Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
BANDUNG : Di mana Ularnya


__ADS_3

Cerahnya hari, Di Langit biru dan awan putih, Di Angkasa. Suasananya yang tenang dan Menyejukkan. Membuat, Dina senang dan suka, Berdiri diam, Di pembatas pagar kayu berwarna putih. Dengan mata ke abu-abuannya, Menatap takjub pemandangan indah yang memanjakannya. Dengan senyuman cerah terukir indah, Di wajah cantiknya. Menikmati suasana yang tidak akan mungkin bisa, Dilupakannya dan Akan selalu ada keinginan untuk datang ke rumah panggung yang merupakan impiannya. Serta, Rumah yang, Di bangun dan Di Ciptakan, Dengan Cinta, Diyan, Suaminya.


Diyan, Berdiri dengan berlipat kedua tangannya, Di atas perut. Punggung belakangnya, Bersandar pada dinding abu-abu. Dengan mata sehitam langit malamnya, Menatap penuh pada, Dina. Walau, Matanya, Tidak bisa melihat wajah, Cantik, Dina sepenuhnya dan Hanya sebagian saja, Diyan sudah merasa senang. Namun, Diyan sangat ingin memeluk dan mendekap dengan hangat punggung belakang, Dina.


Membuat, Dina berada dalam jeratan kehangatannya. Tapi, Mengingat perkataan, Dina pagi tadi. Diyan, Tidak bisa berbuat apa pun, Sadar, Dirinya memang salah. Namun, Dirinya bisa apa? Diyan, Hanya ingin membalas budi baiknya pada, Kevin. Riana adalah istri Kevin dan Diyan, Tidak mungkin melupakan jasa, Kevin.


Karena itulah, Diyan dengan baik hati mau menolong, Riana.


Hanya saja, Diyan harus menerima hukuman dari Kebaikan dan pedulinya itu. Ketika, Dirinya dan Dina berada, Di Paris. Kevin mau merelakan, Dina untuknya dan Tidak mengusik kebahagiaannya dengan, Dina. Tapi, Diyan tidak menutup kemungkinan. Kevin mungkin saja, Masih menginginkan, Dina dan Diyan tidak akan pernah merelakan, Dina pergi atau pun menjauh dari jeratan cintanya.


Diyan, Ingin mendekati, Dina. Tapi, Dirinya takut, Tidak bisa mengendalikan, Dirinya. Ingin membawa, Tubuh mungil, Dina kedalam pelukannya. Namun, Karena hukuman yang, Dina berikan dari sebuah kesalahan yang tidak, Di sengaja. Diyan, menghela nafas kasar dan kemudian pergi tanpa kata. Meninggalkan, Dina, Istrinya, sendirian menikmati keindahan pemandangan alam yang luar biasa.


Detik dan menit berlalu, Dina berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tapi, Mata ke abu-abuan, Dina, Di kejutan dengan sebuah pemandangan yang terasa menggodanya. Diyan, Berbaring terlentang, Di atas ranjang, Tanpa memakai pakaian atasan. Memperhatikan kulit putih kecoklatan, dengan otot-otot kekar yang terasa ingin sekali, Dina menggigitnya.


" Mas Diyan! Kamu, Sengaja menggoda, Ku! Agar, Aku melupakan hukuman, Mu! Tidak semudah itu. Kita, Lihat! Siapa yang akan lebih mudah tergoda?! " Hardik Dina, Di dalam hatinya.


Dina, Berjalan menuju lemari dan berpura-pura, menyenggol ujung kaki, Diyan yang menggantung, Di ujung ranjang. Diyan, Seketika terbangun dan terduduk, Dengan terkejut. Matanya yang setengah mengantuk menatap punggung belakang, Dina dengan rambut yang terurai panjang. Dina, Tersenyum, Ekor matanya diam-diam melirik, Diyan. Dengan tangannya perlahan mulai membuka pakaian yang, Dikenankannya. Namun, Kegiatan tangan, Dina terhenti, Ketika Indra pendengarannya, Mendengar suara decakan ranjang.


Dina, Berbalik badan, Sedikit terkejut, dan Kesal. Melihat, Diyan kembali tidur terlentang, Di hadapannya. Dengan keadaan, Dirinya yang hanya memakai bra dan kain segitiga berwarna senada, Pink.


" Mas Diyan, Benar-benar tidur kah? Dan bukan sedang menggoda, Ku? " Dina bertanya-tanya bingung, Kecewa dan sangat kesal, Menjadi satu dalam hatinya.


" Aku, Coba saja dulu " Ucap Dina tersenyum dan tertawa kecil, Memikirkan ide yang bagus menurutnya.


" Mas Diyan! Ada ular! " Teriak Dina.

__ADS_1


Diyan, Terbangun mendengar teriakan, Dina. Kemudian, Diyan pun langsung turun dari ranjang dan mata sehitam langit malamnya, Dengan tajam mencari ada, Di mana ular yang, Dina katakan berulang-ulang.


" Ada Ular! Ular! Ular! Mas! "


" Di mana Ularnya, Dina? Aku, Tidak melihatnya? " Tanya Diyan cemas dan panik. Menatap, Dina dan Sekitarnya bergantian.


" Apa, Ularnya menggigit, Mu? pasti Ularnya beracun! Kamu, Tidak apa-apa kan? " Diyan mendekati dan memperhatikan tiap jengkal, Dengan Intens, Di kulit putih mulus, Di tubuh, Dina.


" Dina... Kenapa diam? Apa racunnya sudah menyebar, Di dalam tubuh, Mu?! " Diyan semakin panik, Melihat Dina hanya diam dan tidak mengatakan apa pun.


