
" Mas, Apa yang membuat, Mu, datang menjemput, Ku? Apa malam ini, Kita pergi ke suatu tempat? " Kata Dina, Yang kini dirinya berada dalam mobil. Menatap wajah tampan, Suaminya, Yang tengah fokus menatap ke depan. Dengan duduk, Di sebelahnya sembari Menyetir mobil.
" Ternyata, Istriku, Sangat pintar ya... " Ucap Diyan, Memuji Istri tercintanya itu. Dina, Merasa sangat senang mendengar ucapan, Suaminya. Dengan jantung yang berdebar kencang dalam perasaan hatinya yang gembira.
" Jangan-Jangan... Mas, Ingin mengajak, Aku kencan atau menikmati makan malam romantis?! Asik! " Seru Dina dalam hatinya kegirangan.
" Malam ini... Aku ingin menunjukkan pada, Mu. Apartemen yang, Aku tempati selama dua tahun. Sebelum, Kita menikah " Jelas Diyan, Tanpa menatap, Istrinya. Tapi, Mampu menghilangkan Senyuman cerah, Di wajah cantik, Dina.
" Apartemen... " Gumam Dina, Dengan Perasaan kecewa, bercampur terkejut.
" Karena itulah, Aku menjemput, Mu pulang dan Malam ini. Kita, Akan ke sana " Ujar Diyan, Sekilas menatap wajah, Istrinya itu.
" Emm baiklah, Mas " Jawab Dina, Menghela nafas penuh kecewa terhadap, Suaminya. Tanpa ada keinginan, Mempertanyakan keterkejutan mendengar perkataan, Suaminya itu.
Diyan, Tersenyum melihat kekecewaan, Di wajah cantik, Istrinya. Tapi, Dia Tetap diam dan Kembali sibuk menyetir mobilnya. Hingga, Di menit kemudian, Mobilnya berhenti tepat, Di depan rumahnya. Dina, Yang tengah sibuk dengan ponselnya, Tidak menyadari. Bila, Mobil sudah berhenti dan Sampai, Di depan rumah. Niat hati, Dina, Ingin mengabaikan, Suaminya. Tapi, Sikap, Dina, Membuat, Diyan, Tersenyum gemas melihat, Istrinya itu.
Cup, Diyan, Secepat kilat. Mencium bibir, Istrinya itu dan Sebentar berbelit lidah, Berbagi Saliva dalam gelora Asmara. Dina, Awalnya sedikit terkejut, Atas perlakuan, Suaminya itu. Tapi, Dengan senang hati, Dina, Menikmatinya.
" Jangan, Ngambek dong. Cantiknya nanti ilang " Ucap Diyan.
" Aku, Uda enggak ngambek lagi kok. Asalkan, Mas, Mau lagi memberikan, Aku yang manis " Bisik Dina.
" Aku, Akan berikan. Tapi, Kita masuk dulu "
Diyan, Keluar dari mobilnya dan Kemudian, Membukakan pintu mobil untuk, Istrinya. Dina, Keluar dari mobil, Dengan membalas senyuman hangat, Suaminya. Mereka berdua, Melangkah bersama dan berdampingan, Memasuki pintu yang terbuka lebar itu. Di sambut, Senyuman, Sang Mama tercinta yang keluar dari arah dapur.
" Tumben, Kalian berdua sudah pulang, Dina, Diyan? " Tanya Zaskia, Menatap wajah dua orang, Di hadapannya itu.
" Iya, Ma. Diyan, Sengaja ngajak, Dina, Pulang cepat. Karena, Malam ini, Kita, Akan pergi ke Apartemen, Aku, Ma " Jelas Diyan pada, Sang Mama.
" Emm pergilah. Gunakan waktu malam ini, Dengan sebaik mungkin. Agar, Mama, Bisa secepat mungkin menggendong Bayi, Kalian berdua " Perkataan Zaskia, Menciptakan semu merah, Di wajah cantik, Dina, Yang putih mulus itu.
__ADS_1
Dina, Merasa malu, Mendengar perkataan, Sang Mama. Namun, Di perasaan hatinya yang lain, Dina, Juga sebenarnya sudah sangat menginginkan, Bayi, Buah Cintanya, dan Diyan. Hanya saja, Keinginan itu, Belum juga terkabulkan. Sehingga, perasaan hati, Dina, Bercampur kesedihan. Wajahnya yang bersemu merah, Kini terlihat sedih.
