Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
BANDUNG : Kejadian kemarin malam


__ADS_3

Langit biru terlihat sangat indah, Kala pagi buta menyelimuti kota Bandung, Dengan sinar matahari begitu indah. Suasana dingin yang terkesan Romantis, Sepasang kekasih dan para orang tua, Menikmati suasana dinginnya pagi buta itu. Dengan memberikan kehangatan dalam sebuah pelukan dan juga menikmati hidangan roti dan teh hangat atau kopi, Di tempat makan yang sudah buka, Di pagi buta. Tapi, Tidak dengan, Seorang Pria yang tengah mengemudikan mobilnya dengan cemas dan panik, Di pagi buta.


" Sial! Bagaimana, Aku bisa lupa?! Dina, masih, Di rumah panggung dan... Aku, Meninggalkannya satu malam ini. Diyan! Bodoh! " Seru Diyan, Memaki dirinya sendiri.


Diyan, Menambah laju mobilnya, Hingga tiba, Saatnya. Diyan, Menghentikan mobilnya tepat, Di depan rumah panggung. Kemudian, Dirinya, Turun dan keluar dari mobilnya. Berlari, Menaiki tangga dan segera membuka pintu yang tidak terkunci, Seakan menunggu kepulangannya. Diyan, Merasa marah pada, Dirinya sendiri, Akibat kejadian semalam, membuatnya melupakan, Dina.


Diyan, Menutup pintu kembali, Dan berjalan cepat, menaiki tangga. Hingga terlihat pintu berwarna abu-abu cerah, Terkesan klasik. Dengan sedikit tidak yakin, Dan pelan-pelan, Tangan besarnya menggapai kenop pintu dan memutarnya, Perlahan pintu terbuka.


Diyan, Mendesak nafas lega, melihat, Dina tertidur lelap, Di atas ranjang dengan selimut tebal. Diyan, Melangkah pelan, Mendekati ranjang dan Duduk, Di sisi, Dina.


" Maaf... " Lirik Diyan, Dan mengakhirinya, Dengan mencium kening, Dina.


Kilauan cahaya matahari, Menyusup dari jendela yang menyapa, Dina dan perlakuan, Diyan. Membangun, Dina dari mimpi indahnya, Dengan perlahan matanya terbuka.


" Mas... " Kata pertama Dina, Ucapkan, Ketika membuka mata ke abu-abuannya, Melihat wajah tampan, Suaminya yang tersenyum padanya.


" Iya, Ini, Aku " Jawab Diyan lembut, dan Mencium punggung tangan, Istrinya yang ada dalam genggamannya.


" Mas, Kapan pulang? Kenapa, Aku tidak tahu? " Tanya Dina. Setelah, Dirinya duduk bersandar, Di kepala ranjang. Dengan tidak sedikit pun, Mengalihkan perhatiannya dari wajah kusut, Suaminya yang terlihat jelas kelelahan.


" Sebelumnya... Aku, Minta maaf... Kemarin malam... " Diyan menjeda perkataannya.


" Apa, Aku beritahu saja, Kejadian semalam yang sebenarnya?! Tapi... " Dalam Hati, Diyan, Merasa gelisah dan cemas.


Namun, Di tengah, Kecemasan dan kegelisahan, Di hati dan sikap diam, Diyan. Dina, Tanpa sengaja melihat tanda merah, Di leher, Diyan. Sedangkan, Dina merasa, Tidak membuat tanda merah, Di leher, Suaminya. Sehingga, Menyulut amarah dalam hatinya, Dengan wajah yang memerah. Dengan kasar, Dina menghempaskan tangan dingin dan besar, Diyan. Sehingga, genggaman tangan, Diyan terlepas dari tangan lembut, Dina.


" Katakan dengan jujur, Mas! Apa yang terjadi semalam?! Dan dari mana tanda merah, Di leher, Mu itu?! Jangan bilang! Mas, terjebak dan main gila dengan, Wanita lain, Mas! Aku, Tidak sebodoh itu! " Hardik Dina dingin dalam perasaan marah.


Diyan, Terkejut dan mematung diam. Tubuhnya kaku, merasakan kemarahan, Istrinya. Dirinya, Melupakan tanda merah yang menodai lehernya, Dan Di lihat, Istrinya. Dina, adalah seorang Wanita, Seorang istri, Dan Istri mana yang tidak marah? Melihat tanda merah, Di tubuh, Pria, Yang merupakan, Suaminya. Tatapan mata ke abu-abuan, Dina Mengunus tajam sepenuhnya pada, Suaminya itu, Yang masih diam, Di hadapannya.


