian kemudi mobil dan Duduk, Di dalamnya, Dengan tidak lupa menutup kembali pintu mobil itu.


" Tidak usah, Cu. Kamu, Antar saja, Nenek pulang ke rumah. Pasti... Cucu, Nenek menunggu kepulangan, Nenek " Jelas Nenek itu, lembut dan memberikan Senyuman hangatnya pada, Dina yang duduk berdampingan dengannya.


" Baiklah, Bila itu, Keinginan, Nenek. Saya, Akan antar, Nenek langsung pulang ke rumah. Tapi, Nenek tunjukkan, Di mana alamat rumah, Nenek? " Kata Dina dan Menyalakan mobilnya.


Nenek pun mengaguk kepalanya dengan pelan. Dina, Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Harus berhati-hati. Karena, Ada Nenek itu, Yang bersama, Dirinya. Mungkin, Jika Dina, Sendirian, Dia akan melajukan mobilnya dengan menambahkan kecepatan dari yang sekarang.


Tapi, Apa daya? Walau, Dina merasa gelisah dan resah, Di dalam hatinya, Memikirkan, Diyan mungkin saja tengah mengawatirkan dan menunggunya pulang. Dia, Harus mengantarkan, Nenek itu, Pulang terlebih dulu dengan selamat.


Dalam perjalanan, Agar tidak merasa bosan, Dina dan Nenek itu, Saling berbicara. Memperkenalkan, Diri dan juga membicarakan hal lainnya, Untuk mengusir keheningan, Di dalam mobil dengan perjalanan sedikit panjang.


Menit berlalu, Rumah, Nenek itu, Cukup jauh dari Mall berada. Hingga langit sudah berwarna biru tua pudar tanpa ada awan, Di Angkasa. Walau, Merasa gelisah dan Resah, Di hatinya, Dina berusaha bersikap tenang, Di depan Nenek itu. Mengantarkan, Nenek itu, Di depan rumah yang terlihat mewah dan Megah. Bernuansa modern perpaduan warna biru cerah dan putih, Terlihat menawan, Sungguh indah, Di pandang.


Dina, Yang berdiri, Di samping, Nenek itu. Ingin menerima ajakan, Sang Nenek. Tapi, Sayangnya, Karena deringan panggilan dari, Sang Suami. Dina, Mengurung niatnya untuk masuk ke dalam rumah, Nenek itu.


" Maaf, Nek. Dina, Sekarang tidak bisa. Tapi, Lain kali, Bila Dina ada Waktu, Dina akan mampir ke rumah, Nenek " Ujar Dina, Menolak halus ajakan, Nenek itu.


Nenek, Hanya tersenyum tipis dan mengagukkan kepalanya. Merasa sedih, Karena, Dina tidak ingin ikut dan masuk bersama kedalam rumahnya. Dina, Kembali memasuki mobil, Tanpa sedikit pun menatap, Nenek itu, Yang berharap, Dirinya akan tetap berada, Di dekatnya. Dina, Yang lebih memikirkan, Diyan, Dengan tanpa kata, Melajukan mobilnya, Sesudah meninggalkan senyuman manisnya pada, Nenek itu.


Wanita tua yang, Dina panggil, Nenek. Menghela nafas panjang, Antar kelegaan dan ketidak berdayaan. Menatap kepergian mobil, Dina yang perlahan hilang dari pandangannya. Dengan langkah berat, Nenek itu, Memasuki rumahnya, Dengan perasaan hampa.


Dina, Melajukan mobilnya dengan cukup cepat, Menuju rumahnya. Jalanan yang sepi dan tidak terlalu banyak kendaraan bermotor dan Mobil. Membuat, Dina tidak banyak memakan Waktu untuk sampai ke rumahnya. Terlihat Angkasa sudah gelap gulita, Dengan Gemerlap bintang dan Sinar rembulan sabit, menghiasi langit malam.

__ADS_1


Dina, Menghentikan mobilnya tepat, Di depan rumah dan keluar dari mobilnya, Dengan terburu-buru. Berlari kecil, menggapai dan Membuka pintu, Tidak lupa menutupnya kembali.


Tapi, Dina sedikit terkejut, Mamanya berdiri tepat, Di depannya, Ketika, Dia berbalik badan.


" Mama, Tidak akan meminta alasan. Kenapa, Kamu terlambat pulang? Mama, Hanya minta, Suruh, Diyan turun dan Kita, Makan malam bersama " Perkataan Zaskia, Menjadi sambutan yang kurang terasa nyaman, Di hati, Dina.


" I..Ya, Ma. Dina, Akan panggil, Mas Diyan " Lirik Dina gugup dan Merasa bersalah. Dirinya, Adalah Wanita Bersuami, Tidak seharusnya, Dia pulang malam dan Itu, Sudah menjadi kesalahannya.


Zaskia tersenyum hangat, Tangan kanannya, Membelai lembut kepala, Dina. Kemudian, Zaskia pun pergi meninggalkan, Putri kesayangannya itu. Dina, Menghela nafas lega, Merasa Mamanya tidak marah padanya. Dina, berjalan cepat menuju kamarnya, Dengan menaiki tangga.


Sesudah, Berdiri, Di depan pintu. Dina, Merasa ragu dan sedikit takut, Antara membuka atau mengetuk pintu terlebih dulu. Tapi, Di saat, Keraguan dan Menghilangkan rasa takutnya. Pintu terbuka begitu saja dari dalam, Dan terlihat, Diyan berdiri dengan memakai celana pendek tanpa memakai atasan. Memperlihatkan dadanya yang bidang, Dan menggoda.


Mata sehitam langit malam itu, Mengunus penuh pada wajah, Dina yang tertegun diam. Dina, Tidak tahu mau mengatakan apa? Selain, Hanya diam, Dengan menatap wajah tampan dan dada bidang yang terasa menggodanya.


" Dina, Kamu meminta, Ku untuk tidak mengawasi pergerakan, Mu. Tapi, Bisakah? Tidak membuat, Suamimu Khawatir dengan memikirkan, Mu? " Ketus Diyan, mengunus hati, Dina yang merasa tidak nyaman.


" Aku... Aku, Tadi bertemu, Nenek-nenek, Mas. Tidak tega, Jika tidak menolongnya dan mengantarkannya pulang dulu. Karena itu... Aku, Terlambat pulang. Maaf... Aku, Tidak akan membuat, Mu khawatir dan Aku, Juga tidak akan mengulanginya " Jelas Dina dengan jujur pada, Suaminya itu. Diyan tidak menanggapi, Istrinya itu. Diyan, Masuk ke dalam kamar, Dan Dina menyusulnya masuk, Dengan menutup dan mengunci pintu.


" Mas... Mama, Minta, Kita turun dan Makan malam " Kata Dina memberitahu. Diyan, Berbalik badan, Tanpa kata, Mendorong, Dirinya memeluk, Dina.


" Kita, Mandi bersama, Baru makan " Bisik Diyan. Menggelitik Indra pendengaran, Istrinya itu.


" Tapi, Mas... " Perkataan Dina, Belum selesai, Diyan menyelanya.


" Hanya, Mandi, Istriku " Desak Diyan, Dengan tangan berkelana dan Menggendong, Dina ke pelukannya. Dina, Pasrah, Tubuhnya, Di bawa, Diyan kedalam kamar mandi, Mandi bersama.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2