
Waktu berlalu, Hari seli berganti, Sudah seminggu . Belakangan hari ini, Dina selalu pergi bersama Mama dan Adiknya. Pergi ke tempat perawatan kecantikan kulit, dan itu, Atas permintaan Zaskia, Mamanya. Dina tidak enak hati, Bila menolak permintaan Sang Mama, Hingga setiap harinya, Dina selalu mengikuti kemana pun Mamanya membawanya, Hanya karena keperluannya bulan madunya bersama Diyan.
Sedangkan, Diyan, Belakang hari ini, Selalu pulang tepat waktu, Setiap malam makan bersama keluarganya. Namun, Bila di dalam kamar bersama Dina. Diyan sudah bagaikan seekor kucing yang sangat ingin menikmati keindahan lekuk tubuh Dina yang bagaikan Ikan di atas ranjang yang tertidur di hadapannya. Bahkan, Aroma tubuh Istrinya begitu sangat wangi dan memikatnya untuk mendekat dan ingin menikmatinya. Tapi, Seakan ada tembok kaca, Di antara Dirinya dan Dina, Hingga tidak jarang, Diyan mandi air dingin di tengah malam untuk menghilangkan gairah dalam dirinya. Karena, Diyan masih tidak ingin mengambil haknya sebagai seorang Suami terhadap Dina, Istrinya.
Dina tahu, Diyan mandi tengah malam, Hampir setiap harinya. Walau sebenarnya, Dina pasrah, Bila Diyan, Suaminya meminta haknya. Namun, Karena perasaan Malu dan belum terlalu yakin, Dina memilih untuk tetap diam, Dan selalu tidur terlebih dulu. Tapi, Walau pun begitu, Dina tidak pernah menolak pelukan hangat dan kenyamanan yang Diyan berikan padanya, Di setiap dinginnya suasana malam, Dina sangat menikmati kehangatan dan kenyamanan yang Suaminya berikan.
Hari ini, Adalah hari yang Zaskia dan Endra tentukan untuk Dina dan Diyan berbulan madu, Ke suatu tempat yang terkesan dengan keindahan dan keromantisannya. Paris, Di prancis, Memiliki penuh dengan seni, Budayanya yang terbuka, dan Wisatanya yang sangat menarik, Karena Paris menjadi nomor satu di dunia khususnya untuk sepasang Kekasih, Seperti Dina dan Diyan yang sudah menikah. Kotanya yang menyuguhkan pemandangan indah dan Romantis, Dengan adanya Menara Eiffel yang merupakan ikon di kotanya.
Karena Bulan madu, pertama kalinya, Diyan mengambil cuti seminggu, Selama Diyan menjadi seorang Dokter, Dia tidak pernah mengambil cuti setiap tahunnya. Tapi, Untuk pertama kalinya, Diyan meminta cuti pada atasannya. Tentunya, Atasannya mempertanyakan alasannya meminta cuti. Sesudah, Diyan memberikan alasannya, Dengan senang hati, Atasannya memberikan Cuti bulan madu selama seminggu.
Di dalam kamar, Marissa membantu Dina mengemas barang yang di perlukan saja untuk bulan madu Kakak-kakaknya. Walau sebenarnya dan tidak bisa di pungkiri, Marissa sangat ingin ikut, Menikmati suasana Paris yang berada di Prancis. Tapi, Marissa memilih diam dan dengan senang hati, membantu kakaknya mengemas pakaian kedalam koper.
" Kak Dina " Panggil Marissa dengan duduk di pinggir ranjang, Menatap wajah Kakaknya yang sangat Cantik, Akibat dari perawatan kecantikan yang selama seminggu ini Dina nikmati.
" Iya, Rissa, Ada apa? " Tanya Dina dengan mengukir senyum di wajahnya, Dan mendudukkan dirinya di samping Adiknya.
" Katakan saja, Kakak tidak akan marah " Kata Dina lagi, Melihat Adiknya yang tercenung diam di dekatnya, Dan ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi Marrisa terlihat bimbang.
__ADS_1
" Kakak, Jangan tersinggung, Ya...? " Marissa menunduk, menghela nafasnya dan kembali menatap wajah Kakaknya. Dina, Hanya menanggapi perkataan Adiknya dengan anggukan dan senyuman manisnya.
