Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
BANDUNG : Rumah panggung


__ADS_3

Dina dan Diyan, Menikmati waktu berdua Mereka selama, Di Bandung. Tapi, Hari ini, Diyan tidak mengatakan, Akan membawa, Dina kemana? Membuat, Dina merasa sangat penasaran, setiap kali bertanya pada, Diyan, Akan kemana mereka berdua pergi dan Diyan tidak mengatakannya, Hanya meminta pada, Dina untuk sabar dan Duduk dengan nyaman, Di sampingnya.


Langit biru cerah, dan Awan putih, Di Angkasa. Serta, Keributan dan lalu lalang para pengendara motor dan mobil. Menemani perjalanan, Dina dan Diyan, Yang Dina sendiri pun, Tidak tahu akan kemana, Diyan membawanya pergi. Walau, Dina tidak masalah kemana pun, Suaminya itu, Membawa, Dirinya. Tapi, Dina terlanjur penasaran, Sangat ingin tahu tempat yang akan, Dirinya dan Suaminya tuju.


" Mas " Panggil Dina dengan malas. Rasanya, Dina bosan memanggil dan menunggu dalam diam, Di perjalanannya bersama, Diyan.


" Apakah masih lama? Aku, Sangat bosan dan... Penasaran, Mas! " Kata Dina sambil menatap kesal, Wajah tampan itu, Yang tersenyum, Di tengah rasa kebosanan, penasaran dan rasa kesalnya, Sejak tadi.


Jika, Bisa, Ingin rasanya, Dina Menghukum, Suaminya itu, Saat ini juga. Tapi, Apa bisa buat? Dirinya dan Diyan, Ada di dalam mobil dalam lingkungan umum. Tidaklah mungkin, Menghukum, Suaminya, Di depan umumkan?! Dina, Masih punya akal sehatnya, Walau rasanya ingin marah, Karena terlalu penasaran. Dina, tetap tenang, Dan Akan Menghukum, Suaminya itu, Nanti.


" Sebentar lagi, Kita akan sampai, Dina " Jawab Diyan lembut, Sambil membawa mobilnya, Masuk daerah yang hampir semuanya. Pohon hijau yang tidak terlalu tinggi, Dan beberapa rumah yang terbuat dari batu dan kayu, Juga terlihat, Di kanan kiri jalan, Tanpa ada perwarna cat, Di dinding rumah-rumah itu. Namun, Jalan yang, Dilaluinya Aspal.


" Kita... Ada, Di hutan, Mas? " Tanya Dina sedikit takut, Sambil menatap depan, Kanan, Kiri dan Belakang, Bergantian. Sangat sunyi, tidak satu pun terlihat ada orang lain, Selain tumbuhan dan beberapa rumah yang cukup sedikit. Menemani laju mobil, Diyan melewati setiap pepohonan dan rumah, Tanpa warna.


" Memang menyerupai hutan. Tapi, Ini bukanlah hutan, Dina. Di depan... Kamu akan tahu? Kita berada, Di mana sekarang? " Kata Diyan, Menatap kedepan, dengan memelankan laju mobilnya dan membuka kaca jendela mobilnya.


" Dan... Jangan takut, Ada, Aku yang selalu bersamamu " Diyan kembali menatap wajah cantik, yang sudah berkeringat dingin. Dengan rasa takut, Gelisah dan Cemas, Terlihat jelas, Di wajah, Istrinya.


Dina, Mengagukkan kepalanya, Menanggapi perkataan lembut, Suaminya. Hingga, Udara dingin yang terasa menenangkan hatinya, Dina mengulurkan tangannya keluar, Merasakan angin menyapa kedatangannya. Merasa kurang menyenangkan, Dina mengeluarkan kepalanya, Membiarkan wajah dan rambut panjang indahnya, Di belai lembut, Dengan angin yang berhembus menyambut kedatangannya, Sangat menyenangkan.


Dina, Memejamkan matanya, Menikmati semilir angin. Diyan, Tersenyum, Melihat tingkah, Dina yang sejak dulu hingga sekarang tidak berubah. Merasakan kehangatan, Di hatinya dan desiran lembut, Di darah yang mengalir, Di pembuluh darahnya. Sampai, Mencapai jantung, Membuat debaran jantung, Diyan berdebar kencang. Mengenang masa indah yang begitu manis, Di depan sana, Di balik cahaya yang ada, Di hadapannya.


Melewati, Kehidupan sunyi, dan secercah cahaya indah, Merasakan kehidupan yang bahagia, Diyan Menghentikan mobilnya. Mata ke abu-abuan, Dina berbinar terkejut bercampur rasa bahagia. Melihat pemandangan yang begitu takjub dan indah, Di depannya.


Bangunan yang berdiri, Di atas kayu, Yang menjaga berat rumah berwarna Abu-abu berpadu putih, adalah Rumah panggung. Di sisi lainnya, Ada air terjun buatan, Dengan danau berukuran sedang, Di bawanya. Serta, Berbagai jenis warna bunga mengelilingi, Rumah panggung, Air terjun dan Danau buatan itu, Sangat indah. Bahkan, Dina dan Diyan, Bisa menghirup aroma yang sangat wangi, Khas bunga yang bermekaran. Juga melihat, Ada berbagai jenis warna kupu-kupu yang hinggap dan berterbangan, Di dekat bunga-bunga yang indah itu.