" Dina... Dengar... Aku... Aku, Akan mengatakan sejujurnya dan menjelas apa yang terjadi semalam? Tapi... Kamu, Tenanglah. Aku, Tidak melakukan hal yang, Kamu pikirkan... " Kata Diyan merasa takut pada kemarahan, istrinya itu.


Dina, Melipat kedua tangannya, Di atas perutnya. Tidak lagi menatap wajah kusut, Suaminya itu, Lebih suka menatap ke arah jendela kamar yang memperlihatkan keindahan pemandangan alam, yang terasa menenangkan hatinya.

__ADS_1


" Di acara pesta kemarin malam... " Diyan mulai menceritakan kejadian kemarin malam yang, Di alaminya.


Flash back on


Diyan, yang masih menikmati kue, Sambil sesekali memperhatikan para teman kuliahnya, Bergoyang heboh, Mengikuti alunan musik DJ yang menggelegar, Di Ruangan Aula. Dengan beberapa orang-orang, Di antara, Menikmati minum yang tidak terlalu tinggi kadar minuman kerasnya. Raditya, Datang dan memberikan, Segelas jus jeruk pada, Diyan.


" Ni, Minum " Kata Raditya santai.


" Thanks " Ucap Diyan, Sambil menerima jus jeruk pemberian, Raditya.


Diyan, Mengakat segelas jus jeruk itu, Di bibirnya dan ingin meminumnya. Raditya, Diam-diam mengawasi setiap pergerakan, Diyan yang tinggal sedikit lagi, Akan meminum jus jeruk pemberiannya. Namun, Di karenakan, Mata sehitam langit malam, Diyan. Menatap, Ke arah, Seorang Wanita yang, Di tarik paksa oleh, Seorang Pria asing. Menghentikan niat, Diyan yang ingin meminum jus jeruk itu.


" Itu kan, Riana! " Gumam Diyan terkejut. Tanpa sengaja, Tangannya melepaskan dan menjatuhkan jus jeruk yang hampir saja, Di minumnya, Ke lantai aula.


" Eh! Yan, Ada apa?! Kenapa? " Kata Raditya sangat terkejut, dan Penuh tanya. Mendengar dan hampir saja, pecahan gelas, Di lantai mengenai kakinya.


" Dit, Kita, Bantuin, Riana! " Seru Diyan, Dan Langsung berlalu pergi, Berjalan cepat menuju, Wanita yang bernama, Riana.


Diyan, Melemparkan kepalan tangannya dan memukul wajah, Pria asing itu, Yang setengah mabuk dalam pengaruh Wine. Sehingga, Pria asing itu, Jatuh dan terduduk, Di lantai, Sambil memegangi pipinya. Raditya, Bertindak, Menarik tangan, Pria asing itu, Berdiri dan langsung, Menjeratnya, Agar tidak berulah.


" Dit, Aku akan antar, Riana pulang dan sekaligus, Aku, juga mau pulang, Ya! " Hardik Diyan, Sedikit keras, Di karena suara dentuman musik, mengganggunya.


" Eh! Jangan dulu, Yan! Itu, Firna! Nunggu, Di lobi laboratoriun! " Tukas Raditya. Meninggikan suaranya, Di Karena suara speaker tepat berada, Di belakangnya.


Diyan, Tersenyum tipis mendengar suara, Raditya. Tangannya, Memegang tangan, Riana yang terasa halus dalam genggamannya. Dirinya, akan membawa, Riana yang sudah mabuk, Segera akan, Di bawanya untuk meninggalkan tempat ini.


" Raditya, Firna sudah tahu! Aku, Sudah menikah dan Besok sore, Jam empat! Kita, ketemuan, Di tempat biasa! Sekalian, Aku juga akan membawa, Istriku, Bersama, Ku! Da! Sampai jumpa, Besok, Raditya! " Jelas Diyan, Sambil menepuk pundak, Raditya berulang, Dengan tangan kanannya. Karena, Di tangan kirinya, Tengah menggenggam, Riana.


Raditya, Sangat terkejut, mendengar suara, Diyan yang begitu jelas, Di Indra pendengarannya. Diyan, Berlaku pergi sambil membawa, Riana bersamanya. Memasukkan, Riana ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan, Universitas Padjadjaran. Dengan mengendarai mobilnya melewati dinginnya malam yang begitu larut.


Sampai, Di menit kemudian, Diyan menghentikan mobilnya, Di depan rumah kecil minimalis, Rumah Riana. Diyan, Keluar dari mobilnya, Berjalan dan mengitari sebagian mobilnya. Kemudian, Membuka pintu mobil untuk, Riana. Tapi, Ketika, Diyan melepas sabet, Riana.