" Sejak... Kapan? Kakak tahu... Kak Dina, Bukan... " Marissa ragu melanjutkan perkataannya. Dina mengerti maksud Adiknya, Senyumannya tidak lentur sedikit pun di wajah cantiknya.
" Rissa... Walau pun, Kakak bukan, Kakak kandung, Kamu. Kak Dina, Tetap akan selalu menyayangi, Mu dan selalu menjadi, Adik kesayangan, Kakak. Kak Dina, Sudah tahu sejak, Kakak masih menjadi Anak kecil " Kata Dina dengan lembut membelai kepala dan rambut Adiknya. Kemudian, Dina menurunkan tangannya, Menautkan jemarinya dan tapak tangannya menjadi satu. Dengan tatapan matanya, Teralihkan dari Marissa, Menatap dinding kamarnya, Mengingat kenangan yang tidak pernah bisa dilupakannya.
" Saat itu, Kamu masih belum ada diantara, Aku, Diyan, Papa dan Mama. Diyan kecil berumur tiga tahun, Belum mengerti dan mengingat apa pun. Aku, Berumur empat tahun lebih, Bertemu, Dengan Diyan, Papa dan Mama. Suatu keberuntungan buat, Aku yang hidup sendirian di tengah panasnya, dan Hujan di bawah langit yang bagaikan atap, Ku dan Tanah, sebagai alas, Ku. Waktu kecil, Aku, Hanya tunawisma, Seorang Anak perempuan kecil yang sangat membutuhkan kasih sayang dan Cinta kasih dalam sebuah keluarga " Air mata tidak dapat di bendung, Hingga Air mata Dina, Membasahi wajahnya yang cantik jelita. Marissa sangat terkejut mendengar kisah, Wanita yang sudah dianggap Kakak kesayangannya, Dan Marissa ikut merasakan sakit dalam tangisnya, dengan air mata membasahi wajah cantiknya.
" Mama dan Papa, mau membesarkan, Aku dan Menjadikan, Aku salah satu Anaknya. Kasih sayang dan Cinta dalam sebuah keluarga yang terkadang, Aku merasa iri dan ingin memilikinya. Aku, mendapatkannya dari Mama dan Papa, Saat itu, Aku sangat bahagia. Hingga, Kehadiran, Mu, Adikku... " Dina menatap wajah Marissa, Kedua Ibu jari menghapus dengan lembut Air mata Adik tersayangnya. Marissa juga melakukan hal sama, Menghapus air mata di wajah cantik Kakak tersayangnya itu. Dina dan Marissa, sama-sama mengukir Senyuman di wajah dalam perasaan hati yang bercampur aduk.
" Waktu terus berlalu, Kita bertiga, Besar bersama, Menjadi saudara dan Seorang teman yang saling membutuhkan. Kakak, merasa sangat bahagia, Dan Kakak tidak lagi berharap... Orang tua atau mungkin kerabat, Kakak. masih ada atau tidak, Mencari dan menginginkan, kehadiran Kakak " Dina menjeda perkataannya, Menarik nafas sebentar yang seakan udara di paru-paru menipis.
" Aku, Dina, Akan selalu menjadi Saudara, Mu dan Kakak, Mu, Adikku. Aku, Akan selalu menggunakan, Nama yang di berikan Papa dan Mama untukku. Dina Zaskia Prabowo, Adalah nama, Ku " Dina mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar, Memeluk Marissa dengan erat dalam kehangatan.
Marissa, Dengan senang hati, Membalas pelukan Dina. Senyuman di wajah cantik keduanya tidak sedikit pun luntur, Tetap terukir indah dan manis. Sampai, Tiba-tiba saja, Ada seseorang yang datang, Dengan suara beratnya yang menggangu suasana haru diantara Dina dan Marissa.
" Dina, Apakah sudah selesai? Waktu kita tidak banyak, Perjalanan sangat panjang, Butuh waktu delapan belas jam dan itu hampir sehari, Kita berdua baru bisa sampai di Paris " Ujar Diyan berdiri di dekat daun pintu, Menatap Istri dan Adiknya, Melepas pelukan, karena kehadirannya.
__ADS_1
" Ada apa? Kalian berdua, Kenapa menangis? " Diyan bertanya-tanya bingung, Melihat Kedua wanita kesayangannya, Hanya diam menatapnya, Dengan wajah sembab yang basah, Karena air mata yang masih membekas di wajah Cantik Dina dan Marissa.
