
Paris, Di Prancis, Negara Eropa. Biasa, Di sebut sebagai kota cinta dengan gemerlap cahaya yang, di kenal dengan nuansa yang klasik, Pesonanya yang romantis, Dan bangunan-bangunannya yang ikonis. Mulai dari Menara Eiffel yang menjulang megah, Sebagai ikon kota Paris.
Jam satu pagi, Di Paris. Dina dan Diyan, Menikmati suasana kota Paris yang memikat dan memanjakan mata, Serta jiwa dan raga mereka berdua, Menikmati waktu begadang bersama. Setelah, Matahari mulai muncul, Kota Paris menawarkan keindahan magis yang lebih luar biasa. Kilauan cahaya yang berada, Di Menara Eiffel, terlihat sangat indah.
" Mas Diyan... Aku, Masih ingin di sini " Kata Dina pada Suaminya, Dengan tatapan mata ke abu-abuannya, Menikmati keindahan Paris.
" Aku, Sudah memesan tiket pesawat untuk, Kita berdua untuk pulang ke Indonesia. Karena, Ku rasa, Kita sudah cukup merasakan bulan madu, Di Paris, Dina " Jelas Diyan lembut, Dengan memejamkan matanya dan sesekali membuka matanya, sambil memeluk Tubuh mungil, istrinya dengan kehangatan tubuhnya. Mendekap dari belakang dalam posisi berdiri, Berbalut selimut saja.
Dina, Dan Diyan, Masih sama-sama polos, Hanya satu selimut saja yang menutupi tubuh mereka berdua, Tidak ada sehelai benang yang melekat, Di tubuh mereka berdua. Selesai kegiatan bercinta, Mereka berdua beristirahat sebentar, Dan Kemudian, Menikmati suasana Kota Paris untuk terakhir kalinya. Karena, Itu, Saat ini, Dina memutuskan, Untuk begadang, Menikmati Suasana Paris dan Diyan, Hanya pasrah menuruti keinginan, istrinya itu, Berdiri menghadap jendela hotel yang memperlihatkan keindahan kota Paris pada jam satu pagi.
" Dina, Saat tadi, Aku kembali dan tidak melihat, Mu berbaring, di Ranjang. Itu membuat, Ku sangat takut, Khawatir dan panik " Diyan mulai mengatakan perasaan hatinya pada, Istrinya. Melihat, Dina yang hanya diam, Membuat Diyan tidak nyaman. Sehingga, Diyan ingin mengatakan alasannya Pada, Dina. Kenapa pulang dari waktu yang belum, ditentukan?
Mendengar perkataan, Suaminya. Dina, Perlahan memutar tubuhnya, Menghadap, dan Menatap wajah, Suaminya itu. Diyan, Menghela nafas berat, Berusaha menahan, Dirinya untuk tidak berbuat sesuatu dulu pada, Istrinya. Karena, Gesekkan kulit, Dina, Mulai membangkitkan gairah bercinta dalam, Dirinya.
" Aku, Sudah pernah mengatakan pada, Mu kan? Bila, Tubuh, Ku menginginkan, Mu... Dan Karena melihat, Mu yang kelelahan Tadi... Aku... " Diyan menjeda perkataannya, mendesak Dan memeluk erat, tubuh polos, Dina. Masih berusaha menahan gairah bercinta dalam, Dirinya.
__ADS_1
Namun, Usaha, Diyan gagal, Gairah bercinta dalam dirinya, semakin bertambah, Selain merasakan panas, di kulit, Dina, Diyan juga dapat merasa hembusan hangat, Nafas Dina, Menyapu kulit pundaknya. Dina diam-diam, mengulum senyuman, Di wajahnya, Dengan binar mata ke abu-abuannya, Senang dan malu, Menjadi satu. Di saat, Merasakan benda keras, Menusuk dan memberontak, Di bawanya.
" Aku, Ingin menghindari, Mu sebentar dan... Aku, Bertemu, Kak Kevin, di restoran tempat kemarin kita pernah bertemu, Dia " Sadar tidak sadar, Diyan mendorong tubuhnya kedepan, Sehingga, Dina mundur kebelakang, Dan bersandar pada jendela. Walau sedikit terkejut, Dengan perlakuan, Diyan, Dina tetap mengukir Senyuman, di wajah cantiknya.
" Kevin!? Apa yang, Dia katakan dan Di lakukannya pada, Mas Diyan? Apakah? Kevin dan Mas Diyan, Sempat bertengkar? Atau memang... sudah terjadi sesuatu!? " Ingin rasanya, Dina bertanya langsung pada, Suaminya itu. Tapi, Dina tidak ingin menghancurkan suasana bahagianya bersama, Diyan. Hanya karena menyebutkan nama, Kevin dari mulutnya. Sehingga, Dina hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.
