Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Menangani Perusahaan


__ADS_3

Dina, Mengikuti langkah, Tuan Yusuf. Serta, Berjalan berdampingan dengan, Diyan. Tapi, Terkadang langkah terhenti-Henti. Ketika, Tuan Yusuf, Menunjukkan beberapa ruangan yang penting untuk, Dina dan Diyan, Ketahui.


" Di lantai ini, Adalah menajemen keuangan... "


Dina dan Diyan, Terkadang diam dan Bila, Di perlukan saja. Mereka, Berdua akan bertanya sesuatu hal yang, Di perlukan. Tuan Yusuf, Dengan senang hati menjelaskan setiap pertanyaan dan Juga menjelaskan Tempat yang, Di tunjukkannya pada, Dina dan Diyan.


" Jika, Di sini, Manajemen elektronik... "


Dina, semakin merasa takjub, Setiap kali melihat interior setiap ruangan yang, Di lihatnya. Tapi, Di saat, Tanpa sengaja. Pandangan mata Abu-abunya, Terpaku pada seorang Pria Tampan yang tidak Asing, Di kejauhan. Terlihat, Di sana yang juga tengah menatapnya.


" Apa yang, Di lakukannya, Di sini?! " Seru Dina, Di dalam hatinya, Dengan penuh tanya, Di Pikirkannya.


" Dan Ini... Manejemen IT " Tuan Yusuf terus Menjelaskan dengan lembut dan Rinci. Diyan, Mendengarkan dengan serius.


Namun, Di karenakan, Pandangan teralihkan pada, Dina. Diyan, Pun merangkul pundak, Istrinya itu. Seketika, Dina, merasa kaget, Dan langsung mengalihkan perhatian pada, Wajah tampan, Suaminya, Yang seakan bertanya, Ada apa? padanya, melalui isyarat gerakan kepala. Dina, Tersenyum dan Menggelengkan kepalanya, Sebagai Jawabannya. Seakan, Menjawab, Tidak Apa-apa.


Dina dan Diyan, Kembali mengikuti langkah, Tuan Yusuf. Sehingga, Mereka sampai, Di lantai terakhir, Lantai yang hanya terletak tiga ruangan saja. Dina Maupun Diyan, Melirik ukiran berwarna emas itu, Yang ada, Di pintu coklat berpadu silver. Room Personal Assistan, Secretary Room, dan terakhir, CEO Room


" Dan Tempat ini lah yang akan menjadi ruangan, Mu, Dina " Kata Tuan Yusuf, Sambil membukakan pintu CEO Room. Dina, Terkejut, Dan Tidak percaya, mendengar perkataan, Tuan Yusuf.

__ADS_1


" Paman, Apakah ini tidak terlalu cepat buat, Dina? Dina, Masih butuh waktu untuk menyesuaikan suasana, Di sini dan Aku, Juga belum setuju, Jika, Dina langsung memiliki tanggung jawab yang besar ini " Kata Diyan serius dan Sopan, Pada Tuan Yusuf. Di dalam hati, Dina, Menyetujui perkataan, Suaminya. Namun, Dina, Juga tidak bisa memungkiri. Cepat maupun lambat, Dirinya, Sudah akan menjabat sebagai CEO, Di perusahaan Grup D Prabowo.


" Papa, Kamu sudah tidak punya waktu untuk terus menunggu. Papa, Kamu... Endra, Dirinya merasa yakin, Dina, Pasti sudah bisa melakukan tanggung jawab untuk secepatnya, Dina, Memegang kendali atas perusahaan ini, Yan " Jelas Tuan Yusuf, Dengan sedikit tegas dan Mengingat pada, Diyan, Atas keinginan, Sang Papa, Yang tidak bisa, Di bantah.


" Jadi, Lebih baik... Kamu, Bantu istri, Kamu untuk sementara ini. Dina, Maaf... Persiapkan, Dirimu, Karena sebentar lagi, Kamu akan, Di Angkat menjadi CEO " Ujar Tuan Yusuf, Tidak Enak hati dan Berlalu pergi, Meninggalkan Dina dan Diyan.


" Kenapa... Papa, Begitu ingin, Dina, Menjadi CEO, Dan Mengambil tanggung jawab sebesar ini? " Hardik Diyan, Di dalam hatinya.


Diyan, Merasa ada yang janggal. Ketika, mendengar perkataan, Pamannya, Mengatas namakan, Papanya, Yang sangat menginginkan, Istrinya, Menangani perusahaan sebesar ini yang begitu memiliki musuh dan Saingan bisnis yang tidak sedikit dan ada Dimana-mana.


Tuan Yusuf, Sebenarnya tidak setuju atas keinginan, Sahabatnya, Yaitu Endra. Mengingat, Dina dan Diyan, Belum terlalu lama menikah, Dan Pastinya akan sangat menggangu kebahagiaan dan Pernikahan, Dina dan Diyan. Jika, Dina, Benar-benar mengambil dan memiliki tanggung jawab yang begitu besar atas perusahaan, Grup D Prabowo. Namun, Tuan Yusuf, Tidak bisa untuk selalu membantah keinginan, Endra.


