
" Tentu. Aku, Akan selalu merasa bahagia dan Aku, Tidak sabar menugu kabar kehamilan, Istri, Mu "
" Aku, Tidak akan membiarkan, Dia hamil anak, Ku. Tapi, Daddy, Sangat menginginkan, Cucu dan Aku, Tidak bisa menolaknya "
" Kamu, Jangan berkata seperti itu, Kevin. Aku, Yakin. Di sisi hati terdalam, Mu. Kamu, Juga sangat mengingin seorang anak dan Kamu, Juga sudah menyukai, Wanita itu. Bila, Kamu tidak percaya pada, Perkataan, Ku. Tanyakanlah, Pada hati, Mu " Dina, Berucap tanpa menatap, Kevin lagi. Dia, Sibuk memasukan keperluannya kedalam tas tangannya.
" Baiklah. Aku, Harus pergi dan Kembali ke rumah, Untuk beristirahat. Kamu, Juga segeralah, Kembali. Aku, Tebak... Istri, Mu sedang menunggu, kepulangan, Mu di rumah "
" Dina, Kamu sepertinya sangat suka, Menggoda, Ku. Sejak tadi, Kamu, Selalu saja menyebut istri, Ku itu. Apa, Kamu menyukainya? " Ujar Kevin, Bertanya sedikit tidak senang.
" Ya. Aku, Menyukainya. Dia, Seorang teman yang sangat baik dan sangat berbeda dengan Wanita lain. Suatu hari, Aku ingin bertemu dengannya. Boleh? " Dina, Berucap dengan meminta persetujuan, Kevin.
" Tentu saja. Tapi, Aku tidak tahu kapan? "
" Nanti saja. Saat, Aku mendengar kabar. Bila, Istri, Mu sudah mengandung dan Aku, Yakin. Itu tidak akan lama lagi "
" Sepertinya, Kamu sangat ingin, Aku menjadi Ayah dari, Wanita yang tidak, Aku cintai itu, Dina " Kata Kevin, Yang seakan sengaja tidak membiarkan, Dina, pergi dari hadapannya.
__ADS_1
" Kevin, Kamu pasti akan menjilat ludah, Mu sendiri. Sudahlah, Aku pamit dulu. Berbicara dengan, Mu tidak akan ada habisnya dan Aku, Merasa senang. Kamu, Tidak berubah dan Aku, Jadi merasa semakin yakin. Istri, Mu hidup bahagia, Bersama, Mu " Ujar Dina. Dan Kemudian, Menggapai dan membuka, Pintu kaca itu.
" Da! Aku, Pulang duluan ya?! " Tanpa mendengar balasan, Kevin. Dina, Pergi menjauh dan melangkah, Menujuk pintu keluar restoran.
Sedangkan, Kevin, Terduduk lagi di sofa dengan tidak bertenaga. Seakan, Kuatan dan Semangat hidupnya, di bawa pergi oleh, Dina.
" Semua, Sudah berakhir... " Lirik Kevin putus asa.
Seperti perkataan banyak orang. Walau berat merelakan kepergian seseorang yang, Kita cintai dengan asalkan, Dia bahagia. Hati ini, pun akan bahagia. Walau sulit, Untuk melupakan semua tentangnya dan rasa manis. Ketika, Saat-saat yang dulu bersamanya yang kini tersisa hanya kenangannya saja.
Sementara, Dina, Yang tengah berdiri menunggu kedatangan supirnya. Tidak menyadari, Di tempat yang tidak jauh darinya. Ada mobil merah, Di dalamnya ada seorang Pria, Mengenangkan, Jaket hitam kulit. Menatapnya dengan tajam, Bagaikan burung elang yang siap menyerang masangnya.
Apa yang akan, Pria itu lakukan pada, Dina?
Mobil berwarna silver, Berhenti tepat di depan, Dina. Sang supir, Keluar dari mobil dengan cepat, Membukakan pintu penumpang untuk, Nonanya. Dina, Pun tersenyum dan masuk ke dalam mobil silver itu. Kemudian, Sang pak supir, menutup kembali pintu mobil dan berjalan cepat, Menujuk depan pengemudi mobil.