" Dia, Bilang... Jika, Dina tidak bahagia dengan, Ku... Dia, Akan mengambil, Mu dari, Ku... " Desak Diyan, Dengan perlahan, Selimut itu, Mulai luruh kebawah dan jatuh kelantai. Kemudian, Tangan besar, Diyan mulai nakal berkelana, di tubuh polos, Istrinya.
" Aku, Bahagia, Hanya bersama, Mu, Mas Diyan " Kata Dina dengan cepat, Menatap dalam mata sehitam langit malam, Suaminya.
" Dia, Juga bilang... Kita, Harus berhati-hati selagi masih berada, Di Paris... " Lirik Diyan lembut, Menggelitik Indra pendengaran, Dina. Melegakan hati, Dina yang sempat merasa khawatir dan panik.
Diyan, Mengecup dan mengecap cuping telinga, Dina. Hingga, Dina bisa merasakan basah yang hangat, Di daun telinganya. Bibir Diyan, Turun, Mengecup dan mempermainkan lidahnya, Di leher jenjang, Dina yang sudah tidak putih mulus lagi. Dina mendesak nafas berat, Dengan mendongakkan kepalanya, Membiarkan, Diyan menikmati lehernya, Dina kembali merasakan gairah bercinta.
" Dan sepertinya... Aku, Harus berhati-hati terhadap bara api... Yang seakan memanaskan tubuh, Ku, Mas Diyan " Bisikan Dina, Bagaikan irama lagu yang merdu, Membuat darah berdesir hangat dan mulai mendidih dalam tubuh, Diyan.
__ADS_1
" Jadi... Kamu, Mau kan? Kita, Pulang... " Desak Diyan, Dengan bibirnya dan Indra pernafasannya menikmati, aroma wangi, Dina yang bercampur dengan aroma tubuhnya. Diyan sangat menyukai aroma itu, Yang membuatnya semakin bersemangat dan bergairah, Pada tubuh, Dina.
Dengan posisi yang sama-sama, Berdiri. Jemari lentik, Dina meremas rambut hitam dan menekan kepala, Diyan yang bagaikan bayi kelaparan menikmati kedua bola kembarnya. Mengulum, Dan mengecap, Rasa yang seakan memabukkan, Hanya dengan menikmati kedua bola kembar, Dina. Diyan semakin menggila, Dan Dina, Hanya bisa mendesak dan melenguh, Sebagai tanggapan, Dirinya sangat menyukai dan menikmati, Sensasi yang, di ciptakan, Diyan untuknya.
" Suamiku... Aku, Sudah... Tidak tahan... " Desak Dina.
Diyan, Kembali berdiri tegak, Mata sehitam langit malam itu, Mengunus penuh gairah bercinta, pada Mata ke abu-abuan, Dina. Tanpa kata, Diyan tiba saja, Membalikkan tubuh polos, Dina menghadap jendela, Sehingga, Dina membelakangi, Diyan.
" Nikmati pemandangannya, Istriku " Bisik Diyan dengan seringai nakal, di wajah tampan yang terlihat semakin mempesona, Di saat, Sedang bergairah.
" Tapi, Mas... Aaaaaa " Dina, Memekik terkejut, Merasakan serangan dadakan dari belakang, Ular Diyan, Memasuki liang kewanitaannya.
" Mas... Dari... Mana... Kamu, Tahu gaya bercinta seperti ini... Aaaaaaa " Desak Dina, Sambil jemari tangannya yang masih bisa meremas rambut hitam, Kepala Diyan yang berada, di tengkuk lehernya.
" Nikmati saja, Aku masih punya gaya lainnya, IstriKu " Diyan, Berbisik lembut, Sambil sesekali mencium punggung dan Tengkuk leher, Dina. Serta, Diyan menghentakkan kejantanannya pada liang kewanitaan, Dina.
__ADS_1
Awalnya, Hanya sebuah pembicaraan biasa, Menjadi akhir yang menggairahkan dalam jiwa dan Raga. Dina dan Diyan, Menggunakan berbagai macam gaya, Yang semakin membuat Mereka berdua mabuk kepayang dan menggila dalam panasnya gairah bercinta. Menikmati waktu yang ada, Di kota Paris, Sebelum sampai akhirnya, Dina dan Diyan, Kembali ke kota kelahirannya, Yaitu Indonesia.
...Bersambung...