" Iya, Sudah, Ma. Kalo gitu, Aku dan Dina, Ke kamar dulu ya? " Ujar Diyan, Yang berniat untuk segera membawa, Dina, Menjauh dari, Mamanya. Setelah, Matanya yang sehitam langit malam itu, Menatap wajah sedih, Istrinya, Yang sedikit tertunduk.
Zaskia, Yang juga menyadari wajah sedih, Dina. Hanya mengaguk kepalanya, Menanggapi Ujaran, Diyan. Mempersilahkan, Diyan, Membawa, Dina, pergi dari hadapannya. Dengan perasaan hatinya, Yang tidak nyaman dan Rasa bersalah. Di saat, Tiba saja, Perkataan, Suaminya, Endra, Terngiang-ngiang, Di Indra pendengarannya.
" Jangan terlalu memaksa, Dina, Untuk segera memiliki, Bayi. Itu, Akan Membuat, Dina, tertekan. Biarkan saja, Dina dan Diyan, Menikmati kebersamaan mereka berdua. Hingga kala waktunya, Bayinya, Pasti akan, Kita miliki bersama, Ma "
" Dan ingat! Kita, Masih Merahasiakan identitas asli, Dina. Karena, Papa, Mengerti maksud, Mama, Yang masih tidak ingin membongkar rahasia yang telah dua puluh dua tahun lamanya, Kita, Simpang dengan sangat rapat "
Zaskia, Menghela nafas. Menatap penuh harap dan Sedih, Kepergian, Dina dan Diyan, Yang menaiki anak tangga, Secara berdampingan, menuju kamar mereka.
" Maafkan, Mama, Dina... " Lirik Zaskia dalam hatinya. Zaskia, Pun melangkah menuju kamarnya dan Tidak tahu, Apa yang akan, Dia lakukan? Dan apa yang tengah, Di Pikirkannya? Yang jelas, Zaskia, Sangat berharap... Dina, Segera mengandung makhluk kecil, yang bisa menghilangkan rasa takut, Di hatinya.
Di saat, Dina dan Diyan, Pulang ke rumah lebih cepat dari waktu sebelumnya. Di tempat lain, ialah Gedung pencakar langit. Lantai ke tujuh yang terdiri sepuluh lantai itu. Di Salah satu apartemen mewah yang bernuansa modern. Seorang Wanita, Tengah muntah-muntah, Di kamar mandinya.
Wajahnya, Bahkan terlihat pucat. Dengan pakaian yang, Di kenangannya, Kaos oblong berwarna putih polos, Di padu, Celana pendek Maroon, Sebatas, Di atas lututnya. Hingga Terlihatlah, Kulit putih mulusnya itu.
" Sial! Sial! Kenapa harus gini mulu si?! Kesal banget tahu enggak! " Tukasnya, Dengan geram dan penuh kekesalan. Marah pada, Dirinya sendiri, Yang tidak mengerti, Apa yang telah terjadi pada, Dirinya, Belakang hari ini?
" Apa... Jangan-jangan... Aku...? " Ucap Firna, Terbata-bata. Menduga sesuatu yang tidak terpikirkan olehnya.
" Tidak! Tidak mungkin! Aku, Harus ke rumah sakit! Dan Pastinya, Dugaan, Ku salah besar! " Seru Firna. Dengan perasaan hatinya, Di selimuti keraguan. Walau, Sudah berulangkali menyakinkan hatinya. Jika, Dugaannya tidaklah benar. Namun, Ketika Tuhan sudah berkehendak. Apa pun menjadi mungkin baginya.
Ya, Wanita itu, Adalah Firna. Wanita, Yang sangat, Di Cintai, Dan Tengah sangat, Di cari, Raditya. Walau pun, Diyan, Telah mau Membantu, Mencari keberadaan, Firna. Namun, Tidak tahu bagaimana? Firna, Sangat sulit, Di temukan.
Raditya, Bahkan tidak berputus asa. Selalu dan Berusaha, Mencari kemana pun keberadaan, Wanita yang sangat, Di cintanya itu. Dan Bahkan, Tanpa memberitahu, Diyan, Terlebih dahulu atas kedatangannya ke Jakarta yang tiba-tiba itu.
Karena, Tidak berhasil menemukan, Firna, Di Bandung. Raditya, Datang ke Jakarta dan Berharap bisa menemukan, Firna. Walau, Kini, Dia, Terlihat tersesat berada, Di pinggir jalan. Berpikir, Dimana, Dirinya, Akan menginap malam ini dan Tidak tahu sampai kapan, Dia, akan ada, Di Jakarta? Karena, Ini pertama kalinya, Raditya, memijakkan kakinya, Di ibu Kota, Yaitu Jakarta.