" Kita, Ke rumah sakit sekarang! " Kata Diyan.


Dina, Yang mendengar perkataan, Diyan. Dan melihat, Diyan menuju lemari, Dina dengan cepat berlari ke arah pintu. Berdiri, Bersandar pada pintu berwarna abu-abu cerah itu. Diyan, Berjalan dan langkahnya, Seketika terhenti. Terkejut, karena baru menyadari, Dina hanya memakai bra dan kain segitiga saja, Di hadapannya. Karena, Terkejut, Cemas dan Panik tadi, Memikirkan ular dan keselamatan, Dina. Diyan, Tidak menyadari penampilan, Istrinya dan Sekaranglah, Diyan baru menyadarinya.


" Dina... Pakai pakaian, Mu dan Kita, Akan pergi ke rumah sakit " Kata Diyan penuh perintah. Walau masih, Di selimuti rasa panik dan keterkejutan melihat penampilan, Dina. Sikap Posesifnya tetap, Diyan tunjukkan pada, Dina.


" Aku... Hanya, Ingin tahu... Apa, Kamu, Di gigit Ular atau tidak, Dina? " Jawab Diyan gugup, Di tengah gairahnya yang telah bangkit.


" Aku, Tidak, Di gigit, Mas Diyan " Kata Dina lembut.


" Apa, Kamu yakin...? Ularnya belum menggigit, Mu, Dina? " Ujar Diyan.


" Bagaimana Ularnya bisa menggigit, Ku? Dia, Bersembunyi, Mas... " Bisik Dina, Di telinga, Diyan. Sambil kakinya berjinjit dan kedua tangannya mengalungkan dengan manja pada leher kekar, Diyan.


" Bersembunyi...? Di mana...? " Diyan menghela nafas berat dan bertanya lagi pada, Dina. Dengan, Tubuhnya yang kaku dan gairah bercinta yang semakin membesar, Memanaskan suhu, Di tubuhnya.

__ADS_1


" Di bawa dan Aku, Bisa merasakannya " Jelas Dina penuh makna. Mata sehitam langit malam, Diyan membesar, Mendengar perkataan, Dina. Tapi, Di menit berikutnya, Diyan menghela nafas kasar.


Diyan, Dengan lembut melepaskan ke dua tangan, Dina, Di lehernya. Melepaskan, Dirinya dari kenakalan, Istrinya. Dina, Mengeryit dahi, Merasa bingung dan sedikit kesal. Dengan, Suaminya yang ternyata tidak tergoda dengan awalan dalam tantangan permainannya.


Diyan, Berbalik badan dan melempar pakaian yang, Di ambilnya dengan panik dan asal tadi, Ke atas sofa berukuran sedang, Warna abu-abu. Kemudian, Menjatuhkan tubuhnya, Di atas ranjang. Memejamkan matanya dan kembali tidur dengan tenang, Seakan telah melupakan kejadian tadi.


Dina, Mendengus dan berdecak dengan kesal. Melihat tingkah, Diyan yang dengan mudahnya melupakan kejadian baru saja dan lebih memilih tidur. Dina, Sadar dan Ingat, Suaminya mungkin berusaha menjalani hukuman yang, Diberikannya. Tapi, bukan berarti, Diyan melupakan dan mengabaikan, Dirinya. Dina, Sangat tidak menyukai hal ini dan sangat kesal pada, Dirinya yang telah memberikan, Diyan hukuman.


" Mas... " Panggil Dina lembut. Sambil duduk, Di pinggir ranjang dan Di dekat, Diyan.


" Mas Diyan, Kamu benar-benar sudah tidur? " Tanya Dina manja, Di saat, Diyan tidak juga menjawabnya.


Dina, Sedikit membungkuk tubuhnya dan ingin mencium bibir, Suaminya. Tapi, Keinginan, Dina terhenti, Di udara. Ketika, Mata ke abu-abuannya, Tanpa sengaja melihat tanda merah pudar, Di leher Diyan.


" Belum hilang dan Tidak akan ada! " Ketus Dina.


Dina, Bangkit dan berjalan menuju lemari, Kembali memakai pakaiannya yang sebelumnya, Dengan terburu-buru. Kemudian, Melangkah pergi keluar kamar dan kembali menutup pintu dengan cukup keras. Membuat, Diyan terbangun dan terduduk, Di atas rajang, Dengan matanya yang terbuka lebar. Diyan, langsung menatap ke arah pintu dan tangannya mengambil ponselnya, Di atas nakas, Di sebelahnya.


" Karena tanda ini! Dina, tidak jadi melakukannya! Sial! " Tukas Diyan, Sambil matanya melirik kaca layar ponselnya yang menunjukkan gambaran, lehernya.


Diyan, tadinya pura-pura tidur, Karena ingin tahu. Apa yang akan, istrinya lakukan padanya? Tidak ada sama sekali, Diyan hanya mendengar suara, Dina saja. Diyan, Tentunya mengerti, Maksud perkataan terakhir yang, Dina tinggalkan. Belum hilang, Adalah tanda, Di lehernya dan tidak akan ada kegiatan bercinta. Sebelum, Tanda, Di lehernya benar-benar hilang sepenuhnya.


Diyan, Pun kembali berbaring dan benar-benar tidur, Sesudah membuat alarm, Di dalam Ponselnya. Alarm untuk mengingatkan, Dirinya, Bila ada Janjian temu dengan, Raditya, Teman kuliahnya. Sedangkan, Dina, Berada, Di dapur yang cukup lebar, Membuat sesuatu untuk, Di makan sambil menonton film Drakor, Di laptopnya.


" Karena tanda itu, Aku jadi tidak bisa menikmati Ularnya, Mas Diyan! " Umpat Dina.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2