Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Persahabatan


__ADS_3

Langit biru cerah, Di Angkasa luas atas sana. Membuat para manusia gencar keluar rumah dan melakukan apa pun dengan pergi kemana pun mereka mau. Salah satunya, Mall yang terkenal, Di ibu kota, Terlihat rame dengan banyaknya pengunjung yang datang dan pergi. Hanya ingin mengurangi kebosanan, Dengan berbelanja atau cukup dengan melihat segala jenis pakaian dan barang-barang mahal dan juga menikmati hidangan makanan juga minuman segar, Di Mall mewah dan Besar itu.


Dina melangkah kakinya, Memasuki mall dan Meninggalkan mobilnya, Di parkiran mobil. Dia, Hari ini ada janji dengan kedua Sahabatnya untuk bertemu, Di Mall seperti biasanya. Melepas rindu, Dengan membicarakan tentang apa pun. Tapi, Dina juga tidak lupa, Membawa barang yang berada, Di dalam dua parper bag, di kedua tangannya. Oleh-oleh bulan madunya dengan, Diyan dari Paris untuk, Gita dan Mila.


Dina berdiri, di pintu masuk tempat makan yang berada, Di dalam Mall yang terletak, Di lantai dua. Mata ke abu-abuan, Dina melirik ke dalam tempat makan itu. Kepalanya celingukan, Mencari di mana keberadaan kedua Sahabatnya. Hingga akhirnya, Tatapan matanya terhenti pada satu tujuan. Gita dan Mila melambaikan tangannya mengisyaratkan keberadaan mereka berdua pada, Dina. Dina tersenyum, Melanjutkan langkahnya, Menghampiri kedua Sahabatnya.


" Sorry, Gue terlambat " Kata Dina, Pada kedua Sahabatnya.


" No Problem, Dina " Jawab Gita tersenyum senang.


" Tidak apa-apa, Kami Uda biasa kok " Sahut Mila tertawa kecil.


Dina pun duduk, Di hadapan kedua Sahabatnya. Meletakkan kedua parper yang, Di bawanya, Di atas Meja. Gita dan Mila, Menatap bingung parper yang berbeda warna ada, Di hadapan mereka berdua.


" Ini oleh-oleh dari Paris buat, Kalian " Kata Dina, Menjawab kebingungan kedua Sahabatnya.


" What!!! Paris? enggak salah dengar, Gue? " Ketus Gita terkejut.


" Serius! Paris?! Jauh banget dong! " Seru Mila juga terkejut.


" Jangan lebay " Sunggut Dina memutar bola mata malas. Mendengar suara dan Melihat sikap kedua Sahabatnya itu, Yang terkejut mendengar perkataannya.


Gita dan Mila mengambil parper bag yang, Di berikan, Dina. Sepasang mata mereka saling ingin melihat, Oleh-oleh apa yang, Dina berikan?. parfum dan Pakai mahal, Gita dan Mila merasa sangat senang atas pemberian, Dina.

__ADS_1


" Thanks you, Din! " Serentak Gita dan Mila.


" Emm wangi banget! Gue, Suka sama pilihan, Lo " Ucap Gita, Ketika Indra penciumannya, Menghirup aroma parfum, Di tangannya.


Dina, Hanya tersenyum, Melihat kesenangan kedua Sahabatnya yang begitu sangat menyukai barang-barang pemberiannya. Tapi, Senyuman, Dina luntur, Mendengar pertanyaan, Gita yang tiba-tiba.


" Tapi... Lo, Ngapain ke Paris? " Gita tersenyum nakal, sambil menatap curiga wajah cantik, Dina.


" Iya, Din. Lo, Ke Paris ngapain? Kok enggak ngajak, Kita? " Pertanyaan polos Mila lontarkan pada, Dina.


Dina mematung diam, Pipinya bersemu merah, Semerah kepiting rebus. Wajahnya menunduk malu, Dengan mengulum senyuman. Gita tersenyum cerah, mengetahui sesuatu tanpa, Dina harus menjawabnya. Mila, Menatap bingung kedua Sahabatnya itu, Dia masih sedikit polos dengan sesuatu hal yang menjurus pada hubungan yang memang, Dirinya tidak pernah ingin, Diketahuinya apa lagi, Di rasakannya? Tidak akan pernah. Gita dan Mila, Masih ingin menikmati kesendirian mereka berdua, Sebagai Wanita lajang dan belum ingin, menjalin hubungan dengan pria mana pun.


" Kalo... Gitu, Aku ucapkan selamat! " Seru Gita.


Dina tidak menjawab pertanyaan, Gita. Tapi, Dina mengaguk kepalanya, Sebagai jawabannya. Membenarkan, Perkataan yang, Di maksud Sahabatnya itu. Dina, Merasa sangat malu, Sahabatnya mengetahui apa yang telah, Di rasakannya. Kenikmatan dalam rasa cinta berpadu dengan rasa senang dan bahagia yang tidak terkira. Dina, Bahkan tidak bisa menjabarkan dengan apa pun itu, Dia merasa sangat Malu dan bahagia, Untuk mengakuinya.


" Bagus! Gimana rasanya? Gue, Dengar-dengar, Rasanya enak dan Semakin sering, Semakin ketagihan. Benaran, Ya?! " Cecar Gita antusias, dan Sangat ingin tahu.