" Kak Diyan, Tidak perlu tahu soal Wanita. Kakak, Jangan lupa aja, oleh-oleh dari Paris untuk, Adik kesayangan, Kakak " Kata Marissa berdiri dari duduknya, Menghiraukan ke ingin tahuan Diyan.
Marissa berbalik badan, Memeluk dan membisikkan sesuatu di daun telinga Dina. Tidak tahu, apa yang Marissa bisikan pada Kakaknya itu, Sehingga membuat pipi Dina bersemu merah, Dengan senyuman malu di wajahnya. Diyan menggelengkan kepalanya, dan Mengakat kedua koper sendiriannya, Tidak terlalu memikirkan, Apa yang kedua Wanita tersayangnya itu bicarakan tadi.
Setelah, Beberapa menit kemudian, Diyan meninggalkan kamar. Dina dan Marissa, Sama-sama keluar dari kamar, Melangkah bersama menuju teras rumah. Di sana, Semua orang berada, Kedua orang tuanya, Kakek dan Nenek, Juga Diyan yang tengah berdiri, Di sisi Mobil yang merupakan Taksi. Taksi yang akan mengantar Dina dan Diyan, Ke bandara internasional Soekarno Hatta.
Sesudah berpamitan, Dengan senyuman senang dan harapan yang besar terpancar, Di wajah dan Di dalam Mata, Semua keluarganya. Dina, Hanya ikut menanggapinya dengan senyuman, Dan begitu juga dengan Diyan, Bibirnya mengukir Senyuman senang. Tapi, Tidak dengan Hati Diyan sendiri, Masih ada rasa bersalah pada kedua orang tuanya dan keraguan serta sedikit rasa takut di hatinya terhadap Istrinya. Diyan takut, Tidak bisa menahan dirinya lagi, Karena setiap kali Dina berada di dekatnya dan bersentuhan dengannya, Tubuhnya dengan cepat memberikan respon dalam dirinya.
" Papa, Mama... Dina sudah siap. Namun, Dina merasa sedikit belum yakin. Tapi... Semoga saja, Suatu hari, Dina tidak mengecewakan Diyan, Mama dan Papa " Dalam hati Dina. Dengan sepasang matanya, menatap, Kedua orang tuanya yang terus mengukir Senyuman, Melihat dari tembusan lapisan kaca jendela mobil, Merelakan kepergian untuk mengabulkan harapan orang tuanya.
" Dina, Aku tidak akan memaksamu. Namun, Aku juga tidak ingin menghancurkan harapan, Mama dan Papa. Aku, akan melakukannya, Jika kamu yang memintanya " Dalam hati Diyan. Melihat sebentar Orang tuanya dari lapisan kaca jendela mobil Taksi dan Menatap Dina yang terus melihat ke arah luar jendela mobil.
" Dina, Anggap saja, Aku dan Kamu, Sedang liburan. Jangan terlalu memikirkan, Perkataan Mama dan Papa " Kata Diyan memecah keheningan di dalam mobil, Mencoba menghilangkan kecanggungan yang menyelimuti dirinya, Dan tidak tahu dengan istrinya itu. Diyan tidak bisa menebak, Apa yang tengah Dina rasakan saat ini?.
Dina tidak menjawab perkataan Diyan yang duduk di sampingnya, di kursi penumpang bersamanya. Dina tetap diam, Tidak tahu apa yang mengusik pikiran dan Hatinya. Sehingga, Dina menghiraukan dan mengabaikan, Suaminya yang menatap diam dirinya. Diyan menghela nafas kasar, Menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi penumpang dan memejamkan matanya dengan tenang. Namun, Diyan tidak menyadari, Dina diam-diam menatapnya sebentar, Dan mengukir Senyuman di wajah cantiknya.
__ADS_1
" Aku, Terlalu malu memintanya, Mas Diyan. Tapi, Aku juga tidak akan menolak, Bila Kamu menginginkannya. Karena sudah menjadi hak, Mu Sebagai Suamiku memiliki, Ku dan Sudah menjadi kewajiban, Ku, Melayani, Mu, Sebagai istrimu " Dina berkata di dalam hatinya, Suara hatinya, Hanya dirinya yang tahu dan Tuhannya, Tidak dengan Pria yang berada di sampingnya.
...Bersambung...