Tuan Yusuf, Berkata dalam hatinya, Sambil menoleh kebelakang sebentar. Menatap, Raut wajah Khawatir, Di wajah Cantik, Dina dan Di wajah tampan, Diyan, Yang tidak begitu jauh dari pandangannya. Tuan Yusuf, Menghela nafas kasar, Dan Kemudian, Berlalu pergi, Hingga hilang, Di Telang pintu besi, Yaitu Lift. Membawa, tubuh Tuanya yang tetap terlihat Gagah dalam balutan setelan jasnya, menjauh dari, Dina dan Diyan.


Di dalam ruangan, CEO. Dina, Membawa, Dirinya, Duduk, Di sofa dan Meletakkan, Tas tangannya, Di atas meja kaca persegi berukuran kecil itu. Sedangkan, Diyan, Menutup pintu terlebih dulu dan membawa, Dirinya, Duduk, Di samping, Istrinya itu.


" Dina, Kamu tidak merasa keberatan, Dengan... Mengambil tanggung jawab ini? Kamu, Tahukan... Aku, Tidak selalu bisa ada, Di samping, Mu untuk membantu, Menangani perusahaan ini? " Diyan bertanya dengan lembut pada, Istrinya itu, Sambil menatap Wajah cantik dan Menggenggam hangat, kedua tangan, Dina.


Dina, Tersenyum dan Balas menatap mata sehitam langit malam, Suaminya itu, yang menyiratkan kekhawatiran terhadap, Dirinya.

__ADS_1


" Mas... Dengar, Aku memang awalnya keberatan dan Tidak percaya diri. Namun, Mendengar Perkataan, Papa dan Paman, Juga melihat Raut Kecemasan, Di wajah Mama. Aku, Harus bisa dan Mau, Mengambil tanggung jawab untuk menangani perusahaan, Kita " Dina, Menjelaskan dengan lembut, Dan mencoba menyakinkan, Suaminya itu.


" Aku, Juga membutuhkan dukungan, Mu, Mas dan Aku, Tentunya juga tidak akan selalu meminta, Mas, membantu, Ku. Karena, Mas, Juga punya tugas sebagai seorang Dokter, untuk menyelamatkan nyawa banyak orang dan Mas Diyan, Tenang dan Jangan khawatir. Aku, Pasti bisa menangani Perusahaan, Kita "


Mendengar setiap perkataan dan Kalimat, Istrinya yang seakan begitu menyakinkan hatinya dan Juga sedikit menghilangkan kekhawatirannya. Serta, Menghilangkan opini, Di pikirannya yang sempat meresahkan perasaannya. Diyan, Menghela nafas dan Menundukkan kepalanya. Kemudian, Kembali menatap wajah cantik, Istri tercintanya yang selalu memberikan senyuman hangat dan Cerah, Secerah dan Sehangat mentari pagi.


" Dina, Selalulah meminta bantuan, Ku, Kapan pun itu? Aku, Suamimu dan Aku, Tidak akan membiarkan apa pun, Terjadi pada, Mu " Lirik Diyan, Sambil mendekap hangat, Tubuh, Istrinya dalam, Dirinya.


Dina, Membalas pelukan hangat, Suaminya. Dia, Tentu sadar, Apa yang tengah, Diyan, pikirkan? Dalam bisnis, Akan begitu banyak musuh dan Saingan, Untuk mendapatkan keuntungan. Jika, Dirinya, Sedikit lengah, Bukan hanya harga saham yang turun atau mungkin hilang. Tapi, Dirinya, Juga bisa hilang dalam setiap permasalahan yang tidak, Di duga nantinya dan Dia, Harus bisa menangani Perusahaan yang telah menjadi tanggung jawabnya.


" Mas, Aku sudah mempersiapkan, Diriku, Dengan apa pun yang akan terjadi kedepannya " Ucap Dina, Di dalam hatinya.


Sementara, Di tempat lain, Seorang Pria yang tidak asing dan tidak sengaja, Di lihat, Dina. Tengah, Berjalan keluar, Dengan langkah lebarnya. Menggunakan mobilnya berwarna hitam, Meninggalkan perusahaan Grup D Prabowo. Melajukan mobilnya, Membela jalan raya yang hampir, Di penuhi berkendara lainnya.


Pria itu, Memiliki Mata hitam yang menyiratkan kelicikan. Menatap, Lurus kedepan Dan Seringai tipis bibirnya, Di wajah Tampannya. Terlihat menakutkan, Bagi siapapun yang melihatnya.


" Dina, Ternyata... Kamu, Adalah putri, Tuan Endra Prabowo. Kejutan yang luar biasa! "


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2