
Kala, Kebahagiaan menghampiri. Tawa canda, Senyuman dan keceriaan, Menjadi campuran rasa yang sangat indah dan menyenangkan. Namun, Suatu masalah yang tiba saja hadir dan tidak di inginkan terjadi. Menciptakan luka dan Duka lara dalam derita yang tidak pernah di harapkan. Kini, Menyelimuti relung hati yang melemah dan sakit.
Diyan, Menatap sedih. Wajah pucat, Istrinya yang hanya berbaring tanpa ada harapan akan bangun dari tidur panjangnya itu. Bahkan, Untuk bertahan hidup. Tubuh kaku istrinya, Di lengkapi dengan alat medis. Membuat, Diyan merasakan sakit di hatinya. Karena melihat itu, Setiap harinya. Teringat, Baru kemarin, Dirinya dan Dina, Begitu amat bahagia. Ketika, Tahu akan segera hadirnya makhluk kecil yang akan menjadi malaikat dalam rumah tangganya yang akan memperkuat pernikahannya.
Genggaman tangannya sangat erat. Menggenggam tangan halus yang begitu dingin dalam dengkapan cintanya. Diyan, Hancur. Saat, Tahu... Dia, Kehilangan bayinya. Merasa tidak berdaya, Melihat wanita yang di cintainya itu, tidak kunjung bangun untuk sekedar membuka mata dan menatap, Dirinya yang berputus asa.
" Dina, Aku Mencintai, Mu. Selalu dan Selamanya... Ku, Mohon jangan tinggalkan, Aku " Kata itu, Lah yang selalu. Diyan, Ucapkan tanpa lelah sambil menatap wajah Istrinya. Dengan mendekatkan, Tangan dingin, Dina, Ke wajahnya yang tirus itu. Dirinya, Bahkan tak terurus. Karena, Kehacuran hatinya dalam menerima kenyataan pahit.
Endra, Datang dari pintu. Berjalan dan memegang kedua sisi pundak, Putra Satu-satunya itu. " Diyan... Makanlah. Setelah itu, Bersihkan, Diri, Mu. Kamu, Jangan terus menerus seperti ini. Dina, Pasti akan marah pada, Papa, Karena tidak memperingati, Mu untuk mengurus, Dirimu, Diyan... "
Berulang. Sudah berulang kali, Endra, Berucap hal yang sama. Diyan, Tidak mengatakan apa pun. Hanya, Diam. Walau, Terkadang, Diyan, Masih mau mandi. Namun, Tidak pernah merapikan penampilannya lagi. Tapi, Zaskia, Selalu memaksa Putranya itu, Untuk makan. Seperti saat ini.
" Diyan! Sekarang, Kamu makan " Ketus Zaskia, Yang sudah entah berapa kali. Zaskia, Tidak menghitungnya.
Diyan, Menatap sepiring makanan kesukaannya yang di berikan, Zaskia. Tapi, Dengan melihatnya, Diyan selalu saja tidak berselera.
__ADS_1
" Diyan... Mama, Mohon. Makanlah... " Lirik Zaskia, Lembut dan Prihatin melihat keadaan Anak-anaknya yang begitu pahit.
Tanpa berucap. Diyan, Mengambil piring itu, dan Memakan hanya tiga suapan dan Setelah itu, Meneguh segelas air putih. Melihat itu, Endra dan Zaskia, Hanya bisa menghela nafas berat. Diyan, Selalu saja seperti itu, Dari semenjak, Dina, Di rawat di rumah sakit. Diyan, Tidak begitu bernafsu melakukan apa pun. Segala sesuatu hanya akan di lakukan di dekat, Dina. Diyan, Hanya akan makan sedikit dan meminum segelas saja.
Setidaknya, Diyan masih mau untuk makan, dan mengurus dirinya. Walau pun tidak sebaik biasanya, Pikir Endra dan Zaskia.
Di tengah keheningan itu. Detektif medis, Berbunyi dan bersamaan dengan itu, Kelopak mata, Dina bergerak dan jari jemari dalam genggamannya, Diyan pun bergerak. Membuat, Diyan, Menangis dalam diam. Serta, Harapan dan kelegaan. Dina, Telah kembali padanya.
Sedangkan, Endra, Telah pergi memanggil Dokter, Dan Zaskia, Berpindah tempat menyetuh tangan, Dina yang satunya. " Sayang, Bangunlah. Kami, Disini bersama, Mu " Ucap Zaskia, Berlinang air mata dengan senyuman kelegaan di binar matanya.
" Mohon, Bapak dan Ibu, Tunggu di luar. Biarkan, Kami yang menanganinya " Ujar Suster itu.
" Tapi, Sus... Saya, Sangat ingin melihat, Putri, Kami sadar. Kami, Mohon... Biarkan, Kami di sini " Ucap Zaskia.
" Maaf, Bu. Silahkan, Keluar... "
__ADS_1
Dengan berat hati, Endra dan Zaskia, Keluar dari ruang rawat, Dina. Sementara, Diyan, Masih menatap wajah dan memegang erat-erat tangan, Dina. Tanpa sedikit pun, Mau melepas, Dina. Karena, Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Dengan melepaskan dan meninggal, Dina. Seperti saat itu. Diyan, Amat menyalahkan, Dirinya. Seharusnya, Dia, Tetap ada bersama, Dina. Dengan begitu kecelakaan itu, Tidak akan terjadi. Dia tidak akan kehilangan bayinya dan Dina, Tidak akan seperti ini!
Ke dua Suster, Yang berusaha menarik, Diyan untuk keluar pun menyerah. Saat, Sang Dokter, Memberikan perintah untuk membiarkannya saja. Karena, Sebagai seorang Pria, Dokter itu, pun sadar apa yang di rasakan, Diyan. Kehilangan Bayinya dan hampir saja kehilangan, Istrinya.
Diyan, Hanya diam. Membiarkan, Dokter dan Suster, Melakukan tugas, Mereka. Memeriksa keadaan, Dina. Dengan harapan, Dina, Pasti baik-baik saja!
Berbagai jenis hal, Dokter lakukan. Memeriksa keadaan, Dina, Dengan bantuan, Suster. Hingga beberapa menit lamanya. Wajah yang tadinya begitu, Gelisah dan Khawatir, Mengukir senyuman di wajah yang tidak begitu tua itu.
" Syurkurlah. Nona Dina, Telah melewati masa kristis dan Komanya. Ini keajaiban dari Tuhan, Allah SWt... Selamat, Dokter Diyan. Istri, Anda kini sudah Baik-baik saja " Ucap Sang Dokter, merasa lega. Diyan, Tersenyum. Senyumannya yang sempat hilang, Kini kembali hadir di wajahnya itu. Setelah, Mendengar perkatan, Sang Dokter.
Dokter, pun memberitahu kepada, Kedua suster itu, Untuk melepas pembantu pernafasan, Dina. Karena, Dina, tidak perlu lagi menggunakanya. Cukup hanya infusnya saja yang perlu di ganti yang baru.
Setelahnya, Dokter dan suster pun keluar dari ruangan itu. Sampai beberapa menit kemudian, Endra dan Zaskia, Memasuki ruangan Dina, Dengan senyuman lebar. Mereka, Merasa sangat bahagia, Mengetahui, Dina, Selamat dan baik-baik saja.
...Bersambung...
__ADS_1