Debaran jantung, Dina berdebar kencang, Seiring mata ke abu-abuannya, Menatap pemandangan yang sangat indah itu, Di balik kaca mobilnya. Sangat bahagia, Dina keluar dan turun dari mobil, Berlari dengan kesenangan yang tidak terkira dan sedikit ketidak percayaan, Di matanya. Melihat pemandangan yang begitu sangat indah, Di hadapannya.


Diyan, Keluar dan turun dari mobilnya. Melangkah pelan, Mendekati dan memeluk erat tubuh mungil, Dina. Mendekap penuh rasa sayang dan cinta, Istrinya dari belakang, meletakkan dagunya, Di pundak kecil, Dina. Menatap, Pemandangan yang sangat indah.


" Kamu, Menyukai kejutan, Suamimu, Istriku? Dan... Kamu, Pasti mengingat sesuatu kan? Kenangan manis, Kita berdua, Di tempat ini. Hanya saja, Sedikit perubahan, Rumah panggung itu, Adalah impian, Mu dan Aku, Mewujudkannya, Sesudah, Aku tamat SMA. Bagaimana? Kamu, Menyukainya...? " Tanya Diyan lembut, Bersama dengan angin yang berhembus lambat.


Membuat, Indra pendengaran, Dina menggelitik dan Merasakan desiran hangat dalam tubuhnya. Sehingga Deru nafas, Dina menghangat dan berat, Di tengah suasana bahagia dan Romantis, Yang sudah tercipta.


" Mas... Aku, Menginginkannya " Desakan Dina, Membuat, Diyan tertegun, Tidak percaya, Istrinya mengatakan itu, Yang seharusnya, Menjawab pertanyaannya terlebih dulu dari sebuah kejutan yang, Diberikannya.

__ADS_1


" Sekarang?! " Ucap Diyan, Walau sebenarnya, Diyan menyukai keinginan, Istrinya. Tapi, Diyan tidak menduga, Jika, Di saat seperti ini, Dina menginginkannya.


Dina, Melepaskan tangan dingin, Suaminya yang memeluk, Dirinya. Berbalik badan, Menatap dalam mata sehitam langit malam, Suaminya, Dengan gairah Cintanya. Mencium sekilas bibir manis, Suaminya dan kembali, Menatap wajah tampan dan mata, Suaminya, Yang semakin mampu memacu adrenalin liarnya.


" Sangat ingin, Mas Diyan " Bisik Dina. Mendengarnya, Diyan menyeringai nakal. Dengan cepat, Diyan menggendong, Istrinya, Ke dalam pelukannya.


" Kamu, Yakin? Tidak ingin menikmati pemandangannya dulu? " Kata Diyan, Tanpa menghilangkan seringai nakalnya.


" Aku, Sudah cukup menikmati dan... Jangan permainkan, Aku! " Seru Dina, Di tengah rasa ingin bercinta yang semakin bertambah.


Diyan, Dengan sengaja melambat langkahnya, Membiarkan angin lembut dan menyejukkan, Menyelimuti, Dirinya dan Istrinya. Dina, mengalungkan kedua tangannya, Di leher tegap, Suaminya dan Menahan, Diri, Agar tidak menyerang, Suaminya, Di tempat terbuka saat ini.


" Lebih cepat, Mas! " Tukas Dina, Tidak sabaran.


Diyan, melajukan langkah kaki tegapnya. Menuruti, Perintah, Istrinya itu, dan Tidak ingin lagi, Mempermainkan, Dina. Namun, Ketika, Kakinya sudah melewati tangga batu, Dan tangan lembut, Dina memutar kenop pintu. Deringan berulang-ulang, ponsel, Diyan yang berada, Di saku celananya, Mengganggu suasana mesra, Dina dan Diyan.


" Sudah, Angkat saja, Mas. Mungkin penting " Kata Dina, Sesudah mendesak kecewa.


" Emm... Bentar, Ya, Istriku " Ucap Diyan, Tertawa kecil. Walau sebenarnya, Di dalam hati, Tidak senang, Karena ada yang menggangu waktu indahnya bersama, Dina.


" Halo, Yan " Suara seorang Pria, Menyapa Indra pendengaran, Diyan.


" Iya, Ada apa? " Tanya Diyan datar.


" Elo, Jadikan? Datang pada acara alumni, Kita malam ini? Dan Jangan bilang, Elo melupakan teman-teman kuliah, Elo, Yan?! "


Diyan, Mendesak kesal, Melupakan acara pesta bersama, Teman kuliahnya malam ini. Lupa, Memberitahu, Dina, Bila malam ini, Ada acara pesta bersama, Dengan teman-teman kuliahnya. Tapi, Diyan sudah memutuskan sejak awal.


