Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
PARIS : Satu kamar


__ADS_3

Dina dan Diyan, Sudah sampai di Paris, Negara yang di penuhi suasana indah romatis. Sepasang Suami-istri itu, Tengah duduk di kursi penumpang, Mobil tour tua berwarna kuning, yang di khususkan untuk Dina dan Diyan berbulan madu. Di bawa langit biru cerah, Di angkasa luas, Memperindah Susana paris yang begitu sangat romantis, Membuat Dina memanjakan matanya, Melihat tiap susunan bangunan yang mewah, Megah dan Juga ada yang Klasik dan Modern. Bahkan, Dina bisa melihat Menara Eiffel yang begitu tinggi, Hampir menyentuh Angkasa.


Terbayang oleh, Dina, Bila malam, Suasana Paris pasti akan lebih indah. Seperti yang di lihatnya, Di internet dan di film-film Romantis yang di tonton bersama kedua Sahabatnya. Tidak jarang, Mata Dina melihat beberapa sepasang kekasih mengumbar kemesraan di tempat umum. Terbesit di pikiran Dina, Membayangkan dirinya berciuman dan mengumbar kemesraan bersama Diyan. Hingga Suara berat dan lembut, Menyadarkan dirinya dari lamunan indahnya.


" Dina, Berhenti menatapnya " Ucap Diyan, Yang memang sejak tadi, Sepasang matanya mengikuti, Kemana pun arah tatapan mata Istrinya.


Dina salah tingkah, Merasa canggung bercampur malu, Karena Suaminya, Memergoki dirinya menatap sepasang kekasih yang berciuman mesra. Dina memperbaiki duduknya, Pura-pura melihat isi ponselnya dan tidak sedikit pun berani menatap Wajah Diyan yang duduk di sampingnya. Diyan tersenyum kecil, melihat tingkah Dina yang tidak pernah berubah, Lucu dan menggemaskan. Menit berlalu, Mobil tour tua yang berukuran kecil berwarna kuning, Berhenti tepat di depan gedung yang merupakan hotel bintang lima terkenal di Paris.


Dina dan Diyan turun dari mobil tour tua itu, Kemudian memasuki gedung mewah dan langsung memesan kamar di resepsionis hotel. Namun, Ternyata, Diyan tidak perlu lagi memesan kamar, Karena Papanya sudah merencanakan semuanya dengan sempurna, Satu kamar untuk bulan madu Dina dan Diyan. Wanita cantik yang bercampur darah Spanyol- Italia, Terpesona dengan ketampanan Diyan yang menawan walaupun menunjukkan aura dingin dengan wajah datarnya. Melihat sikap genit resepsionis Wanita itu, Dina merasa tidak suka melihatnya, Entahlah, Dina tidak bisa menipis perasaannya.


" Suamiku, Bisa cepat sedikit, Aku sangat lelah " keluh Dina dengan bergelayut manja, Melingkar tangannya di lengan kekar Diyan dan menyadarkan kepadanya di pundak Diyan. Seakan mengatakan dan menunjukkan, pada Wanita resepsionis itu, Diyan adalah miliknya.


" Baiklah, Sebentar... " Walau merasa sangat terkejut dengan sikap manja Dina yang tiba-tiba, Tidak di pungkiri, Diyan sangat bahagia.


" Jangan tersenyum seperti itu, Di depan, Ku dan Di depan, Suamiku! Wajah, Mu sangat jelek! " Tukas Dina dalam hati, Ingin rasanya, Dina melontarkan kata-kata sarkastik pada Wanita Cantik resepsionis itu. Namun, Karena dia tidak begitu banyak tahu, bahasa luar negeri, Dina diam dengan perasaan yang sangat kesal.


Wanita resepsionis itu, Tersenyum hangat, Dan senyuman itu, membuat Dina merasa kesal. Dia mengerti maksud Dina yang merupakan pelanggan Hotelnya. Karena, Hal ini sudah sering terjadi, Jadi jangan salahkan dirinya yang mudah terpesona pada ketampanan Pria di depannya.


Setelah, Diyan mengambil kunci yang di berikan Wanita resepsionis. Dina dan Diyan, Mengikuti langkah seorang Pria tampan yang merupakan pelayan hotel, Sedang membawa barang-barang mereka. Mengantar Dina dan Diyan ke kamar yang di maksud Wanita resepsionis tadi.


Sesudah sampai, Tepat di depan pintu kamar hotel. Diyan memberikan Tips pada Pria tampan pelayan hotel itu. Kemudian, Pria itu pergi, Diyan membuka pintu dan Dina langsung masuk, Menjatuhkan dirinya di ranjang besar kamar hotel. Diyan menutup pintu, dan menguncinya. Kemudian menelpon seseorang, Diyan memesan makanan dari layanan hotel.

__ADS_1


" Dina, Kamu istirahatlah dulu " Kata Diyan dan berbalik badan, Membelakangi ranjang dan istrinya.


" Kita berdua akan satu kamar. Papa dan Mama sudah merencanakan semuanya. Kamu, Gak apa-apakan? " Jelas Diyan. Dina bangun dan terduduk di atas ranjang, Menatap punggung belakang Suaminya.


" Aku, Bisa tidur di lantai atau di Sofa. Agar, Kamu merasa nyaman " Belum sempat Dina menjawab Perkataan yang sebelumnya, Diyan berkata lagi dan kemudian berlalu pergi memasuki kamar mandi, Ingin membersihkan diri. tidak sedikit pun membiarkan Dina mengatakan apa pun.