Dina, merasa sangat malu mendengar cecaran, Sahabatnya itu, Yang benar begitu adanya. Tapi, Dina berusaha bersikap biasa saja, Membiarkan, Gita Berspekulasi sendiri dan tidak ingin menjawabnya. Mila yang juga belum mengerti apa yang tengah, Kedua Sahabatnya bicarakan pun? Mempertanyakan langsung dengan bingung.


" Kalian berdua membicarakan apa si? Gue, Enggak ngerti?! "


Gita, Memutar bola mata malas, Merasa jengah dengan sikap polos, Sahabatnya yang satu itu. Sedangkan, Dina tidak mengatakan apa pun, Hanya tersenyum, Menatap wajah bingung, Mila.

__ADS_1


" Dina, Uda bulan madu bersama, Diyan, Di Paris. Dina, Juga sudah memakai gaun yang, Kita pilihkan Waktu itu " Bisik Gita, Di daun telinga, Mila.


Mata coklat, Mila yang terang itu, Melebar. Mendengar bisikan, Gita yang menggelitik pendengarannya. Terkejut, Itu yang saat ini, Mila rasakan dan Sedikit tidak percaya. Tapi, Mila juga merasa sangat bahagia, Mengetahui hubungan Dina dan Diyan sudah baik-baik saja.


" Syukurlah... Kamu, Dan Diyan, Sudah baikan. Itu... Artinya, Diyan juga sudah mengatakan Cintanya pada, Mu kan, Din? " Ujar Mila, Tanpa sadar mengatakan sesuatu yang sudah menjadi rahasia, Di antara, Dirinya dengan, Gita.


Dina, Tertegun dan Gita, Mendengus kesal, Mendengar perkataan terakhir, Mila. Dina, Menatap Gita, Dan kemudian, Dia menyadari. Kedua Sahabatnya juga mengetahui, Diyan mencintainya. Hanya saja, Gita dan Mila, Sengaja merahasiakannya dari, Dirinya.


" Kenapa, Aku begitu bodoh?! Selain Mama dan Papa. Sahabat, Ku sendiri mengetahui, Diyan mencintai, Ku. Sedangkan, Aku! Aku, Sangat terlambat menyadari Cinta, Diyan pada, Ku. Hingga tanpa, Aku sadari... Selama enam tahun ini, Diyan yang lebih merasakan sakit hati dari Pada, Aku sendiri " Lirik Dina dalam hati. Tersenyum getir, Dengan tatapan sedih.


Gita, Menyiku lengan, Mila dengan pelan, Sehingga Mila merasa sedikit terkejut. Mila menatap, Gita dan Kemudian, Menatap wajah, Dina yang sedikit terlihat bersedih. Mila pun menyadari perkataannya membuat, Dina sedih, hingga hatinya merasa bersalah.


" Maaf, Din. Aku dan Gita, Tidak bermaksud merahasiakan perasaan, Diyan dari, Lo. Kami, Berdua hanya ingin, Lo tahu sendiri dari, Diyan. Karena, Hanya, Diyan yang berhak mengatakan perasaannya langsung pada, Lo. Bukan, Aku mau pun, Gita " Jelas Mila tulus dan Jujur.


" Dan Kami, Berdua bahagia melihat, Lo sekarang sudah bahagia dengan, Diyan. Walau... Sebenarnya, Aku dan Mila, Sempat merasa khawatir dan tidak tega pada, Mu. Karena, Diyan selalu dingin terhadap, Mu, Din " Gita menjeda perkataannya, Memegang tangan kanan, Dina dan Tersenyum bahagia. Begitu juga, Dengan Mila yang menggenggam tangan kiri, Dina dengan senyuman cerah.


" Tapi, Itu dulu. Sekarang, Rasa khawatir dan Tidak tega itu, Telah hilang. Tergantikan, Dengan perasaan kelegaan dan kebahagiaan yang Kini... Aku dan Mila, Rasakan sesudah melihat, Mu yang nampak sangat bahagia sekarang. Kami, Sahabat, Lo ini, Berharap... Lo, Selamanya harus selalu bahagia! " Ujar Gita dengan binar senang, Di mata hitamnya yang segelap langit malam itu.


Dina terharu terhadap Gita dan Mila. Hingga, Tidak mampu mengatakan apa pun. Baginya, Tidak akan cukup dengan ucapan "Terima Kasih" Saja. Sehingga, Dina berdiri dari duduknya, Dan mendorong, Dirinya memeluk kedua Sahabatnya. Gita dan Mila, Sedikit terkejut pada awalnya. Namun, Kemudian, Mereka berdua dengan senang hati, Membalas pelukan persahabatan mereka bersama.


" Kenapa, Kita jadi melankolis gini si? " Kata Dina, sesudah pelukan itu, Terlepas dan Dia, Langsung mencairkan suasana dengan tawa garingnya.


Gita dan Mila, Ikut tertawa kecil. Kemudian, Mereka bertiga pun, Menikmati waktu persahabatan mereka, Sebelum sore tiba. Karena, Ketika sore, Dina harus sudah ada, Di rumah. Kalau tidak, Diyan, Suami tercintanya akan menghukumnya. Tentunya, Hukuman yang amat melelahkan, Dirinya. Walau melelahkan, Dina menikmati dan sangat menyukai, Sentuhan kehangatan Sang Suami.

__ADS_1


...bersambung...


__ADS_2