Diyan, merasakan gigitan dan hisapan kecil, Di lehernya. Diyan, merasa sangat terkejut, dan langsung menarik, Dirinya. Berdiri, Tegak, Di sisi mobilnya, Dengan jantung yang berdebar kencang, Merasa sangat merah pada, Riana. Namun, Apa yang bisa, Diyan lakukan dan mau, Di katakan? Riana, tidak sadar karena sudah menciptakan tanda merah, Di lehernya. Sedangkan, Riana yang sudah membuat tanda merah, Di leher, Diyan, Tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Dengan sedikit keras, Diyan kembali menutup pintu mobilnya. Berlari dan mengetuk pintu, Rumah Riana berulang-ulang. Hingga, Di menit kemudian, Sepasang Suami-istri, Paru baya, Terlihat, Di saat pintu sudah terbuka.


" Sebelumnya... Perkenalkan, Pa, Bu. Saya, Diyan. Teman satu kuliah dengan, Riana " Kata Diyan sopan, Langsung ingin menjelaskan. Sebelum, Orang tua, Riana berprasangka buruk padanya.


" Kehadiran, Saya, Hanya mengantarkan, Riana pulang saja. Tapi... Saat ini, Riana mabuk dan tidak sadarkan, Diri, Di mobil, Saya " Jelas Diyan, Sesudah menyalami dengan sopan kedua orang tua, Riana.


" Dan Bapak, Ibu, Tenang saja. Saya, Tidak melakukan apa pun pada, Riana. Karena, Saya juga sudah menikah "


" Iya, Nak Diyan. Kami, percaya dengan yang, Nak Diyan katakan dan sekarang... Riana, Mana? " Kata Ayah, Riana. Tidak berpikir buruk mau pun, salah sangka pada, Diyan.


" Iya, Nak. Dimana, Riana? Kenapa, Ibu tidak melihatnya? " Tanya Ibu, Riana. Merasa bersyukur, Dan tidak marah pada, Diyan. Karena, Membawa pulang, Putrinya, Di larut malam. Walau tentunya, Merasa sangat kecewa dan sedih, Mendengarkan yang, Di katakan, Diyan.


" Mari... Pa, Bu, Ikut, Saya "


Diyan, Melangkah terlebih dulu, Menuju mobilnya. Dengan, Di ikuti, Kedua orang tua, Riana. Orang tua, Riana nampak kecewa, Sedih dan terkejut, Melihat sikap, Riana seperti yang, Di katakan, Diyan, Di dalam mobilnya, Tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya, Diyan meninggalkan rumah orang tua, Riana, Sesudah berpamitan. Karena, Diyan Beralasan, Istrinya, Menunggu kepulangannya dan tidak bisa meninggalkan, Istrinya terlalu lama. Namun, Dalam perjalanan, Diyan mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit, Kota Bandung. Mau tidak mau, Diyan pun pergi ke rumah sakit Bandung, Menangani operasi dadakan dan lupa Memberitahu, Dina, Dirinya terlambat pulang.


Flash back off


" Sesudah dari rumah sakit, Aku pulang ke rumah, Kita yang dulu. Karena merasa sangat lelah dan mengantuk, Aku lupa. Jika, Kamu masih ada, Di rumah panggung ini " Jelas Diyan, Mengakhiri ceritanya.


" Maaf, Dina. Aku, Belum Mengatakan semuanya. Riana, Teman kuliah, Ku itu, Adalah istrinya, Kak Kevin " Dalam hati, Diyan.


" Dina, Maaf... Aku, Salah " Lirik Diyan membutuhkan belas kasihan dari, Istri tercintanya.


Mendengar, Dan melihat kejujuran, Di mata dan Juga wajah kelelahan, Suaminya itu. Bahkan, Baju kemarin yang, Di kenankan, Diyan untuk ke acara pesta kemarin malam, Kusut dan berbau tidak enak, Di Indra penciuman, Dina. Merasa tidak tega, Dina mendesak nafas kasar. Memcoba tidak berpikir macam-macam, Dan selalu percaya pada, Diyan.


" Baiklah, Mas. Aku, Akan memaafkan, Mu. Tapi! " Seru Dina, Sambil membentang tapak tangannya. Sebelum, Diyan ingin memeluk, Dirinya.


" Tapi, Apa? " Tanya Diyan dengan tidak tenang, Dihatinya dan membiarkan kedua tangannya yang ingin memeluk, Dina, Mengambangkan, Di udara.


" Tapi, Sebelum tanda merah itu, Hilang dan Aku, Belum bertemu dengan teman kuliah, Mas itu. Aku, Tidak akan membiarkan, Mas, Menyentuh, Ku atau pun melakukan itu! " Ketus Dina dengan wajah kesal. Berlaku pergi meninggalkan, Diyan yang terkejut dan mematung diam, Bagaikan patung mendengarkan Perkataannya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2