Mobil silver itu, Menyala dan berlalu pergi meninggalkan perkarangan restoran. Di susul, Mobil merah di belakangnya. Jalan raya yang terasa lancar, Kala waktu sore. Membuat, Dina, Sedikit bingung. Merasa sore ini, Berbeda dengan hari biasanya. Karena, Biasanya, Kala sore hari, Jalanan akan sangat macat, Akibat ramainya para pengendara, pekerja dan Para anak kuliahan yang menyelesaikan kegiantan, Mereka. Tapi, Kendaraan di jalan raya begitu tidak terlihat Ramai.
__ADS_1
Namun, Dina, Tidak terlalu memikirkannya. Tapi, Dina, Dapat merasakan perasaan di dalam hatinya yang semakin terasa. Hatinya seakan berkata. 'Sesuatu akan terjadi' . Hanya saja, Dina, Tidak mengerti dan mengabaikan Firasat itu. Karena, Mungkin Dirinya yang tengah hamil. Jadi, Sangat sensitif akan sesuatu. Pikirnya.
Sayangnya... Dina, Salah besar. Dirinya, Tidak menyadari bahaya akan segera menghampirinya. Dengan suatu pristiwa yang tidak terduga. Bahkan, Langit pun sudah di selimuti, Awan hitam. Matahari, Bersembunyi dengan sinarnya, Di balik awan putih yang masih tersisa, Di Angkasa.
Sepasang mata indah, Dina, menatap kesebelah kirinya. Ada jurang terjal dengan pembatas besi yang sudah berkarat dan hancur. Sementara, Di sebelah kanannya muncul mobil merah bernuansa mewah. Dan, Tiba-tiba...
Brak!
Bunyi benturan itu, Cukup keras. Mobil, Dina, Tumpangi yang tepat berada di dekat pembatas itu. Tidak mampu, Menahan bobot tubuh mobil, Dina. Ketika, Dengan sengaja mobil merah bernuasa mewah yang mengikutinya sejak tadi. Memiliki kesempatan yang sangat besar untuk memcelakainya. Dengan keras menyenggol mobilnya. Sehingga pada akhirnya, Kecelakaan pun terjadi. Mobil silver, Tempat, Dina berada sudah berguling-guling di jurang terjal itu.
Angin, Seketika bertiup kencang. Kilatan dan gemuruh langit, Berbunyi dengan cukup keras. Waktu, Dina, Seakan terhenti, Hingga akhirnya. Dina, Menangis, Menyadari, Dirinya dan Bayinya yang belum sempat melihat dunia akan tiada.
Dina, Memeluk erat perutnya yang berisikan buah hatinya yang tidak bisa lagi di harapkan kehadirannya. " Maafkan, Mama, Sayang! " Lirik Dina, Pilu.
Mobil itu, Pun berguling, Hingga tidak berbentuk dan rusak di dalam jurang itu. Hujan pun turun dengan deras. Menit kemudian, Ambulans dan beberapa mobil polisi berdatangan dan berhenti di sisi jalan, dekat jurang itu.
Orang-orang yang menyaksikan pristiwa itu. Bertanya-tanya, Apakah sudah tiada? Atau Masih adakah kesempat, Dina untuk hidup di dunia? Entahlah... Hanya, Tuhanlah yang tahu. Kematian tidak akan ada yang menduganya. Saat ini, Besok atau Nanti. Suatu kematian yang akan terjadi, Tidak seorang pun yang tahu, Kapan? Dimana? Dan saat sedang apa? Itulah, yang saat ini, Dina, Alami. Dirinya, Tidak tahu. Jika, Azal atau pun Maut ingin menjemput, Dirinya dan Bayinya. Tapi, Satu yang, Dina sadari, Dirinya telah kehilangan, Bayinya. Makhluk kecil, Yang sangat di harapkan kehadirannya. Kini, sudah tiada, Sebelum melihat luas, Indah dan berbagai jenis apa pun yang ada, Di Dunia.
__ADS_1
...Bersambung...