" Sorry, Enggak minat " Kata Diyan, Yang menjadi Keputusannya.


" Eh! Tapi--- "


Tut!


Suara Pria, Di seberang telepon terputus. Karena, Diyan langsung mematikan ponselnya. Kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya dan Baru menyadari, Dina sudah masuk terlebih duluan ke dalam, Rumah panggung itu. Diyan, Menutup dan mengunci pintu. Berbalik badan, Dan melihat, Dina duduk bersandar, Di sofa Abu-abu yang berukuran sedang, sambil bermain ponsel.

__ADS_1


" Apa... Istriku, Sudah tidak menginginkannya? " Tanya Diyan, Dengan duduk, Di samping, Dina. Meletakkan tangan kanannya, Di punggung belakang, Dina.


" Siapa yang menelpon, Mu? " Dina, Bukannya menjawab, Diyan. Tapi, Berbalik bertanya pada, Diyan, Dengan sedikit kesal. Tidak mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya, Berbalas pesan dengan, Kedua Sahabatnya, Gita dan Mila, Di grup persahabatannya.


" Teman kuliah, Ku " Jawab Diyan.


" Aku, Lupa memberitahu, Mu. Jika, Malam ini, Ada acara pesta, Di universitas tempat, Ku, Kuliah. Tapi, Aku, Sudah memutuskan untuk tidak mengikuti acara pesta malam ini " Jelas Diyan, Yang seketika, Dina mengalihkan perhatiannya dari ponselnya, menatap wajah, Diyan.


" Kenapa, Mas, Tidak mengikuti acaranya? Bukankah, Ini kesempatan, Mas untuk bertemu lagi, Dengan teman-teman kuliah, Mas Diyan? " Kata Dina, Penuh tanya.


" Di karenakan... Tidak bisa membawa pasangan, Dan Aku, Tidak ingin meninggalkan, Mu, Di sini sendirian " Jawab Diyan, sambil tangannya berkelana, Di tubuh, Dina.


" Aku, Tidak apa-apa, Mas Diyan, Tinggal. Lagian... Aku, Suka, Di sini dan... Mas, Cukup bertemu teman-teman, Mas. Sesudah itu, Mas, Bisa langsung kembali pulang ke sini, Bersama, Ku " Jelas Dina, Memberikan pengertian dan izin pada, Suaminya.


" Mas, Pergilah dan Segera kembali " Ucap Dina sambil tersenyum pada, Diyan yang hanya diam Mendengarkannya.


Diyan, ingin saja bertemu dengan teman-teman kuliahnya. Tapi, Di karena, Tidak bisa membawa pasangan dan Dirinya, Juga tidak ingin meninggalkan, Dina sendirian, Di tempat yang sunyi dan indah ini. Diyan, Tidak ingin menghadiri acara pesta malam ini.


Namun, Mendengar, Dina yang membujuk dan mengerti, Dirinya. Membuatnya, Memilih untuk jadi ikut ke acara pesta, Dengan mengirimkan pesan singkat pada, Teman kuliah yang menelponnya tadi.


" Malam ini, Aku akan menghadiri acara pestanya. Tapi, Aku butuh energi! " Seru Diyan dan Langsung menyerang, Dina. Permainan yang penuh nikmat bercinta dan berakhir melelahkan. Dina, Dengan senang hati, Melayani, Diyan, Karena, Dirinya, juga menginginkannya.


Tetapi, Di tempat lain, Ada yang sangat merasa senang dan bahagia. Dengan pesan singkat yang, Diyan, kirimkan.


" Firna, Kamu senang sekarang? " Tanya seorang Pria, yang menelpon, Diyan tadi.


" Pasti dong. Kamu, Kan tahu... Aku, Suka, Diyan sudah sejak lama. Dan Kamu, Harus membantu, Aku, untuk bersama dengan, Diyan. Kamu, Kan teman, Kita, Raditya " Kata Firna, Sangat bahagia.


Pria yang bernama Raditya itu, Menghela nafas kasar. Di dalam hati, Merasa tidak setuju dan Tidak senang, Membantu, Firna bersama dengan, Diyan. Karena, Dirinya, Mencintai, Firna. Hanya saja, Raditya, Tidak bisa mengatakannya langsung pada, Firna. Katakanlah, Dirinya pengecut, Karena tidak mampu menyatakan Cintanya Pada, Wanita yang tersenyum menawan, Di hadapannya itu.


Tapi, Dengan melihat, Firna Bahagia, Raditya, bisa melakukan apa pun itu, Demi kebahagiaan, Firna. Namun, Raditya, Tidak tahu, Diyan sudah menikah dengan, Dina, Wanita yang, Di tahunya Kakak angkat, Diyan. Sedangkan Dirinya, Hanya, sebagai alat yang, Di manfaatkan, Firna dalam obsesi Cintanya, Memiliki, Diyan.


" Maaf, Diyan... Aku, Terpaksa melakukannya. Demi kebahagiaan, Firna " Lirik Raditya sedih, Di dalam hatinya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2