" Sekarang, Aku harus bagaimana? Dan Dimana lagi, Aku, Bisa menemukan, Firna? Andai saja, Aku, Punya Apartemen, Di sini. Mungkin, Aku, Tidak akan tersesat dan Menjadi gelandang seperti orang bodoh! " Gumamnya, Penuh dengan rasa lelah, dan Kecewa.
__ADS_1
" Eh. Tunggu dulu. Apartemen, Ya?! " Ucap Raditya, Tiba saja. Teringat suatu hal, Yang mungkin seseorang bisa menolong dan memberikannya tempat tinggal sementara waktu.
" Si Cabe rawit kan, Punya Apartemen tu. Mungkin aja kan, Dia, Mau menolong, Aku? "
Raditya, Dengan cepat, Merogoh saku jaketnya dan mengambil ponselnya itu. Kemudian, Mengotak-atik ponselnya, Mencari nomor seseorang yang bisa, Di mintainya pertolongan.
" Halo, Cabe rawit! Jemput, Aku! Tersesat ni! " Seru Raditya, Bagaikan orang gila yang tersenyum kegirangan. Ketika, Sambungan telponnya, Di angkat oleh orang yang tengah, Dihubunginya.
" Tersesat? Emang, Lo, Dimana? " Terdengar suara Wanita, Di seberang telpon.
" Entahlah, Aku, Enggak tahu, Dimana? Cabe rawit! Cepat jemput, Aku! " Kata Raditya.
" Lo, Ini bego atau Gila si?! Kalo, Lo, Enggak tahu, Dimana, Lo, Sekarang? Bagaimana, Gue, Bisa jemput, Lo? " Ketus Wanita, Di seberang telpon.
" Aduh... Gimana, Ya? " Keluh Raditya, Kebingungan dan Panik.
" Lo, Serlo aja deh SEKARANG! "
Tut. Sambungan telpon, Terputus dari seberang. Raditya, Menjauh ponselnya dari daun telinganya. Ketika, Mendengar suara keras, Wanita, Di seberang telponnya.
" Jadi, Wanita, Enggak bisa lembut Apa? Emang cocok! Kamu, Aku juluki, Si Cabe rawit! " Gumam Raditya kesal. Berbicara pada ponselnya, Sendiri. Sehingga, Orang yang lewat, Mengira, Dirinya, Aneh atau tidak waras.
Menit pun berlalu. Raditya, Sabar menunggu, Di bawa sinarnya panas matahari, Di kala siang menjelang sore. Hingga pada akhirnya, Sebuah mobil merah kilat dan bersih itu, berhenti tepat, Di depannya. Mata, Raditya memfokuskan tatapannya pada, Pintu depan mobil yang terbuka. Kemudian, Terlihatlah, Kaki jenjang berkulit putih mulus itu, Tanpa memakai sepatu atau apa pun membalut, Kakinya yang polos itu. Turun dan berpijak pada aspal, jalan Kota. Kemudian, terlihat lagi, Rok pendek, Di atas lutut, berpadu Sweater, yang Membalut tubuh seksi dan langsingnya itu.
Raditya, Terpesona melihat dandan, Wanita, Yang ada, Di hadapannya itu. Tatapan mata coklatnyanya, Tidak berkedip menatap penampilan berbeda, Wanita, Yang di beri julukan olehnya itu, Si Cabe rawit.
" Cantik dan Seksi " Di dalam hati, Raditya.
" Woi! Jangan diam aja kayak orang bego deh. Mending, Lo, Masuk. Gue, Enggak punya banyak waktu! " Hardik Gita, Dengan wajahnya yang terlihat jutek itu. Menyadarkan, Raditya, Akan pesona, Si Cabe rawit, Di hadapannya itu.
" Cantik si cantik. Tapi, Jutek! Aku, Jamin! Enggak akan ada, Pria, Yang tahan dengan sikapnya itu " Ucap Raditya, Di dalam hatinya lagi. Sambil kakinya melangkah, Mendekati dan langsung masuk kedalam mobil. Menuruti dengan cepat, Perkataan, Gita.
__ADS_1
Wanita, Yang di maksud, Raditya? Adalah Gita. Tidak tahu, Apa yang membuat, Raditya, Lebih meminta bantuan, Gita dari pada meminta bantuan pada, Diyan, Yang merupakan Sahabat terbaiknya. Yang Jelas, Raditya merasa lega, Gita memberikannya pertolongan untuk sementara waktu, Di Jakarta.
...Bersambung...