Dina terdiam mematung, Menatap kosong pintu berwarna putih kamar mandi hotel itu yang tertutup rapat. Dina menunduk dan mendesak nafas kecewa, Sedikit merasa tidak senang, Mendengar perkataan yang di lontarkan Diyan padanya.


" Kenapa jadi seperti ini...? Rasanya... Aku, Menikahi Pria yang baru kemarin mengenal diri, Ku. Padahal... Aku dan Mas Diyan, Sudah mengenal sejak kecil... " lirik Dina, Kembali membaringkan dirinya dan menatap langit-langit kamar hotel.


" Apa harus, Aku yang memintanya? " Dina menghela nafas kasar, sambil menumpuk tangan kanannya menimpa kening dan matanya yang terpejam rapat. Mengistirahatkan pikiran dan hatinya, Di dalam kesunyian kamar hotel yang bergaya modern.


" Syukurlah... Dina, Masih tidur " Ucap Diyan menatap sebentar Istrinya itu.


Diyan melepas mantel putih berbulu, Membiarkan mantel itu tergeletak tidak berdaya di lantai. Dengan membelakangi ranjang, Diyan memakai pakaiannya. Namun, Diyan tidak tahu, Jika sebenarnya Dina tidak benar-benar tidur. Dina bangun tanpa bersuara, Tidak terkejut sedikit pun dan tanpa malu, Duduk diam menatap punggung belakang polos Suaminya yang tengah memakai pakaian di depannya.


" Mas Diyan " Diyan baru saja selesai memakai kain segitiganya, Suara istrinya, Mengagetkan Diyan.


Dengan cepat, Diyan mengambil mantel yang tergeletak di lantai itu, tanpa sedikit pun menatap Dina. Diyan memakai mantel putih berbulu itu, Dengan terburu-buru. Dina turun dari ranjang, melangkah mendekati Suaminya yang belakanginya.


" Berhenti dan lepaskan tangan, Mas Diyan" Pinta Dina yang berdiri di hadapan Suaminya, Sembari tangannya, Memegang dan menahan tangan Suaminya yang ingin mengikat tali mantel itu di bagian pinggang.

__ADS_1


" Dina... Pergilah mandi, Sebentar lagi Kita akan makan bersama " Kata Diyan, Menghilangkan perasaan kegugupannya. Tapi, Diyan menuruti permintaan istrinya, Menurunkan tangannya dari tali mantelnya.


" Aku, Akan mandi, Sesudah ini, Suamiku " Tanpa menatap reaksi wajah Suaminya, Dengan kedua tangannya, Dina membuka tali mantel yang di kenankan Suaminya.


" Dina... Apa yang kamu lakukan? " Tanya Diyan, Dengan suhu tubuhnya yang memanas. Merasakan sentuhan lembut dari rabaan tangan Istrinya.


Dina mendongakkan kepalanya, Menatap lekat bola mata hitam Suaminya yang bagaikan warna gelapnya malam yang mampu menenggelamkannya di dalamnya. Bagaikan tersihir pada tatapan mata indah Dina yang berwarna ke abu-abuan itu. Antara sadar tidak sadar, Diyan melangkah mundur, mengikuti dorongan kedua tangan lembut Dina yang berada di dada bidangnya.


Sampai akhirnya, Tubuh kekar Diyan jatuh dan terbaring terlentang di atas ranjang. Dina semakin mendekat, Mendekat dan menimpa tubuh kekar Suaminya. Jangkung Diyan naik turun, Tatapan matanya turun, Menatap bibir Pink alami istrinya yang menggoda. Dina tersenyum manis, Wajahnya tepat di atas wajah tampan Suaminya. Dina merasa dirinya, Sebagai Wanita Penggoda, Hanya untuk Suaminya.


Namun, Ketika, Bibir Dina sudah mencium dan ingin menjamah bibir Suaminya. Terdengar suara bel pintu berbunyi, Menandakan ada yang datang. Dengan cepat, Dina turun dari ranjang, Menjauhi tubuh kekar Diyan, Dan langsung masuk kamar mandi. Dina merasa sangat malu, Dengan apa yang dilakukannya, Karena godaan tubuh kekar berotot Suaminya dan keinginan hati dan tubuhnya, Membuat Dina berani melakukannya.


" Apa... Dina, Mau melakukannya...? " Bisik Diyan, Dengan binar mata senang.


Diyan bangun dari ranjang, Tersenyum dan tangannya menyentuh bibirnya. Diyan tentunya terkejut, sekaligus merasa sangat senang dengan perlakuan Istrinya. Diyan memperbaiki mantelnya, Berjalan mendekati pintu dan membukanya, mempersilahkan pelayan hotel itu masuk, Dengan membawa makanan yang di pesannya tadi.


Selesai meletakkan dan menata makanan juga minuman di atas meja putih klasik yang di balut kain biru. Pelayan hotel itu, Membungkuk sedikit, Dengan sopan dan berlalu pergi. Diyan kembali menutup pintu, dan melanjutkan memakai pakaiannya. Menit berikutnya, Dina keluar dari kamar mandi, Dengan memakai mantel mandi berwarna Pink, Dina lupa mengambil pakaiannya. Karena terburu-buru memasuki kamar mandi dalam perasaan yang sangat malu.


Suasana canggung menyelimuti hati Dina dan Diyan. Keduanya, Hanya diam saja, Dalam menikmati makanan dan minuman yang di hidangkan pelayanan hotel. Dengan tenang, Tanpa ada sedikit pun pembicaraan di dalamnya, Hanya bunyi dentingan sendok dan piring, Mengiringi kecanggungan di antara Dina dan Diyan.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2